Rumah megah tingkat dua dengan halaman yang luasnya tak terjangkau mata menjulang megah di hadapan Almeta, sampai mulut gadis itu menganga, takjub. Untuk bisa sampai di hadapan bangunan itu harus melalui kurang lebih 200 meter dari pintu gerbang utama, di mana terdapat pos yang dijaga beberapa pria berseragam security.
Jalan setapak yang dilalui kendaraan diapit dua taman yang berbeda fungsi. Di sisi kiri taman mewah yang dihiasi berbagai macam bunga segar. Memanjakan setiap mata pengunjung yang menatap ke arahnya. Di sisi kanan terdapat pohon-pohon besar, tapi rapi terawat, beberapa ornamen patung di sekitarnya membawa kesan artistik dan menawan.
"Silakan turun, Nona!" pinta Lena. Wanita itu adalah asisten atau tangan kanannya seseorang yang menolong Almeta.
Meski ragu membayang jelas di sepasang netra bening Almeta, dia tetap mengikuti yang diperintahkan wanita itu. Kaki sedikit gemetar, melangkah pelan mengikuti Lena di belakangnya. Setibanya di dalam Almeta lebih terpukau dengan seluruh yang ada di ruangan.
"Tunggu sebentar di sini, Nona," pinta Lena. Almeta hanya mengangguk.
Gadis sederhana, tapi memiliki kecantikan khas lokal itu lebih fokus mengagumi ruangan luas dengan aneka perabot super mewah. Matanya nyaris tidak berkedip mengamati satu persatu barang serta bentuk arsitektur ruangan yang luar biasa menawannya.
"Yaa ampun, mewahnya. Pasti orangnya sangat kaya sekali," gumam Almeta.
lama kelamaan sepasang netra beningnya serasa perih juga, saking terpana dengan keindahan rumah dan isinya sampai dia lupa berkedip. Namun, seakan belum puas, matanya kembali melahap seluruh pemandangan, seolah sayang untuk tidak dinikmati.
Mata bulat Almeta membentur sebuah bingkai besar yang menggantung di dinding. Foto sepasang pengantin, tampan dan cantik yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Almeta berdecak kagum seperti melihat putri dan pangeran dalam dongeng.
Di menit ke sepuluh Almeta dikejutkan dengan kedatangan Lena, kali ini tidak sendiri. Seketika gemuruh di d**a yang sempat hilang kembali lagi bahkan menabuh lebih kencang dari sebelumnya.
Di depan Lena ada seorang wanita bertubuh tinggi dengan bentuk body sangat ramping bak fotomodel melangkah anggun. Kedua wanita yang terlihat mencolok perbedaan tampilannya itu menuruni anak tangga yang meliuk seperti ular.
Almeta terpesona dengan keelokan wanita berambut lurus sebahu disemir coklat yang baru datang itu. Setelah jarak keduanya tinggal setengah sehasta, sang wanita berparas mirip Barbie itu menyunggingkan senyum. Lengkungan indah bagi siapa saja yang melihatnya akan terpana.
"Aku Jennie, salah satu penghuni rumah ini." Sang wanita langsung memperkenalkan diri. Suaranya bagai denting piano mengalun merdu.
"Sa-saya Almeta, Nyonya."
Jennie mengangguk. Selanjutnya mengamati gadis sederhana di depannya secara terang-terangan. Pakaian yang dikenakan jauh dari kata bagus, rok panjang lebar, corak bunga yang sudah kusam. Kemeja putih tidak lagi asli warnanya karena luntur dan tertimpa warna lain.
Saat mata sang nyonya melirik ke bawah, kaki Almeta sedang tumpang tindih. Mungkin alas kakinya dibuka di luar, pikir wanita elok itu. Kedua sudut bibirnya berkedut samar.
Gadis yang memiliki kecantikan tersembunyi. Lugu, tidak gila harta, dan sepertinya mudah diajak kerja sama. Cocok! Penilaian wanita mewah itu dalam hati.
"Terima kasih sudah mau datang ke rumah sederhana ini, Almeta."
Sederhana katanya? Rumah semegah dan entah berapa miliar kalau di rupiahkan ini menurut wanita cantik bak bidadari itu disebut sederhana. Ah, becandanya kurang lucu, batin Almeta.
"Anda sangat kaya sekali, Nyonya. Istana segini megahnya dibilang sederhana." Almeta kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan ekspresi tercengang.
Yaa ampun, sederhana apanya? Istana Presiden aja pastinya kalah, monolog hati Almeta.
Keluguan Almeta mengundang tawa renyah sang nyonya, Lena yang berada di belakang wanita cantik itu ikut menyunggingkan senyum.
"Duduklah, aku ingin bicara denganmu," ucap wanita bergaun hitam panjang itu.
"Iya, Nyonya." Almeta mengikuti dengan langkah hati-hati. Lantai yang sangat mengilap membuatnya takut terpeleset saking licin.
Ragu mendera hati ketika p****t hendak menyentuh sofa beludru ukir klasik, saat tersentuh jemari begitu lembutnya, Almeta takut gerakan duduknya merusak keindahan benda tersebut. Akhirnya dia memilih berdiri sambil meremas ujung kemeja.
"Kenapa tidak duduk?" tanya Jennie menatap heran Almeta.
"Mmm, itu, saya takut p****t saya merusak kursi indah ini."
Jennie tergelak, Almeta tersipu. Apakah kata-katanya ada yang salah, sehingga wanita kaya itu tertawa sampai tubuh indahnya berguncang. Lena ikut terkekeh sembari menutup mulut, kepalanya menggeleng kecil.
"Apakah pantatmu berduri?"
Almeta menggeleng cepat. "Tentu saja tidak, Nyonya."
"Kalau begitu, duduklah. Sofa itu tidak akan rusak jika pantatmu mulus." Jennie kembali menderaikan tawa, walau tidak sekeras sebelumnya.
Almeta kembali tersipu. Tanpa ragu lagi dia mengikuti perintah Jennie, kendati demikian gerakkannya tetap penuh kehati-hatian.
Tangan Jennie bergerak, seolah meminta Lena pergi menggunakan isyarat. Tanpa menunggu sang nyonya keluar suara, asisten kepercayaan itu paham, meninggalkan ruang tamu setelah membungkuk hormat.
Sebelum Jennie mengajak berbincang tamunya, dia membiarkan seorang pelayan menaruh jamuan ringan di atas meja terlebih dahulu. Barulah setelah pelayan itu pergi, dia mengajukan tanya, "Bagaimana kabar ibumu?"
"Keadaan ibu cukup kritis, tapi ibu sedang di operasi saat saya diminta ikut sama wanita bernama Nyonya Lena tadi."
"Kau bisa memanggilnya Lena tidak perlu pake nyonya. Dia asisten yang menjalankan setiap perintahku."
"Oh gitu, baik, Nyonya."
"Oh iya, semoga ibumu bisa terselamatkan dan kembali sehat seperti dulu."
"Aamiin, Nyonya. Kata Nyo eh Lena, Nyonya Jennie yang membantu biaya operasi ibu saya, kalau begitu saya ucapkan banyak terima kasih." Keharuan terkandung dalam suara Almeta atas kebaikan wanita di depannya.
Namun, hati kecil gadis itu tetap menaruh praduga tentang tujuan dari pertolongan sang nyonya. Apakah ada udang di balik batu atau tulus tanpa pamrih. Ingin menanyakan hal itu, tapi rasa segan menghambatnya.
"Aku hanya membantu sedikit. Sebagai sesama umat yang diciptakan Tuhan, kita harus saling tolong menolong, bukan?"
"Iya, Nyonya, tapi biaya operasi itu tidak sedikit, puluhan bahkan ratusan juta. Saya tidak tahu dari mana nanti membayarnya." Almeta memiliki cara untuk mengetahui hal yang dipikirkannya.
"Kau tidak perlu khawatirkan itu saat ini. Pikirkan saja dulu kesehatan ibumu."
"Tapi tetap saja saya harus memikirkannya dari sekarang, Nyonya, bagaimana caranya mencari uang untuk membayar utang saya. Kerjaan cuma membantu di kantin di sekolah biasa, tidak menghasilkan banyak uang, hanya cukup buat makan sehari sekali."
Jennie mendesah pelan mendengar nasib miris gadis yang memiliki paras cukup cantik itu. "Dengar, Almeta! Pertolonganku memang tidak gratis, apa lagi menyangkut uang banyak seperti katamu, kau harus membayarnya, tapi ...."
"Tapi apa, Nyonya?" Akhirnya Almeta mendapat jawaban. Namun, hatinya mulai dihinggapi debar tak karuan, takut seandainya sang nyonya meminta ganti yang tidak sanggup ia penuhi.
"Aku meminta kau membayarnya bukan dengan uang."
"Hah? Lalu dengan apa?"
"Untuk saat ini aku belum bisa mengatakannya, karena aku harus berunding dulu dengan suamiku. Oh iya, satu lagi, Almeta, kelak kau akan mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik dari kehidupanmu sebelumnya, asalkan ... kau memenuhi keinginanku."
Almeta tidak lagi banyak bertanya, tapi otaknya terus memutar pertanyaan, 'Apa yang diminta Nyonya Jennie buat membayar utangnya nanti?'
Bersambung