TEMAN BARU

368 Words
    Sudah cukup lama dia menjalani harinya di taman kanak-kanak itu, tetapi sepertinya ia tidak menunjukkan ketertarikan dengan teman-teman sekitarnya. Ia terlihat asik dengan dirinya sendiri. Tidak mau berinteraksi dan bermain dengan teman-teman lainnya, ia hanya asik dengan dunia dan pikirannya sendiri. Namun ini masih awal dari perjalanannya, mungkin ia nanti akan terbiasa untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Mungkin. ***     Sebulan sudah ia bersekolah tetapi ia belum memiliki teman dekat. Sedikit aneh memang mengingat anak-anak lain di sekolah itu sudah punya teman dekat yang selalu diajak bermain dan mengobrol. Namun tidak dengan anak ini, ia hanya terdiam memperhatikan dan mengamati anak lainnya. Sepertinya, dengan mengamati kegiatan teman-temannya yang lain sudah lebih dari cukup daripada ia harus bergabung dengan teman-temannya.     Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Rasa penasarannya yang tinggi membuatnya selalu hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan yang terbesit dalam otaknya. Ini tidak baik baginya, bagaimanapun juga ia harus mempunyai teman dari mulai bersosialisasi layaknya anak-anak lain.     Hari itu ia belajar lebih banyak dengan memperhatikan tingkah laku temannya dibandingkan pengajaran yang dilakukan gurunya. Belajar membaca dan berhitung bukanlah hal yang terlalu menarik baginya. Ia menemukan hal yang lebih menarik baginya sendiri. Manusia. Ia tertarik dengan manusia. Lebih tepatnya pikiran manusia. Selama mengamati anak-anak lain banyak pertanyaan yang terbesit dalam benaknya. "Kenapa anak itu menangis? Kenapa anak itu tidak bisa diam dan selalu membuat gaduh? Kenapa banyak anak berlari-lari selama jam istirahat?"     Banyak sekali "Kenapa" dalam pikirannya tetapi ia belum bisa menjawabnya, tentu saja. Pertanyaan-pertanyaan itu masih terbesit dalam pikirannya hingga bel pulang berbunyi. Sepertinya tidak ada pembelajaran dari sekolah yang ia serap hari ini karena terlalu larut dalam pemikirannya.     Sekali lagi hari telah usai, dia pun kembali ke rumahnya yang nyaman.  Satu langkah kecil lagi telah ia lalui, sekarang waktunya ia beristirahat. *** Aku penasaran apakah anak ini akan begini terus. Terlalu larut dalam pikirannya sendiri juga tidak baik, ia harus mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Tapi aku tak bisa memaksakan kehendaknya juga, jika itu memang pilihannya ya mau bagaimana lagi. Pada akhirnya ia memilih untuk berteman dengan pikirannya sendiri. Teman yang tak akan pergi, teman yang tak akan pernah mengkhianati. Cukup unik memang! Aku tak sabar dengan perjalanan lainnya. *** [TO BE CONTINUE]         
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD