SUMMER 2

742 Words
Tak lama mengobrol, sang nenek pun berpamitan untuk pulang bersama Meval. “Syifa, saya pamit dulu ya. Anak saya sebentar lagi pulang,” ucap sang nenek. “Anak nenek yang mana, Nek?” tanya ibu gadis kecil itu. “Anak nenek namanya Amira. Tadi dia pergi bersama Meval ke rumah kakaknya—orang tua Meval—untuk mengambil pakaian mereka,” jelas sang nenek. “Oh begitu. Orang tua Meval ke mana, Nek? Kenapa tinggal bersama nenek?” tanya Syifa dengan hati-hati. “Mereka bekerja di luar kota dan sangat sibuk, jadi anaknya dititipkan pada saya dan Amira. Amira juga sering sibuk karena kuliah—sudah semester lima. Jadi saya ikut membantu merawat Milly, adiknya Meval,” jawab sang nenek. “Oh, begitu. Kalau butuh bantuan, jangan ragu minta tolong ke saya ya, Nek,” ucap Syifa ramah. “Terima kasih, Syifa. Saya pulang dulu,” balas sang nenek sebelum berjalan menuju rumahnya. Gadis kecil itu menoleh, memperhatikan Meval yang semakin menjauh. Tak lama kemudian, sang kakak pulang sekolah dan langsung memeluk ibu serta adiknya seperti biasa. “Tadi di sekolah kami semua keluar kelas karena gempa,” cerita sang kakak. “Tidak ada yang terluka, kan?” tanya sang ibu khawatir. “Tidak ada kok,” jawabnya sambil tertawa kecil. Ibu pun menghela napas lega. Sang kakak terus bercerita, sementara gadis kecil itu hanya mendengarkan dengan wajah polos—meski pikirannya masih dipenuhi oleh anak laki-laki bernama Meval. Malam tiba. Sang ibu membacakan dongeng sebelum tidur. Tak lama, sang kakak terlelap karena kelelahan setelah mengerjakan PR. Gadis kecil itu masih terjaga, mendengarkan kisah tentang seorang pangeran. “Pangeran itu bagaimana?” tanyanya dengan suara cadel. Sang ibu tersenyum. “Pangeran itu pria tampan dengan senyuman manis. Banyak gadis yang menyukainya.” Gadis kecil itu berpikir sejenak, lalu berkata, “Berarti Meval pangeran.” Sang ibu tertawa kecil. “Mungkin dia pangeran buatmu, sayang.” Gadis kecil itu menatap ibunya polos, lalu menguap karena mengantuk. Sang ibu mengelus kepalanya hingga ia tertidur. Keesokan harinya, gadis kecil itu sedang menonton televisi ketika suara tangisan anak perempuan terdengar dari luar. Ia penasaran dan berjalan menuju ruang tamu, namun ibunya segera menyusul. “Mau ke mana, sayang?” tanya sang ibu. “Mau keluar,” jawab gadis kecil itu dengan suara cadel. Ibunya menggandeng tangannya menuju teras. Di sana, mereka melihat seorang gadis dewasa duduk di kursi kayu, memangku seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahun yang sedang menangis. Di sampingnya, Meval duduk sambil berusaha membujuk sang adik. Syifa mendekat. “Hai, saya Syifa,” ucapnya sambil bersalaman. “Oh iya, Bu. Saya Amira,” jawab gadis dewasa itu. “Nenek sudah cerita soal tetangga depan rumah.” “Panggil Mbak saja. Umur kita tidak jauh beda,” kata Syifa tersenyum. “Oh iya, Mbak,” balas Amira gugup. “Ini adiknya Meval ya?” tanya Syifa sambil mengelus pipi si kecil. “Iya, namanya Milly. Umurnya dua tahun,” jawab Amira. Setelah beberapa saat bermain, Syifa berpamitan pulang. Namun Meval tiba-tiba berkata, “Tante, aku mau main sama dia,” sambil menunjuk gadis kecil itu. Syifa menoleh ke anaknya. “Kamu mau main di sini, sayang?” Gadis kecil itu mengangguk gemas. “Jangan nakal ya. Main di sini saja, jangan ke mana-mana,” pesan Syifa. Tak lama kemudian, Amira masuk ke dalam untuk bersiap kuliah. Nenek Meval datang menjemput Milly untuk tidur siang dan meminta Meval tetap bermain di teras. Gadis kecil itu tiba-tiba menatap Meval kagum. “Pangeran.” Meval mengernyit bingung, lalu tersenyum. “Hai, Nana.” Gadis kecil itu terdiam. Namanya bukan Nana. “Aku panggil kamu Nana saja, namamu kepanjangan, lalu kenapa kamu memanggilku pangeran?” jelas Meval. “Karena pangeran itu tampan dan punya senyum manis sepertimu,” jawab Nana polos, menirukan kata-kata ibunya dulu. Wajah Meval memerah. Nana tertawa lalu refleks memegang telinga Meval yang merah. “Hey!” protes Meval sambil tertawa. Nana malah makin gemas. Setelah itu, Meval mengajak Nana bermain petak umpet. Dengan sabar, ia menjelaskan caranya. Nana mengangguk, meski belum sepenuhnya paham. Permainan dimulai. Nana bersembunyi di balik kursi, lalu tiba-tiba berlari ke halaman tetangga karena takut ketahuan. Meval terkejut dan segera mengejarnya. “Nana, stop!” teriaknya saat berhasil mendekat. Nana berhenti sambil terengah. “Capek… jangan kejar lagi.” Meval memeluknya erat. “Jangan lari jauh-jauh. Nanti kamu hilang.” “Oke,” jawab Nana sambil tersenyum polos. Sejak hari itu, mereka menjadi sangat dekat—hampir setiap waktu selalu bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD