KEPERGOK TAK BERBUSANA DI PESTA KHITANAN ANAK KU PART 1
KEPERGOK TAK BERBUSANA SAAT PESTA KHITAN ANAKKU
#PETAKA_PESTA_KHITAN
**
Kisah Nyata.
"Kehujanan, Pa? Cepat ganti pakaian kamu nanti masuk angin!" kataku ke Mas Rama. Dia bergegas masuk ke rumah, aku mengikuti suamiku ke kamar. Segera diganti nya pakaian nya yang basah. Aku memberinya handuk dan dia segera mengeringkan rambutnya.
"Gak lagi deh bawa motor, Ma. Besok Papa ke toko pakai mobil aja!" katanya sambil mengelap kepalanya. Aku memperhatikan leher dan bahu suamiku seperti ada tanda kemerahan.
Netraku membola melihat bekas kemerahan itu. Bukankah bekas itu sangat khas dan seperti bekas gigitan saat sedang berc*nta. Tetapi apakah Mas Rama berkhianat di belakangku?
"Bekas kemerahan apa di leher dan bahu kamu, Pa!" kataku menunjuk ke bagian dari tubuh Mas Rama. Wajahnya langsung pias dan dia mencoba menutupi dengan handuk.
"Apasih kamu, Ma. Ini di gigit semut. Papa juga alergi. Mungkin sabun yang kita pakai gak cocok! Besok-besok kamu ganti aja sabun mandi kita!" katanya membuat alasan. Aku hanya terdiam sambil dahiku mengernyit untuk berpikir. Tidak mungkin Mas Rama mengkhianati aku selama ini hubungan kami selalu harmonis. Semoga apa yang di katakan nya bukan kebohongan.
"Oh, ya sudah. Mama sudah menyiapkan acara untuk khitan Hanif, Pa. Dia mau acaranya juga besar seperti teman-temannya." kataku ke Mas Rama, sudah tradisi di desa kami acara khitan anak lelaki di laksanakan cukup meriah terkadang membuat pentas dan mengundang penari tradisional. Aku juga akan melakukannya untuk acara khitan anakku.
Kami membuka usaha Toserba tak jauh dari rumah. Toko kami sangat laris karena menjual berbagai kebutuhan rumah tangga. Itulah pekerjaan yang di geluti suamiku dan terkadang aku juga mampir ke toko untuk memantau. Dari usaha itu kami bisa membangun rumah dan menyekolahkan anak-anak kami serta meningkatkan taraf hidup yang lumayan.
Aku mempunyai dua anak dari Mas Rama. Anak perempuan berusia tujuh tahun bernama Hana dan anak lelaki yang berusia sepuluh tahun bernama Hanif. Mereka buah cinta pernikahan kami.
"Buat saja, Ma. Papa mendukung!" kata Mas Rama berlalu ke lemari mengambil pakaiannya.
"Besok Mama mau memantau toko kita, Pa!" kataku ke Mas Rama. Dia menoleh dan menatap aku.
"Lebih baik kamu fokus saja ke acara khitan Hanif, masalah toko biar Papa saja yang mengurus. Kamu gak perlu repot, Ma!" kata Mas Rama padaku, dahiku mengernyit lagi dia sepertinya keberatan dan aku masih terpikir tanda merah di leher suamiku. Ah, mengapa aku jadi curiga begini.
**
Aku datang saja ke toko karena aku benar-benar penasaran. Aku berharap Mas Rama tak membohongi aku. Sampai aku di sana. Kulihat beberapa pekerja yang biasa bekerja menyapa ku dengan ramah.
"Siang, Bu Rumi!" kata Handoko dengan ramah. Pegawaiku ini berbadan lumayan besar namun dia ramah dan rajin bekerja. Dia sedang menempel harga-harga dari toko kami ke botol-botol shampo dan sabun.
"Dimana Bapak, ndoko?" tanyaku.
"Nggak tahu, Bu. Di dalam berangkali!" katanya sambil terus bekerja.
"Ya sudah, Ibu masuk dulu!" kataku padanya, dia mengangguk. Beberapa karyawan tampak sibuk bekerja menyusun barang dan aku tidak melihat Santi. Biasanya dia yang menjaga kasir. Aku bergegas masuk ke ruangan Mas Rama karena ada yang ingin aku katakan juga tentang masalah khitan nya Hanif.
Aku membuka ruangan Mas Rama namun pintu nya di kunci. Tak seperti biasanya pintu di kunci seperti ini.
"Mas ... Kamu di dalam?" tanyaku sambil mengetuk pintu ruangannya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Klek ... Akhirnya pintu itu di buka setelah beberapa saat menunggu. Terlihat wajah Mas Rama pias di depan pintu.
"Mama!" katanya.
"Papa sedang apa? kataku melongok ke dalam ruangannya namun dia menutupi dengan badan nya.
"Papa sedang sibuk, Ma! Ada apa Mama datang ke sini?" katanya padaku, aku semakin curiga apa yang di sembunyikan Mas Rama di dalam ruangannya.
"Ada apa di dalam, Mas?" tanyaku heran. Dia bersegera mengunci ruangannya, sama sekali tak membiarkan aku masuk.
"Tadi ada banyak tikus, Ma. Entah mengapa masuk ke ruangan Papa. Ada tiga ekor di dalam makanya Papa kunci saja dulu takutnya nanti dia keluar!" ucap Mas Rama membuat alasan.
"Gitu, Ya, Pa!" kataku masih dengan bingung. Aku melihat lagi ruangan Mas Rama dan dia menggiringku untuk ke depan saja buat berbicara.
"Ada apa Mama ke sini. Bukankah Papa bilang kamu urusi saja rencana khitan Hanif dan biar Papa yang mengurus toko." kata Mas Rama dengan nada kesal padaku pasalnya dia tak sangka aku datang ke toko.
"Ada yang mau Mama katakan ke Papa. Bagaimana bila kita undang dua penari buat acara khitan Hanif biar lebih meriah pestanya dan ramai masyarakat yang menonton!" kataku ke Mas Rama.
"Terserah kamu, Ma. Lakukan yang terbaik buat anak lelaki kita. Jadikan pesta khitan ini akan dia kenang sampai dia besar, Ma!" kata Mas Rama lagi mengelus lenganku.
"Baiklah kalau begitu, Pa. Karyawan kita di toko ini nantinya akan membantu juga di acara kita, Pa. Bagaimana?" kataku lagi menanyakan pendapat Mas Rama.
"Ya, atur yang terbaik saja karena saat acara toko kita juga tutup, Ma!"
"Baiklah, Pa!" Aku melihat Handoko sedang sibuk menganggat barang dan menyusunnya. Endang juga sibuk di kasir dan melayani beberapa pembeli.
"Ndoko, dimana Santi?" tanyaku padanya. Dia mengedikkan bahunya.
"Gak tahu, Bu. Tadi ada kok!"
"Maksudmu, dia bekerja. Tapi kemana?"
"Entah, Bu. Tadi dia ada jagain kasir sekarang juga saya gak tahu di mana Santi!" kata Handoko padaku. Dahiku mengernyit dan ku tatap Mas Rama.
"Tadi dia permisi sebentar, Ma. Mau jemput adiknya!" kata Mas Rama, aku merasa aneh saja.
"Begitu, Pa. Lain kali bila bekerja sebaiknya dia fokus. Tak enak sama karyawan yang lain!" kataku ke Mas Rama.
"Iya, Ma. Kasihan juga dia gak ada yang jemput adiknya. Jadi Papa kasih izin saja!" kata Mas Rama lagi. Aku hanya menatap suamiku dalam karena aku sama sekali belum percaya. Mas Rama terlihat salah tingkah dan sangat mencurigakan.
**
"Terima kasih, Mama sudah membuat acara yang besar buat Hanif." Hanif mencium pipiku saat aku sedang duduk dan menyiapkan pakaian untuknya.
"Sama-sama sayang!" lanjutku. Rumah kami sudah sangat ramai. Para tetangga juga sudah sibuk masak memasak. Di desa kami acara khitan saja seperti acara pernikahan. Tradisi nya bila ada acara maka selama tiga hari sudah masak memasak dan mengundang seluruh anggota keluarga. rencananya mertuaku hari ini akan datang berkunjung. Selama seminggu dia akan menginap di rumah kami. Sedangkan aku sudah tak ada orang tua lagi hanya dua saudaraku. Mereka sudah datang dan sedang membantu bantu juga. Acara puncak nya akan dilaksanakan dua hari lagi setelah acara selesai barulah anakku di khitan.
"Ma, dimana Papa?" tanya Hana menghampiri kami ke kamar.
"Mama gak tahu, sayang." kataku ke gadis kecil 7 tahun itu.
"Hana mau beli es krim di depan sudah banyak orang jualan. Beliin Hana es, Ma!" kata nya. Aku mengambil dompetku dan memberikan uang padanya. Dia dengan senang menerima dan berlalu begitu saja.
"Hanif, mana Papa mu, Mama juga gak ngelihat dari tadi?" tanya ku ke Hanif. Dia mengedikkan bahunya.
"Gak tahu juga, Ma. Sibuk mungkin. Coba Hanif cari ya!" kata anak lelakiku. Dia kemudian keluar kamar. Sibuk mencari Papanya. Kemana Mas Rama di saat seperti ini dia menghilang entah kemana.
"Mbak, banyak yang nanyain kain lap. Masih adakah?" tanya Ratna adikku. Dia memang sibuk di dapur. Ratna masuk saja ke dalam kamarku.
"Ada, sebentar Mbak ambil. Kayaknya Mbak taruh di belakang Rat! Yuk, temani Mbak ke sana!" aku dan Ratna keluar dari kamar. Aku mengunci kamarku dan bergegas ke belakang untuk mencari kain lap yang di minta Ibu-Ibu yang bekerja memasak. Kami berjalan ke belakang untuk mengambil kain lap itu. Rumah kami memang luas dengan beberapa kamar dan juga banyak ruangan.
Aku membuka pintu itu dan ternyata pintunya terkunci, untung aku membawa kunci. Aku bergegas membuka untuk segera mengambil kain lap yang diminta Ibu-Ibu itu.
Klek ... Aku membuka pintu. Aku dan Ratna masuk saja ke ruangan itu sampai kami di dalam alangkah kami berdua terkejut mendengar suara khas seseorang sedang berc*nta. Suara desahan yang sedang menikmati hangatnya ritual suami istri.
"Apa itu, Mbak?" kata Ratna.
"Ssstttsss ...." Aku menutup mulut adikku. Kami berjalan pelan dan netraku membola melihat Mas Rama satu selimut dengan seorang wanita.
"Mas, kamu ngapain. Apa yang kamu kerjakan di sini!" kataku dengan kilatan amarah. Dia terkeget karena kami memergokinya dan dia serta selingkuhannya tak berbusana.
Bersambung