WINTER 2

1266 Words
Tak lama kemudian, Rea dan Rian dipanggil pulang oleh orang tua mereka. Erlan pamit lebih dulu karena harus mengerjakan tugas, dan Dian juga pulang untuk makan siang. Tinggallah Arman seorang diri di kamar bersama sang gadis. Tiba-tiba, punggung telapak tangan Arman menyentuh dahi sang gadis. “Masih panas,” gumamnya pelan. Gumaman itu terdengar jelas olehnya. “Kenapa kamu belum pulang?” tanya sang gadis dengan raut heran. Bagaimanapun, Arman biasanya hanya membuatnya kesal. “Tadi ayahmu minta aku menjagamu,” jawab Arman. “Beliau harus balik ke pabrik. Ibumu ke mana?” “Ibu jemput adik ke sekolah. Kakakku ada les tambahan,” jawab sang gadis lemah. “Kamu sudah makan?” tanya Arman tiba-tiba. Sang gadis mengernyit. “Aku cuma nggak mau kamu kelaparan dan makin lama sembuhnya,” sambung Arman cepat, pura-pura acuh. “Kalau kamu sakit terus, aku nggak bisa mengusilimu. Bosan, tau.” Sang gadis menahan emosi. Ia terlalu lemah untuk bertengkar. “Belum,” jawabnya singkat. Arman langsung ke dapur. Tak lama, ia kembali membawa makanan dan duduk bersila di samping tempat tidur. “Ayo makan.” “Aku makan sendiri,” ucap sang gadis sambil berusaha bangun. Namun baru sedikit mengangkat tubuh, kepalanya langsung berputar. Tubuhnya lemas—bahkan tangannya gemetar. Arman menekan dahi sang gadis pelan. “Jangan bandel. Aku cuma nyuapin. Nggak usil.” Dengan hati-hati, Arman menyuapi sang gadis. Ia melakukannya serius—perlahan, memastikan ia tidak tersedak. Beberapa menit kemudian, makanan habis. Arman menyodorkan minum. “Kenapa kamu nggak kayak gini saja?” gumam sang gadis bingung. “Nggak usah nyebelin.” Arman tersenyum. Bukan senyum jahil seperti biasa—melainkan senyum hangat, seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sang gadis ikut tersenyum kecil, berharap Arman akan selalu seperti ini. “Aku ngantuk,” ucapnya pelan. “Tidur saja,” jawab Arman. “Aku di sini sampai keluargamu pulang.” Sang gadis terlelap. Arman menatap wajah pucat itu lama sekali. Tangannya terangkat, mengelus rambut sang gadis dengan lembut. Ia menunduk, mengecup keningnya pelan. Ya Tuhan… pindahkan sakitnya padaku saja. Ia berbaring di sampingnya, menghadap sang gadis, hingga akhirnya ikut tertidur. Beberapa jam kemudian, ibu sang gadis pulang. Melihat Arman tertidur di samping anaknya, ia tersenyum. Arman memang selalu ada ketika putrinya sendirian—dan tanpa disadari, ia juga yang perlahan membantu anak itu melupakan ingatan paling menyakitkan dalam hidupnya. “Arman, bangun,” ucapnya lembut. Arman membuka mata. “Oh, Tante sudah pulang.” “Iya. Terima kasih sudah menjaganya. Mamamu memanggil,” kata ibu sang gadis. “Iya, Tante.” Arman pun pamit dan pulang. Hari-hari berikutnya, Arman kembali seperti biasa—menyebalkan, jahil, dan selalu membuat kesal. Namun ada sisi Arman yang tak pernah disadari sang gadis: ia sangat peduli, menyayangi, dan bahkan rela berkorban. Suatu hari, saat bermain di hutan kecil dekat rumah, sang gadis terpeleset dan hampir jatuh ke jurang dangkal. Arman spontan menarik tangannya dan mendorong tubuh sang gadis menjauh. Tubuh mereka bertukar posisi. Arman jatuh ke jurang itu. Punggungnya berdarah. Rian dan Erlan segera menolong dan membawanya pulang. Seorang tetangga yang bekerja di klinik mengobatinya. Sang gadis berdiri terpaku. Air matanya jatuh diam-diam saat menatap Arman. “Kenapa kamu melakukan itu?” tanyanya lirih. “Karena aku lebih kuat,” jawab Arman sambil tersenyum jahil. “Jadi aku saja yang jatuh.” Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak ingin membuat sang gadis menangis lebih lama. Beberapa hari kemudian, mereka berenam pergi ke kolam renang dekat rumah untuk mengisi liburan semester. Kolam itu sepi. Erlan dan Arman langsung berenang ke tengah. Sang gadis dan Dian belajar berenang di tepi. Rea duduk di tangga kolam—traumanya pada air belum hilang. “Rea, ini dangkal,” bujuk sang gadis. “Cuma sedada.” “Oke… tapi jangan tarik ke tengah,” jawab Rea ragu. Tak lama, Arman menepi dan menatap sang gadis dengan senyum mengejek. “Ke tengah dong, kalau berani.” “Aku nggak takut,” balas sang gadis cepat. “Aku cuma nggak suka ke tengah.” “Alasan,” ejek Arman. “Takut tenggelam, kan?” Sang gadis menelan ludah. Ia memang takut. Air di tengah kolam lebih tinggi dari kepalanya—dan ia tidak pandai berenang. “Kalau gitu,” kata Arman, “kita lomba. Ke tengah lalu balik ke sini.” Jantung sang gadis berdegup kencang. “Ayo,” ucap sang gadis tiba-tiba. Arman terkejut. Ia tahu betul gadis itu tidak pandai berenang. “Ayo, Laka,” ulangnya saat Arman terdiam. Mereka pun bersiap menuju ke tengah kolam. Jantung sang gadis berdebar kencang. Namun ia meyakinkan dirinya sendiri—ia akan langsung berbalik jika sudah sampai di tengah. Ia tidak akan tenggelam. Mereka mulai berenang. Saat kakinya menapak di area yang lebih dalam, pijakannya tiba-tiba tergelincir. Tubuhnya terperosok. Panik langsung menyergap. Ia meloncat-loncat, berusaha membuat kepalanya muncul ke permukaan untuk mengambil napas. Arman melihatnya. Tanpa ragu, ia langsung menggendong tubuh gadis itu—seperti koala yang memeluk erat. Gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. “Dasar keras kepala,” omel Arman dengan nada jahil, meski ada jelas rasa khawatir di matanya. “Sudah tahu nggak bisa berenang, masih saja ke tengah.” Ia tidak berbalik. Arman membawa gadis itu ke pinggiran kolam yang dekat dengan area dalam, lalu mendudukkannya di sana. Gadis itu masih terdiam, dadanya naik turun mengatur napas. “Berarti aku yang menang, dong,” ujar Arman santai. Sang gadis menatapnya tak percaya. “Eh, Laka, aku barusan hampir tenggelam dan kamu malah meledek?” Ia bangkit hendak pergi. “Aku nggak mau berteman lagi sama kamu. Kamu nyebelin!” Namun belum sempat melangkah, Arman kembali menggendongnya dan membawa ke arah tengah kolam. “Mau aku turunin di sini, Lomut?” ancamnya dengan seringai jahil. “Laka! Balik ke pinggir!” teriak sang gadis panik sambil memukul bahu Arman. Arman tertawa. Namun saat tangannya mulai melonggar, sang gadis refleks memeluknya erat. “Aku takut…” gumamnya lirih. Kalimat itu membuat Arman terdiam sesaat. Merasa sudah cukup mempermainkannya, Arman segera kembali ke pinggiran dan mendudukkan sang gadis dengan aman. Ia keluar dari kolam dan berjalan pergi sambil berkata, “Lomut ternyata cengeng.” Senyumnya jahil. Sang gadis mendengus kesal lalu menyusulnya ke meja tempat teman-teman mereka tadi makan. “Punyaku sama Lomut sudah dipesan belum?” tanya Arman. “Belum,” jawab Dian. “Kalian keburu ribut.” Arman langsung menuju kedai dan memesan dua pop mie. Tak lama kemudian, sang gadis menyusul. “Bu, pesan satu pop mie,” ucapnya tanpa menoleh ke Arman. “Sebentar ya,” jawab penjaga kedai sambil menunjuk Arman. “Punya dia dulu.” “Nggak usah,” potong Arman tiba-tiba. Sang gadis dan penjaga kedai sama-sama bingung. “Kenapa?” tanya sang gadis tak senang. “Aku sudah pesan dua,” jawab Arman santai. Tak lama, dua pop mie diserahkan. Arman memberikan satu pada sang gadis. Mereka kembali ke meja—namun meja itu sudah kosong. Teman-teman mereka kembali berenang. Kini, hanya mereka berdua. Arman tersenyum kecil. Ia senang. Rea yang memperhatikan dari kejauhan hanya menunduk—perasaan itu ia simpan sendiri. Di tengah makan, sang gadis bertanya, “Eh, Laka… kenapa kamu manggil aku Lomut?” “Kan sudah aku bilang,” jawab Arman. “Lobang semut.” “Aku tahu itu,” balasnya kesal. “Tapi kenapa?” “Karena wajahmu kecil,” jawab Arman sambil tertawa. Sang gadis mendengus. “Sekarang gantian. Kenapa aku manggil kamu Laka?” “Kenapa?” Arman mengangkat alis. “Karena kalau kamu tidur, seperti diLapangan Merdeka,” jawab sang gadis dengan senyum jahil. “sulit diam , gerak trus ke mana-mana.” Arman terdiam sesaat, lalu tertawa lepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD