Prolog
"Rasa kehilangan itu ada, tapi sampai kapan kamu akan terus terpuruk? "
Kepulan asap pekat keluar dari mobil Mercedes Benz yang baru saja menabrak sebuah pohon besar di satu jalanan sepi yang dipenuhi pepohonan. Dua orang yang berada di dalam tak bisa terselamatkan. Tim ambulans datang untuk mengotopsi mayat keduanya.
Tak jauh dari tempat itu terdengar suara teriakan seorang perempuan kira-kira berusia 16 tahun tengah tersungkur di atas tanah dengan deraian air mata, tampak wajahnya yang dipenuhi luka akibat benturan kecelakaan yang dialami, tepat di sampingnya sosok laki-laki yang juga tengah menangis memeluk kedua lututnya sambil bersandar di belakang tembok dengan kondisi tak jauh beda. Beruntung keduanya dapat selamat dari kecelakaan itu. Tapi tidak untuk kedua orang tua mereka. Polisi memastikan kecelakaan itu terjadi karena pengemudi yang lalai hingga menyebabkan kecelakaan.
"Papa, Mama , kenapa kalian ninggalin Sharen ma, pah!" isak perempuan bernama Sharen yang tak mampu membendung air matanya, semua tumpah saat itu juga begitupun dengan laki-laki disebelahnya yang sama-sama merasakan kepedihan atas kecelakaan kedua orang tua mereka.
Kehilangan
adalah satu kata untuk mengungkapkan kau sudah
tak memilikinya lagi,
sesuatu yang tak akan kembali,
sesuatu yang sangat menyakitkan,
saat kau sendiri hidup
di dunia ini.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu.
"Kak Radith mau kemana?" tanya Sharen saat melihat kakaknya Radith menenteng dua tasnya dan hendak keluar dari rumahnya.
"Gue mau pergi" ketusnya kasar.
"Kak, aku ikut. Aku nggak mau sendiri di sini?" rajuknya memohon
Radith Amarta Wijaya adalah kakak Sharen, mereka hanya terpaut satu tahun lebih tua.
"Enggak! Gue nggak mau lo ikut!" bentaknya kasar.
"Terus nanti aku sama siapa, papa sama mama udah nggak ada," rengeknya.
Radith mendorong bahu Sharen untuk menjauh darinya. Ia melangkah tanpa mempedulikan Sharen yang menangis karena kepergiaanya.
"Lo pikir siapa yang nyebabin papa sama mama meninggal? Itu elo!" tunjuk Radith menyalahkan semua pada Sharen dengan emosi.
"Lo dari awal cuma pembawa sial di keluarga ini," bentaknya lagi.
Sharen hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan kasar dari kakaknya yang begitu tega mengatakan semua itu.
"Tapi Kak, aku takut sendirian."
"Gue nggak peduli, gue mau pergi, dan lo nggak boleh ngikutin gue, titik!"
"Kak Radith!" Sharen berusaha mencegah kepergiaan kakaknya yang memilih pergi. Sia-sia abgi Sharen. Radith keluar dari rumah yang selama ini mereka tempati, meninggalkan adiknya yang terus berusaha mencegah kepergiannya. Di luar ia sudah memesan taksi, tarikan tangan Sharen tak bisa mencegah keputusan Radith untuk pergi.
"Jalan pak!" sesat setelah Radith masuk ke dalam taksi.
Sharen berusaha menggedor jendela taksi dengan deraian air mata, berusaha agar kakaknya mengurungkan niatnya untuk tak meninggalkannya. Namun, sia-sia.
"Kak Radith jangan tinggalin Sharen!"
"KAK RADITH!!!"
Radith dengan acuhnya tanpa mempedulikan Sharen yang terus menangis di luar jendela Taksi. taksi itu melaju pergi meninggalkan Sharen yang masih berusaha mengejarnya dari belakang. Sementara Radith yang berada di dalam hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke belakang bahkan untuk sekedar melihat adiknya yang mengejarnya. Tanpa sadar air matanya menetes menahan perasaan dalam dirinya yang terus berkecambuk.
"Maafin gue Sha!"
***
Sharen kini hanya bisa menatap dua nisan orang tuanya yang baru beberapa hari meninggal. Sharen sedikit menyesali kejadian yang membuat kecelakaan merenggut kedua orang tuanya. Masih ingat saat Sharen yang merencanakan liburan keluarga ke puncak waktu itu. Tak disangka liburan yang harusnya momen membahagiakan menjadi petaka untuk keluarganya. Mobil yang ditumpanginya oleng dan menabrak pembatas jalan hingga berguling, beruntung Sharen dan Radith yang berada di belakang berhasil melompat saat berhasil membuka pintu mobil—tapi tidak untuk kedua orang tuanya.
“Pa, mah, Sharen kangen sama kalian. Kenapa kalian ninggalin Sharen sendirian?” air matanya tak terbentuk sembari meremas gundukan tanah merah yang masih masah di berdampingan itu.
"Dan sekarang kak Radith marah sama aku, dia bilang aku yang nyebabin kalian meninggal, apa benar itu , Pa, Mah!"
Hening. Tak ada jawaban yang bisa Sharen dapatkan kecuali semilir angin yang berembus kencang dengan dahan yang terus bergoyang ditemani beberapa burung yang bertengker di ranting pohon tepat di atas Sharen saat ini berdiri.
***
Sharen membawa dua koper untuk pindah dari rumahnya kini, sekarang rumah yang ia tempati sudah disita oleh pihak Bank, karena hutang papanya yang banyak dan tak mampu untuk melunasinya maka sebagai jaminan rumahnya harus disita. Satu-satunya keluarga yang ia punya hanya tantenya Miranda, yang tak lain adalah adik dari mamanya. Tapi tante Miranda sangatlah keras dan tak pernah menyukainya, atau bisa dibilang hubungan mamanya dengan tante Miranda sudah mulai renggang sejak lama.
"Apa aku harus kesana?" batin Sharen bertanya saat ia tahu menapaki jalan luar rumahnya yang kini sudah dipasang plakat bertulis ‘disita’ itu.
"T-tapi pasti tante nggak akan mau aku nerima aku tinggal di sana, aku harus ke mana sekarang?" ia bingung sambil mendorong koper saat melewati jalan setapak. Sharen berhenti di salah satu rumah susun, ia menatapp ke depan memastikan lebih yakin kalau ia harus tinggal sementara di sana untuk sementara waktu. Beruntung ia masih memiliki sisa uang yang selama ini ditabungnya.
***
22. 03 WIB di salah satu gang jalanan.
Bugh…bugh…bugh, terdengar suara perkelahian yang dilakukan seorang laki-laki melawan lima orang bertubuh gempal dengan tato menghias di shampir seluruh tubuhnya. Ia menangkis serangan membabi buta dari kelima orang yang meroyoknya itu. Namun, di segi julah yang tidak seimbang, apalagi kondisinya sekarang disudutkan dari berbagai arah. Tendangan, pukulan ia terima hingga membuatnya tersungkur tak berdaya.
"Kalian pengecut, liat aja nanti, tunggu orang-orang gue datang buat ngehajar kalian semua, b*****t!" gertaknya dengan luka yang ia terima di kedua pipinya hingga mengeluarkan darah segar di sisi kanan bibirnya.
Hampir 10 menit laki-laki itu dikeroyok tanpa ampun tanpa perlawanan. ia hanya bisa pasrah dan tersungkur ke bawah sambil merintih kesakitan saat mendapat pukulan di bagian perutnya yang cukup keras.
tak jauuh dari tempat laki-laki itu dikeroyok, di tempat yang sama pula. Langkah Sharen tak sengaja lewat di tempat itu. Tubuhnya terhuyun, pandangannya kosong. Ia berjalan menuju ke salah satu jembatan yang di bawahnya mengalir aliran sungai yang deras. Kakinya berusaha menaiki pembatas jembatan perlahan. Sharen menatap ke bawah jembatan yang cukup terjal itu, apabila ada seseorang yang jatuh ke bawah, bisa dipastikan ia akan mati saat itu juga. Sungguh konyol dengan kematian seperti itu.
Sharen menatap ngeri saat niatnya memang ingin mengakhiri hidup di dengan lompat. Sudah tak ada harapan lagi untuknya hidup, ia lebih memilih pergi menyusul kedua orang tuanya. Namun, saat Sharen kembali ingat wajah kedua orang tuanya yang selalu tersenyum padanya, ia kembali menangis. Lagipula dia tak sendiri, masih ada kakaknya Radith yang entah ada di mana sekarang, yang jelas, dialah satu-satu keluarga yang ia punya. Bagaimana mungkin ia juga akan meninggalkan kakaknya itu. Ia merutuki kebodohannya dan perlahan turun dari pembatas jembatan. Tak seharusnya ia melakukan ini.
Kepala Sharen berpaling pada salah satu gang kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara teriakan, pandangan Sharen teralihkan karena penasaran. Ia memutuskan untuk mencari sumber suara itu, langkahnya terhenti beberapa meter saat melihat perkelahian di sana. Bukan! ini lebih ke pengeroyokan karena satu orang dikeroyok oleh lima orang berbadan kekar dan ia juga melihat orang yang dikeroyok itu terlihat tak berdaya di atas tanah.
"Aduh gimana nih, gue harus gimana? Nelpon polisi, atau nyari bantuan, tapi ini udah tengah malam, mana ada orang yang lewat di sini." Sharen bingung, ia mencoba memutar otaknya mencari solusi untuk menyelamatkan laki-laki itu.
Terlihat balok kayu di sebelahnya. Ia pun mengambil kayu itu dan dengan berani maju mendekati preman-preman tanpa tanpa rasa takut ataupun resiko yang akan diterimanya bila berurusan dengan mereka.
Bodohnya lo Sha, mau cari mati, kenapa lo ikut campur, gerutunya dalam hati menyalahkan diri sendiri.
"Tapi kalau dibiarin aja, orang ini bisa mati."
Dengan mengendap-endap Sharen maju ke depan dan tanpa pikir panjang, pukulan keras dilayangkan Sharen pada salah satu preman dan berhasil mengenai kepalanya hingga jatuh tersungkur ke bawah.
Sharen yang berhasil melumpuhkan satu orang langsung mengarahkan kayu pada preman yang lain dan berusaha maju ke depan melindungi orang yang dikeroyok itu. Sontak saja, preman yang lain menatapnya geram. Berani-beraninya seorang perempuan menghalanginya. Semua langsung terfokus padanya. Sharen langsung menjatuhkan kayu yang ia pakai untuk memukul tadi dan kini ia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakuakn preman ini padanya nanti.
"Aku bisa lapor polisi sekarang, atas tuduhan pengeroyokan!”
Seketika tawa renyah dari mulut preman itu menggema, rupanya ancaman Sharen tak membuatnya gentar.
"Eh gadis manis, mana ada polisi di sini, adanya juga mendingan main sama abang. Kamu cantik juga," godanya mendekati Sharen dengan senyuman licik.
"Jangan mendekat atau aku akan teriak!"
“Teriak? Mana ada orang lewat di sini? Di sini itu markas kita!”
Salah satu preman itu melangkah mendekat, Sharen sontak mundur sampai ia tersudut ke belakang, terlihat dari raut wajahnya yang ketakutan.
Tak tinggal diam. Kesempatan ini menjadi peluang laki-laki tadi bangun, dan beberapa menit saat ia berdiri terdengar suara mobil yang muncul dan sigap menghadang mereka. beberapa anak buah suruhannya keluar dari dalam mobil dan langsung menyergap mereka tanpa ampun. Salah satu berhasil melumpuhkan preman itu dengan tangan kosong.
"Kalian terlambat!”
Sharen kini beralih menatap ngeri ke arah pemuda di yang tadi dikeroyok itu telah bangun dan berdiri tepat di depannya. Tatapannya membuat Sharen ketakutan, apa laki-laki ini juga orang jahat? Batinnya. Tanpa disadari salah satu preman yang lengah berdiri dan mengambil kayu untuk memukul laki-laki itu dari belakang.
"AWAS!" Sharen yang sigap menoleh dan langsung melindungi laki-laki itu.
Dugh, kayu yang harusnya mengenai laki-laki itu malah mengenai kepalanya cukup keras hingga membuatnya terjatuh, dengan sigap laki-laki di belakang menangkapnya.
"Hei bangun!!"
Preman yang memukulnya tadi langsung diringkus salah satu anak buah yang berhasil berobohnya dari belakang.
"Ampun...ampun..." rintihnya
"Bereskan mereka, jangan sampai ada yang tertinggal" perintahnya
"Baik Tuan!"
"Biar perempuan ini, saya yang urus." laki-laki itu lalu membopong tubuh Sharen masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan..
"Kau terpilih menjadi satu bintang diantara ribuan bintang yang lain "
"Tuan muda !" ucap salah satu pelayan yang melihat majikannya datang dan membopong seorang perempuan.
"Tuan, apa yang terjadi dengan perempuan ini?" tanya Albert, sang asisten pribadinya yang berperawakan tegap dengan setelan jas hitam lengkap ikut terkejut.
"Panggil Dokter Faiz untuk memeriksanya, gadis ini sudah menyelamatkan nyawaku." Laki-laki itu langsung membawa perempuan itu masuk ke salah satu kamar kosong.
Kemudian ia membaringkan perempuan itu di ranjang dengan lembut. Ia lalu duduk disebelahnya menatapnya yang tampak sendu dengan mata tertutup setelah menolong dirinya tadi. Tanpa sadar laki-laki itu membelai pipinya sambil bergumam ‘cantik’ .
"Tuan, dokter Faiz sudah datang," Albert masuk ke dalam kamar diikuti dokter muda dibelakangnya yang diketahui bernama dr, Faiz.
"Saya akan memeriksanya, tunggu saja d iluar!" pinta Dokter itu mengeluarkan perlengkapan medisnya.
"Selamatkan Perempuan ini!" ucap laki-laki itu mencemasnya.
Sementara keduanya menunggu di luar. Di dalam, dokter tengah memeriksanya dengan serius. Saat dirasa tidak ada luka yang cukup parah yang dialami perempuan itu, dokter Faiz segera merapikan perlengkapan medisnya dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Bagimana keadaannya? Apa dia mengalami luka dalam, atau—" Laki-laki itu terlihat sangat cemas.
"Perempuan ini baik-baik saja, hanya luka kecil di kepalanya, dan itupun sudah saya obati."
"Terimakasih dok! Boleh saya melihatnya?" tanyanya lagi.
"Tentu, dia hanya butuh istirahat yang cukup," jelas dokter sebelum pergi.