"Pak ..." panggil Hani keluar dari pintu kamarnya yang bercat biru muda, menghampiri Maryadi yang duduk di teras sambil membaca koran. "Hani mau pergi, Mbak Ruth butuh bantuan Hani buat merias acara nikahan."
Maryadi hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kalimat pun dan tetap terus membaca deretan berita terkini. Hati Hani mencelos, dia tahu Maryadi masih merajuk tentang apa yang dia ucapkan. Tapi ini sudah berjalan tiga hari, dan rasanya sangat tidak menyenangkan ketika Hani tidak mendapat perhatian dari orang tua satu-satunya itu.
Yang bisa dia lakukan hanya bersabar, menunggu waktu untuk Maryadi memahami keinginan Hani. Dia pun menghampiri Maryadi bermaksud mencium tangan keriput bapaknya. Maryadi mengulurkan tangannya dan melirik sejenak anaknya yang mencium tangannya itu.
"Hani sudah masakin sarapan sekalian makan siang, kopi kesukaan Bapak di atas meja. Hani kayaknya pulang sore," pamit Hani yang hanya dibalas anggukan. "Hani berangkat ya, Pak, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsallam," jawab Maryadi lirih.
Ketika Hani sudah pergi dengan motor matic miliknya, barulah Maryadi menatap jejak yang ditinggalkan anaknya. Dia bangkit, menghampiri dapur dan membuka penutup makanan. Air matanya menetes, sifat keras kepala yang diturunkan kepada Hani membuatnya begitu sedih. Padahal impian kecil Maryadi melihat Hani mengenakan baju pengantin dengan Rudi di sisinya sudah hampir terwujud. Namun, semua pupus dan menguap begitu saja ketika anaknya mengatakan tidak. Maryadi tahu bahwa kata tidak dalam kamus kehidupan Hani berarti tidak untuk selamanya.
##
"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Eka Agustina dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap mempelai laki-laki dengan begitu cepat dan tegas menjabat tangan lelaki paruh baya.
"Sah?" tanya saksi.
"Sah!!!!" seru semua orang-orang di ruang tamu itu termasuk Hani yang berdiri di ruang tengah rumah klien temannya.
Semua orang mengucapkan syukur ketika janji suci itu telah selesai diikrarkan. Ada rasa hangat dan merinding yang menghampiri Hani. Dia begitu bahagia melihat pasangan itu kini memasang cincin nikah secara bergantian. Mbak Ruth—wanita berambut pendek ala Demi Moore, menyenggol bahu Hani sambil mengerlingkan sebelah matanya. Wanita itu mendekati telinga kanan Hani seraya berbisik,
"Jadi, kapan kamu akan menikah?"
Hani menggeleng tanpa menjawab pertanyaan itu, justru dia memalingkan wajahnya dan melihat sang pengantin laki-laki mencium kening pengantin perempuan dengan malu-malu. Serempak orang-orang yang hadis di sana saling bersahutan menyoraki pasangan yang akan meniti tangga kehidupan baru yang penuh lika-liku.
Sebersit bayangan Maryadi melintas di pikiran Hani, pria yang telah membesarkannya tersenyum penuh haru ketika Rudi memasangkan cincin kawin di jarinya. Lalu Hani mencium tangan Rudi penuh kasih sayang dan bertatapan dengan penuh rasa cinta. Hani menggeleng keras, menepis bayangan yang mulai menggoda dirinya. Dia bergerak mundur, menjauhi acara itu. Diraihnya sebuah botol air mineral yang berada di atas meja lalu meneguknya dengan cepat. Hani pun menarik napas panjang-panjang, menghirup dalam-dalam udara yang tidak terkontaminasi oleh bayangan-bayangan Rudi Batara Prasetyo.
Aku pasti sudah sinting, batin Hani.
##
Usai mendapatkan uang dari membantu merias wajah klien Mbak Ruth, Hani menghentikan laju motornya tepat di depan warung nasi padang. Dia menyapa si pemilik warung yang sudah menjadi langganannya sambil tersenyum lebar. Gadis itu ingin membeli makanan kesukaan Maryadi, daging rendang. Hitung-hitung, Hani ingin menyenangkan hati orang tua satu-satunya itu meskipun Maryadi masih mendiaminya.
"Kayak biasanya?" tanya si pemilik warung dengan logat khas Padang yang belum pudar.
"Iya, Pak. Daging rendang buat Bapak saya."
"Siap."
Lelaki paruh baya itu dengan cekatan mengambil makanan yang dipesan oleh Hani sesekali bercerita tentang pekerjaan gadis itu. Hani menjawab dengan apa adanya, terlebih ketika si pemilik warung menyayangkan Hani yang tidak mau melanjutkan sekolah di bangku kuliah.
"Memang sekarang musimnya harus kuliah ya, Pak? Nggak kuliah tapi bisa bikin usaha kan juga bisa, lagian jangankan saya, Pak, Menteri perikanan seperti Bu Susi saja bisa sukses tanpa harus sekolah tinggi," bela Hani seraya menyerahkan uang lima puluh ribuan.
"Ya itu sih tahu, Han, Cuma kalau sekarang cari kerjaan tanpa ada gelar bakal susah, Han." Pemilik warung itu memberi uang lima belas ribu kepada Hani. "Makasih ya, sukses buat usaha kamu, Han."
"Iya, makasih, Pak. Bapak juga, hehehe...."
Kemudian Hani pun melajukan kembali motornya menuju perkampungan yang menjadi salah satu objek selfie di Malang. Kampung yang berseberangan dengan kampung warna-warni namun tak kalah dengan kampung hits itu. Kampung Hani memiliki aneka gambar mural berbentuk 3D yang dilukis oleh warga di sana. Jika dulu tidak banyak yang mengenal kampungnya, maka kini semua orang berlomba-lomba datang dan menjadikan setiap gambar ditembok-tembok sebagai background foto yang dipublikasikan.
Mesin motornya berhenti di depan pintu rumah Hani yang terbuka. Dia mengernyit sejenak, bukan kebiasaan Maryadi jika hari sudah menjelang petang pintu dibiarkan terbuka. Ada rasa tak enak menggelayuti dirinya. Hani mencoba menepis pikiran negatif, dia melangkah memasuki rumahnya sambil berteriak memanggil Maryadi.
"Assalamualaikum, Pak ...."
Tidak ada jawaban. Hani semakin resah. Dia pun mencari ke kamar Maryadi, kosong kecuali seprei tempat tidur yang sedikit berantakan dengan sajadah yang masih terbentang di atas lantai kamar.
"Bapak? Hani pulang...." teriak Hani menuju dapur. Dibukanya penutup makanan, sejenak dia tersenyum bahwa masakannya dilahap habis oleh Maryadi. Namun seketika dia menggeleng mengingat Maryadi yang tiba-tiba menghilang.
"Bapak?" Hani memanggil kembali, lalu dia menghampiri pintu kamar mandi. "Bapak di dalam?" Tidak ada jawaban membuat berusaha membuka kenop pintu bercat cokelat itu.
Terkunci, batin Hani terkejut. Tangan kanannya menggedor semakin keras, namun tidak ada jawaban di sana. Hani berlari meminta bantuan tetangga untuk membantunya membukakan pintu. Beberapa laki-laki masuk ke dalam rumah dan berusaha menggedor pintu, namun hasilnya sama. Salah satu dari mereka mengambil linggis lalu mencongkel pintu berkayu dengan sekuat tenaga.
Pintu terbuka dan menampakkan tubuh Maryadi yang tergeletak di lantai dan masih mengenakan sarung. Hani menjerit namun tubuhnya ditarik oleh seorang laki-laki yang sebaya dengannya. Sedangkan bapak-bapak yang lain mengeluarkan tubuh Maryadi dan membaringkannya di ruang tamu.
"Ambil mobilku, Mas, bawa ke rumah sakit saja. Tunggu ambulans lama," ucap lelaki memakai kaus merah kepada lelaki yang berdiri di belakang Hani.
Kemudian deretan pertanyaan tertuju pada Hani yang kini berdiri mematung memandang wajah Maryadi yang terpejam. Semua suara-suara itu mendengung begitu keras menghantam kepalanya. Waktu seolah sedang ingin menjatuhkan diri gadis itu, lalu berputar begitu cepat memutar semua kilas balik kenangan bersama Maryadi dan almarhum ibunya di rumah ini. Hingga detik berhenti ketika Maryadi begitu pasrah dengan penolakan Hani terhadap rencana perjodohannya dengan Rudi.
Pikiran Hani begitu kacau dengan segala kemungkinan yang menghantui dirinya. Dia bahkan tidak tahu apakah orang tua satu-satunya itu masih hidup atau tidak. Hani menghampiri tubuh Maryadi yang terbaring di atas sofa tua miliknya. Diraihnya tangan kanan Maryadi yang pucat dan begitu dingin. Dia tidak ingin kehilangan Maryadi, bahkan Hani tidak sempat mengucapkan kata maaf pada lelaki itu.
"Bapak .... jangan tinggalin Hani...." teriak Hani sambil menangis.