BAB 3. PERMINTAAN GILA

1106 Words
"Rich, aku mau kau menikah dengan wanita yang ada di foto ini." Jennie menyodorkan dua lembar foto berukuran 2R dengan pose berbeda ke hadapan suaminya. "Apa katamu? Menikah dengan wanita yang ada di foto itu?" Rich mengulang kata-kata sang istri dengan keterkejutan yang sangat, sampai-sampai fokusnya dari laptop teralihkan. Foto yang Jennie perlihatkan hanya dilirik sebentar. Ide gila dari mana yang terlintas di otak istrinya?! "Iya, Rich. Calon istri keduamu namanya Almeta Azhalia, cantik bukan, seperti orangnya yang memang indah dipandang mata." Jennie berkata demikian karena sudah membuktikan bahwa Almeta sangatlah jelita. Sewaktu Lena membawa Almeta ke kediaman Jennie kemarin, Jennie mengubah gadis lusuh dan kampungan itu menjadi cantik untuk dipotret, kemudian hasil jepretannya dia berikan pada sang suami tanpa memberitahu Almeta untuk apa foto tersebut. "Apa kau sudah tidak waras, Jennie?" Tidak ada keinginan lagi bagi Rich mengerjakan tugas kantor yang sudah biasa dibawa ke rumah. Setelah mematikan fungsi laptop, Rich meninggalkan meja kerja menuju meja satunya di mana tersedia seperangkat alat minum. Menuangkan segelas air putih lalu meneguknya hingga tandas. Ucapan Jennie membuatnya merasa kepanasan sehingga kerongkongan ikut mengering. "Rich! Apa kau tidak menginginkan keturunan? Ingat, Rich, orang tua kita sudah menuntut kau dan aku untuk segera punya penerus generasi Gasendra dan Kalingga." "Kita bisa mengadopsi anak." "No! Aku tidak setuju!" "Lalu apa bedanya dengan aku menikahi gadis itu ... siapa itu?" "Almeta." "Iya, itu!" "Beda lah, Rick! Dengan menikahi Almeta, kau bisa menitipkan benihmu di rahimnya dan tidak akan ada yang menyangkal bahwa dia darah dagingmu, bilamana nanti ada yang meminta tes DNA." "Kenapa tidak kau sendiri yang kuhamili?" tanya Rich ketus. Entah keceplosan entah sengaja, yang jelas sesudahnya ia merasa bersalah sudah menyinggung hati sang istri. Permintaan Jennie bagi Rich cukup gila, demi memiliki keturunan ia harus menitipkan benihnya di rahim wanita lain, walaupun menggunakan jalur pernikahan, tetap saja terdengar konyol bahkan terkesan mengejek hukum pernikahan. Rich bukan pria munafik ataupun suci, pernah bermain wanita diluar pernikahan, tapi selalu bermain apik, menggunakan pengaman sehingga tidak pernah membuahkan janin. Namun, pengalaman liar itu sudah ditinggalkannya lama, semenjak menikahi Jennie. Kali ini urusannya berbeda, ia harus bercinta dengan wanita selain Jennie dengan tujuan mencetak anak. "Kalau aku bisa hamil tidak mungkin aku menyuruhmu menikah lagi demi punya anak!" ucap wanita bertubuh molek itu dengan nada tinggi. Rich mendengkus, kembali menuangkan air putih dan meneguknya. Satu gelas penuh yang diteguk sebelumnya seakan tidak mampu menghilangkan keringnya kerongkongan. Bahkan kini ditambah napas yang sesak, seperti ada benda tak kasat mata memalang di tenggorokan. Pernikahan mereka sudah berjalan empat tahun, tapi hingga kini belum dikaruniai anak, sebab Jennie divonis mandul oleh dokter kandungan merangkap sahabat yang kerap memeriksanya. Hal tersebut merupakan pukulan keras bagi Rich, terlebih keluarganya. Namun, dikarenakan cinta Rich yang begitu dalam terhadap sang istri, sanggup menutupi kekurangan Jennie sehingga predikat mandul tidak lagi jadi masalah buatnya. Lain halnya dengan orang tua. Gavin selaku ayah yang paling berkuasa di keluarga Gasendra bersikeras putranya cepat memiliki keturunan. Semenjak Jennie dinyatakan tidak bisa memiliki anak dua tahun lalu, hingga kini Rich belum menceritakannya pada keluarga besar Gasendra maupun keluarga Jennie sendiri. Sang istri meminta menutupi kekurangannya itu dari mereka. Namun, dampak dari menyimpan rahasia kemandulan Jennie membuat hidup Rich tidak cukup tenang, disebabkan tuntutan permintaan cucu yang sudah serupa teror. "Rich ...." "Tidak semudah itu, Jennie!" "Kenapa tidak? Kalian cuma tinggal menikah, hubungan badan, ya sudah, kita tinggal nunggu hasilnya. Aku yakin walaupun tanpa cinta kau bisa melakukannya." Rich terkekeh sinis. Gampang sekali wanita itu berkata demikian. Apakah tidak terlintas dipikiran Jennie dampak ke depannya dari rencana gila itu. Taruhannya cukup berat bahkan sangat berat. Lalu, setelah aku memenuhi keinginanmu yang tidak masuk akal dan berhasil memiliki anak dari wanita itu, apa yang akan kau lakukan?"l "Tentu saja mengambil anak itu jadi milik kita. Aku hanya butuh anak darimu, Rich, supaya aku tidak terus dipandang rendah oleh ibu tiri dan anaknya. Almeta cocok untuk dititipkan benihmu, selain cantik, dia gadis polos yang mudah kita atur. Kita beri Almeta uang tambahan setelah melahirkan nanti, untuk modal hidup dia dan ibunya, supaya mereka tidak lagi melarat." "Kau memanfaatkan gadis itu, Jennie. Dia pun memiliki masa depan, tapi bukan untuk diatur olehmu. Kau seolah penentu nasibnya dan nasib yang akan kau berikan sangat buruk." "Apa kau bilang? Buruk?" Jennie terkekeh sinis, bola matanya memutar. "Justru aku menentukan nasibnya yang menyedihkan menjadi jauh lebih baik. Ibunya ketabrak, kepala belakangnya membentur trotoar sehingga pembuluh darah kena dan harus segera dioperasi, kalau tidak, ibunya bisa tewas. Kau tahu biaya yang harus gadis malang itu sediakan? Puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Dari mana dia dapat uang sebanyak itu sedangkan pekerjaannya hanya membantu di kantin. Ibunya seorang guru honorer yang tidak tentu gajinya. Dan kamu tau, Rich? Aku menyelamatkan mereka, walaupun tidak gratis." Jantung Rich berdetak lebih dari normal, seketika tubuhnya membeku mendengar semburan kata yang tanpa jeda dari mulut seksi istrinya. Ada satu hal yang membuat pria itu terlihat ambigu, kecelakaan seorang wanita paruh baya yang kepalanya membentur trotoar. Apakah perempuan itu .... "Well, apa kau masih mengataiku pembawa nasib buruk buat gadis itu?" Jennie mendesah panjang, menatap lekat punggung lebar sang suami yang membelakanginya. "Aku sadar tidak bisa memberimu keturunan, Rich, tapi aku ingin menyelamatkan rumah tangga kita dari kehancuran dikarenakan kita tidak punya anak. Satu hal lagi, kau pernah mengatakan jangan sampai perusahaan yang dibangun dari nol oleh orang tuamu jatuh pada saudara tirimu yang serakah beserta keturunannya, bukan?" Jennie terus menghujani Rich dengan bujukan yang mengandung curahan hati. Hening untuk beberapa lama. Keduanya sibuk dengan pikiran yang berbeda. Rich setia dengan diamnya sedangkan Jennie kehabisan kata-kata. Wanita itu mulai kesal, menghentakkan kaki mendekati pintu. Sebelum menyentuh knopnya dia berkata, "Jika kau menolak rencanaku ini, siap-siap saja jabatan Direktur Utama Abadi Corporation grup diberikan pada Hendrik dan gadis miskin itu harus membayar utang, kecuali ... gadis itu bisa memberiku anak dari benihmu." Selepas bicara, Jennie keluar dari ruangan kerja sang suami dengan tingkat kedongkolan cukup tinggi, sebab kekeraskepalaan Rich yang sulit diajak kerja sama. Sepeninggalnya Jennie, Rich menggeram kesal campur bingung. Yang dikatakan istrinya tidak dapat ia sanggah karena benar adanya. Gavin Gasendra pernah menebar ancaman untuknya, bilamana tidak bisa memberi keturunan dalam waktu dekat ini, hak pimpinan perusahaan induk akan diberikan pada kakak tirinya. Entah berupa gertakan karena saking ingin memiliki cucu yang sedarah atau memang ancaman serius. Sial memang! Apa hubungannya tidak bisa memberikan anak dengan jabatan, tidak masuk akal! Seandainya Hendrik berhasil menduduki pimpinan tertinggi di Abadi Corporation grup, sama saja dengan memberi perusahaan itu kiamat. Rich tahu persis bagaimana sepak terjang serta perangai kakak tirinya yang lebih banyak memiliki catatan hitam. "Apapun yang terjadi, tidak akan kubiarkan kau mengendalikan perusahaan induk, b******n Hendrik. Lihat saja nanti!" Aaargh! Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD