"Kau adalah pemilih hati, lihat dan rasakan perasaan ini "
Exelio Arjuan Vernandes, anak pemilik dari Vernan Grup, perusahaan terkenal multinasional yang memiliki beberapa cabang hotel berbintang kelas atas dan juga pemilik perusahaan penerbangan Vern Airlines. Seorang badboy yang juga menguasai dunia gangster dan dunia balapan liar. Seseorang yang kasar, dingin, dan tempramental dengan sikapnya yang berkuasa atas segalanya.
Malam itu Exel terlibat pertarungan dengan anggota preman yang menguasi tempat itu.
"Woi , hati-hati kalau jalan , punya mata nggak sih lo?" teriak salah satu preman itu tak terima
Exel terdiam menatap mereka lalu berbalik.
"Oi!" panggil preman itu menarik kerah Exel. Ia pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Berani ya lo? Lo mau mati? Hah!"
Dengan satu hentakan. Exel menarik tangan preman itu dan memutarnya, menjatuhkan satu kali pukulan ke tanah. Preman yang lain datang dan mengelilinginya.
"Sialan lo!" teriak preman lainnya tak terima.
Perkelahian tak terelakan, saat itulah Exel kalah dalam jumlah, sampai seorang perempuan datang menolongnya.
"Aku bisa lapor polisi sekarang, atas tuduhan pengeroyokan."
Dia sangat berani, biasanya kebanyakan perempuan akan lari menjauh saat berhadapan dengan preman , tapi dia, dia berbeda, batin Exel.
Sampai sebuah kayu akhirnya tak disadari mengarah padanya dan perempuan iini menolongnya. "Hei bangun!" Exel berusaha menggoyangkan badan perempuan yang saat ini jatuh ke pelukannya sesaat ia berhasil menangkapnya
Exel lalu membopongnya dan membawanya masuk ke mobil dan membawanya pulang ke rumahnya.
***
"Perempuan ini masih terlelap dalam mimpinya yang indah."
"Papa, mama, jangan tinggalin Sharen, Sharen nggak mau sendirian di sini, " ucap perempuan itu mengigau di saat tidur.
Exel yang masih berada di sebelahnya terlihat bingung saat melihat perempuan ini mengigau sendiri. Keringat bercucuran dengan raut wajah yang menyiratkan ketakutan. Exel menatapnya penuh arti, apa yang terjadi dengan gadis ini?
Kembali ia menatap wajah pucat Sharen yang sedikit ketakutan , Exel menarik tangannya dan menggenggam erat jemari tangannya berusaha menenangkannya.Malam ini begitu dingin, tapi entah kenapa ada yang lebih dingin, tatapannya menyiratkan sebuah ketakutan, dan perempuan ini menangis dalam tidurnya.
Sebenarnya siapa perempuan, dan apa yang dia rasakan?
***
Cahaya kuning masuk melalui jendela kamar. Perlahan mata Sharen terbuka dengan silaunya cahaya pagi. Matanya terbuka memandang di sekeliling sangat asing. masih memegang kepalanya yang pusing ia mengingat kejadian yang dialaminya tadi malam. Ia tampak asings aat melihat tempatnya berbaring sekarang.
"Dimana ini?"
"Udah bangun?" bariton suara tegas mengalihkan pandangannya, Sharen menoleh ke arah pintu. Sosok laki-laki berperawakan tinggi tegap menghampirinya.
"Ka-kamu siapa?" Sharen menggeser tubuhnya menjauh ke belakang. Exel lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang dekat perempuan itu sambil tersenyum manis kearahnya.
"Lo nggak inget gue?" Sharen menggelengkan kepalanya.
"Ini di mana? Kenapa aku ada di sini?" tanyanya mulai meracau.
"Lo nggak inget waktu nyelamatin gue?" tanya laki-laki itu. Sharen memutar kembali otaknya mengingat kejadian malam itu.
"Kamu!" perlahan ia ingat sesuatu. Namun samar-samar.
"Lo nyelamatin gue malam itu."
"Aku ingat, tapi—"
"Lo pingsan waktu malam Beruntung lukanya nggak parah." Sharen memegang kepalanya yang kini diperban di bagian Kiri kepalanya. "Aw."
"Terima kasih udah nolongin saya," ucap sharen mengulas senyuman.
"Terima kasih? Lo yang nyelamatin gue kenapa lo yang harus berterima kasih?" Exel mendekat.
"Karena udah nolongin saya waktu pingsan."
Exel mendekat wajahnya sambil tersenyum sinis, tangannya terulur menyibakkan anak rambut yang menghalangi waja Sharen dan menyelipkan ke belakang telinga sambil menyentuh dagunya. "Lo mau jadi pacar gue?"
"Huh!"
"Pa-pacar? Anda jangan bercanda, kayaknya saya harus pergi dari sini deh! " Sharen mulai ketakutan saat pandangan laki-laki itu berubah menjadi nafsu yang mengerikan.ia lalu turun dari ranjang dan berusaha pergi. Namun, Exel dengan mudah menariknya kembali ke belakang.
Cup, Exel mendorongnya ke dinding, Sharen membelakak terkejut berusaha melepaskan diri dengan memukul d**a laki-laki itu berusaha berontak. Exel mencengkram erat kedua tangannya dan menaruhnya di kedua sisi kepalanya.
"Cu-kup!"
Exel melepas ciuman kasarnya dan menatap Sharen penuh arti, satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulusnya. Exel menatapnya datar.
"Kamu keterlaluan" Sharen yang kesal segera bergegas pergi
"Sharen Aquilla Wijaya" panggil Exel. Sontak Sharen berhenti dan kembali menoleh ke belakang.
"Bagaimana kamu tahu nama saya?" tanya Sharen
"Kenapa? Gue tahu siapa lo itu nggak penting, tapi yang terpenting sekarang lo adalah PACAR gue sekarang!" tegasnya sedikit memaksa.
Sharen tak habis pikir dengan laki-laki yang seenaknya saja mengklaim dirinya jadi miliknya, memang siapa dia, bahkan Sharen tak pernah mengenalnya sebelumnya. ”Kamu gila!”
Sharen tak mengubris ucapan laki-laki yang kini dianggap gila olehnya, yang terpenting sekarang ia harus keluar dari rumah ini. Segera.
"Gue, gue Exelio Arjuan Vernandes, ingat itu, sweety.” Exel berhasil menariknya kembali dan kini ia membisikan sesuatu di telinga kanan Sharen yang membuatnya bergidik ngeri.
Sharen berusaha melepas cengkraman tangaan darinya, ia harus secepatnya keluar dari rumah ini, bagaimanapun caranya. “Aku harus pergi!”
Exel melepaskan begitu saja tangan Sharen dan membiarkan perempuan itu keluar dari kamar. Sharen yang telah lolos dari laki-laki tadi kini kembali dihadang pemadangan yang belum pernah ia duga sebelumnya. Sebuah rumah megah kini tersaji di depannya. Bahkan ada banyak pintu yang membuatnya bingung harus ke mana. Sharen mulai kebingungan. Ia tak tahu menahu, langkahnya memilih asal kemana ia harus keluar dari rumah besar itu. Sampai seorang pelayan membawa troli tersenyum menghampirinya.
"Nona, saya membawa beberapa kue untuk Nona," ucap pelayan berumur 30 tahunan dengan pakaian maid hitamnya .
Glup, perut Sharen bergeliyat meminta makan, dari kemarin ia bahkan belum mengisi perutnya sama sekali.
"Nona baik-baik saja?" tanya pelayan menatapnya bingung.
Sharen tersadar dari lamunannya.
"Bi, bibi tahu pintu keluar dari rumah ini?" tanyanya.
Pelayan itu terdiam, seakan takut akan sesuatu di belakang perempuan itu. "Pintu keluar ada ... di—"
"Mau mencoba kabur nona manis?"suara bariton keras terdengar dari belakang tepat.Sharen menoleh, ia langsung mundur ketakutan. Pelayan itu menunduk dan pergi saat mendapat perintah dari Exel.
"Exel!" ucapnya berubah menjadi ketakutan. Disaat Exel mendekat, Sharen malah mundur.
"Kenapa lo jadi takut?" ucap Exel.
"A-aku harus pergi!"
"Pergi ke mana?"tanyanya.
"Pulang ke rumah, iya, saya harus balik, soalnya pasti orang rumah khawatir," ucap Sharen sedikit gugup dengan kebohongan yang ia buat-buat.
"Rumah? Bukannya rumah lo disita sama bank, orang tua lo udah nggak ada, lo nggak ada tujuan mau ke mana."
Bagaimana dia tahu semuanya? batin Sharen terkejut
"Gue tahu dari mana, itu nggak penting, gue bisa nolongin lo, tapi dengan syarat," bisik Exel kembali mendekat menyempitkan jarak keduanya sampai mentok di tembok belakang.
"Lo jadi pacar gue, tapi kalau lo nolak , gue nggak akan ngelepasin lo. Lo tahu, gue paling nggak suka PENOLAKAN, jadi mendingan lo pikirin baik-baik, lo jadi gelandangan di luar, apa tinggal disini?" tawar Exel dengan dengan sedikit mengancam. Pilihan yang sulit memang.
"Saya nggak mau, lebih baik saya jadi gelandangan di luar," tolak Sharen berani.
"Pikirkan baik-baik."
"ENGGAK, saya nggak mau jadi pacar Anda, " tolaknya untuk kedua kalinya. Exel menghembuskan napas kasar, baru kali ini ia mendapat penolakan dari seorang perempuan, biasanya mereka akan datang berbondong-bondong mendekatinya namun berbeda dengan perempuan di depannya yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Sharen melangkah mundur, beberapa bodyguard Exel sudah ada di belakang sejak tadi , mencekal kedua tangan Sharen dengan kasarnya.
"Lepasin...lepasin saya! " ronta Sharen saat kedua tangannya dipegang begitu kuat hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Lepasin dia!"teriak Exel.
"Siapa suruh kalian memegangnya" mata Exel mengisyaratkan kemarahan, para bodyguard itu menunduk takut dan melepaskan tangan Sharen yang terlihat ketakutan.
"Plis, biarkan saya pergi dari sini! " mohonnya.
Exel menatapnya sendu. Ia tak bermaksud menakutinya, justru perempuan inilah yang takut padanya. "Pergilah!" pinta Exel tiba-tiba membuat Sharen mendongak tak percaya dengan apa yang didengarnya.Secepatnya Sharen bergegas melangkah mundur dan keluar dari rumah tersebut.
"Tuan, kenapa tuan membiarkannya pergi?"tanya salah satu bodyguardnya.
Exel tersenyum licik."Liat saja nanti, perlahan dia akan kembali,"