Lagi-lagi salah masuk

2063 Words
Libur akhir tahun yang agak panjang telah menjelang, rencana Arindi untuk liburan pun jadi kenyataan. Kini dia dan keluarganya telah berada dalam perjalanan menuju pantai Tanjung Bira. Sebuah pantai dengan nuansa pasir putih yang memanjakan mata kala memandangnya. Sepanjang perjalanan, Arindi hanya terdiam menatap keluar jendela. Lamunannya terus melayang membayangkan rencana bulan madunya yang gagal total. Air matanya pun berlinang dan akhirnya menetes perlahan. "Kak ... Kaakak ... Kaaaaaakkkk! " Teriakan Andri membuat lamunan Arindi buyar. "Yaaa, aku ga tuli kali, ga usah teriak-teriak! " Dengan sigap Arindi menghapus Air matanya yang jatuh di pipinya. Ibunya tak sengaja melihat Arindi mengusap air mata "Rindi, kamu nangis? " Arindi menggeleng sambil tersenyum mencoba menyembunyikan masalahnya dari sang Ibu. "Ga kok Bu, aku cuma kelilipan, soalnya anginnya agak kencang! " Bapaknya yang asik menatap pemandangan di luar mobil ikut bicara. "Masa iya Arindi sedih, kan kita lagi senang-senang, resresing!" Mendengar celotehan Bapaknya yang sok gaul itu, mereka pun tak kuasa menahan tawa. "Hahahha" Andri pun mencoba membenarkannya "Refreshing Pak!" kembali suara tawa mereka pecah. Sejenak Arindi pun melupakan masalahnya. Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai di pantai Tanjung Bira. Dengan cekatan mereka menurunkan barang bawaan dan membawanya menuju villa yang sudah dipesan sebelumnya. Villa yang seharusnya dipakai untuk bulan madunya dengan Arman, kini hanya dipakai untuk liburan keluarganya. Andini cuma bisa menepuk bahu Arindi, saat melihatnya berdiri tertegun menatap Villa di depannya dengan tatapan sendu. "Sabar ya Kak, orang sabar disayang Tuhan, yakin deh, ada orang yang jaaaauh lebih baik dibanding Kak Arman! " Arindi hanya menatap Adiknya dengan bibir dimonyongkan. "Anak kecil tahu apa soal cinta haa! " Andini cuma nyengir kuda, "yaah kan namanya juga menyemangati, dan jangan salah ya, aku ini mahasiswa lho, udah banyak pengalaman!" Sambil melirik dan mengedipkan sebelah mata ke Kakaknya yang cuma mencibir. "Dari buku, hahaha! " Lanjutnya. Arindi langsung tersenyum sendu menanggapi gurauan adiknya. Mereka pun saling merangkul lalu melangkah masuk ke dalam Villa. Hari telah gelap, sudah banyak hal yang mereka lakukan hari itu. Mulai dari berenang, berlarian, sampai berfoto di depan matahari terbenam, membuat orang tua dan kedua adik Arindi menjadi kelelahan. Mereka pun memilih untuk berdiam dan istirahat di Villa. Belum lagi tengah malam, tapi orang tua dan adik-adiknya sudah tertidur pulas. Akan tetapi Arindi masih tidak sanggup memejamkan mata. Air matanya terus menetes di pipinya memikirkan nasib cintanya yang malang. Tidak ingin orang tuanya mendengar isak tangisnya, Arindi pun mengendap-endap keluar Villa. Dia memilih untuk mencari tempat yang agak sepi dari pengunjung. Akhirnya Arindi menemukan tempat duduk di bawah sebuah pohon rindang yang agak jauh dari Villanya. Disanalah Arindi meluapkan kesedihannya. Setelah dia puas menangis dan meratap, Arindi pun memutuskan untuk pulang ke Villa. Arindi menjadi kebingungan saat kembali di Villa. Pasalnya, disana tiba-tiba terparkir beberapa mobil yang sebelumnya tidak ada disitu. Tanpa pikir panjang Arindi memasuki sebuah Villa yang pintunya sedikit terbuka. Karena model Villa yang sama, sehingga Arindi tidak sadar jika Villa yang dimasukinya bukan miliknya, melainkan Villa orang lain tepat di sebelah Villanya. Saat memasuki kamar, Arindi sedikit bingung karena kamar itu kosong melompong, "Eh kemana Andini, bukannya tadi udah tidur? Atau ... " pertanyaan Arindi tidak diteruskan tatkala mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Tanpa pikir panjang Arindi membuka pakaiannya dan yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja. Itu adalah kebiasaan Arindi sedari kecil. Dia tidak bisa tidur jika ada pakaian yang melekat di tubuhnya. Saat Arindi telah tertidur pulas, penghuni Villa itu pun selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi. Begitu melihat seorang gadis tertidur di bawah selimut, dia tersenyum bahagia. "Hmm jadi kamu bilang tidak jadi datang itu sengaja ya, karena ingin ngasih kejutan hemm? " sambil mengelus kepala Arindi yang disangka pacarnya. Dengan gemas dia mengecup kepala Arindi sambil tersenyum bahagia. "Haah sepertinya Sindi kelelahan karena perjalanan yang jauh, oke Sayang, malam ini, kita tidur aja, besok baru kita senang-senang ya! " Pria itu pun melepas handuknya dan hanya memakai celana dalamnya lalu ikut berbaring di samping Arindi, sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Pagi menjelang, tapi Arindi tak kunjung kembali sejak semalam, membuat seluruh keluarganya jadi cemas. Mereka sudah menyusuri pantai dan seluruh areal pantai, tapi tanda-tanda keberadaan Arindi tak juga ditemui. "Pak kita lapor petugas pantai saja ya! " "Jangan Bu, sebaiknya kita cari aja dulu, mana tahu Arindi cuma lari pagi! " Andini dan Andri juga setuju dengan usul sang Bapak. "Iya Bu, kan malu kalau tiba-tiba Kak Arin muncul pas kita udah lapor! " Di lain tempat di dalam Villa, Arindi merasa perutnya tengah dipeluk seseorang. Sambil menggeliat, Arindi menarik tangan yang tengah melingkar di perutnya. "Iih Andini, sejak kapan kamu gila begini, iihh, lepas ah, ganggu banget! Sambil menghempaskan tangan itu ke samping dengan kesal. Pria yang tengah lelap dan terbuai mimpi indah itu, cuma mengerang pelan sambil kembali memeluk Arindi dengan erat, Sambil berbisik di telinga Arindi. "Ayolah sayang, biasanya juga tidak keberatan, iya kan? " Bagai tersengat listrik, mata Arindi langsung menyala lebar. Dengan cepat Arindi berbalik, begitu melihat ada Pria di dekatnya, dia langsung berteriak kencang. "AAAAAKKKKHHH!" Dengan sekuat tenaga, Arindi mendorong tubuh Pria itu dan segera menjauh dan turun dari tempat tidur. Karena terburu-buru dan ketakutan, tubuh Arindi pun jatuh terguling di lantai. "Addduuhhh, akkhhh!" Arindi mengelus-elus pinggul dan punggungnya yang sakit. Pria itu dengan malas mencoba membuka matanya. "Ada apa sayang, kamu kenapa? Pagi-pagi teriak gitu, ada hantu ya, mmm? " Mendengar suara malas dari mulut Orang asing itu, Arindi bangkit dengan penuh amarah, "hantu?...Ya, kamu hantunya! " Tuding Arindi dengan gigi gemeretak. Pria itu tersenyum malas sambil mencoba membuka mata. "Sayang, kamu kena... " Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya. Senyum malasnya pun menghilang begitu melihat Gadis di depannya bukan Sindi, pacarnya. Dengan cepat dia bangkit dengan mata mengernyit tidak mengerti. "Eh kamu siapa? Kenapa bisa tidur di ranjangku? " Arindi mendengus sambil berkacak pinggang, "heeh, harusnya aku yang tanya, ngapain kamu di kamar aku? " "Aku... di kamar kamu?...heei ayolah ini kamar aku, kamu jangan sembarang nuduh dong! " Dahi Arindi berkerut seakan hampir menyatukan kedua alisnya. "Eeh bukannya kamu ...?" Sambil menunjuk ke arah Pria itu. Pria itu pun seakan baru tersadar dengan siapa dia berhadapan. Dia pun menunjuk Arindi dengan wajah tercengang. Tanpa disadari mereka berteriak bersamaan. "Kamu ...! " Pria itu dengan sigapnya langsung melompat dari tempat tidurnya dan turun dari ranjang. Sambil berkacak pinggang pula dia membentak Arindi. "Kamu lagi! Dan lagi-lagi kamu salah masuk terus menuduh aku! Kamu ini sadar atau tidak sih! " Arindi tidak mau kalah garang. "Eh yang salah masuk bukan aku, tapi kamu!" Matanya terbelalak lebar seakan hendak melompat dari tempatnya. Pria di depannya mengelus kasar wajahnya sambil menarik napas. Kemudian kembali menudingkan telunjuknya pada Arindi. "Hei dengar ... hhhhaaaahh ... kau ... !" Tudingannya diturunkan dan dihempaskan. "Haaahhh sudahlah, berdebat juga tidak ada gunanya, dasar perempuan! " Matanya menatap Arindi dengan malas. Arindi balas menatapnya dengan wajah kesal dan geram. "Kenapa liatin aku begitu? " Sudah sadar, sudah ingat aku, padahal sudah laaamaaa bwanget, tapi kenapa waktu di Bank dulu, kamu pake lupa, haa! Padahal baru semalam kejadiannya! " d**a Arindi kembang kempis menahan marah. Pria itu yang tak lain adalah Evan Munandar, hanya tersenyum miring dan memilih untuk duduk di tepi ranjang. "Iya sengaja biar ga bikin masalah sama kamu, sekalian ngasih sedikit pelajaran sama gadis angkuh dan tak mau mengalah seperti kamu! " Arindi cuma mencebikkan bibirnya. Evan hanya tersenyum melihatnya. "Coba perhatikan kamar ini, dan periksa juga, apa ada barang-barang kamu di sini? Kalau ada, berarti aku yang salah masuk, taaapiii kalau tidak ada, maka ...." Evan menghentikan ucapannya sejenak sambil menatap kesal Arindi. "Kamu yang salah masuk!" Arindi dengan malas menatap ke sekeliling ruangan. Dan benar saja, koper yang dia letakkan di atas lemari ternyata tidak ada di sana. Kini dia telah sadar kalau dirinyalah yang salah masuk. “Eeee … it-itu, ee … apa … eemmm,” Arindi senyum keki sambil garuk-garuk kening yang tak gatal sambil menggigit miring bibir bawahnya. Evan terus menatapnya penuh intimidasi. “Bagaimana? Ada barang kamu heemm?” Kedua tangannya dilipat di depan d**a. Tatapannya terus mengintimiasi Arindi. Mau tak mau Arindi pun melemah, “Oke-oke, aku yang salah masuk, jadi sorry aku permisi” sambil mengatupkan kedua tangannya di depan d**a seraya membungkuk sedikit. Lalu dengan kasar dia membuang tangannya ke samping dan berniat keluar kamar. Akan tetapi, Evan segera menahan tangannya. Arindi menoleh dengan kesal. “Apa lagi sih, mau ngapain?” Sambil menarik paksa tangannya. Evan langsung tersenyum sambil menaikkan alisnya, “kamu itu jelangkung ya, masuk tak diminta, pergi tak minta maaf, haaa!” Evan langsung bangkit dan menatap garang Arindi. Arindi terpaksa mundur selangkah karena tubuh mereka terlalu berdekatan. “Datang tak diundang pulang tak diantar keles, lagian kan tadi aku dah bilang sorryyyyy, Arindi mendelik ke samping. “Oh ya, yakin itu permintaan maaf yang tulus setelah menuduh aku berkali-kali?” Wajah Evan dijulurkan ke depan hingga jidat mereka hampir bersentuhan. Lagi-lagi Arindi kembali mundur ke belakang untuk menghindari wajah ganteng di depannya. Jantungnya menjadi berdebar tak karuan diperlakukan seeperti itu. Matanya harus berkedip berkali-kali karena merasa tersipu. Wajahnya terasa sedikit panas, membuat gadis berkulit kuning langsat itu terpaksa menundukkan kepala. Takut kalau-kalau ketahuan merona. Dan saat itulah Arindi sadar kalau ternyata dirinya tak berbalut kain selain dalaman semata. Seketika matanya terbelalak, jantungnnya seakan mau berhenti berdetak. “wuaaa!” dengan sigap Arindi menyilangkan kedua tangannya dan segera terduduk untuk menutupi tubuhnya sambil celingak-celinguk mencari pakaiannya. Melihat perilaku Arindi, Evan ikutan berjongkok di depannya. “Baru nyadar kalau kamu ga berbaju? Ga usah ditutupi sayang, aku udah lihat semua kok dari tadi, hemmm, hahaha” Evan mengedipkan matanya dengan jahil ke Arindi, membuat tubuh dan perasaan Arindi langsung panas dingin. “Iiih kamu …” Arindi merasakan matanya sedikit panas dan berair. Sambil menahan malu dan rasa inginnya menangis, Arindi berteriak kencang. “Kamu … JANGAN LIHAT-LIHAT!” Mendengar teriakan Arindi, Evan jadi sangat kaget sambil menahan geram, “eh bisa bicara baik-baik ga, tidak pake teriak, aku ga tuli! Seakan tidak peduli dengan ucapan Evan, Arindi malah semakin semangat berteriak, “AKU GA MAU TAHUUU, KE-LU-AAAR! PER-GIII!” Suara teriakan Arindi pun terdengar jelas sampai ke luar Villa. Andri, adik bungsu Arindi pun langsung menoleh menatap ke arah datangnya suara kakaknya. Dengan cepat dia melompat dan berlari menuju ke Villa asal suara Kakaknya bersumber, Andini serta Bapak dan Ibunya pun segera mengikutinya. Tanpa pikir panjang lagi Andri langsung mendobrak pirntu Villa yang kebetulan tidak terkunci. Evan dan Arindi yang sedang bersitegang di dalam kamar langsung terlonjak kaget mendengar suara pintu di dobrak dari luar. “Kak Ariiiin, kamu dimana?” Teriakan Andri membahana memenuhi seluruh ruangan Villa sehingga terdengar jelas dari dalam kamar dimana Arindi berada. Mendengar suara teriakan Adiknya, Arindi dengan cepat bangkit hendak membalas teriakan Andri. Akan tetapi dengan cepat pula Evan menbekap mulut Arindi, membuatnya harus meronta melepaskan tangan kekar itu dimulutnya. “Emmpp- emmppp!” saling dorong terjadi, dan hampir saja Arindi berhasil melepaskan bekapan tangan Evan, namun dengan cepat Evan menarik bahu Arindi dan memutar tubuhnya hingga membelakang lalu dengan sigap Evan memeluk tubuh dan kedua tangan arindi yang diapit kuat sementara tangan Evan yang satunya lagi kembali membekap mulut Arindi. “Bisa diam ga, jangan sampai mereka memergoki kita seperti ini ngerti, orang-orang bisa salah paham dan aku ga mau kalau sampai harus dipaksa bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak aku lakukan!” Arindi yang dibisiki telinganya menjadi meremang dengan jantung berdebar-debar tidak karuan ditambah perasaan panas-dingin membuatnya kepalanya terpaksa dimiringkan dengan mata tertutup dan berkedip-kedip. Akan tetapi kata-kata yang dibisikkan oleh Evan tadi malah memberinya sebuah ide kotor. Mata yang tadinya berkedip-kedip tak karuan langsung terbelalak. Dalam hatinya bersorak girang, “apa? Tanggung jawab? Yes sekarang aku bisa menikah dan aku bisa membuktikan ke teman-temanku kalau aku benar-benar punya tunangan, oke, ayo Rin, kamu akan buat cowok ga berhati ini bertanggung jawab dan segera menikahi kamu sayang!” Pekik hatinya kegirangan. Perlahan arindi pun melemaskan tubuhnya dan tidak meronta lagi, hal itu membuat Evan malah berpikir jika Arindi bersedia untuk bekerja sama agar mereka tidak ketahuan. Akan tetapi begitu dekapan dan bekapan Evan mengendor, dengan cepat Arindi menarik tangan kekar itu dari mulutnya dan segera berteriak keras, “ toloooong! Lepaskan a-kuuuu, aakkhh lepaskaaaan!” Evan yang tidak sigap langsung gelagapan dan kembali berusaha menutup mulut Arindi, namun Arindi mengelak kesana-kemari meski tubuhnya masih terdekap erat di tangan Evan. Dan tiba-tiba saja pintu kamar langsung terbuka dengan tatapan Andri yang melotot penuh amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD