Putri melangkah gontai setelah selesai mengikuti mata kuliah terakhirnya hari ini. Ia begitu dilema dengan keputusan apa yang harus ia ambil. Meninggalkan bangku kuliah untuk melarikan diri dari masalah. Apakah itu dibenarkan?
Ia bisa kuliah di universitas negeri ini pun karena beasiswa. Selama dua tahun ini ia mati-matian, membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Melakukan apapun untuk mencari tambahan biaya kuliah sekaligus biaya hidupnya di kota ini. Orang tuanya bukanlah orang yang mampu. Dan ibunya adalah ibu yang kolot, yang terus berusaha menjodohkannya dengan pria kaya supaya bisa merubah perekonomian keluarga mereka.
Kakaknya pernah tersandung kasus di perusahaan tempatnya bekerja dan harus mengganti kerugian sebesar dua ratus juta. Ibunyalah yang akhirnya pontang-panting mencari hutang di sana-sini supaya kasus itu tidak sampai dibawa ke pihak berwajib. Sementara kakaknya menjadi pengangguran setelah dipecat. Sesekali saja kakak laki-lakinya itu bekerja di proyek. Itu pun kalau ada. Bayarannya sangat kecil dan gajinya sering molor entah kapan keluarnya. Itulah alasan kenapa ibunya sangat tak mendukung keputusannya untuk melanjutkan pendidikan. Karena kakaknya yang gagal lalu berimbaslah ke dirinya.
Lalu apakah ia pun harus gagal di tengah jalan?
Wanita itu terus berjalan sambil merenung, menyesali kebodohan yang telah ia lakukan sendiri. Hingga ia tak sadar bahwa tepat di hadapannya telah menunggu sosok yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam. Hampir saja ia melewati sosok itu. Kalau saja pria itu tak bersuara dan menyadarkannya.
"Kita perlu bicara." Suara itu begitu dingin hingga sanggup membuat Putri membeku di tempatnya.
Wanita itu menoleh kaku. Belum-belum tubuhnya sudah berkeringat dingin. "A-aku?" tanyanya gugup dan salah tingkah. Tapi masih berusaha untuk berpikiran positif. Mungkin Putra hanya ingin menanyakan di mana Devina yang hari ini tak ia lihat di kampus.
"Siapa lagi?" Lagi-lagi tatapan dingin pria itu seakan mampu melumpuhkan persendiannya. Hingga membuat kekuatan kakinya goyah.
"M-mau apa? Hari ini Devina nggak masuk ...."
"Aku ingin membahas kita. Bukan Devina. Ikut aku."
"K-kita?" Putri meneguk ludahnya kasar menatap punggung yang berlalu di depannya. Keringat dingin semakin membanjiri tubuh dan tangannya mengepal gemetar. Sementara jantungnya berpacu kencang.
"M-mau membahas apa?" Putri masih belum yakin. Bukankah semalam pria itu mabuk? Bagaimana mungkin pria itu mengingat dirinya? Maksudnya, kenapa bukan Devina? Bukankah semalam pria itu terus menyebut nama kekasihnya itu. Lagipula jika pria itu sadar, kenapa masih mau bercinta dengannya?
"Yakin mau bahas di sini tentang yang terjadi semalam di antara kita?" Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Hanya untuk menjumpai sebentuk wajah pucat pasi yang mungkin bisa langsung ambruk. Kalau saja ia tak cepat menahannya dan menyeretnya pergi.
***
"Jadi ... selama ini kamu diam-diam menyukaiku?" Setelah cukup lama duduk berhadapan di Cafe itu. Putra akhirnya membuka suara dan memulai pembicaraan.
Wanita yang sedari tadi menunduk itu mendongak. Rasanya mulutnya sulit untuk mengucap apapun. Hingga akhirnya ia hanya menggangguk sebagai jawaban. Entah seperti apa wujudnya saat ini. Putri rasanya ingin menghilang dari muka bumi ini dan tak perlu merasakan malu yang menyiksanya kini.
"Jadi ... semalam kamu sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. Mencari celah di sela ketidaksadaran orang lain?" Putra melempar ejekan sinis.
Kalimat itu tentu begitu menohok bagi Putri. Tapi dengan penjelasan pria ini yang bahkan mengingat semuanya. Bukankah berarti semalam pria itu sadar dengan siapa bercinta?
"Ketidaksadaran orang lain?" Putri menggumamkan kalimat itu untuk mempertanyakan pernyataan Putra. "Kamu ingat aku. Kamu ingat semuanya. Berarti sebenarnya kamu juga sadar, kan?" Putri kali ini tak mau kalah.
"Semalam aku mabuk. Kondisi kita berbeda. Sedangkan kamu sepenuhnya sadar." Sayangnya, Putra lebih pintar mengelak. Meski di dalam hati pria itu mengingkari apa yang diucapkannya. Ia masih sadar malam itu. Ia masih bisa berhenti malam itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"A-aku memang suka sama kamu." Susah payah Putri mengakui itu. "Tapi aku tidak bermaksud menjebakmu. Aku juga tidak akan menuntut apapun. Jadi ... bagaimana kalau kita lupakan masalah ini. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun di antara kita." Wanita itu meremas tangannya yang berkeringat. Kakinya sudah ia siapkan untuk segera pergi dari hadapan pria itu. "Sudah selesai bukan? A-aku harus pergi."
"Bagaimana kalau kamu hamil?" Pertanyaan itu mau tak mau menghentikan gerakan Putri yang nyaris saja beranjak dari kursinya.
"Aku akan menanggungnya sendiri. Aku tidak akan meminta tanggung jawab atau melibatkanmu." Kali ini Putri sudah tidak tahan untuk pergi. Hamil di luar nikah, adalah ketakutan utamanya setelah apa yang terjadi. Ia tahu, itu resiko terburuk dari kebodohan yang ia lakukan semalam.
"Gugurkan." Putra kembali bersuara. Kalimat itu kembali menahan langkah Putri. Wanita itu sontak menoleh pada sosok tampan yang selama dua tahun ini ia kagumi. Ia tak menyangka pria itu sanggup mengatakan hal sekejam itu. Ya, tapi wajar. Pria itu tak mencintainya.
"Aku tidak ingin anak darimu," imbuhnya lagi masih dengan nada yang dingin.
Putri mengangguk lemah. "Aku tahu apa yang harusnya aku lakukan. Jangan khawatirkan apapun. Aku tidak akan melibatkanmu. Sudah kubilang, anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita." Setelah selesai bicara wanita itu terburu-buru pergi. Dari belakang Putra nampak diam memperhatikan, sampai akhirnya wanita itu tak terjangkau lagi oleh indra penglihatannya. Ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan. Apakah ia sanggup untuk lepas tangan setelah apa yang terjadi?
Sementara setelah berlari menjauh, air mata yang semula Putri tahan itu akhirnya menghambur keluar. Tak ia pedulikan orang-orang yang menatapnya kebingungan. Ia hanya ingin menumpahkan segala resah dan perih yang menyiksanya. Luka yang ia ciptakan sendiri. Jadi memang sudah seharusnya ia menanggung buah dari kesalahannya itu seorang diri.
"Siput!" Teriakan nyaring itu membuat langkah Putri mau tak mau terhenti. Tubuh wanita itu kembali menegang dan keringat dingin kembali membanjiri tubuhnya.
"Putri." Devina menghambur ke arahnya dengan air mata yang sama. Ada apa gerangan?
"K-kenapa, Dev?" Putri begitu sulit membuka mulutnya. Ia takut Devina tahu kalau ia baru saja bertemu dengan Putra di Cafe seberang jalan.
"Putra mutusin aku. Tolong kamu ngomong sama Putra, Put. Aku nggak mau putus. Aku nggak mau pernikahan kita batal." Tangis Devina pecah dalam pelukan Putri.
"Pu ... tus?" Mata Putri yang sembab nampak membelalak. Seperti biasa, Devina selalu fokus pada dirinya sendiri. Tak sekalipun memperhatikan apa yang terjadi pada Putri. Begitupun, Devina selalu ingin didengarkan tanpa ingin mendengarkan keluh kesah Putri. Tapi bagi Putri itu lebih baik. Karena dengan begitu ia bisa menyimpan rapat perasaan yang ia miliki untuk kekasih sahabatnya itu.
Tapi kini keadaan sudah berbeda. Semua terjadi begitu cepat di luar rencana hidupnya. "Please, Put. Tolong kamu bantu ngomong sama Putra. Aku nggak mau putus. Aku nggak mau pernikahanku batal."
Putri sama sekali tak bergeming. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi permintaan tolong dari Devina.
"Tapi ... kenapa Putra minta putus sama kamu, Dev? Bukannya dia cinta banget sama kamu?" tanya Putri ingin tahu. Ia harap hubungan Devina berakhir bukan karena kejadian semalam.
"Putra cuma salah paham, Put. Aku cuma cinta sama dia. Aku cuma dijebak." Wanita itu sesenggukan.