"Syukurlah akhirnya kau ambil keputusan yang tepat, Rich." Kebahagiaan tercetak di wajah Jennie atas kesediaan sang suami mengikuti rencana yang dirancangnya.
Rich memasang wajah datar, tidak terlalu menanggapi kebahagiaan Jennie. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tanyakan saja."
"Kau bertemu Almeta di mana? Bagaimana kau bisa tahu ibunya kecelakaan?"
"Hmmm. Aku bertemu Almeta saat aku selesai kontrol kesehatanku di rumah sakit Gemilang. Aku melihat dia sangat menyedihkan, lusuh, menangis, panik karena ibunya sekarat akibat kecelakaan. Aku meminta Lena mengurus gadis dan ibunya itu."
"Apa ada orang lain selain mereka berdua?"
"Karena waktu itu aku cepat pulang, Lena kusuruh lebih lama tinggal di rumah sakit untuk mengurus mereka dan membawa gadis itu ke rumah kita. Menurut keterangan Lena, ada pria yang mengantar ibu dan anak itu ke rumah sakit. Lena mengambil alih tugas pria itu, karena pria itu juga sedang terluka, walaupun tidak parah."
Rich mengangguk, ada perasaan lega mengetahui semua itu. Kendati demikian rasa bersalah tetap ada, karena dialah seharusnya yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Mariana. Walaupun bukan dia yang menabrak secara langsung.
"Kenapa kau menanyakan tentang kecelakaan itu?"
Rich mulai menceritakan kejadian yang sudah lewat.
Kala itu, Rich terburu-buru untuk menghadiri rapat penting sesama direktur perusahaan cabang. Tepat di jalan pertigaan sebuah kendaraan roda dua muncul tanpa diduga, Liem tidak sempat mengerem, tapi motor itu sendiri yang mencoba menghindar ke arah kiri. Namun sayangnya, justru menubruk Mariana yang hendak menyebrang jalan sampai terlempar ke belakang dan berakhir kepalanya membentur trotoar. Meskipun benturan itu tidak terlalu keras berhubung yang terkena adalah kepala belakang akibatnya jadi fatal.
Kendaraan Volkswagen abu-abu itu sempat berhenti, Liem diminta Rich untuk melihat keadaan dan mengurusnya. Si pengendara motor hanya terluka ringan, kerusakan motor pun tidak cukup parah, sementara wanita yang tertabrak dalam kondisi pingsan sedang dikerumuni orang.
Liem memberikan sejumlah uang dan mengatakan akan mengurusnya nanti, karena saat ini sedang terburu-buru. Semenjak hari itu Rich maupun Liem terlupa dengan peristiwa tersebut saking sibuk mengurus pekerjaan.
"Jadi, kau terlibat langsung dalam kecelakaan itu?" Mata kecil Jennie membulat.
"Iya, walaupun kesalahan ada pada si pengendara motor, aku tetap ikut bertanggung jawab. Dan sialnya aku terlupa kejadian itu saking sibuk."
"Beruntung aku melihat mereka di rumah sakit, jadi bisa meneruskan tanggung jawabmu. Well, apakah karena kecelakaan itu yang menggerakkan hatimu menerima rencanaku?"
"Katakan saja begitu."
Tertawa senang. Jennie akhirnya bisa mewujudkan keinginan memiliki anak dari Rich tanpa perlu susah-susah ngidam atau mengandung selama sembilan bulan. Bergidik ngeri membayangkan masa kehamilan bisa merusak penampilan dan mengekang kebebasannya.
Merasa sudah cukup berbincang, Jennie meninggalkan kantor suaminya menuju ruang make up. Lalu meminta penata rias memperbaiki penampilannya.
"Nona Jennie, talk show bersama pengusaha butik Nyonya Sandrina Dewi lima menit lagi," ucap seorang pria dari balik pintu.
"Baik, Jordie, aku akan segera bersiap."
Sementara Rich merenungi setiap perkataannya perihal memenuhi permintaan Jennie. Pertemuannya kemarin siang dengan Almeta mengubah haluan akan sebuah niat. Semula ia hendak meminta Almeta untuk menolak rencana gila sang istri, tapi rupanya setelah bertatap muka perbendaharaan kata yang disusunnya menguap entah ke mana.
Sebaliknya, ajakan menikah terlontar begitu saja tanpa dipikir ulang. Entah kenapa jauh di palung hati, ada sesuatu yang aneh dirasakan Rich dan tidak mengerti apa maksud dari rasa itu.
"Almeta ... memangnya kau siapa? Lancang sekali menyusup ke dalam sini!" desis Rich sembari menyentuh d**a.
*
Jantung Almeta berdegup sangat kencang. Keringat sebesar biji jagung bermunculan dari pori-porinya. Gadis itu mengarahkan pandangan pada jemari yang sedang diremas di atas paha tertutup rok hitam.
Beberapa jam lalu Almeta kembali dijemput Lena atas suruhan Jennie. Almeta agak gemetar saat nyonya cantik jelita itu menanyakan Rich pernah datang ke rumah sakit menemuinya. Gadis itu mengangguk ragu, takut terjadi kesalahpahaman.
"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan memarahimu. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal."
Lega sedikit merayap di hati Almeta, bahwa Jennie ternyata tidak marah sama sekali. Bahkan sebaliknya, tutur kata wanita itu begitu lembut. "Nyonya mau menanyakan apa?"
"Suamiku pernah meminta sesuatu padamu?"
Terhenyak dengan pertanyaan itu, kening Almeta mengerut, detik berikutnya mengangguk.
"Apa yang diminta suamiku?"
Perasaan lega kembali hilang, berganti gugup dan takut, sebab jawaban yang harus Almeta berikan dapat mengundang kemarahan Jennie. Gadis itu memejamkan mata, batinnya berperang antara jujur atau tidak.
"Kenapa diam?"
"Itu, saya ...."
"Percayalah aku tidak akan marah. Cepat katakan." Jennie mulai tidak sabar. Gemas, Almeta kelamaan menjawab pertanyaannya.
"Apakah Rich meminta menikah denganmu?"
"Hah? Nyo-nya sudah ta-tau?"
"Aku pernah mengatakan, kau harus membayar utang bukan berupa uang, tapi sesuatu yang harus aku rundingan dulu dengan suamiku. Kau ingat?"
Almeta mengangguk. "Ingat, Nyonya."
"Kau harus membayar utangmu dengan cara menikah dengan Rich."
"A-apa!" Tercengang. Wajah Almeta memucat. Sungguh permintaan sang nyonya diluar dugaan.
Sewaktu di rumah sakit, Rich memang meminta menikah dengannya, tapi tidak menyangkut-pautkan dengan utang bekas operasi ibunya. Lagi pula hari itu, Rich terkesan tidak serius dengan permintaannya. Namun ternyata ....
"Kalau kau tidak mau menikah dengan suamiku, terpaksa kau harus membayar kontan dengan uang dalam waktu dua hari." Terdengar tegas dan mengandung ancaman.
"Nyonya ...!"
Jennie menyodorkan selembar kertas penuh aksara. "Baca dan pelajari isi dalam kertas itu. Setelah kau paham, hubungi aku atau Lena."
Jennie menjentikan jari, Lena yang sedari awal menyimak percakapan Almeta dan majikannya langsung mendekat, lalu menyerahkan benda yang digenggamnya.
"Ini untukmu," ucap Jennie.
"Apa ini, Nyonya?"
"Handphone. Supaya kamu mudah menghubungi kami, sudah diisi kartu, kau tinggal memakainya saja. Apa kau bisa menggunakannya?"
"Bi-sa, Nyonya. Dulu saya pernah punya, sebelum rusak karena sudah jadul." Dalam hitungan menit Almeta berkali-kali mendapat kejutan sampai jantungnya seperti mau lepas. Entah harus memberikan ekspresi bagaimana dengan situasi yang menderanya saat ini.
"Bagus. Nanti kita akan bicara lagi mengenai pernikahanmu dengan Rich. Sekarang aku harus kembali ke studio."
Almeta menatap nanar kepergian wanita yang hari ini nampak berbeda di matanya. Nyonya Jennie terlihat angkuh.
*
Almeta selesai membaca kalimat demi kalimat yang setiap katanya menimbulkan denyutan sakit di sekeping merah dalam d**a. Isi tulisan itu berupa poin-poin semacam perjanjian, di antaranya, dia harus bersedia menikah dengan Rich dan melakukan hubungan selayaknya suami istri untuk dititipkan benih.
Poin lainnya, Almeta harus hamil dan setelah melahirkan bayinya diserahkan pada Jennie untuk dijadikan anak pasangan fenomenal itu. Inti dari perjanjian itu adalah Jennie meminjam rahim Almeta untuk dititipkan benih Richard.
Jika Almeta menolak semua itu, dia harus mengembalikan seluruh biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit dalam waktu dua hari. Tubuh Almeta seperti dilolosi tulang, lemas.
Dia tidak bodoh, hanya saja terlahir miskin sehingga dengan mudahnya dimanfaatkan orang yang merasa dirinya berkuasa karena harta. Almeta merasa dijebak.
Bersambung