“Stop Amm, jangan menuduh orang yang tidak bersalah. Sebaiknya kau pergi dari sini,” ucap pria itu dengan emosi.
Amm terdiam. Tidak bisa membela diri lagi. Dia mulai sadar, percuma melakukan pembelaan, tidak ada yang akan mempercayai dirinya.
Seorang pria beranjak dari tempat duduknya.
“Apa kita menghadiri acara pernikahan, atau pertunjukan?” tanyanya, membuat semua orang melihat ke arahnya.
Amareta turun dengan cepat.
“Maaf atas keributan ini, kami tidak tahu akan mendapatkan gangguan seperti ini,”
Pria itu menyilangkan tangannya di depan d**a. Jas mahal tengah melekat di tubuhnya. Matanya menatap ke arah pelaminan, sejak tadi dia merasa terganggu dengan drama yang tengah berada di depannya.
“Silahkan duduk lagi, kami akan menghilangkan penganggunya,” ucap Amareta.
Wanita paruh baya itu terlihat tengah mencegah pria itu untuk pergi dari acara pernikahan putranya, pria itu pria berpengaruh baginya.
“Baiklah,” seru pria itu kemudian kembali duduk.
“Apa yang kalian tunggu, usir gadis ini,” titah Amareta.
“Akhirnya kau tidak menjadi bagian dari keluarga kami, gadis miskin,” bisik Zoya ketika melihat Amm yang tengah diseret oleh dua orang pengawal.
“Sialan kau Zoya, aku yakin kalian berdua yang merencakannya,” Amm memberontak.
Ekspresi Zoya seketika berubah, ia terlihat ketakutan apalagi wajah Amm tidak terlihat bersahabat padanya.
“Kakak, lihatlah. Dia memfitnahku,” rengeknya mengadu pada kakaknya. “Sebenarnya aku telah tahu jika kak Amm sering tidur bersama pria lain,”
“Zoya, diam kau. Sialan, b******k,” umpat Amm. “Aku tidak melakukannya, aku tidak melakukan hal memalukan seperti itu,”
“Tapi, kau tidur dengan seorang pria, dan kami memiliki buktinya,” Zoya memojokkan Amm.
Hansrian tidak bergeming, pria itu seakan membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya.
“Aku dijebak, kumohon percayalah padaku, Hans, aku di jebak. Kumohon percayalah,”
Melihat tidak ada respon dari pria itu, membuatnya sangat jika hubungan mereka selama ini, sia-sia saja.
“Kenapa? Kenapa kau tidak percaya padaku? Kenapa kau tidak percaya padaku, Hans. Kenapa?” Suara Amm terdengar meninggi, penuh emosi, dia tidak terima jika pria yang selama ini bersama dengannya, tidak mempercayai apa yang dia katakan.
“Apa yang kalian tunggu, cepat keluar dia dari sini,” titah Amareta lagi, yang belum melihat ada pergerakan dari pengawal yang di perintahnya.
Dua orang pria bertubuh besar, berjalan mendekat dan berusaha menarik gadis itu dengan paksa untuk dari sana. Amm meronta-ronta ketika di paksa keluar dari dalam gedung. Harga dirinya diinjak-injak, sedangkan ada senyuman mengejek.
“Lepaskan, lepaskan ku bilang,” ucap Amm meronta-ronta. “Ambar, kenapa kau tega melakukan ini padaku, kenapa kau tega padaku? Kenapa?” teriak Amm di tarik paksa keluar dari luar gedung. “Hans, kau akan menyesal melakukan hal ini padaku. Suatu hari kau akan menyesal, kau akan menyesal Hans,” teriak Amm.
Ambar mengepalkan tangannya, ia sangat membenci Amm. Ia selalu iri dengan pencapaian Amm selama ini. Selalu saja ia tidak bisa mengalahkan Amm.
Hari ini, wanita malang itu kehilangan hidupnya ketika dipermalukan di depan banyak orang, serta diseret paksa keluar bahkan tidak ada yang membantu dirinya. Ia terlihat begitu menyedihkan.
Tubuhnya kecilnya di hempaskan begitu saja di luar gedung.
“Hans, aku sungguh tidak melakukannya. Aku tidak melakukannya, kumohon percayalah padaku,”
Hidupnya telah hancur.
Hujan seketika turun ketika dirinya dilempar keluar dari pintu gedung. Percuma dirinya melakukan pembelaan, tidak ada yang mempercayai dirinya, tidak ada yang membantu dirinya.
Gadis itu tengah berdiri sambil memegang pembatas jembatan, kakinya tengah menaiki satu besi. Dia tidak ingin lagi hidup, setelah semua yang terjadi. Semua memandang rendah dirinya. Dia bahkan tidak mengetahui siapa pria yang telah tidur dengannya, dia tidak bisa menuntut pertanggungjawaban.
Tak ada harapan, membuatnya memutuskan untuk bunuh diri!
Byur!
Amm merasakan seseorang tengah menyelamatkan dirinya yang memiliki mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan. Samar-samar terdengar suara seorang pria, Amm tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena ia tidak sadarkan diri.
“Sial, kenapa aku membantu gadis ini,” umpatnya.
Pria itu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Amm yang tengah tidak sadarkan. Sejenak ia melirik wanita yang baru saja diselamatkan olehnya itu.
“Tuan …” panggil seorang pria mengunakan jas rapi, dilengannya terlihat sebuah jas. “Anda tidak apa-apa,”
Pria yang diajaknya berbicara itu, mencoba mengatur nafas.
“Coba kau periksa apa gadis ini masih hidup atau tidak,” titahnya, kemudian di turuti oleh asistenya.
Asistennya mengikuti perintah yang diberikannya, mengecek keadaan Amm, hal itu membuatnya membulatkan mata. “T-tuan, dia tidak bernafas,”
Mendengar hal itu, ia segera beranjak dan seketika mengecek kondisi Amm, benar saja jantung Amm berhenti.
“Sial. Jika dia tidak hidup, percuma aku menyelamatkannya,” umpatnya sambil melepaskan satu kancing atas kemeja miliknya, kemudian memberikan isyarat agar asistennya menjauh dari Amm.
Ia mencoba melakukan pertolongan pada Amm, dengan menekan d**a bagian atas, sesekali memberikan nafas buatan. Beberapa kali ia melakukannya, hingga jantung Amm kembali berdetak dan memuntahkan air yang telah ditelan olehnya.
Samar-samar, Amm melihat wajah pria yang telah menyelamatkannya dari maut. Tapi, matanya masih terlalu berat untuk di buka.
“Dia tidak apa-apa, tuan. Sebaiknya kita pergi dari sini,” suara pria lain terdengar kembali di telinganya.
“Jika kau tidak melakukan kesalahan, buktikan. Jangan lemah. Balas segala yang telah mereka lakukan padamu. Jangan diam saja, kamu berhak membalaskan dendammu,” ucap pria itu setelah melakukan pertolongan pertama pada Amm.
Sebelum pergi, ia mengecek kondisi Amm terlebih dahulu. Amm yang mendengar hal itu, mencoba meraih tangan pria yang telah menyelamatkannya. Ia ingin berterima kasih, tetapi ia tidak memiliki tenaga lagi, membuatnya tidak sadarkan diri.
Bau disefektan tercium pekat dihidung, samar-samar ia membuka mata terlihat langit-langit kamar berwarna putih. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, ia bisa mengetahui jika dirinya berada di rumah sakit.
Matanya mencari pria yang telah menyelamatkan hidupnya tetapi tidak menemukan pria itu. Ketika ia mengingatnya, ia baru sadar jika pria itu telah menghilang setelah mengeluarkannya dari sungai.
“Urgh ….” Ringisnya ketika berusaha untuk duduk, terlihat perban di bagian kepalanya akibat benturan.
Saat mengingat kejadian yang menimpa dirinya, hal itu membuatnya mengepalkan tangan dan melepaskan infus dan pergi dari sana.
Pesta melepas lajang semalam diadakan semuanya telah direncanakan oleh Ambar untuknya. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, samar-samar dia mendengar jika mereka membawanya masuk ke dalam kamar hotel yang telah di pesan sebelumnya.
Ketika dia tersadar di pagi hari, tidak menemukan siapapun di dalam kamar hotel.