Part 3 : Hallo Sweety

1077 Words
Kriiing, jam alarm berdering cukup nyaring membuat si empu yang saat ini tertidur dengan pulasnya langsung meraba ke tempat dimana jam itu berdering. Dengan gerakan cepat ia mematikan alarm itu seketika.Iris mata hitam yang terpantul dengan adanya sinar pagi yang masuk membuat perempuan yang saat ini masih dalam keadaan setengah sadar mulai menghalau sinar itu dengan tangan kanannya. Segera ia bangkit dan bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah. Sudah hampir satu minggu sejak kecelakaan yang menimpa keluarganya,  Sharen memilih untuk ijin dan pihak sekolah pun memaklumi keadaan itu. Sharen yang masih terlihat santai untuk bersiap-siap tak menyadari,  jam dinding di atasnya telah menunjukkan pukul 07.45 WIB saat ia mengambil handphone. "Astaga,  udah jam segini,  bisa telat gue." bergegas Sharen keluar dari kamar kontrakan. Tak lupa tas gendong dan beberapa bungkus roti ia masukkan ke dalam.  Sharen masih harus menunggu bus  di halte yang cukup lama. Sambil celingukan ia berulang kali melihat jam yang terus berputar. "Busnya kenapa belum datang  sih?"gerutunya kesal. Ciiiitttt, Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depannya, hampir saja membuat Sharen terkesiap. Seorang laki-laki membuka kaca spion mobil dan menoleh ke arahnya sambil membuka kacamata hitamnya—Siapa lagi kalau bukan Exel. "Halo sweety!"Sharen terkejut bukan main, bagaimana bisa ia bertemu dengannya lagi , dan kenapa dia tahu gue disini? geramnya dalam hati. "Masih nungguin bus lewat?  Udah jam 7 lebih lho!" "Iya aku tahu." Exel langsung membuka mobil dan keluar dengan gaya congahnya, dan tanpa ijin langsung merangkul pundak Sharen begitu saja.  "Ihhh, apa-apaan sih, main rangkul-rangkul segala, dan terus kenapa manggil aku sweety, nama aku itu Sha..." "Ssstt.... nggak usah diterusin, dari pada  ngomel-ngomel terus telat, mau dihukum?" Sharen memanyunkan bibirnya menatap kesal ke arah laki-laki di depannya.  Seenak jidat datang langsung sok akrab. Iya sih kemarin laki-laki ini sudah menolongnya.  "Sha! " "Kok ngelamun sih? "kejut Exel membuyarkan lamunannya. "Udah,  mending lo berangkat bareng gue. Gue jamin lo nggak akan telat. " Sharen masih menimba-nimba saran yang diberikan Exel untuknya.  Memang benar kata Exel,  kalau ia masih menunggu bus yang bahkan belum datang sampai sekarang, otomatis dirinya akan terlambat. "Ayolah sayang, kita berangkat sekolah!" Exel menuntun Sharen untuk masuk ke dalam mobil. "Tung-tunggu..... kamu mau nganter aku ke sekolah, emang kamu tahu sekolah aku?" "SMA Pramudia kan?" Darimana dia bisa tahu? Batinnya "Gue tahu dari mana itu nggak pentingkan?" "Tung-tunggu... kok kamu bisa baca pikiran aku?" Sharen heran. "Sweety sayang, kita kan deket, otomatis apa yang lo pikirin gue bisa tahu." "Masa sih?" "Yaudah kalau nggak percaya, tapi lo nggak mau telat kan?" "Iya aku nggak mau telat, tapi aku nggak mau bareng sama kamu!" "Lo bareng gue, apa gue cium sekarang disini?"ancam Exel  menyudutkan Sharen seketika. Glup, Sharen mundur perlahan. "Gimana?" tawar Exel sekali lagi. Sharen tak bergeming. ia bingung dengan keputusan yang akan diambilnya, memilih bersama laki-laki ini atau telat dan mendapat hukuman, pilihan yang tak menguntungkan di kedua pihak. Sejenak ia menghela napas kasar. "Baiklah, gue... "Exel memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya.  5 cm... 3 cm... 2 cm... "STOP! Oke aku bareng kamu!" ucapnya sebelum laki-laki ini merampas bibirnya seperti kejadian kemarin. "Good girl , ayo sweety," Exel mendorong Sharen untuk masuk ke dalam mobil miliknya dan langsung menutupnya. *** Di dalam mobil hanya ada keheningan, Exel yang sibuk menyetir sementara Sharen lebih memilih memalingkan wajah ke balik jendela kaca dengan wajah cemberutnya. Jujur,  ada rasa canggung saat bertemu dengan laki-laki itu untuk yang kedua kalinya "Sweety!" Sharen memilih diam. "Sayang!" Tak ada jawaban, sebenarnya Sharen mendengar saat Exel mengucapkan kalimat itu, tapi baginya hal itu justru membuatnya sedikit risih, memanggilnya sayang, apalagi sweety, Kenapa nggak manggil nama aja sih. batinnya kesal. "Sharen!" Sontak Sharen menoleh. Dia bisa baca pikiran aku ya? "Kenapa diam?" "Emmtt enggak, nggak papa. Oh ya, sekolah aku ada di ujung sana. Aku turun di sini aja ya, takut ngerepotin!" pinta Sharen tersenyum paksa. "Enggak, gue antar lo sampai di dalam, kalau perlu sampai kelas," paksanya. "Nggak perlu, kamu kan juga harus ke sekolah, takutnya kamu juga telat, jadi turun disini aja ya, Ex-xel, Plis!" untuk pertama kalinya Sharen memanggil namanya. "Oke!" Yes!, batinnya senang Sharen keluar dari mobil. "Lho kok nggak bisa di buka pintunya, ini kenapa?" Sharen mendorong knop pintu mobil namun tak kunjung terbuka. Apa laki-laki ini sengaja? "Exel...pintunya?" "Nggak bisa dibuka? Emang gue kunci, "ucap Exel terkekeh melihat raut wajah Sharen yang pasrah padanya. What?  Jadi bener, dia ngerjain gue dari tadi. Exel menggeser bokongnya perlahan mendekati Sharen. Otomatis Sharen berusaha menjauh,  tapi tidak sampai ia tersudutkan saat tangan Exel mengulurkan tangan ke pintu di belakangnya.  Sharen sendiri hanya bisa menutup mata dengan tubuh gemetar. Jelas ia dapat merasakan aroma parfum dari tubuh Exel yang khas, bahkan nafas mereka saling bertemu satu sama lain. Klik, Pintu mobil terbuka. "Udah ke buka!" ucap Exel memperkecil jarak mereka dan masih  di posisi yang sama-- berhadapan langsung memandang wajah Sharen yang menutup mata. "Kenapa nutup mata, takut gue cium?" Sharen mendelik memastikan Exel sudah menjauhkan jarak darinya. Namun sial!  Justru kini mata keduanya saling bertemu--sangat dekat hingga membuat Exel tak berkedip.  Sampai saat Exel mencoba memiringkan wajahnya menahan godaan dari bibir pink Sharen, dengan gerakan cepat kedua tangan Sharen mendorong tubuh Exel sedikit menjauh. "Makasih, udah nganterin aku!" Sharen segera turun dari mobil Exel dengan wajah canggung sekaligus memerah.  "Makasih atas tumpangannya, " ujar Sharen lantas berjalan pergi "Kembali kasih sweety!, nanti gue jemput ya di depan!" ujar Exel menyembulkan kepala  dari jendela mobil.  "Tung-tunggu." belum sempat meneruskan kata katanya mobil Exel telah melaju kencang. Sharen menghela napas, ia benar-benar sial hari ini , harus berurusan dengan cowok gila itu lagi. Ralat, cowok psiko lebih pantas disandangnya. Sharen masuk ke sekolah dengan mengendap-endap, dia tahu hari ini dia sangat telat, dan ditambah hari ini pelajaran bu Berta, guru matematika yang dikenal sangat disiplin, melihat ada satu muridnya yang terlambat—bisa panjang urusannya.  "Tapi kenapa kelasnya rame, apa hari ini kosong?" Sharen penasaran Sharen mengintipnya dari balik pintu dan benar--tidak ada bu Berta dan kelas kosong. "Terselamatkan, hufft." "Sharen!"kejut seorang laki-laki menepuk bahunya.  Sharen menoleh terkejut, "Kak Ronald?" "Kamu kok belum masuk?" "Emmmt itu kak, saya!" Meremas kedua tangannya gugup. "Telat?" "Ehhh..." "Udah nggak papa, ayo masuk, hari ini guru-guru lagi rapat, jadi cuma dikasih tugas doang!" "Beneran kak?" Ronald mengangguk mengiyakan.   Ronald Airlangga, ketua kelas yang dikenal sangat bijaksana, wajahnya yang tenang juga pembawaan sifatnya yang lembut mampu membuat siapa saja jatuh cinta padanya, termasuk.... "Lho kok bengong, ayo!" "I-iya, kak." Dan mulailah hari cerah akan kembali bersinar, selamat datang dunia baru. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD