Sejak hari itu, mereka menjadi sangat dekat. Hampir setiap waktu dihabiskan bersama. Gadis kecil itu dan pangerannya seolah tak pernah terpisahkan. Kakak sang gadis yang dulu sering mengeluh karena adiknya sulit diajak bermain dengan teman sebaya, kini justru merasa lega—adiknya telah memiliki teman yang selalu menjaganya selama setahun terakhir ini.
Suatu hari, tak jauh dari rumah mereka, berlangsung pesta pernikahan seorang tetangga. Meval dan Nana bermain di sekitar pesta itu hingga lelah, lalu duduk berdampingan di salah satu kursi tamu. Mata mereka menatap ke arah pelaminan—sepasang pengantin yang tampak begitu tampan dan cantik.
Mereka masih terlalu kecil untuk memahami arti pernikahan. Namun Meval tiba-tiba berkata dengan suara yakin,
“Kalau kita sudah besar nanti, ayo datang ke tempat seperti itu. Kita akan jadi tampan dan cantik seperti mereka.”
Tangan kanannya menunjuk pelaminan, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Nana.
“Kita akan duduk berdua. Dan selalu bersama. Sampai kapan pun.”
Nana menatapnya, lalu mengangguk sambil tersenyum polos.
“Ayo… Nana juga mau bersama pangeran terus.”
Mereka tidak tahu arti janji. Namun di hati mereka yang masih suci, kata-kata itu tertanam begitu dalam.
Beberapa hari setelah pesta usai, mereka duduk berdua di bawah pohon besar di halaman tetangga. Angin sejuk berembus, membuat suasana terasa damai. Mereka mengobrol tanpa henti—pikiran mereka seolah berjalan di jalur yang sama.
Tak lama kemudian, Nana menguap. Ia bersandar ke batang pohon dan memejamkan mata. Melihat itu, Meval perlahan memindahkan kepala Nana ke pahanya yang sedang selonjor, membiarkan tubuh kecil itu terbaring nyaman di atas rumput.
Ia mengelus rambut Nana pelan, menatap wajah polos itu lama sekali. Tanpa sadar, Meval menunduk dan mengecup kening Nana dengan sangat lembut—seolah takut mimpi itu akan hilang jika disentuh terlalu kasar.
Suatu malam, mereka bermain kembang api bersama Milly yang berada di gendongan Tante Amira. Nana takut pada salah satu kembang api yang bisa terbang.
“Jangan takut, Nana. Aku saja yang nyalakan,” kata Meval meyakinkan.
“Tapi itu bahaya, Pangeran,” ucap Nana cemas.
Meval justru tertawa. Ia menyalakan sumbu, dan kembang api berbentuk kupu-kupu itu terbang tinggi sebelum akhirnya meledak. Milly terkejut dan menangis. Amira segera membawanya masuk.
Nana tidak takut. Namun entah mengapa, dadanya terasa sesak. Seperti ada firasat buruk yang belum ia mengerti. Ledakan itu seolah menjadi awal dari kegelisahan kecil di hatinya.
Sejak malam itu, Nana semakin ingin selalu bersama Meval. Mereka tidur bersama, makan bersama, bahkan pernah mandi bersama. Nana selalu memaksa ibunya, dan jika tidak dituruti, ia akan menangis hingga sesenggukan. Sang ibu akhirnya membiarkan Nana tidur bersama Meval—tanpa tahu bahwa anaknya sedang mencoba mengusir rasa takut yang tak bisa ia jelaskan.
Suatu malam, Nana terbangun karena mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia mencari Meval ke mana-mana—namun tidak menemukannya.
“Nana, kenapa?” tanya Meval panik saat melihatnya menangis.
Nana tidak menjawab. Ia hanya memeluk Meval erat, seolah takut kehilangan lagi. Setelah tangisnya reda, ia berbisik,
“Jangan pergi… jangan hilang, Pangeran.”
Meval terdiam. Ia sudah mendengar percakapan neneknya dengan orang tuanya—tentang kepindahan yang tak lama lagi akan terjadi.
“Nana,” katanya pelan, “kalau aku menghilang… aku akan kembali. Aku janji.”
Malam itu, mereka tertidur saling berpelukan. Dalam tidur mereka, kenangan pertama hingga hari-hari kebersamaan kembali hadir—seakan waktu ingin berhenti di sana.
Sejak malam itu, Meval sering terlihat murung. Suatu sore, ia melihat neneknya mulai merapikan barang ke dalam koper.
“Nek… kita harus pergi dari sini?” tanyanya pelan.
“Iya, sayang,” jawab neneknya lembut. “Kita harus bersama ayah dan ibumu. Supaya kamu dan Nana tetap aman.”
Meval membeku.
Ia berlari ke bawah pohon besar tempat mereka biasa duduk. Bersandar di batangnya, ia memejamkan mata. Air matanya mengalir tanpa suara.
Tak lama kemudian, Nana datang. Ia terkejut melihat Meval menangis. Tanpa berkata apa pun, ia duduk di sampingnya dan menyandarkan kepala Meval ke bahunya.
“Kamu kenapa?” tanya Nana lirih.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Meval, tersenyum paksa.
Mereka berpelukan lama sekali. Seperti pelukan terakhir—meski belum ada kata perpisahan.
Keesokan paginya, Nana bangun dan menuju teras seperti biasa. Ia hendak memanggil Meval, namun langkahnya terhenti. Di depan rumah, orang-orang sibuk mengangkat barang.
Amira berdiri di sana.
“Tante… Meval di mana?” tanya Nana.
Amira berjongkok dan mengelus kepala Nana.
“Meval sudah pergi, sayang. Dia bersama nenek dan Milly naik pesawat.”
Tangis Nana pecah. Amira memeluknya erat.
Tak lama, ibunya datang dan menggendong Nana yang terus menangis. Setelah berpamitan, Amira pergi. Rumah di seberang kembali kosong.
Sang ibu membawa Nana masuk ke dalam rumah, menenangkannya dengan sabar. Dalam diam, ia ikut menangis. Saat itu, ia tengah mengandung adik Nana—dan ia tahu, kehilangan ini akan membekas lama.
Namun ia percaya…
perpisahan ini terjadi demi kebaikan putrinya.