Dengan cepat Andri mengangkat ponsel yang digenggamnya lalu memotret kejadian di depannya berkali-kali. Evan yang baru sadar dengan apa yang terjadi, langsung mendorong tubuh Arindi ke dinding. “E … emm ini … ini tidak seperti yang kamu bayangkan, ka-kami … eemm kami ….”
Belum lagi sempat Evan menjelaskan dengan baik, Andri langsung meluncur dengan sebuah tinju keras melayang ke wajah Evan. Hantaman demi hantaman diluncurkan oleh Andri, membuat tubuh Evan harus tersungkur ke lantai.
Arindi langsung merasa bersalah dan segera melerai adiknya. “Andri … Cukup ! Andri stoop!”
Arindi menangkap tangan Adiknya dengan wajah memelas. Dengan gusar Andri lalu menepisnya. “Lelaki bia*ab, ciiih!” Tatapan penuh amarah terus tertuju pada Evan yang sudah terduduk di dekat dinding. Dia meraba sudut bibirnya yang berdarah.
Orang tua Arindi pun telah masuk pula dan langsung kaget melihat keadaan Arindi. “Astagfirullah, apa yang terjadi!”
“Arindi! Mana bajumu?” Teriak Ibunya tak kalah kagetnya.
“Kakaaak …!”Andini hanya bisa menganga tak percaya.
Dengan cepat Arindi mengambil pakaiannya di atas nakas, dan segera memakainya.
Perlahan Evan beringsut berdiri dari duduknya. Dia mencoba menjelaskan duduk persoalannya.
“Maaf, ini ada kesalahpahaman, ini tidak seperti yang Anda pikirkan!”
Begitu mendengar kata-kata Evan, Andri kembali naik pitam, “apa kamu bilang, salah paham? Setelah ini yang kamu lakukan dengan Kakakku?” sambil mengacungkan ponselnya yang berisi photo Evan dan Arindi.
Andri lalu menurunkan ponselnya dan kembali bersiap menyerang Evan, namun segera dicegat oleh Bapaknya. “Cukup Nak, pelankan suaramu, takutnya nanti akan banyak orang yang datang!”
Andini dan Ibunya sendiri sudah menarik Arindi untuk menghindar agak jauh. Bapak Arindi sudah tegak berdiri di samping Evan seakan siap untuk mengintrogasi, sementara Evan tetap berdiri di dekat dinding dengan wajah shock.
“Katakan pada kami apa yang telah kamu lakukan pada Anakku!” Suara Bapak Arindi terdengar pelan tapi mengintimidasi. Ditambah wajahnya yang dingin mematikan itu sanggup membuat jantung Evan berdebar ketakutan.
Dihadapkan pada dua orang kekar dengan wajah yang mengintimidasi penuh murka, Evan menjadi gugup dan serba salah. Ingin mengelak, tapi ada bukti dalam ponsel Andri, dimana posisi mereka saat itu cukup memperlihatkan apa yang tengah mereka lakukan, memang sedang berbuat m*sum.
Untuk mengakui perbuatannya, Evan juga enggan, karena memang mereka sedang tidak melakukan apa-apa, dan itu bukan kesalahannya. Akhirnya, Evan hanya bisa terbata-bata “ak-aku …, ka-kami … itu … itu bu-bukan ….!”
Merasa gerah dengan ucapan Evan yang terbata-bata,, Andri kembali menyerang Evan, sebuah tinju pun bersarang di perut Evan, “Akh eemmmpppp!” Evan mengerangg tertahan sambil terbungkuk memegangi perutnya yang sakit.
Arindi langsung kaget dan merasa kasihan, hingga tanpa sadar dia berteriak “ANDRIIII! CUKUUP!”
Sontak semua mata tertuju padanya, “kenapa kamu membelanya, apa dia memang pacar kamu?” Tanya Bapaknya penuh curiga.
Arindi langsung kaget dan tidak tahu harus bilang apa. Dia jadi bingung, antara harus bilang iya atau tidak. “E … anu … e … ya … eh bukan maksudku emmm … dia itu …!” Arindi menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk mengurangi rasa gugupnya.
Ibunya pun menggenggam tangan Arindi sambil menatap matanya dalam-dalam, “Rin … bicara yang benar Nak, jangan ada yang disembunyikan, kami tidak mau kamu dilecehkan!”
Andri yang sudah terbakar marah, sudah tidak lagi bisa bicara baik-baik. “Bicara apa lagi Bu, itu sudah jelas, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Kak Arin mau diperk*sa tadi, aku punya buktinya!”
Seraya mengacungkan ponselnya.
Mendengar itu, Bapak Arindi pun langsung mendekati Evan yang tengah meringis menahan sakit di perutnya. Dengan wajah geram, dia mencengkeram rambut Evan untuk berdiri tegak.
Tapi lagi-lagi Arindi mencegahnya.
“Bapaaak, cukup, jangan sakiti dia Pak!”
Sontak semua mata kembali tertuju padanya. “Apa maksudmu Nak, kenapa jangan disakiti, bukannya dia sudah melec*hkan kamu?” Tanya Ibunya heran.
Kembali Arindi gugup, “i-itu … maksudku … anu …e … dari pada menghajarnya, kan mending suruh dia bertanggung jawab, kalau kalian terus memukulnya, nanti dia malah tidak mau bertanggung jawab sama aku, dan … hiks, hiks, bagaimana dengan nasibku, huaaaa!” Arindi bermaksud menangis pura-pura, akan tetapi dia memang sedikit ada rasa takut, hingga akhirnya menangis sungguhan.
Pernyataan Arindi itu cukup membuat mata Evan terbelalak tidak percaya dan lututnya seketika terasa lemas.
Melihat anaknya menangis, Pak Ramli, Bapak Arindi pun melepaskan cengkeramannya pada rambut Evan, lalu menatap matanya dengan intens. “Jadi bagaimana, bersedia menikah dengan Anakku, atau aku mengirim kamu ke penjara!”
Mata Evan semakin terbelalak, antara ingin menolak dan mengiyakan, Evan benar-benar terperangkap dalam situasi yang sulit. Dia pun menjadi diam seribu bahasa dengan mulut menganga lebar.
“JAWAAAB!” Desak Pak Ramli dengan murka.
“Ja-jangan penjarakan aku Pak, aku mohon!” Evan mengangkat kedua tangannya dengan memelas.
“Jadi kamu bersedia menikahi Anakku begitu?”
Evan mengangguk kelu, tanpa disadarinya, setetes air bening merembes di sudut matannya. Dia menangis bukan karena sedih, melainkan rasa kesal yang dipendamnya tidak mampu dia keluarkan. Dia merasa telah masuk dalam perangkap fitnah yang kejam.
“Baik kalau begitu, sekarang juga hubungi orang tua kamu agar datang ke rumah kami untuk melamar sekaligus menghadiri pernikahan kalian!” Perintah pak Ramli pada Evan yang dibalas dengan anggukan lemas tak berdaya.
“Ayo, kemasi barang-barang, kita pulang hari ini juga!” Lanjut Pak Ramli seraya melirik keluarganya. Sontak semua mengangguk setuju. “Kamu juga harus ikut dengan kami ke kampung!” Evan semakin kaget dengan perintah Pak Ramli, namun tidak mampu mengelak sama sekali. Akhirnya dia hanya mampu mengangguk lesu.
Sepeniggal Arindi dan keluarganya, tinggallah Evan yang terduduk lesu di lantai. Dengan kesal dia meninju lantai berkali-kali hingga punggung tangannya terasa nyeri.
“Aaaarrggggg!” Evan berteriak kesal seraya menjambak rambutnya dengan keras. “perempuan penipu, berani kamu menjebakku haah, lihat saja, aku akan buat hidupmu seperti di neraka!” Gigi Evan gemeretuk menahan marah.
“Apa yang harus aku katakana pada Sindi? Bagaimana dengannya nanti, haahh, Sindi maafkan aku sayang, tapi kamu jangan risau, kita pasti akan tetap menikah, dan aku akan buat perempuan itu menyesal telah menjebak aku dalam permainannya!” Janji Evan pada dirinya sendiri. “AAAAAKKKHHH!” Evan mengusap kasar wajahnya.
Evan hanya bisa duduk bersandar di dinding sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.
Sementara itu, di luar Villa, tampak beberapa orang sedang menatap ke arah Villa dimana Arindi dan keluarganya tengah berjalan keluar Villa. Dari tatapan mereka, tampak jelas ada rasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam Villa, akan tetapi mereka tidak berani untuk bertanya apalagi ikut campur. Mereka hanya bisa memandangi keluarga itu hingga masuk ke dalam Villa mereka.
Begitu berada di dalam Villa, Arindi langsung diinterogasi oleh sang Bapak. “Rin, bagaimana ini bisa terjadi, kenapa kamu bisa ada di sebelah, terus lelaki itu, kenapa juga bisa ada di sana?”
Arindi sejenak terdiam, bukannya takut, melainkan Arindi sedang memikirkan alasan yang akan diberikan. “Adduh harus ngomong apa ya, ssshhhh!” Batinnya meringis.
“ARINDI!”
Seketika Arindi terlonjak kaget, sampai-sampai tubuhnya sedikit terangkat dari duduknya. “Eh iya!” Matanya melebar.
“JAWAB BAPAK!”
“Iya Pak, itu emm … semalam kan aku ga bisa tidur, jadi aku keluar sebentar cari angin, terus pas aku pulang itu, eh … di halaman malah banyak mobil, jadi aku salah mengira Villa di sebelah itu punya kita!” Arindi menunduk sembari meremas jemari tangannya.
“Lho terus cowok tadi kenapa bisa di sana?” Andri menyeletuk. Semua mata tertuju pada Arindi yang tengah tertunduk. Namun Arindi bukan merasa bersalah, akan tetapi dia berusaha menyembunyikan kebohongannya.
“Oh … itu, ya aku ga tahu juga kenapa ada cowok itu di sana, soalnya pas aku bangun, orang itu sudah memeluk aku,, makanya aku kaget terus teriak tadi, aku takut banget soalnya, hiks … hiks!” lagi-lagi tangis palsunya dikeluarkan.
Mendengar pengakuan Arindi, Pak Ramli langsung menoleh pada Andri, “Andri …!”
Andri pun menoleh begitu namanya dipanggil Bapaknya, “iya Pak!”
“Coba kamu lihat orang itu di sebelah, Bapak tidak mau nanti dia malah kabur!”
“Baik Pak, aku ke sana dulu!”
“Andini … mending kamu pergi pesan makanan deh, kita udah lapar banget nih belum sarapan!”
“Baik Bu, aku pergi ya, eh tapi pesan apa ya?” Andini menatap Ibu dan Bapaknya bergantian. Berharap ada saran dari mereka.
“Terserah deh apa saja yang bisa dimakan, Ibu sudah lapar banget ini!”
Andini hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, “iya deh kalau gitu, aku pergi dulu!”
Ibunya hanya bisa mengangguk pelan tapi wajahnya lesu, tampak rasa kecewa sudah memenuhi raut wajahnya.
Pak Ramli menarik napas berat. “Haaah kesalahan apa yang telah kita lakukan Bu, kenapa harus ada kejadian begini, ini sangat memalukan, haaaahhh!” Seraya menatap Arindi pilu.
“Maunya kita liburan, eh malah dapat calon mantu, mes*m tapi!” Ibu Hasna, Ibunya arindi, juga menatap Arindi dengan wajah kecewa. “Orang mana, anak siapa, kerjaannya apa, kita semua tidak tahu, tapi terpaksa jadi mantu!”
Arindi tertunduk makin dalam. “Maafkan aku Bu, Bapak, maafkan aku, hiks … hhiks …!” Kali ini dia benar-benar menangis.
“Sudahlah … jangan menangis lagi, semua sudah terjadi, semoga saja kalian bisa bahagia setelah menikah!”
Arindi hanya bisa mengangguk pelan mendengar doa dan harapan dari Bapaknya.
Mereka lalu terdiam dan suasana menjadi sangat hening, hinnga akhirnya Andini datang membawa bungkusan makanan. Disaat yang bersamaan, Andri juga sudah kembali dari Villa sebelah.
Pak Ramli langsung mendongak melihat Andri yang baru datang. “Bagaimana, dia masih ada di sana Ndri?”
“Iya Pak, masih kok, tadi katanya dia baru mau menelpon orang tuanya!”
Andini sudah mengeluarkan makanan itu satu persatu dari kantong palstik. “Kak … ini makanan … kamu aja yang kasi sama tuh cowok, kasihan dia juga pasti lapar!” seraya mengulurkan sebungkus ke Arindi.
Arindi menerima bungkusan itu dengan agak ragu, “harus aku gitu, yang kasi makan?”
Andini hanya bisa menaikkan alis dengan bibir mencebik sambil mengangkat bahunya.
Arindi menghapus sisa air matanya di pipi, lalu menerima bungkusan itu sembari menarik napas berat. “Haaaahhh ….” Mulutnya dimanyunkan tanda tidak senang.
“Udah sana dibawain Kak!” Hardik Andri sedikit kesal.
“Iya, bentar, biarin aku makan dulu kenapa!” Arindi ikutan sewot dibentak oleh adiknya.
“Cukup!” Teguran Bapaknya membuat semuanya terdiam lalu menikmati makanan mereka tanpa ada lagi basa-basi.
Di Villa sebelah, tampak Evan tengah menimbang-nimbang ponsel di tangannya. Ada sedikit keraguan dan ketakutan untuk menelpon orang tuanya. Betapa tidak, ini adalah sebuah kasus pelecehan yang membuatnya terpaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Seketika dia mencenngkeram ponselnya kuat-kuat lalu diacungkan ke depan. “Eekhhh!” Giginya gemeretuk menahan kesal. “Haaah apa yang harus aku katakan pada Papa sama Mama, Aarrrggghh!”
Dengan perasaan yang campur aduk, dia mulai menghubungi Mamanya. Agak lama juga baru terdengar suara Mamanya di seberang.
“Halo”
“Halo Ma, apa kabar?”
“Heemm, kok apa kabar, baru kemarin juga kamu pergi?”
“Emm Ma … aku …”
“Ada apa Van, kok aneh nada bicara kamu?”
“Ma … maafin aku … aku … sudah … membuat malu Mama sama Papa.”
“Apa maksud kamu Van?” terdengar suara kaget di seberang.
“Ma aku tengah terjebak sama anak orang Ma!”
“Terjebak? Anak orang? Apa maksud kamu? Mama makin ga ngerti?”
“Heemmpp haahh … Ma … semalam itu aku ga sengaja tidur dengan perempuan yang entah siapa, terus kami terpergok lagi pelukan, sebenarnya kami ga ngapa-ngapain, tapi orang tuanya ga mau tahu, tarus aku dipaksa menikahi anaknya Ma, kalau tidak … kalau tidak ….”
“Kalau tidak kenapa Van?”
“Kalau tidak … mereka akan lapor ke polisi tentang kasus pelecehan Ma!” Evan menggigit bibirnya kuat-kuat.
“APPAAA!”
“Ma … mereka memaksa aku untuk ikut mereka ke kampungnya dan menikah di sana nanti.”
“Loh jadi … ini … langsung nikah gitu … atau … aduh apa ini, Mama seperti aaahhh berita macam apa sih ini Evaaann … kamu kok bisa-bisanya jadi begini Nak!”
“Ma … mereka meminta saksi dari pihak aku untuk pernikahan nanti, kira-kira siapa yang bisa aku bawa Ma!”
“Hhaaaahhh Mama ga tahu, Mama bingung Van, Mama bingung … terserah kamu mau ngajak siapa pun, sekertaris kamu atau asisten kamu terserah, karena Mama atau Papa ga mungkin bisa hadir di sana, ini sangat memalukan sekali, saaaangat memalukan!”
“Heemmmmmppphhhh … ya udah deh Ma, aku tutup dulu ya!”
“Ya udah kamu baik-baik ya di sana!”
“Iya Ma!”
Evan lantas mematikan panggilannya, kemudian melempar ponselnya ke tengah kasur. Sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia lalu merbahkan punggungnya di kasur dengan kaki masih menjuntai ke lantai.
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Cepat-cepat Evan menoleh ke arah pintu. Matanya langsung melotot tatkala dia melihat yang membuka pintu adalah Arindi. Dengan cepat dia bangkit dan langsung berdiri.
Arindi tersenyum kecut begitu melihat reaksi Evan yang sudah bermuka masam dengan tatapan membunuh.
“Emm aku kesini bawain kamu sarapan, siapa tahu aja kamu lapar?” sambil menyodorkan bungkusan di tangannya.
Bukannya menyambut bungkusan yang diberikan oleh Arindi, Evan malah mencengkeram bahu Arindi kuat-kuat dan mendorongnya ke dinding hingga punggung Arindi terbentur di dinding. “ Akhhh!” Arindi mengaduh kesakitan. “Kamu apa-apaan sih, sakit tahu!”
Bukannya kasihan, mata Evan justru melotot penuh amarah, dengan gigi mengerat kuat, hingga rahangnya tampak menggembung, Evan semakin menguatkan cengkeramannya. “Seharusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu sok mengaku-ngaku kita ada apa-apa haah?”
Arindi terbelalak pula mendengar penuturan Evan. “Ngaku-ngaku? Aku ngaku-ngaku kau bilang, apa kamu lupa ingatan? Dari semalam kamu peluk aku, terus udah gitu kamu raba-raba, apa itu yang kamu bilang ga ada apa-apa?”
Evan malah mengguncang bahu Arindi, hingga kepalanya terangguk-angguk. “Tapi itu salah kamu juga kan, ngapain pake masuk ke kamar aku, jadi aku ga salah sama sekali!”
Arindi menepis tangan Evan yang mencengkeram bahunya dengan kuat hingga cengkeraman itu terlepas, “apa pun itu kamu sudah salah, kamu ingat dulu kamu dengan entengnya pake ngaku-ngakku kalau kita pacaran di depan pacarku? Dan gara-gara kamu dia putusin aku sampai aku batal nikah, dan sekarang gantian, biar aku bisa menikah juga, anggap saja kita impas!”
“Jadi kamu ….” Mata Evan melebar tidak percaya. “Kamu mau balas dendam hanya karena peristiwa waktu itu? Heeyy kamu tahu apa yang kamu lakukan ini fitnah yang kejam, lebih kejam dari apa yang aku lakukan dulu tahuu!”
Arindi menyodorkan bungkusan makanan di tangannya dengan keras hingga menabrak perut Evan, membuat tubuh Evan sedikit membungkuk sambil menangkap bungkusan itu.
“Asal kamu tahu ya, gara-gara kamu aku harus menanggung malu yang besar karena gagal menikah, jadi sekarang kamu harus bertanggung jawab menggantikan calon suamiku yang pergi karena fitnah kamu waktu itu, tapi kalau kamu menolak sih ga pa-pa, aku tinggal bilang sama Bapak biar kamu dilaporkan ke polisi!”
Evan mengepalkan tangannya kuat-kuat, dengan menahan kesal dia menatap Arindi. “Asal kamu tahu, aku sudah punya pacar dan akuu saaaaangat sayang sama dia, jadi jangan pernah berharap aku akan mencintai kamu, dan walaupun kita menikah, jangan pernah berharap aku akan memperlakukan kamu dengan baik!”
Arindi hanya mencebikkan bibir mendengar pengakuan Evan.
“Satu hal lagi, aku akan menikahi sindi pacarku, tanpa harus menceraikan kamu, biar kamu terjebak dalam pernikahan kita, aku takkan pernah mau kasi kamu kebebasan, jangan harap!”
Arindi menatap Evan dengan angkuh, “jangan kuatir Bang, aku tidak akan pernah takut dengan apapun ancaman kamu, mau kamu menikah lagi, atau kamu mau kabur sekalian, aku ga perduli, yang aku mau hanyalah menikah, setelah itu ya, terserah lah, I don’t care!”
Evan hanya bisa mengeratkan geraham melihat kepongahan gadis di depannya tanpa bisa lagi berkata-kata.
Sementara Arindi segera berbalik dan hendak keluar. “Oh ya, jangan lupa makanannya dimakan ya Bang, biar kuat bepergian lama, soalnya kampungku dari sini menempuh sekitar enam jam perjalanan loh!” Sembari melenggang pergi dan menutup pintu dengan keras.
Saat berada di luar kamar, Arindi menoleh sebentar menatap ke kamar . Senyum kemenangan bertengger di bibirnya. “Hemm aku memang tidak butuh cinta kamu kok, karena cintaku hanya buat Arman, tapi menikah denganmu hanya untuk menyelamatkan kata-kataku sama teman-temanku, aku cuma takut ketahuan bohong soal perjodohanku, sorry ya … Bang!” Bisik Arindi pada dirinya seraya melebarkan senyum lalu berbalik dan pergi.
Tinggallah Evan dengan kemurkaannya, dia mengepalkan tangannya sambil meninju ruang kosong di depannya. “Dasar perempuan si*l! Awas kamu ya, lihat saja nanti, aku akan membuat kamu mengemis minta cerai tapi tidak akan pernah aku ceraikan,, lihat saja!” Mata Evan berkaca-kaca menahan marah, dengan geraham mengerat kuat-kuat.