Mereka berenam sering tidur siang bersama. Arman hampir selalu berada di dekat sang gadis—dengan alasan mengganggunya—hingga sang gadis tahu betul bagaimana kebiasaan Arman saat tidur.
Kedekatan mereka berenam membuat sang gadis menganggap kelima sahabatnya seperti saudara sendiri. Namun dari semuanya, yang benar-benar selalu ada di sisinya adalah Arman. Saat ia sakit, saat keluarganya pergi mengunjungi saudara dan ia ditinggal karena kendaraan tak muat, Arman selalu menemaninya. Saat ia bertengkar dengan kerabat, Arman juga ada—entah untuk menenangkan atau sekadar mengusili.
Meski begitu, sang gadis menganggap Arman seperti saudara laki-lakinya sendiri. Ia memang tak memiliki saudara laki-laki.
Suatu malam, ibu Arman melahirkan di rumah sakit. Ayah Arman dan Erlan ikut menemani, sementara Arman diminta tinggal di rumah. Melihat Arman sendirian, sang gadis pun menemaninya. Ibu Arman telah berpesan pada ibu sang gadis untuk menjaga Arman. Karena adik sang gadis kurang sehat, akhirnya hanya sang gadis yang menemani Arman tidur di rumah itu.
Awalnya, mereka menonton televisi sambil tertawa kecil saat kartun menampilkan adegan lucu. Karena bosan, sang gadis teringat tugas sekolah.
“Laka, kita kan ada tugas menggambar untuk nilai keterampilan seni,” ucapnya antusias.
“Oh iya,” jawab Arman. “Di kertas HVS, kan? Aku punya. Ayo kita kerjakan sekarang.”
Mereka mulai menulis nama dan kelas. Sang gadis salah menulis kelasnya.
“Lomut, kita kelas lima. Kenapa kamu tulis kelas empat?” tanya Arman heran.
“Eh, iya ya. Lupa,” jawab sang gadis dengan senyum polos.
“Dasar,” gerutu Arman sambil menjitak kepalanya pelan.
“Aduh, sakit, Laka,” protes sang gadis sambil mengelus kepalanya, lalu membalas dengan mencubit pinggang Arman. Cubitan itu membuat Arman tergelak hingga terbaring di kasur.
“Geli, Lomut!” serunya di sela tawa.
“Itu cubitan. Mau kugelitik juga?” ancam sang gadis sambil menyeringai.
Ia pun menggelitik Arman. Tawa Arman pecah. Tak tahan, Arman menangkap kedua tangan sang gadis, menggenggamnya erat, lalu bangkit duduk.
“Rasain. Enak, kan, gelitikan mautku?” goda sang gadis, tertawa—namun tangannya tak bisa bergerak karena digenggam Arman yang masih terengah.
“Sekarang giliranku,” kata Arman. Ia mendorong bahu sang gadis pelan hingga rebah, lalu mengusap rambutnya ke perut sang gadis yang tertutup kaus. Sang gadis tertawa keras—itulah titik lemahnya. Mereka sama-sama tahu kelemahan masing-masing.
“U-udah, Laka… geli,” ucap sang gadis ngos-ngosan.
Arman berhenti. Ia menatap wajah sang gadis yang memerah dan lemas, lalu tersenyum—menurutnya, wajah itu menggemaskan. Mereka saling bertatapan dalam diam.
Arman mendekat.
“Laka, kenapa?” tanya sang gadis bingung.
Arman tak menjawab. Wajahnya semakin dekat hingga bibirnya menyentuh bibir sang gadis—sekilas, tanpa gerak. Sang gadis terkejut dan mendorongnya kuat-kuat. Ia bergegas turun dari kasur hendak pergi, namun Arman memeluknya dari belakang dan menidurkannya kembali.
“Jangan pergi. Aku takut sendirian,” ucap Arman pelan.
“Kenapa kamu menciumku?” tanya sang gadis gugup.
“Karena aku suka padamu,” jawab Arman datar—bukan nada menjengkelkan yang biasa.
Sang gadis terdiam. “Tapi aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri, Arman.”
Tak lama, sang gadis tertidur dengan pelukan Arman di belakangnya. Arman membeku mendengar kalimat terakhir itu. Ia mengeratkan pelukannya, seolah untuk terakhir kalinya.
Sejak malam itu, Arman jarang bermain bersama mereka. Ia bergaul dengan anak-anak berandalan dari gang sebelah. Sikapnya menjadi dingin pada kelimanya. Erlan pun kebingungan.
Pagi setelah kejadian itu, sang gadis pulang sebelum Arman bangun—takut kejadian serupa terulang.
Seminggu berlalu. Arman tetap berubah. Suatu sore, Rea dan sang gadis berjalan pulang dari Indomaret.
“Mbak… sebenarnya aku suka sama Arman,” ucap Rea tiba-tiba.
Sang gadis terkejut, diliputi rasa bersalah.
“Cie, Rea,” godanya pelan.
“Ih, Mbak,” balas Rea kesal, lalu berjalan lebih dulu. Sang gadis tertawa kecil menyusul.
Sejak itu, sang gadis sering mencari Arman. Erlan mengatakan Arman jarang di rumah.
Setahun kemudian, sang gadis semakin pendiam dan sering merasa sepi. Suatu malam, ia berpapasan dengan Arman di jalan sepi.
“Arman,” panggilnya pelan.
Arman berhenti dan menatapnya dingin. “Apa?”
“Kamu marah sama aku?” tanya sang gadis canggung.
Arman mendekat. Sang gadis mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Tangan Arman menahan di kanan-kiri tubuhnya. Kenangan malam itu kembali menghantam. Matanya berkaca-kaca.
“Arman… Rea sebenarnya suka sama kamu. Bukankah dulu kamu juga dekat dengannya?” ucap sang gadis lirih.
“Aku hanya menganggapnya teman,” jawab Arman dingin.
Ia mendekat dan mengecup bibir sang gadis singkat. Air mata sang gadis jatuh.
“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi,” ucap Arman datar. “Kalau tidak, ini akan terjadi.”
Ia pergi.
Sang gadis terpaku. Pertemanan mereka benar-benar berakhir—asing.
Keesokan harinya, Arman, Erlan, dan orang tua mereka pindah rumah. Rea sangat sedih; Dian berusaha menghiburnya. Rian pun kehilangan Erlan—teman sefrekuesinya. Sang gadis meringkuk di kamar, menyalahkan diri sendiri karena menolak perasaan Arman.
Beberapa tahun kemudian, satu per satu teman-temannya pindah. Sang gadis menjadi yang terakhir—tiga tahun setelah Arman pergi.
Liliana menghela napas panjang.
Dadanya sakit, tapi kali ini rasa itu tidak asing. Ia pernah merasakannya. Dulu, saat ia masih kecil dan belum mengerti arti kehilangan. Saat seseorang pergi tanpa ia pahami alasannya.
Bedanya sekarang—
kali ini ia mengerti.
Dan pemahaman itu jauh lebih menyakitkan.