4. Dia ... calon imamku

1081 Words
Sudut kantin di bawah pohon mangga yang begitu rimbun selalu menjadi andalan Rudi dan kawan-kawannya berkumpul. Angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dedaunan, bangku panjang yang dipenuhi siswa hingga suara bising anak-anak yang antri makanan. Sudut kantin yang dibatasi dengan dinding tinggi yang berbatasan dengan pemukiman warga di sisi kanan itu menjadi daerah favorit sekaligus daerah kekuasan anak-anak berandalan khususnya siswa tingkat akhir. Tidak banyak adik kelas atau pun teman satu angkatan mereka yang berani menduduki wilayah itu jika tidak ingin berhadapan dengan si pembuat onar. Rudi menyesap rokoknya dalam-dalam sambil sesekali tertawa tentang hasil pertandingan klub liga inggris semalam. Beberapa dari anak-anak itu mengeluarkan uang bagi yang kalah taruhan di atas meja. Rudi meraupnya sambil terbahak-bahak karena dia memenangkan pertaruhan. Hingga suara berisik anak-anak berandalan itu membuat seorang perempuan berambut ekor kuda menghampiri mereka sambil mengepalkan kedua tangan kesal. Salah satu kawan Rudi memberi isyarat, Rudi melirik lalu menyesap rokoknya lagi dan mengeluarkannya dari mulut membentuk lingkaran kecil di udara. Perempuan itu terbatuk menahan rasa sesak yang disebabkan oleh asap nikotin yang begitu tajam di hidung lancipnya. "Kalian nggak baca?" tegurnya menunjuk sebuah papan di sisi kiri. Serempak anak-anak lelaki itu menoleh dan membaca tulisan 'DILARANG MEROKOK DI KANTIN' bersamaan seperti murid SD. "Atau kalian buta nggak lihat tulisan itu?" tambahnya lagi dengan penekanan. "Kalau ingin merokok silakan di luar tapi nggak di dalam sekolah." Rudi beranjak dari tempat duduknya, melangkah angkuh menatap perempuan bertubuh kurus itu. Dia ingat, perempuan di depannya ini salah satu anak OSIS yang masih duduk di kelas satu. Perempuan yang sama yang pernah menunggu temannya di ruang BP ketika Rudi menghajar temannya hingga babak belur. Mereka bertatapan, memantulkan wajah di iris mata masing-masing. Si perempuan nampak tak takut dengan si pembuat onar meski kedua kakinya ingin sekali pergi dari tempat itu. Aroma tembakau begitu menyengat. Sejenak dia memalingkan wajah mencoba mencari udara segar yang tak tercemar. Dia amat tak suka aroma asap rokok yang membuat dirinya sesak napas. "Disuruh siapa kamu ke sini?" tanya Rudi begitu pelan namun penuh penekanan. "Aku cuma ingin kalian menaati aturan sekolah," jawab adik kelasnya dengan tegas. "Kalian harusnya memberi contoh pada kami, bukan malah memberi dampak buruk. Aku bisa melaporkan kalian ke guru." Rudi mendecih sambil menjatuhkan putung rokok ke tanah dan menginjaknya hingga mati. "Aku dan BP sudah sehidup semati, nggak bakal mempan sekali pun kamu lapor ke kepala sekolah. Inget, aku juga membawa nama baik sekolah ini hingga tingkat provinsi, lantas ... kenapa aku tidak bisa berbuat sesukaku sendiri?" Rudi melihat nama yang tertera di d**a kanan perempuan itu. "Hani Kemalaningrum." Refleks perempuan yang disebut namanya itu menutup bordiran nama di d**a dengan tangan kanan. "Jangan ikut campur jika kamu tidak mau hancur, Han," ancam Rudi dengan tajam membuat Hani melangkah mundur. "Masa SMA cuma sekali, jangan terlalu serius sama hidup. Banyak yang berusaha tekun tapi akhirnya gagal, kan?" "Hidup juga cuma sekali, Tuhan tidak akan membiarkan orang tekun gagal kecuali yang benar-benar putus asa. Jika kalian memang ingin mati cepat karena rokok-rokok itu. Oke, selamat menjemput ajal," balas Hani kemudian melangkah pergi. Anak-anak di belakang Rudi bersiul untuk keberanian si adik kelas dan mengejek Rudi yang kalah dari seorang perempuan. Rudi berbalik dan memukul kepala mereka satu persatu. Mereka tertawa mengabaikan ucapan Hani sambil terus meledek si anak pembuat onar. Rudi kembali menoleh ke arah gadis kuncir ekor kuda itu pergi, di antara siswa-siwa yang antri makanan sosok kurus itu tidak ada. Rudi mendecih lalu mengingat nama sang adik kelas dalam hati. Hani Kemalaningrum. Aku bakal ingat nama itu, batin Rudi. ## Selepas dari rumah Rudi, Hani hanya terdiam dan membiarkan dirinya tenggelam di pikirannya sendiri. Suara Maryadi yang masih membicarakan sosok Rudi pun serasa suara dengungan lebah di telinganya. Hani menoleh ketika Maryadi menyentuh tangannya dengan mata yang penuh dengan harapan besar bahwa perjodohan itu mungkin terjadi. Hani hanya bisa menghela napas, memandangi sekeliling rumah tetangga yang bercat dan bergambar aneka bentuk dan warna dari kursi bambu yang dia duduki di teras rumah. Pikirannya abu-abu meski di depan mata bermanik hitam itu penuh dengan ratusan corak. "Hani nggak mau, Pak," kata Hani tiba-tiba memotong kalimat Maryadi. "Hani nggak bisa meneruskan rencana Bapak buat menjodohkan Hani dengan Mas Rudi." Kening Maryadi mengerut menatap heran anak gadisnya. Padahal di rumah Sastro—ayah Rudi, mereka nampak baik-baik saja dan begitu terlihat akrab. "Kenapa, Han?" tanya Maryadi dengan sedih. Hani melepas tangannya yang disentuh Maryadi, dia menunduk sambil menggeleng keras dan berkata, "Mas Rudi ... Hani tidak suka saja. Dia lelaki yang menurut Hani tidak pantas untuk Hani, Pak." "Hanya karena tidak suka?" Maryadi mengulang kalimat anaknya. Gadis itu mengangguk. "Hani tidak suka. Dan Hani takut jika meneruskan hal ini akan berdampak buruk ke depannya. Jika orang lain bisa menjalankan pernikahan dengan tanpa adanya rasa suka, maka Hani tidak mampu, Pak. Hani merasa terbebani." Kini mata bulat itu menatap lelaki tua yang telah menyayanginya sejak lahir namun terlihat begitu terluka. Hani menggigit bibir bawahnya merasa tak tega melihat raut Maryadi, tapi dia pun tidak bisa memaksakan hatinya ketika batinnya terus-menerus berkata tidak. Terlebih Rudi seakan merendahkan dirinya dengan berkata perempuan tak laku. Hani lebih hancur daripada Maryadi, hanya saja Hani sengaja ingin menutupi itu semua untuk menjaga hubungan baik Maryadi dengan ayah Rudi. Tanpa ada suara, Maryadi pun berdiri dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun. Sekali lagi hanya helaan napas yang bisa dilakukan Hani dengan pikiran menerawang jauh dan rasa dilema yang menggerayangi dirinya. Ditatapnya langit sore yang begitu indah dengan jejak-jejak jingga dan gumpalan awan putih yang berarak ke utara. Gadis berkuning langsat itu membayangkan jika sang ibu masih hidup, pastilah Hani akan meminta nasihat. Masih membekas di benak gadis Hani, ibunya seorang pendengar yang baik dan tidak pernah memaksakan apa yang diinginkannya, mungkin termasuk masalah jodoh. Bu, kalau Hani nggak mau dijodohin sama Mas Rudi, apa Ibu bakal setuju atau justru sedih seperti Bapak? Hani bukannya tidak menghormati usaha Bapak, hanya saja ... Hani merasa kalau Mas Rudi dan Hani tidak akan pernah cocok, Bu. Pernikahan tanpa cinta ... Hani juga bisa merasakan bahwa itu keputusan terburuk yang pernah ada. Bu, kalau Ibu masih di sini, di samping Hani, apa yang bakal Ibu saranin untuk Hani? Hani butuh Ibu. Tak terasa kristal bening meluncur membasahi pipi Hani, dia sesenggukan jika mengingat mendiang wanita yang telah melahirkannya itu. Udara berhembus menerpa kulitnya, Hani mengusap kedua pipinya sambil berusaha mengukir senyum dan menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia merogoh alat komunikasi itu dan melihat sebuah nama yang sedang tidak ingin ditemuinya. Pembuat onar memanggil....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD