BAB 1 WAKTU RETAK DI DINDING RUMAH
Arga mati pada usia tiga puluh tujuh tahun, di kamar sempit yang ia bayar bulanan dan jarang ia rapikan. Tidak ada saksi. Tidak ada suara dramatis. Hanya tubuh yang berhenti bekerja setelah terlalu lama dipaksa mengerti dunia.
Ia terbangun dengan napas tersangkut.
Langit-langit yang ia lihat bukan langit-langit terakhirnya. Catnya mengelupas di sudut, membentuk peta yang tidak pernah selesai. Kipas angin berdengung pelan. Udara berbau lembap dan sabun murah.
Ia duduk terlalu cepat, lalu berhenti. Tubuhnya ringan. Terlalu ringan.
Tangan yang ia angkat tidak menunjukkan garis-garis usia. Kulitnya utuh. Tidak ada bekas luka lama yang biasa ia sentuh tanpa sadar. Ia menekan pergelangan tangannya sendiri, memastikan denyut itu nyata.
Jam di dinding menunjukkan angka yang ia kenal dengan cara yang tidak wajar.
Tahun yang seharusnya sudah berlalu.
Arga berdiri. Kakinya goyah, bukan karena lemah, melainkan karena ingatan bergerak lebih cepat daripada tubuh. Ia berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Di atasnya ada komputer tua, layar tebal, keyboard yang beberapa hurufnya sudah aus.
Komputer itu seharusnya sudah lama dibuang.
Ia menyentuhnya seperti menyentuh benda bukti.
Tidak ada kegembiraan. Tidak ada teriakan.
Yang muncul justru satu pikiran tenang dan kejam:
Ini bukan hadiah.
Ia duduk perlahan di kursi. Kamar itu sama persis seperti yang ia ingat, bahkan kekacauannya terasa disengaja, seperti hidup yang tidak pernah ia urus sepenuhnya.
Di luar, suara motor lewat. Seorang penjual memanggil dagangannya. Dunia berjalan seperti biasa.
Arga menutup mata.
Ia tahu apa yang akan terjadi. Bukan karena ia peramal, tetapi karena ia pernah hidup cukup lama untuk mengenali urutan kehancurannya sendiri.
Nama-nama mulai muncul di kepalanya.
Peristiwa-peristiwa kecil yang dulu ia abaikan.
Pilihan-pilihan yang tampak tidak penting, sampai mereka saling bertemu dan membentuk sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Di antara semuanya, satu wajah muncul lebih jelas dari yang lain. Kara.
Wajah muda dengan tatapan yang selalu seperti bertanya apakah dunia akan mengizinkannya bernapas sedikit lebih lama hari ini.
Arga membuka mata.
“Tidak,” katanya pelan. Bukan penolakan, bukan doa. Hanya pengakuan bahwa ia mengerti taruhannya.
Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut, dan menatap bayangannya sendiri di kaca buram.
Tubuh ini lebih muda. Kesalahan-kesalahannya belum tampak.
Ia tahu satu hal dengan pasti sekarang :
Jika ia mencoba memperbaiki semuanya, ia akan mengulang kegagalan yang sama—hanya dengan kecepatan lebih tinggi.
Jika ia ingin mengubah sesuatu, ia harus berhenti bermain sebagai penyelamat.
Arga mengambil tas kecil dari bawah tempat tidur. Ia tidak tahu mengapa tas itu ada di sana, tapi ia tahu apa yang harus ia masukkan: uang secukupnya, buku catatan kosong, dan satu pena.
Bukan untuk merencanakan masa depan.
Untuk mencatat apa yang tidak boleh ia lupakan.
Sebelum keluar kamar, ia menoleh sekali lagi ke komputer tua itu.
Benda itu tidak istimewa. Ia hanya saksi bahwa hidup pertamanya pernah berjalan ke arah yang salah tanpa perlawanan.
Arga mematikan lampu.
Hari itu tidak meminta untuk diingat. Ia hanya meminta untuk dijalani, dengan lebih sedikit kebohongan.
“Kematiannya bukanlah akhir, melainkan kesempatan yang tidak mungkin datang lagi”