Garis Merah Dua

1081 Words
Seberapapun Putri menyesali apa yang telah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi. Sesal tiada guna. Sementara hidup harus tetap berjalan. Ada sebab ada akibat. Dan kini mau tak mau Putri harus menanggung buah dari kesalahan yang telah ia perbuat. Setiap detik, setiap menit dan setiap waktu, perasaan takut itu terus mengikuti. Bagaimana kalau ia hamil? Bagaimana masa depannya nanti? Putri tidak sanggup membayangkan jika ketakutannya menjadi kenyataan. Ia akan mengecewakan dan mempermalukan keluarganya karena kesalahan fatalnya itu. Tangannya kembali mencoret satu tanggal di kalender bulan ini. Sudah lewat seminggu dan ia belum juga mendapatkan tamu bulanannya. Jangan ditanya betapa tersiksanya selalu diikuti kecemasan berlebih sepanjang waktu. Kuliahnya berantakan. Di rumah pun ia sering melamun dan membuat ibunya sering marah-marah karena ia terus saja membuat kesalahan saat membantu di warung sederhana milik keluarganya. "Putri!" teriakan ibunya yang begitu kencang dari luar kamar itu tak sedikit pun membuat Putri bergeming. Entahlah, untuk meyahut saja ia serasa tak punya daya. Ucapan Putra yang mengatakan bahwa pria itu tak menginginkan anak darinya itu terus terngiang di telinganya. Pun pria itu juga tak mengijinkan benih buah kesalahan mereka itu bertumbuh di rahimnya. Dalam artian, pria itu ingin ia menggugurkan janin itu jika benar dirinya positif hamil nanti. Apa ia tega melakukan hal sekejam itu? Ia sudah melakukan dosa besar berzina. Apa harus menambah dosa lagi dengan membunuh darah daging sendiri? Lamunan Putri sontak terputus ketika pintu didobrak keras kemudian dibuka kasar oleh ibunya. Belum sempat ia menenangkan ibunya yang memang punya watak meledak-ledak saat sedang marah. Mulutnya langsung dibuat bungkam, ketika ibunya melempar benda berbungkus plastik biru putih itu ke wajahnya. Tangannya reflek menangkap benda itu dengan gemetaran bersamaan dengan ritme jantungnya yang berdetak tak menentu. "Apa maksudnya itu, Putri? Coba jelaskan ke ibu kenapa ada barang begituan di tas kamu?" Wajah Marni nampak memerah menahan amarah. Terlebih setelah melihat wajah putrinya yang ketakutan. Sudah bisa dipastikan bahwa apa yang ia pikirkan saat ini adalah sebuah kebenaran. "Kamu hamil?" Wanita itu merangsek maju dan memukuli putrinya dengan tas di mana ia menemukan alat tes kehamilan yang ia lemparkan tadi. Putri tak berusaha menghindar atau melawan. Ia menyadari ia salah, terlepas ia hamil atau tidak saat ini. "Sok-sokan kamu mau kuliah. Ini hasilnya, hah? Cuma buat malu orang tua!" Perempuan jelang enam puluhan itu membanting tas selempang warna coklat itu ke lantai. Gurat lelah di wajah tuanya semakin nampak jelas. Belum ditambah ketika tangisnya membuncah keluar. Putri hanya bisa terduduk dan bersimpuh di kaki ibunya dengan tangis yang sama. Tapi ia masih belum tahu harus berkata apa, ingin menyangkal tapi saat ini ia masih belum bisa memastikan tentang kehamilannya. "Salahku apa, Gusti?" Perempuan itu meratapi nasibnya. "Punya suami penyakitan. Anak dua-duanya cuma buat malu, buat susah orang tua," ucapnya tergugu. "Putri minta maaf, Buk." Hanya itu yang bisa Putri katakan saat ini. "Siapa, Put? Siapa yang sudah menghamili kamu?" Marni berjongkok dan menarik wajah Putri yang terus menunduk bersimpuh di kakinya itu. "Jawab Ibu!" Tangan tuanya mengguncang keras tubuh anak perempuannya itu. Karena Putri tak kunjung memberikan jawaban. Selama ini Putri selalu menolak pria-pria pilihannya. Padahal menurutnya, ia memilihkan jodoh bukan sembarang orang. Ia hanya ingin memastikan bahwa putrinya tidak bernasib sama seperti dirinya. Salah memilih pasangan hanya karena dibutakan oleh cinta. Seumur kehidupan pernikahannya, Marni menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan suaminya sangat kecil, belum juga kebiasaan buruknya yang suka berjudi diam-diam di belakangnya. Setelah tua pun masih menyusahkannya dengan penyakitnya pula. Ketika Andra, kakak Putri, terkena kasus dan harus keluar banyak uang. Ia pulalah yang pontang-panting mencari pinjaman ke sana-sini. Suaminya sama sekali tidak bisa diandalkan. Bahkan sampai kini hutang itu masih menumpuk entah kapan akan lunas. Sama seperti ayahnya, anak laki-lakinya itu juga sama sekali tak bisa diharapkan. Kerjanya hanya malas-malasan dan tak ada usaha untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Apa-apa mengandalkan ibunya. "Jawab Putri!" Bentaknya lagi. "Kamu punya pacar?" Putri hanya bisa menggeleng lemah. "Lalu siapa? Kamu punya mulut, kan? Minta pria b******k itu untuk bertanggung jawab." Putri kian menunduk dalam. Kepada siapa dia harus meminta pertanggung jawaban. Ia yang menyerahkan diri. Ialah yang salah. Lalu kepada siapa ia meminta pertanggungjawaban kalau bukan kepada diri sendiri. "Kalau pacar kamu orang susah. Gugurkan saja anak itu. Ibu nggak mau punya menantu orang susah. Cuma menambah beban ibu saja nanti." Begitu selesai bicara Marni memilih keluar. Ia sudah terlalu lelah dengan drama kehidupannya. Hanya Putri satu-satunya harapannya, bisa memiliki menantu kaya yang bisa membebaskannya dari hutang. Ia hanya ingin tenang di hari tuanya. Setidaknya ada satu anaknya yang berhasil, dan ia bisa ikut hidup enak tanpa kekurangan. Tidak seperti sekarang. Ia sudah terlalu muak dengan kemiskinan yang setia menemaninya hingga tua. *** Garis merah dua. Putri membawa benda pipih itu lebih mendekat. Mungkin saja ia salah. Tapi tidak. Garis merah dua itu tidak berubah. Bahkan sangat jelas. Itu artinya, ia benar-benar hamil. Tangannya meremas benda pipih itu gemetar. Tidak ingin percaya tapi ini nyata. Awalnya ia masih berharap semoga ia hanya sekedar telat datang bulan saja seperti yang sudah-sudah. Tapi kini harapan itu sirna sudah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Wanita itu terduduk, memeluk kakinya di lantai yang dingin. Kebingungan menderanya. Ia tidak akan sanggup jika harus melenyapkan janin yang sedang bertumbuh di rahimnya kini. Ayah anak ini tidak menginginkannya. Ibunya juga berniat untuk menghilangkannya. Tersadar akan pemikiran itu. Seketika ia beranjak berdiri dilanda kepanikan yang teramat sangat. Jika ia tetap berada di sini, maka ibunya pasti akan membawanya ke dukun untuk menggugurkan kandungannya. Lalu, Putra, pria itu juga masih mengawasinya. Putri menggeleng kuat, tanpa pikir panjang memasukkan baju-baju dan apa-apa yang ia butuhkan ke dalam sebuah tas besar yang ia punya. Hanya satu yang ada di kepalanya saat ini. Melarikan diri. Ia harus segera pergi secepatnya. Entah kemana, setidaknya ia harus menjauh dulu. Baik dari ibunya ataupun Putra. Ia yang salah. Ialah yang harus menanggung semuanya. Sementara bayi ini. Janin ini sama sekali tidak berdosa. Ia bertumbuh di rahimnya bukan atas inginnya tapi buah dari kesalahan ibunya. Tidak seharusnya dilenyapkan dengan cara yang tak manusiawi. Ia tidak akan sanggup menanggungnya jika sampai terjadi sesuatu. Ia sudah terlalu banyak berdosa. Perlahan ia mengintip keluar. Memastikan situasi aman baru kemudian berjalan mengendap menuju pintu depan. Waktu menunjukkan jam satu pagi di jam dinding usang yang menggantung di dinding ruang tamu. Udara begitu dingin, tapi wanita itu banjir keringat di pagi buta ini. Hatinya dilema, mempertanyakan pada diri sendiri apakah keputusannya ini sudah benar? Tapi perasaan takut itu membawa langkahnya terus bergerak maju, berlari tanpa tujuan. Hanya mengikuti ke mana kaki melangkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD