Winda mendengarkan semua yang dikatakan Hani dalam diam saat mereka berdua makan bersama di kantin rumah sakit. Duduk berdua saat ini adalah hal yang sudah lama tidak mereka lakukan sejak Winda menikah. Banyak hal yang terlewati baginya, terutama dia baru sadar bahwa usia adiknya itu memang tak lagi muda. Kadang Winda pun menyalahkan waktu yang bergulir begitu cepat, waktu yang tidak pernah menyatukan kakak beradik itu. Winda pun juga menyalahkan diri sendiri yang terlalu fokus pada keluarga dan pekerjaannya hingga mengabaikan apa yang terjadi pada Hani.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Tetap melanjutkan rencanamu?" tanya Winda setelah Hani menyelesaikan ceritanya tentang Rudi.
"Nggak tahu, Mbak," jawaba Hani lesu. "Tapi, Cuma ini yang mungkin bisa membuat Bapak sembuh, kan? Bapak ... impian Bapak ingin liat Hani menikah sama Mas Rudi."
"Walau kamu nggak cinta?"
Adiknya membisu, tatapannya semakin sendu dan menampakkan wajah yang begitu lelah dan penuh beban. Winda tak menyalahkan kemauan Hani tapi juga tidak menyalahkan keinginan orang tua mereka yang tinggal satu-satunya. Orang tua mana yang ingin melihat anak gadisnya melajang terus? Terlebih, stigma orang sekitar yang masih kolot bahwa usia seperti Hani sudah terlalu tua untuk melajang.
"Hani ... yakin, entah hati Hani, entah hati Mas Rudi, salah satu dari kami pasti akan merasakan hal itu, Mbak. Tresno jalaran soko kulino," ucap Hani dengan sedikit ragu.
"Mbak Winda nggak ingin kamu menderita hanya karena masalah ini, Han. Jika kamu siap menerima konsekuensinya bersama Rudi, silakan, kamu sudah dewasa. Mungkin Bapak memang memilih Rudi karena dia terbaik untukmu."
Hani hanya menganggukkan kepala lemah, memandangi piring kosong bekas nasi campur miliknya. Ya, memang ini sudah jalan takdirnya. Sebesar apa pun usahnya menghindari perjodohan itu, nyatanya Hani kembali untuk memilih jalannya bersama Rudi. Sejenak Hani memejamkan kedua mata bulatnya merasakan angin berhembus menerpa kulitnya, bayangan Maryadi menjabat tangan Rudi di saat ijab kabul pun terlihat jelas. Maryadi yang begitu bahagia dengan senyum dan tawanya yang begitu khas.
Bapak, kalau ini memang yang terbaik untuk Hani ... Hani bisa menerimanya untuk Bapak.
##
Hani dan Winda berlari dengan cepat menerobos kerumunan orang-orang yang lalu lalang di lorong rumah sakit. Detak jantung mereka berpacu bersamaan dengan irama napas yang begitu cepat. Mereka berdua berkejaran dengan sang pencabut nyawa ketika menerima kabar dari Candra bahwa kondisi Maryadi tiba-tiba turun secara drastis.
Hani menabrak seorang lelaki bertubuh kurus hingga hampir terjatuh dan mendapat umpatan kasar. Hani hanya bisa mengucapkan maaf sambil terus berlari menuju ruang ICU tempat Maryadi dirawat. Pikirannya sangat kacau membayangkan apa yang terjadi selanjutnya pada orang tuanya itu, dia masih belum siap menerimanya. Duka karena ditinggal ibunya masih belum sepenuhnya pulih, Hani tidak ingin merasakan duka itu lagi.
Tirai pembatas kaca tertutup membuat Hani semakin was-was apa yang terjadi dengan Maryadi di ruang intensif. Dia pun menekan bel di dekat pintu masuk ruang ICU berharap petugas di sana mau mengizinkannya masuk. Beberapa detik, pintu terbuka dan menampakkan seorang mahasiswa perawat menatap Hani dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Keluarganya Pak Maryadi," ucap Hani. "Tolong, saya ingin liat Bapak."
Mahasiswa itu menimbang seolah ragu antara membiarkan Hani masuk atau justru melarang keluarga pasien masuk selama ada pasien gawat. Hani yang tidak sabar, akhirnya menerobos mahasiswa itu dan seketika tubuhnya tak bertulang.
Tubuh Maryadi dikelilingi beberapa perawat dan dokter yang tidak menghiraukan kehadirannya. Salah satu dari mereka sedang melakukan pijat jantung yang Hani dengan sesekali dokter memberikan instruksi yang tidak dimengerti olehnya. Air mata Hani mengucur deras, bibirnya tak berhenti memanjatkan doa agar Maryadi bisa selamat.
Candra yang berdiri di belakang para petugas medis itu terkejut melihat Hani bersimpuh di lantai sambil menangis. Dihampirinya adik iparnya itu dan berkata,
"Bapak pasti bisa berjuang, Han ... kita harus berdoa dan percaya pada mereka, oke."
Hani tidak bisa mendengar apa pun yang dikatakan Candra, kepalanya sudah sesak dengan hal terburuk yang bakal menimpa Maryadi.
"Aku panggil Mbak Winda ya, kalian yang harus berada di sisi Bapak," ucap Candra yang tidak direspon Hani.
Saat Winda masuk ke ruangan, dokter yang badannya paling tinggi dan berkaca mata itu menggeleng kepada rekannya dan menyuruh menghentikan tindakan pijat jantung. Seketika itu pula Winda berteriak histeris berlari ke arah tubuh Maryadi yang menyisakan raga. Hani mengekori Winda dengan sisa tenaganya, memeluk jasad Maryadi yang begitu dingin.
"Bapak ... Bapak ... " racau Hani mengguncang tubuh Maryadi namun tubuh itu tidak merespons sama sekali.
Ada rasa menyesal dalam diri Hani mengapa dia tidak menuruti saja kemauan Maryadi sejak awal jika hal ini adalah hal terakhir yang diinginkan oleh pria paruh baya itu. Namun waktu tak bisa diputar apalagi nyawa tidak bisa dikembalikan, raga Maryadi tetap terpejam walau Hani memanggil nama orang tuanya hingga berbusa.
Hani sendirian ...
##
Kepergian Maryadi masih meninggalkan luka meski hampir seminggu jasad orang tuanya dimakamkan. Memandang kosong ke arah jalanan kampung dari teras rumah, di sini terakhir kali Hani dan Maryadi berbicara tentang perjodohannya bersama Rudi. Air mata gadis itu kembali menetes, merutuki kebodohannya sendiri mengapa dia menolak. Jika Hani menyetujuinya, mungkin Maryadi masih duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya seperti dulu.
Tanpa disadari, Winda duduk di sisi kanan adiknya yang kini sering melamun seorang diri. Disentuhnya pundak Hani membuat gadis itu terkejut bukan main. Secepat kilat Hani menghapus air matanya lalu tersenyum tipis walau otot-otot wajahnya terasa sangat kaku.
"Nanti malam habis pengajian tujuh harinya Bapak, Rudi sama orang tuanya mau membicarakan kelanjutan perjodohan kalian. Om Sastro bilang, kalau kamu amanahnya untuk Bapak."
Hani hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan tak minat lalu kembali memandangi kampungnya yang kini ramai dengan anak-anak yang berlari seraya membawa layangan. Sekarang dia pun pasrah dengan keputusan Winda mau pun Om Sastro terhadap hubungannya bersama Rudi. Tak ada lagi minat dalam hati Hani, meski dia menikahi Rudi pun, hal itu tidak bisa mengembalikan nyawa Maryadi.
Jika aku membatalkan rencana itu, sama saja aku mengkhianati janjiku sendiri? Batin Hani
Hani masih belum sanggup bertemu Rudi, terlepas dari pembicaraan terakhir mereka di rumah sakit. Sisi lain dalam hatinya ingin membenarkan perkataan lelaki itu namun sisi lain ingin memaki bahwa Hani tidak boleh menyerah dengan keadaan. Jika dia ingin membahagiakan Maryadi, inilah jalan satu-satunya, menikah dengan Rudi meski cinta tidak hadir di antara dirinya dengan lelaki itu.
Jatuh cinta bisa berulang kali, tapi menikah hanya bisa sekali.
Kalimat itu yang terus Hani tanamkan dalam pikirannya meski hatinya masih memberontak untuk berkata tidak.
##
"Jadi, kalau menurut perhitungan Jawa, kalian pasangan yang cocok lho, Han," ucap Dian—ibu Rudi yang mengenakan jilbab hijau tua. "Ya, memang kita ndak bisa berpatokan sama ilmunya orang Jawa yang sudah turun-temurun, tapi dari sini setidaknya kita bisa mempersiapkan apa saja yang bakal dihadapi, termasuk watak kalian berdua."
"Rudi bakal balik ke Jakarta dua hari lagi, Bu, apa cukup untuk menyiapkan semuanya?" tanya Rudi.
"Besok kita adakan saja acara lamaran sederhana saja sekalian menentukan tanggal. Setelah itu kalian bisa menyiapkan semua dokumennya untuk pengajuan nikah di Jakarta sesuai dengan syarat di batalyon, Rud. Kamu kan yang lebih paham daripada Ayah," sahut Sastro dengan suara bassnya. "Sisanya biar Ibu dan Ayah yang ngurus, mungkin bisa dibantu sama Winda."
"Bagaimana, Nduk?" suara Dian meminta pendapat Hani.
Hani hanya bisa menggangguk pasrah sambil tersenyum tipis lalu melirik Rudi yang menatapnya tidak suka.
"Kulo manut mawon, Bu, Mas Rudi yang lebih paham. Hani cuma bisa bantu nyiapin dokumennya saja seperti kata Om Sastro," jawab Hani.
"Lho kok manggilnya masih Om, bentar lagi Ayah juga jadi Ayahmu, Han," goda Sastro sambil terkekeh. "Kalo bisa ambil hari jum'at buat akad nikahnya, seperti pernikahan para nabi dan rasul. Biar berkah."
"Nggeh, Yah," jawab Hani. "Insha Allah." Hani melirik Rudi lagi, tatapan lelaki itu tidak setajam sebelumnya meski masih tersirat rasa tak suka yang begitu kentara di mata Hani.
Setelah kepergian orang tua Rudi, Hani duduk di teras dengan Rudi yang memilih tinggal untuk berbicara berdua dengan calon istrinya itu. Hening, hanya suara jangkrik yang mengisi kebisuan di antara mereka. Sesekali terdengar helaan napas panjang Hani yang terdengar begitu lelah. Rudi melirik Hani sejenak lalu tersenyum sinis dan berkata,
"Kamu siap dengan risiko menikah denganku?" tanya Rudi.
"Ya, mungkin ..."
Rudi menoleh dan menatap Hani dengan kerutan di keningnya. "Aku calon suamimu, dan kamu menjawab dengan ragu seperti itu?"
Kini Hani membalas tatapan Rudi dengan kesal. "Lalu aku harus jawab apa? Aku tahu risiko apa yang bakal aku hadapi saat kita menikah, Mas. Aku hanya menjalankan apa yang diinginkan Bapak."
Sebelum Rudi menjawab, ponselnya berdering menunjukkan seseorang sedang memanggil. Lelaki itu meraih ponselnya dan melihat nama si pemanggil sambil tersenyum tipis. Sedangkan Hani membisu membaca nama yang terpampang di ponsel Rudi.
Honey's calling ....