Beritahu Aku Kalau Kamu Hamil

1443 Words
"Put, semalam kamu bawa sprei aku?" tanya Devina setelah wanita itu puas menumpahkan kegalauannya. "Sprei?" Jantung Putri kembali berdegup kencang setelah sebelumnya sedikit lebih normal. Pertanyaan Devina itu kembali memancing rasa takut dan rasa bersalahnya. Ia baru tersadar, di sprei itu mungkin ada bekas darah keperawanannya. "Oh, itu ... i-iya aku bawa." Putri berpikir cepat. Mengingat Putra yang masih sadar saat melakukan dengannya. Mungkin pria itu sengaja membawanya supaya tak menimbulkan kecurigaan Devina. "Kamu kenapa, sih, Put? Kamu ada masalah?" Devina baru menyadari Putri selalu menjawab pertanyaannya dengan gugup. Bahkan wajahnya pun nampak pucat pasi seolah sedang ketakutan. "Oh, iya. Itu ...." Ditodong seperti itu terang saja Putri semakin kebingungan dan salah tingkah. "Aku cuma lagi bingung biaya kuliah." Putri mulai mengarang cerita. Meski tidak sepenuhnya berbohong. Beasiswa yang ia terima hanya di satu semester saja. Karena setelahnya nilainya menurun karena terlalu sibuk kerja part time menjadi SPG sebuah brand kecantikan ternama di negara ini. Pun sibuk dengan urusan keluarganya. Setelahnya ia harus usaha sendiri untuk meneruskan kuliah. Devina pun sudah tahu kesulitan Putri yang satu itu. "Oh." Mulut Devina membulat. Setelah itu tidak bertanya apa-apa lagi. Sibuk memikirkan masalahnya sendiri. Menyesali kesenangannya yang kebablasan akhir-akhir ini. Padahal Putra sudah begitu lapang menerima masa lalunya. Meski ia juga terpaksa berbohong untuk hal itu. Karena keperawanannya sebenarnya hilang oleh kekasih pertamanya bukan karena pelecehan seksual seperti cerita yang dikarangnya. "Put. Tolong, ya kamu bantu ngomong sama Putra. Itu cuma salah paham. Bukan aku difoto itu. Aku cuma dijebak." Bahkan di depan Putri pun ia masih terfikirkan untuk berbohong. "Tapi ... aku, kan nggak kenal sama Putra, Dev. Aku musti ngomong apa?" Putri bingung. Lagipula ia juga sudah tidak ingin lagi bertemu pria itu setelah pembicaraan di antara mereka tadi. Begitupun Putra yang sepertinya sangat enggan untuk berurusan dengannya. Meski sejujurnya ia sangat takut jika selesainya hubungan mereka terpaut dengan apa yang terjadi semalam. "Ya, kamu tolong bilang sama Putra, Put. Kamu paling tahu kalau aku cinta banget sama dia. Mana mungkin aku berpaling dari Putra." Devina kembali menangis sssenggukan. "Please, Put. Selama ini cuma kamu sahabat aku yang nggak pernah Putra komplain. Kamu tahu sendiri gimana posesifnya Putra. Sampai aku temenan sama ini nggak boleh sama itu nggak boleh. Mau pergi ke mana-mana musti laporan. Coba kurang patuh apa aku sama dia. Sekarang dia tega putusin aku begitu aja." Jemari lentik itu menarik selempar tisu untuk menyusut air matanya yang tak kunjung henti. Devina benar-benar tidak mau kalau sampai jalinan kasihnya dengan Putra benar-benar berakhir. "Put, please ....." Wanita itu kembali menghiba. Karena Putri hanya diam saja. Sampai setelah Devina terus menerus merengek padanya. Putri akhirnya mengangguk meski dalam hatinya, ia tidak bisa berjanji untuk melakukan apa yang Devina pinta. Ia terpaksa mengiyakan hanya untuk menenangkan sahabatnya itu. *** "Bisa kita ketemu?" Setelah sekian hari Devina menerornya. Putri akhirnya menghubungi pria itu. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti mau sahabatnya itu. Hitung-hitung sebagai penebus kesalahannya yang sangat fatal. Karena Putra sepertinya serius dengan keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Devina. Pria itu benar-benar memutus akses Devina untuk bisa menghubungi atau menemuinya. Hingga membuat wanita itu begitu frustasi dan Putrilah yang pada akhirnya menjadi tumpahan kesedihannya. "Mau apa?" tanya pria itu dingin. "Ada ... yang ingin aku bahas," jawab Putri hati-hati. "Masalah?" Firasat Putra buruk. "Kamu hamil?" Hanya itu satu-satunya kemungkinan yang ada di kepala Putra ketika Putri menghubunginya. Kalau boleh jujur hari-harinya tidak pernah tenang semenjak malam itu. "B-bukan." elak Putri keras. Baru beberapa hari berlalu. Bagaimana mungkin ia bisa tahu kalau saat ini ia tengah hamil atau tidak. Hal semacam itu, yang ia tahu membutuhkan waktu untuk memastikannya. "Lalu?" "Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa datang ke kafe yang kemarin?" "Kenapa? Kamu berubah pikiran? Mau meminta pertanggungjawaban?" "Bukan," sanggah Putri dengan nada tinggi. Sedikit kesal. "Masalah kita ...." Putri menjeda kalimatnya ragu. "Masalah kita tidak usah dibahas lagi. Itu urusanku," sambungnya. Putri sudah berjanji untuk menanggung dosa itu seorang diri. Apapun yang terjadi nanti, ia akan hadapi sendiri. Tidak akan melibatkan siapapun. Karena memang dirinyalah yang salah. Putra nampak keberatan dengan sikap Putri yang selalu mengatakan bahwa itu urusannya. Padahal dosa itu mereka lakukan berdua. Entah, permainan apa yang sedang wanita itu lakonkan. Satu yang pasti, Putra tidak akan membiarkan anaknya tumbuh di rahim sembarang wanita. Karena bisa saja itu akan menjadi bom waktu yang siap meledak pada waktunya nanti. Jika kelak ia menikah, wanita yang menjadi istrinya akan sangat tersakiti karena kesalahan masa lalunya ini. "Oke. Aku ke sana sekarang," ujar Putra akhirnya. Sebenarnya ia malas. Tapi ia ingin tahu dan tetap ingin memantau wanita itu. Ia hanya ingin memastikan Putri tidak sedang mengandung anaknya. *** "Jangan buang-buang waktuku. Sebenarnya kamu meminta pertemuan ini untuk apa?" tanya Putra tak sabaran. Karena Putri daritadi hanya diam saja dan seperti orang kebingungan. "Oh ... itu ...." Wanita itu mendongakkan kepalanya dan selalu gugup jika pandangan mereka bertemu. "Apa?" Putra menyedekapkan tangannya. "Jangan-jangan kamu mau ngajakin kencan?" tuduhnya. "Sayangnya, aku nggak tertarik dan nggak punya banyak waktu juga," imbuhnya dengan sikap angkuh sekaligus enggan. Mendengar tuduhan itu sontak saja membuat mata sayu itu membeliak kaget. "Bukan," sangkalnya tegas. "Aku datang untuk Devina." "Devina?" Kening Putra mengeryit. Putri mengangguk. "K-kalau boleh tahu kenapa kalian putus?" tanyanya hati-hati. Kalau bukan karena Devina yang terus memaksanya. Putri sebenarnya juga enggan untuk menemui Putra. Karena masalahnya dengan pria ini menurutnya jauh lebih rumit dibandingkan dengan hubungan mereka. "Apa urusanmu?" tanya Putra dingin. Ia paling tidak suka orang luar mencampuri urusan pribadinya. "A-aku cuma mau bilang kalau Devina ... dia sangat mencintai kamu. Dia sangat terpuruk saat ini karena kamu katanya tiba-tiba minta putus. Kenapa tidak dibicarakan lagi? Siapa tahu hubungan kalian masih bisa diperbaiki." Putri sudah menghapal kalimat pamungkas ini semenjak semalam. Hanya saja cara pengucapannya tetap saja terdengar sangat tidak natural dan persis seperti orang menghapal. Dan Putra menangkap jelas hal itu. "Devina yang menyuruhmu?" Putra menebak jitu. Namun Putri memilih diam, tak menjawabnya. Tapi diamnya sudah merupakan sebuah jawaban bagi Putra. "Kenapa?" tanya Putra lagi. "Kenapa ... apa?" tanya Putri bingung. Putra tersenyum sinis. "Aneh. Jangan-jangan kamu punya dua kepribadian?" tuduhnya lagi. "Maksudnya?" Putri semakin tak mengerti. "Ya, di satu sisi kamu bersikap seolah sahabat yang baik. Tapi di sisi lain, kamu diam-diam tidur dengan kekasih sahabatmu sendiri, yang artinya sama saja kamu menyakitinya. Apa itu namanya kalau bukan kepribadian ganda? Atau mungkin lebih tepatnya ... manusia munafik?" Sudut bibir pria itu terangkat sinis. Air muka Putri seketika berubah merah padam. Tapi ia tidak bisa mengeluarkan bantahan apapun. Tidak akan ada yang percaya pada apa yang ia katakan. Bahwa tidak ada niatan sedikit pun ia untuk merebut pria ini dari sahabatnya. Tapi dengan apa yang sudah terlanjur terjadi sekarang. Putri akui ia memang salah dan ia tidak berniat untuk mencari pembenaran untuk membela diri atas kesalahannya yang telah ia perbuat malam itu. "Ya ...." Putri meneguk ludahnya kasar. "Memang seburuk itulah aku," ucapnya susah payah. Bukan hanya kulit wajahnya yang memerah. Kini, matanya pun ikut memerah dengan kaca-kaca yang siap menumpahkan airnya. "Anggap saja aku di sini untuk menebus kesalahan pada sahabatku," lanjutnya lagi. "Apa hubungan kalian tidak bisa diperbaiki lagi? Devina sangat tersiksa. Dia sangat mencintai kamu." Putra mengamati wajah sendu itu, berikut netra beningnya yang berkaca-kaca. Entah apa yang ia rasakan saat ini. "Memangnya siapa kamu ikut campur urusan kami?" Sayangnya Putra belum bisa berpikir positif tentang wanita ini. "Hanya karena kita pernah tidur bersama sekali. Lalu kamu merasa memiliki arti dan boleh ikut campur urusan pribadiku?" Lagi-lagi Putri dibuat mati kutu untuk membantah kalimat pria itu. Karena apa yang terucap memang benar adanya. "Maaf ... aku tidak bermaksud ikut campur. Aku cuma mau membantu temanku. Tapi kalau kamu merasa terganggu, aku minta maaf." Putri menundukkan kepalanya dengan sikap hormat, menunjukkan penyesalannya. Lagipula sejak awal mula Devina memintanya bicara dengan Putra. Putri pun memiliki pemikiran yang sama dengan pria ini. Memangnya siapa dia ikut campur dalam masalah mereka. "Aku punya banyak alasan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku rasa kamu lebih mengenal siapa Devina daripada aku." Putra mengamati wajah yang seakan mempertanyakan apa yang baru saja diucapkannya itu. Tidak mungkin bukan wanita ini tidak tahu bagaimana seorang Devina? Entahlah. Bahkan dirinya yang setiap hari bersama wanita itu juga bisa tertipu mentah-mentah. "Sudah cukup bukan pembicaraan kita?" Putra menarik tubuhnya yang semula bersandar pada punggung kursi. Setelah Putri menganggukkan kepalanya, barulah akhirnya ia membawa tubuhnya untuk berdiri dan bersiap untuk meninggalkan kafe tempat pertemuan mereka itu. "Oh, iya ... satu lagi." Putra kembali menahan langkahnya, memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan bicara dengan nada tegas. "Beritahu aku kalau kamu hamil. Aku tegaskan, aku tidak ingin mengambil resiko dengan memiliki anak di luar nikah dengan wanita yang tidak jelas, yang bahkan aku sendiri tidak mengenalnya dengan baik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD