Sebuah pohon besar menjulang tinggi di dekat pemukiman. Pohon itu menjadi tempat favorit enam orang anak berusia delapan hingga sepuluh tahun. Mereka menjadikannya tongkrongan tetap—tempat berbagi cerita, tertawa, dan menghabiskan waktu sepulang sekolah.
Di dahan paling atas duduk seorang anak laki-laki bertubuh kecil bernama Erlan, usianya delapan tahun, paling muda di antara mereka.
“Mbak, pohon jambu dekat rumah Mbak sudah ada yang matang belum buahnya?” tanyanya pada seorang gadis berusia sepuluh tahun berambut lurus yang duduk di dahan paling bawah.
“Belum ada, Lan,” jawab gadis itu santai. “Baru dipanen tiga hari lalu.”
“Iya juga ya,” gumam Erlan sambil tersenyum malu.
Tak jauh dari Erlan, duduk Rea, gadis tomboi berusia sembilan tahun dengan rambut ikal panjang sepunggung. Ia bersandar santai di dahan.
“Lan, jangan kayak orang hutan dong,” ejeknya. “Kalau nggak nyari buah di hutan, ya nyari pohon di rumah orang.”
Semua tertawa mendengar ucapan Rea. Erlan hanya menggaruk kepala, ikut tertawa.
“Eh, nanti malam kumpul yuk. Kan malam Minggu,” usul Dian, gadis sepuluh tahun dengan rambut ikal di bagian ujung.
“Setuju!” sambung Rian, anak laki-laki delapan tahun, adik Rea. “Kita nonton Avengers di rumahku. Malam ini tayang!”
“Oke, aku sama Erlan datang,” kata Arman, anak laki-laki sepuluh tahun—abang Erlan.
“Aku juga!” sahut Dian dan gadis berambut lurus itu bersamaan.
Malam itu mereka berkumpul di rumah Rea dan Rian. Bukan karena tak ada televisi di rumah masing-masing, tapi menonton bersama selalu terasa lebih seru. Lagi pula, rumah itu sedang sepi—orang tua mereka pergi sebentar ke rumah saudara, kakak Rea sudah menikah, dan abang mereka pergi bersama gengnya.
Mereka menonton sambil sesekali bercanda. Hingga tiba-tiba Arman menunjuk layar televisi.
“Eh, si Loki itu penjahatnya mirip kamu, Lomut!” katanya sambil tertawa keras.
Semua langsung saling pandang. Mereka tahu—pertengkaran pasti akan terjadi.
Rea dan Erlan tetap asyik membicarakan tokoh favorit mereka. Rian dan Dian fokus ke layar. Sementara gadis yang dipanggil Lomut oleh Arman memasang wajah kesal.
“Heh, mulut dijaga, Bapak Laka!” bentaknya.
“Hahaha, nggak ngaku,” balas Arman makin menjadi.
Kesabaran gadis itu habis. Ia langsung menjambak rambut ikal Arman. Arman berusaha melepaskan diri, lalu kabur keluar rumah. Gadis itu tak mau kalah—ia mengejar sambil berlari.
Terjadilah kejar-kejaran seperti biasa.
Yang lain hanya menggelengkan kepala dan kembali menonton film. Ini sudah terlalu sering terjadi—hampir setiap hari.
Sekilas tentang Arman dan gadis itu.
Mereka pertama kali bertemu saat berusia enam tahun. Arman dan Erlan baru pindah ke daerah itu. Ibu mereka menikah lagi karena ayah kandung mereka tak bertanggung jawab. Suami baru sang ibu tinggal di lingkungan rumah gadis tersebut, dan sejak saat itu mereka bertetangga.
Awalnya, Arman dan gadis itu tak pernah bertengkar. Namun entah sejak usia delapan tahun, Arman selalu menemukan cara untuk membuatnya kesal—baik lewat ucapan maupun perbuatan. Anehnya, sikap Arman pada Rea dan Dian biasa saja. Hanya pada gadis itu, ia selalu usil.
Seolah sengaja.
Suatu hari, hujan turun deras sepulang sekolah. Mereka berenam baru pulang dan berniat mengerjakan PR bersama di rumah Dian. Saat itu, gadis tersebut duduk di kelas empat SD.
Tanpa berganti baju, mereka langsung berkumpul. Di tengah mengerjakan PR, hujan semakin deras. Gadis itu berdiri dan melangkah ke teras. Ia sangat menyukai hujan.
Ia mengulurkan tangan, membiarkan air hujan jatuh ke telapak tangannya, tersenyum kecil.
Arman memperhatikannya. Sebuah ide jahil muncul.
Tanpa peringatan, ia mendorong gadis itu ke tengah hujan.
“Hey!” teriaknya terkejut.
Arman tertawa puas melihat gadis itu basah kuyup, sementara hujan terus turun deras—dan sejak saat itu, satu lagi alasan gadis itu kesal padanya pun tercipta.
Sang gadis sebenarnya ingin ikut mandi hujan. Namun seragam yang dikenakannya adalah seragam terakhir yang harus dipakai besok. Rasa kesal langsung memenuhi dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia berusaha menarik Arman.
Laki-laki usil itu ikut terseret dan akhirnya sama-sama terguyur hujan.
Tak lama, yang lain ikut menyusul. Keenamnya mandi hujan bersama dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka. Arman dan sang gadis saling menendang genangan air, membuat cipratan hujan saling mengenai wajah satu sama lain.
Dian menari-nari di bawah hujan dengan tawa lepas. Rian dan Erlan justru sibuk memperhatikan siput-siput kecil yang merayap di dedaunan basah. Sementara Rea—si tomboi—Arman, dan sang gadis saling bertukar pandang dalam diam, dengan makna yang sulit diartikan.
Hujan berhenti. Tawa mereka pun berakhir bersama amarah orang tua masing-masing yang tak bisa menerima seragam basah kuyup.
Keesokan harinya, sang gadis jatuh demam. Mungkin akibat mandi hujan semalam. Ia tidak masuk sekolah. Dari mereka yang mandi hujan bersama, hanya dirinya yang sakit.
Hal itu membuat teman-temannya khawatir.
Sepulang sekolah, mereka sepakat menjenguknya.
Sang gadis terbaring di tempat tidur sambil menonton televisi, berselimut tebal hingga d**a. Sebuah kompres diletakkan di kepalanya.
“Mbak, kok bisa sakit?” tanya Rea dengan wajah murung. Gadis tomboi itu terlihat paling sedih—ia memang paling manja pada sang gadis.
“Ya karena Mbak lebih lemah dari kamu, Rea,” jawab sang gadis sambil tersenyum lembut. “Habis mandi hujan semalam.”
Setelah itu, matanya melirik tajam ke arah Arman.
Arman terdiam sejenak, lalu berkata santai, “Eh, Lomut. Kamu kenapa sih lemah banget?”
Raut kesal langsung muncul di wajah sang gadis, meski tubuhnya lemah.
“Aku lagi nggak mau berantam sekarang, Laka,” ucapnya pelan.
Dian yang melihat Arman mulai memancing emosi langsung menjitak kepalanya.
“Heh, Arman! Jangan ganggu sahabatku yang paling cantik ini.”
Ucapan itu membuat sang gadis terkekeh. Dian tersenyum padanya.
“Kamu harus cepat sembuh ya. Aku nggak punya teman di sekolah kalau kamu sakit.”
Sekilas tentang Dian—ia memang dikenal jutek pada semua orang. Namun, pada lima sahabatnya, ia selalu menunjukkan sisi paling lembutnya.