6. Do'a untuk bapak

1535 Words
Winda—kakak Hani datang setelah mendapat kabar dari sang adik bahwa Maryadi jatuh di kamar mandi entah sejak kapan. Wanita yang mengenakan jilbab cokelat muda itu menghampiri sosok sang adik yang duduk termangu di kursi tunggu UGD rumah sakit Malang. Hani bahkan tidak menyadari bahwa Winda kini sudah duduk di sisi kirinya disusul oleh Candra—suami Winda di belakangnya. Hani terkejut bukan main ketika Winda menyentuh bahu kiri adiknya yang terlihat begitu berantakan. Seketika itu pula air mata Hani kembali tumpah sambil memeluk Winda dengan erat. Winda berusaha menenangkan sang adik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Winda juga tidak bisa menyalahkan Hani sepenuhnya karena bagaimana pun ini adalah sebuah musibah yang tidak bisa diketahui oleh manusia. "Bapak sekarang bagaimana?" tanya Winda menatap Hani yang hidung merah dan mata bengkak karena tangis. Hani menggeleng lemah. Dia bahkan tidak tahu apakah Maryadi bisa kembali seperti sedia kala atau tidak, mengingat tubuh tua itu tergeletak berjam-jam. Hani menyalahkan dirinya sendiri, mungkin dia sedang mendapat karma karena tidak menuruti keinginan Maryadi. Ada selentingan pikiran buruk melintas di kepalanya, bisa jadi itu adalah pesan terakhir Maryadi. Hani semakin menjerit tak karuan, berusaha memohon ampun kepada Maryadi yang kini berjuang di antara hidup dan mati. "Ini bukan salahmu, Han, sudah ... jangan nyalahin diri sendiri," ucap Winda mengusap-usap punggung adiknya. "Bapak ... Bapak ...." racau Hani memanggil Maryadi di pelukan Winda. ## "Terpeselet di kamar mandi mungkin bukan salah satu penyebab Bapak Maryadi tidak sadar, tapi ada faktor lain...." "Faktor apa, Dok?" sahut Hani. "Apakah Bapak Maryadi memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol? Berdasarkan hasil CT-Scan, kami menemukan adanya pembuluh darah di otak yang pecah yang menyebabkan adanya penekanan jaringan otak." Dokter paruh baya itu menunjukkan sebuah gambar rontgen kepala kepada Hani dan Winda. "Perdarahannya cukup luas hampir separuh bagian otak kanan. Ditambah dengan kondisi Bapak yang pingsan di kamar mandi, yang bisa jadi memperparah kondisinya." "Lalu, apakah Bapak saya bisa sembuh?" tanya Winda dengan khawatir. "Bapak memang tidak bilang kalau punya penyakit darah tinggi atau apapun itu, Bapak pun juga tidak pernah makan yang aneh-aneh," bela Hani dengan mata bengkak. "Bener, kan, Mbak, Bapak nggak pernah sakit? Bapak nggak punya darah tinggi kayak orang lain, kan Mbak?" tanya Hani kepada Winda. Winda menggeleng membenarkan namun dia tahu bahwa Maryadi memang tidak pernah mengeluhkan apa yang dirasakan. Dokter itu terdiam sejenak sambil menghela napas lalu berkata, "Kami hanya bisa melakukan yang terbaik dengan mengambil gumpalan darah sekaligus menghentikan perdarahan. Untung saja operasinya berjalan lancar walau Bapak Maryadi harus kami pantau secara intensif di ICU." Hani menatap kosong tubuh ayahnya yang kini terbaring di atas kasur di ruang ICU. Berdiri di depan ruang tunggu dengan pembatas kaca untuk bisa melihat ayahnya yang dipasang dengan berbagai alat-alat yang menopang hidupnya. Perban yang menutupi kepala Maryadi menambah rasa pilu di hati Hani. Dia berpikir, apakah selama ini Maryadi selalu memikirkan nasib dirinya? Atau Maryadi yang masih merasa kehilangan sosok ibunya? "Bapak ...." panggil Hani dengan bibir gemetar. "Ma'afkan, Hani ...." Namun, tubuh di dalam ruang intensif itu tak merespons, justru membisu dengan mata yang masih terpejam. Hani jatuh terduduk di kursi bercat hitam, menutup isak tangisnya yang tidak bisa dia hentikan sama sekali. Dia tidak ingin kehilangan ayahnya, hanya Maryadi satu-satunya yang dimilikinya selain Winda. Hani menarik napas, mencoba menetralkan kembali irama napas yang sesenggukan. Dadanya begitu sesak, matanya begitu perih, dan hidungnya begitu merah. Entah berapa banyak air mata yang dia tumpahkan untuk Maryadi. Tapi tetap saja sebanyak apa pun tangis yang dia pecahkan, tidak bisa mengembalikan lagi sosok Maryadi seperti dulu. Hani meraih ponselnya. Layar bergambar laut biru itu menunjukkan pukul dua pagi. Dia pun membuka beberapa pesan dan panggilan yang tidak sempat dia terima. Kebanyakan dari saudaranya yang ingin mengetahui kronologis Maryadi bisa masuk di rumah sakit. Gadis itu menggigit bibir bawahnya ketika melihat satu nama di antara deretan pengirim pesan. Jempol kanannya meng-klik nama orang itu, membaca kembali percakapan di antara mereka yang menurutnya sama sekali tidak menarik. Hani terdiam cukup lama memandangi rangkaian huruf si empunya nama. Pertimbangan baik dan buruk kini sedang beradu saling mengeluarkan opini dalam kepala Hani. Dia pun menatap pembatas kaca, melihat Maryadi yang masih terbujur lemah tak berdaya. Hani menggeleng dan memantapkan hati untuk memilih pilihan yang bisa jadi menjadi hal paling gila dan paling buruk dalam 26 tahun hidupnya. Tapi, bagaimana pun dia melakukan ini untuk Maryadi. Kedua jempol kurus Hani dengan lihainya merangkai kata demi kata menulis sebuah pesan kepada orang itu. Dia membaca lagi hingga kelima kalinya, air matanya kembali menetes membasahi layar ponselnya. Kepalanya mendongak mencoba menahan bendungan air mata yang ingin mendesak keluar. Gadis itu pun mengirim pesan lalu cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia merasa begitu malu atas apa yang dia ucapkan sendiri pada si penerima pesan itu nanti. Ah, Hani merasa inilah karma yang diberikan Tuhan untuknya ketika membangkang dari permintaan orang tua. ## Suara penunggu pasien di ruang tunggu membuat Hani membuka kedua mata sembabnya perlahan-lahan mengimbangi sinar matahari yang masuk ke mata. Dia menguap lalu merentangkan kedua tangan, tubuhnya begitu pegal dan lelah. Dilihatnya jam tangan di tangan kiri yang sudah menunjukkan pukul delapan. Gadis itu beranjak melihat tirai biru yang terbuka di ruang ICU yang dibatasi sebuah kaca, lalu pintu bercat kuning pucat di sisi kirinya terbuka menampakkan salah satu petugas dan berkata, "Silakan besuk pasiennya, tapi khusus satu orang tiap pasien." Hani tidak mau melewatkan kesempatan ini, lagi pula Winda pulang kemarin malam setelah mendapat penjelasan dari dokter. Kakak Hani satu-satunya itu akan datang lagi sore nanti usai mengajar sekolah di PAUD. Mencuci tangan dan mengenakan baju khusus pengunjung pasien, Hani melangkah mendekati tubuh Maryadi yang masih terpejam. Suhu di ruangan ini begitu dingin membuat gadis itu sedikit menggigil. Dia menarik kursi lalu duduk dan meraih tangan Maryadi yang terpasang selang infus. Air matanya kembali tumpah merasakan kulit Maryadi yang begitu pucat dan dingin. Diciumnya tangan berkeriput itu dengan sayang sambil memanjatkan doa agar Tuhan mau memberikan keajaiban kepada Maryadi. "Bapak, Hani di sini, Pak," ucap Hani dengan nada sedih. "Bapak, harus sembuh ya ... Hani janji bakal menuruti kemauan Bapak." Maryadi masih membisu dengan suara alat-alat monitor yang memecah keheningan di antara mereka berdua. "Pak ... Bapak masih sayang kan sama Hani? Bapak ingin kan lihat Hani pakai baju akad? Bapak harus sembuh ... Bapak harus pulih ... Bapak harus berjuang, demi Hani, Pak." Masih tidak ada jawaban, hati Hani semakin teriris-iris. Hani pun mendekati telinga ayahnya dan membisikkan, "Hani sayang Bapak. Maafin Hani, Pak ...." Lalu Hani pun mengucapkan sholawat nabi ke telinga Maryadi dan kalimat syahadat dengan nada gemetaran. Diciumnya kening ayahnya yang terbalut perban dengan begitu lembut. "Pak, Bapak harus bertahan demi Hani, Pak." Setelah jam besuk usai, Hani keluar dari ruangan sambil mengusap air matanya. Tak sengaja dia melihat sosok Rudi berdiri menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tubuh kurus Hani membeku bersamaan dengan detik yang tiba-tiba tidak bergerak. Walau mereka terpisah beberapa meter, aura Rudi langsung membekapnya. Lelaki itu melangkah tanpa melepaskan pandangannya pada Hani. Sedangkan gadis itu merasa lupa caranya bernapas hingga dia harus memaksa otaknya bekerja. Dia menarik napas sebanyak mungkin mencoba mengembalikan pikirannya ke alam sadar namun tidak dengan irama jantungnya yang berpacu tidak karuan. Lelaki itu kini berdiri tepat di hadapan Hani, menatap tajam gadis yang wajahnya sudah tidak karuan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Rudi menoleh ke sisi kiri, melihat sosok Maryadi yang masih belum sadarkan diri. "Lalu, keputusan yang kamu bilang di w******p, apa sudah kamu pertimbangkan matang-matang?" tanya Rudi tanpa menatap Hani. Kepala gadis itu menunduk, memandangi kedua kakinya yang hanya mengenakan sandal sedangkan Rudi mengenakan sepatu kats. Hani menyunggingkan senyum nanar sambil membatin tentang perbedaan yang jauh di antara dirinya dan Rudi. "Ya." Hani menjawabnya dengan singkat. "Kamu nggak menyesal?" tanya Rudi, kini dia memandang lekat kedua iris mata lelah Hani. "Kamu sendiri bilang, kan, kalau menikah tanpa cinta adalah omong kosong dan malapetaka. Sedangkan kamu sendiri memintaku untuk menikahimu hanya karena Bapakmu sedang sakit. Kamu kira dengan seperti itu, Bapakmu bakal sembuh?" Hani mengernyit tidak menyangka bahwa Rudi mengatakan hal itu kepadanya dirinya. "Emangnya ada yang salah? Toh, ayahmu juga ingin kita menikah, kan?" "Aku hanya mencoba realistis, Han. Kamu menikah untuk membuat Bapakmu sembuh, tapi lihat di sana, Han. Alat-alat itu ... penopang hidupnya, apa selamanya akan di sana?" Bibir Hani mengatup dengan kedua tangan mengepal keras. Dadanya bergemuruh menahan emosi menatap tajam Rudi lalu berkata, "Jika kamu tidak mau ya sudah, kamu Cuma buang-buang waktu datang ke sini untuk mengatakan hal yang tidak pantas. Kamu dari dulu juga sama saja, nggak punya hati!" Hani melangkah pergi meninggalkan sosok Rudi. Dia tahu akan seperti ini jadinya, tapi tidak menyangka bahwa lelaki itu berkata cukup kasar atas apa yang menimpa Hani. Jika dia memang lelaki yang telah dididik negara, tidak seharusnya dia menyakiti perempuan yang terkena musibah. Atau ini karma keduanya? Batin Hani. Gadis itu mulai ragu dengan keputusan yang dia ambil, keputusan untuk mendampingi Rudi sehidup semati hanya untuk memenuhi keinginan ayahnya. Memang benar apa yang Rudi katakan, Hani menikah karena ingin Maryadi sembuh tapi Hani merasa sangat marah ketika Rudi dengan begitu luwesnya mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi untuk kesembuhan Maryadi sekalipun Hani menikah. "Bahkan aku tidak yakin, apa benar ada cinta setelah pernikahan?" gumam Hani pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD