"Jika aku meniduri gadis itu, apa kau tidak akan menyesal?" tanya Rich menatap lekat sepasang bola mata hitam ke abu-abuan milik istrinya.
Pasangan itu berbaring miring saling berhadapan. Seakan sudah menjadi tradisi setiap menjelang tidur harus ada percakapan ringan, topik yang dibahas pun seakan tiada habisnya.
"Tentu saja tidak, Rich. Aku yang meminta, aku yang merencanakan, kenapa pula aku harus menyesal?"
"Kau meminta Almeta jadi istriku, walaupun tujuannya hanya sebagai pencetak anak, apa kau tidak takut suatu saat nanti aku jatuh cinta padanya?"
Jennie tertawa renyah. "Kenapa harus takut? Memangnya kamu bisa jatuh cinta dengan gadis kampungan itu? Aku tau seleramu terhadap wanita, sebab itu aku mencari wanita yang bukan seleramu. Almeta hanya memiliki kecantikan fisik saja, tapi tidak dengan otaknya. Seperti yang pernah aku katakan, gadis itu sangat lugu yang artinya bodoh."
"Kau terlalu menganggap sepele setiap orang. Rencana gilamu itu bisa menjerumuskan kau pada penyesalan."
"Aku tidak akan menyesal, Suamiku Sayang, asalkan ... kau jangan jatuh cinta pada gadis itu dan rasanya mustahil kau bisa jatuh cinta padanya. Well, cukup fokus saja pada tujuan utama, hanya menitipkan benih."
*
Rich tidak bisa berpikir jernih. Rangkaian kata yang Jennie ungkapkan panjang lebar kemarin malam terus terngiang. Perbendaharaan kata itu menjejali otak membuat kepalanya serasa mau meledak. Benar-benar gila yang direncanakan istrinya itu! Namun, memikirkan lagi tentang anak, Rich tidak menyangkal, sangat menginginkannya.
Pekerjaan kantor pun sedikit terbengkalai. Rich lebih banyak diam ketimbang bergerak, hal itu mengundang heran campur aneh personal asisten terpercayanya, Liem. Seorang pria berdarah campuran Indonesia-Hongkong. Umurnya dua tahun di bawah Rich yang kini menginjak usia tiga puluh lima.
"Direktur Rich, saya perhatikan Anda gelisah sekali. Apa ada sesuatu yang mengganggu Tuan?"
Rich sedikit tercekat, semula kepalanya menunduk kini mendongak. Memandang Liem dengan tatapan yang tidak dapat ditebak maknanya. Detik berikutnya pria dengan cambang halus di sekitar rahangnya itu membanting napas besar hingga pundaknya turun naik.
"Liem."
"Iya, Direktur Rich."
"Bukankah aku pernah menyuruhmu membereskan kekacauan di jalan besar seputar Sudirman seminggu yang lalu?"
Liem tercenung, seolah tengah mengingat-ingat sesuatu, setelahnya dia mengangguk. "Tentu saya ingat, Tuan. Saya sudah menyuruh si pengendara motor mengurusnya sesuai perintah Tuan dan saya sudah memberi sejumlah uang untuk pengobatan awal untuk si penabrak dan yang ditabraknya. Ada apa Tuan menanyakan hal itu?"
"Bagaimana istriku bisa tahu peristiwa kecelakaan itu?"
"Nyonya Jennie?"
"Iya. Siapa lagi?"
Lagi-lagi pria kurus berkacamata itu mengumpulkan ingatan. "Kalau itu ... saya kurang tau, Tuan."
Keduanya terdiam. Jari Rich mengetuk-ngetuk meja, Liem setia menunggu tuannya melanjutkan kata. Namun, sampai detik terakhir keheningan tetap menyelimuti ruangan.
"Apa perlu dicari tau, Tuan?" Liem bersiap untuk menjalankan perintah seandainya Rich menyuruh.
"Tidak perlu. Kau tahu siapa nama korbannya dan dibawa ke rumah sakit mana?"
"Menurut bawahan saya nama wanita korban kecelakaan itu Ibu Mariana. Iya, betul itu namanya, dia dibawa ke rumah sakit Sehat Gemilang."
Rich beranjak dari kursi kebesaran. "Kau bereskan kerjaan. Aku pulang lebih awal, ada yang harus aku lakukan di luar."
"Baik, Tuan. Saya panggilkan supir cadangan untuk mengantar Anda."
"Tidak perlu, Liem, saya bawa sendiri mobilnya."
"Oh, baiklah. Apapun itu semoga cepat beres, Direktur Rich."
"Terima kasih. Aku pergi."
"Silakan, Tuan "
*
Rich meminta informasi seputar korban kecelakaan yang terjadi di hari dan tanggal yang masih dia ingat. Tidak lupa menyebutkan pula nama korban yang didapat dari Liem.
"Ibu Mariana ada di ruang ICU ...."
Setelah mendapatkan info akurat dari pihak information center, Rich langsung mencari ruangan Mariana dirawat. Tidak butuh waktu lama baginya mencari tempat tersebut, tapi dia tidak lekas masuk, hanya mengamati keadaan di dalam melalui dinding kaca.
Pria pemilik hidung mancung layaknya perosotan itu terpaku, dari balik dinding kaca tersebut dia melihat seorang gadis duduk menghadap pasien yang sedang berbaring dengan berbagai alat medis terpasang dibeberapa bagian anggota tubuhnya. Gadis berambut sepinggang itu membelakangi Rich berada.
"Bagaimana aku bisa lupa dengan hal sepenting ini." Gumaman Rich mengandung sejejak penyesalan.
Gadis di dalam sana bergerak, lalu meninggalkan tempatnya, melangkah mendekati pintu. Rich menjauh dari dinding kaca, tapi tidak berniat pergi atau sembunyi, sampai gadis itu muncul di hadapannya.
"Almeta."
Sepasang netra indah dengan bulu mata lentik alami gadis itu membulat. Seorang pria tidak dikenal mengetahui namanya. Namun, Almeta merasa tidak asing dengan wajah laki-laki itu, seperti pernah melihatnya.
Wajah tampan berkulit putih dengan bulu-bulu halus menghias rahang kokohnya. Alis mengukir membentuk golok. Bibir tipis selalu merah, membawa ciri khas seorang pria yang sukses dan berharta.
"Tu-tuan siapa? Da-ri mana tau nama saya?" Almeta selalu tergagap jika berhadapan dengan orang tidak kenal. Begitu pun saat bertemu Lena dan Jennie, kebiasaan satu itu sulit dihilangkan.
"Bisa aku bicara denganmu," pinta Rich.
Keraguan tergambar di mata Almeta, Rich paham, dia pun mengenalkan diri. "Saya Richard atau Rich, saya suaminya Jennie."
Oh, pantas wajah itu tidak asing, rupanya pria yang mendampingi Nyonya Jennie di foto pernikahan yang dipajang di dinding rumah mirip istana itu! Almeta bermonolog dalam hati, kepalanya mengangguk-angguk kecil.
"Tuan ada apa kemari? Apa Nyonya Jennie menyuruh tuan datang ke sini?"
"Tidak. Aku datang kehendak sendiri."
"Oh."
"Bisa aku bicara denganmu?" Rich mengulang permintaannya, tersebab permintaan pertama teralihkan.
Ingin berkata tidak, tapi bibir seperti sulit mengatakannya. Almeta memutuskan menggerakkan kepala ke bawah.
"Mari ikut saya!"
*
Kantin rumah sakit, tempat yang Rich gunakan untuk berbicara secara empat mata dengan Almeta. Selain tempatnya cukup nyaman, juga tidak jauh dari ruangan ibunya sang gadis berada sehingga memudahkan petugas kesehatan mencari Almeta bilamana dibutuhkan.
Rich mengamati lama wajah dengan kecantikan khas wanita lokal. Namun, bentuk wajah Almeta lebih cenderung mirip wanita negeri ginseng. Memiliki bentuk muka agak bundar, tapi dagunya sedikit lancip. Hidung mancung mungil serta mata bulat dengan iris coklat karamel.
Kulit gadis itu mendekati warna sawo matang. Bentuk tubuh ideal, walaupun dari segi jangkung kalah dengan Jennie yang memiliki tinggi khas model sesuai profesinya sebagai model iklan di Abadi Corporation.
Penampilan yang sangat sederhana bahkan lusuh menutupi Almeta dari pesonanya. Di mata Rich, gadis itu lebih cantik dilihat secara langsung dibandingkan melihat dari foto. Pria itu menerka-nerka usia Almeta sekitar dua puluh tiga atau dua puluh lima tahun.
Jennie keterlaluan memilihkan wanita untuk dititipkan benihku dengan usia yang masih sangat muda, kata hati Rich sembari mengembuskan napas pendek.
"Tuan, saya tidak punya waktu lama meninggalkan ibu." Suara Almeta membawa pikiran Rich yang sedang melanglang buana kembali pada situasi saat ini
"Ah, iya, maaf."
"Tuan katanya mau bicara, tentang apa?"
"Bagaimana keadaan ibumu?"
"Ibuku belum sadar pasca operasi, keadaannya masih koma, tapi menurut dokter masa kritisnya sudah berlalu."
"Syukurlah, semoga ibumu lekas sadar dan cepat sembuh."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Tuan."
Rich menawarkan Almeta makan, tapi ditolaknya dengan alasan sudah mengisi perut dari menu yang diberikan pihak rumah sakit. Gadis itu meminta minuman, karena tujuannya saat keluar dari ruangan tadi memang ingin mencari air untuk melepas dahaga.
"Almeta."
"Iya, Tuan."
"Menikahlah denganku?"
"Apa?"
Bersambung