Pagi itu sekolah tampak ramai. Banyak remaja sibuk mencari kelas masing-masing—para siswa baru kelas satu SMA. Gadis berusia lima belas tahun itu juga tengah berkeliling, mencari kelasnya: X MIPA 2.
Setelah berputar cukup lama, akhirnya ia menemukan ruang kelas tersebut. Saat masuk, belum ada satu pun siswa di dalam. Ia memilih duduk di bangku kedua dari depan. Matanya menyapu ruangan, lalu tersenyum kecil sambil membayangkan bagaimana masa SMA-nya nanti.
Tak lama, terdengar ketukan di pintu. Gadis itu menoleh dan seketika terkejut.
“Lili,” sapa seseorang yang baru masuk.
“Loh, Bara?” jawabnya refleks, tak menyangka.
“Kamu di kelas ini juga?” tanya Bara.
“Iya. Kamu juga?” balas Lili.
“Iya dong,” jawab Bara ringan.
“Berarti kita sekelas lagi,” ucap Lili dengan semangat yang ia sembunyikan.
“Iya, ya,” sahut Bara sambil tersenyum tipis, lalu duduk di bangku ketiga dari depan, barisan sebelah.
“Aku dengar Fyan juga sekolah di sini, tapi masuk IPS,” sambung Bara.
“Oh, Fyan juga ya. Terus siapa lagi teman SMP kita yang di sini?” tanya Lili, sekadar basa-basi. Padahal sebenarnya, ia tak begitu peduli—asal bisa mengobrol dengan Bara, itu sudah cukup.
“Setahuku cuma kita bertiga,” jawab Bara.
“Oh,” gumam Lili. Ia kembali menghadap ke depan. Kelas kembali sunyi hingga beberapa saat kemudian siswa lain mulai berdatangan dan suasana menjadi ramai.
Dalam hati, Lili merasa sangat senang. Orang yang ia kagumi sejak kelas dua SMP kini kembali sekelas dengannya.
Lili dan Bara pernah sekelas saat SMP. Di kelas satu, Lili belum terlalu memperhatikannya. Namun sejak kelas dua, perasaannya berubah—menjadi kagum, lalu perlahan menjadi suka.
Semua bermula dari guru matematika mereka, Bu Devi, yang mengajak Lili bergabung dalam klub matematika. Selain Bara, Bu Devi melihat potensi dalam diri Lili. Di klub itu, awalnya hanya ada Bara—karena hampir semua siswa menghindari pelajaran tersebut. Ketika Lili bergabung, mereka pun menjadi berdua.
Di sanalah Lili mulai memperhatikan Bara. Ia merasa matematika sulit, sementara Bara mengerjakannya dengan begitu mudah. Kekaguman itu tumbuh pelan-pelan. Klub tersebut berjalan seminggu sekali, setiap Selasa. Dari sanalah kedekatan mereka terbangun. Nilai matematika mereka selalu tuntas, dan sering kali mereka juga berada dalam satu kelompok tugas.
Saat kelas tiga SMP, semua kegiatan klub dihentikan agar siswa fokus pada ujian nasional. Namun kebersamaan mereka tetap ada lewat tugas-tugas praktik. Dalam setiap presentasi, Lili sering ragu berbicara karena takut salah.
“Lili, bagian ini nanti kamu yang jelaskan,” kata Bara suatu kali. “Tenang saja, kalau salah aku bantu.”
Kalimat sederhana itu membuat Lili berani.
Pernah juga, saat guru meminta siswa maju satu per satu untuk mengerjakan soal, Bara sengaja menunjuk Lili yang duduk paling belakang. Padahal Lili ingin maju, tapi takut menjadi pusat perhatian. Sejak saat itu, perasaan Lili berubah dari sekadar kagum menjadi suka.
Lili juga sering mengalami panic attack saat SMP, dan Bara selalu ada untuk menenangkannya. Hal itulah yang membuat Lili merasa nyaman.
Saat masuk SMA, Lili berniat untuk lebih dekat dengan Bara. Namun ia mulai merasa kecil hati—di kelasnya banyak siswa yang lebih pintar, rajin, dan cantik. Tahun pertama dan kedua SMA ia lewati dengan rasa galau. Meski begitu, mereka tetap berbincang saat kerja kelompok, dan itu sudah cukup membuat Lili bahagia.
Di kelas tiga SMA, kebiasaan mereka berubah. Lili selalu datang paling pagi, disusul Bara. Mereka sering mengobrol sebelum siswa lain datang—tentang SMP, guru, tugas, hingga rencana kuliah. Namun ketika siswa lain mulai berdatangan, Bara selalu kembali ke bangkunya dan berhenti berbicara. Lili bingung, tapi tak pernah mempersoalkannya.
Bara adalah sosok yang sabar. Selama enam tahun sekelas, Lili tak pernah melihatnya bertengkar secara fisik. Bahkan saat berselisih, Bara memilih diam.
Di SMA favorit itu, prestasi mereka menurun—bukan karena mereka malas, tetapi karena persaingan yang begitu ketat.
Bara sering mengirim pesan pada Lili setelah pembagian rapor.
“Li, nilai aku turun di sekolah ini,” tulisnya.
Lili ikut sedih, tapi selalu menyemangatinya. Ia sering berkata bahwa Bara tetap orang terpintar di matanya. Setiap kali itu diucapkan, Bara selalu mengalihkan pembicaraan.
Suatu pagi, Bara datang tepat di belakang Lili dan membuatnya terkejut. Bara tertawa melihat ekspresi Lili.
“Li, tugas matematika sudah?” tanya Bara.
“Belum,” jawab Lili jujur.
“Ayo kerjain bareng. Aku juga belum siap,” kata Bara sambil membuka buku matematika.
Lili terkejut. Selama enam tahun, ia tak pernah mendengar Bara mengeluh soal matematika. Mereka mengerjakan tugas bersama—untuk pertama kalinya. Bara menjelaskan dengan sabar, seperti guru privat. Jantung Lili berdebar; mereka belum pernah sedekat itu.
Kini, mereka telah lulus SMA. Bara memilih kuliah di luar kota, sementara Lili tetap di dalam kota. Bara pergi tanpa janji apa pun. Dan Lili akhirnya mengerti—hubungan mereka hanya sebatas teman sekelas.
Meski singkat dan tak pernah resmi, bagi Lili kebersamaan itu sangat berarti. Bara adalah orang pertama yang membuatnya berani maju ke depan, yang menenangkannya saat panik, dan yang membuatnya mengenal rasa suka.
Namun Bara memiliki tujuan besar tentang masa depannya.
Lili pun mengikhlaskan kepergian itu. Ia mulai fokus pada kuliahnya, ingin sukses, dan membuat keluarganya bangga.
Karena tidak semua kisah cinta harus dimiliki—
beberapa hanya perlu dikenang.
Liliana pernah percaya, bahwa musim akan berhenti jika ia cukup sabar. musim panas meninggalkannya karena janji yang terlalu hangat untuk bertahan. musim dingin meninggalkannya karena diam yang membekukan keberanian. Dan musim semi juga meninggal kan nya bukan karena cinta mati, melainkan karena ia terlalu lama ragu untuk hidup.
Ia tidak lagi bertanya mengapa.
Tidak lagi mencari siapa yang salah.
Karena akhirnya ia mengerti:
beberapa orang tidak pergi karena tidak dicintai,
mereka pergi karena tidak pernah dipilih sepenuhnya.
Liliana berdiri sendiri,
menyadari bahwa setiap musim datang hanya untuk mengajarkannya satu hal—
bahwa ia selalu pandai mencintai,
namun selalu terlambat mengatakan tinggallah.
Dan musim pun berlalu lagi,
meninggalkan Liliana
dengan hati yang masih utuh,
namun kosong di tempat yang sama.