1. Reuni

2748 Words
Raysa membolak balik surat undangan berwarna putih berpadu gold di tangannya. Kemudian ia tersenyum, itu adalah undangan reuni SMA. Mungkin saja bila ia dan Evan datang dan bertemu teman-teman lama, maka ia akan melupakan kesedihannya sejenak. Lagipula saat ini Raysa sedang masa pemulihan pasca operasi dan ia tidak boleh strees. Maka tidak ada salahnya kan ia dan Evan datang, mengingat ia dan Evan juga satu SMA. Pasti Evan juga akan senang bertemu dengan kawan lama. Tak beberapa lama kemudian, ponsel Raysa berbunyi. Menampilkan nama Abella Cantika di layar, "Halo?" "Raysa!!!" Raysa tertawa, mendengar suara sahabatnya setelah lama sekali tidak menelepon. "Kenapa lo telepon gue?  masih inget temen?" Terdengar suara tawa di seberang sana, "Aih! Jahat amat lu sama gue! Gue tutup lagi nih telponnya." "Hahaha! Eh, jangan-jangan!" "Lo apa kabar?!" Suara Abella masih terdengar riang seperti delapan tahun yang lalu, Abella masihlah Abel, sahabatnya dan Evan dari dulu. "Baik," Raysa menjawab dengan lirih. Sebenarnya keadaannya tidak baik, karena ia sudah tidak akan bisa berhubungan badan dengan Evan lagi dan ia juga tidak akan mempunyai seorang anak. "Sa, gue punya kabar baik!" "Apaan?" Raysa tersenyum geli mendengar nada semangat dari Abella, "Ah, gue tau!" "Apa coba tebak?" "Lo mau married!" "Ih enggak!" "Terus apa dong?" "Besok gue pulang ke Indonesia, YEY!!!" "Demi apa?!" Raysa terlonjak dari duduknya, kemudian meringis menangis sakit di bagian bawah pusarnya. Tepatnya di daerah rahim. Karena rahimnya baru saja diangkat. "Iya! Akhirnyaaaa gue balik ke Indonesia! Gue kemarin ngajuin surat perizinan pindah cabang dari Berlin ke Jakarta, akhirnya di acc sama perusahaan!" "Aaaa! kapan kita ketemu?!" "Bukannya satu minggu lagi ada reuni SMA ya? Nanti kita ketemu ya! Gue udah dikirimin undangan lewat email kok." "Oke, gue tunggu. Lo pokoknya harus dateng." "Hahaha siap bu bos!" ***   1 minggu kemudian, Evan tak henti-hentinya tersenyum, setelah delapan tahun lebih lulus dari SMA, ia kembali lagi bertemu dengan teman-teman lamanya. Bahkan yang dari luar negri rela datang jauh-jauh untuk ke Reuni ini. Evan senang bertemu dengan teman lama, dan melihat perubahan drastis dari teman-temannya. Dan memutar cerita kembali tentang kekonyolan mereka dulu. "Lo langgeng banget ya sama Raysa," Evan tertawa mendengar ucapan Dio. "Iya dong, cinta sejati gue dia itu." Ucap Evan sambil menatap Raysa yang berjarak beberapa meter darinya. Raysa terlihat senang sekali hari ini, bertemu dengan teman-teman lamanya juga. "Lo udah nikah berapa tahun sih sama Raysa? Lupa gue." "Dua bulan lagi, tepat tiga tahun pernikahan gue sama Raysa." Dio bertepuk tangan, "Wah-wah.. terus anak lo mana? Kok gak diajak?" Evan tersentak sebentar mendengar pertanyaan Dio, kemudian ia tersenyum tipis, "Gue sama Raysa belum dikasih anak." Dio menepuk pundak Evan tanda simpatik. Dan Evan, sudah kebal dengan tatapan simpatik seperti itu. Ia tidak akan terpuruk lagi. "Evan!" Evan menoleh kala ia mendengar Raysa memanggilnya. Kemudian Raysa mendekatinya dan bergelayut manja di lengan Evan. "Io, gue pinjem Evan dulu boleh kan?" Dio tertawa, "Ya boleh lah, orang itu suami lo." Evan dan Raysa kemudian tertawa, "Hahaha, bener juga. Yaudah, bye Dio." Kemudian Raysa menyeret Evan beberapa langkah dari Dio. Lalu mata Raysa berkeliling seperti mencari seseorang. "Kenapa sih?" Evan menunduk dan berbisik tepat di telinga Raysa, kemudian mengambil kesempatan dengan mencium pipi Raysa dengan cepat. "Ih!" Raysa yang tersentak langsung memukul lengan Evan dengan keras. Membuat Evan meringis kesakitan, "Ini di tempat umum tauk!" Evan berdecak, "Galak amat." Tangannya mengusap-usap tangan Raysa yang berada di genggamannya. Raysa masih celingukan mencari seseorang, "Kalau kamu ketemu dia, pasti kamu kaget deh." Evan mengernyit, "Dia siapa, Sa?" Evan menelan ludahnya dengan susah payah. Jangan bilang Raysa mau mempertemukannya dengan mantan Evan yang ada berapa ya dulu, ah Evan lupa. Atau Raysa mau mempertemukannya dengan mantan Raysa yang berkacamata itu, Jangan harap Evan sudi melihatnnya. "Sa, kalau kamu mau nemuin aku sama mantanku atau mantan kamu, jangan harap-" "Abella!!!" Omongan Evan terputus kala Raysa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Evan dan langsung memeluk seorang wanita dengan gaun party santai berwarna biru muda dengan belahan d**a rendah dan potongan dress yang memperlihatkan lekuk tubuh wanita, pemandangan yang cukup indah. Evan mengerjap, ia seperti tidak asing dengan wanita yang sedang berpelukan dengan Raysa ini. Tapi siapa? "Tuhkan, kamu gak kenal sama dia," Raysa menyenggol lengan Evan, membuat Evan memperhatikan wanita yang ada di depannya. Keningnya berkerut bingung. "Sumpah lo gak kenal gue?" Begitu suara itu keluar, Evan langsung tersnyum lebar. "Abella!" Evan kemudian bersalaman dengan Abella, "Gila ya lo, udah berubah banget. Sekarang rambutnya udah panjang." Kemudian terdengar derai tawa dari ketiganya. Dulu Abella adalah sahabat Raysa, mereka sudah seperti surat dan prangko yang kemana-mana selalu bersama. Dan dulu Evan suka dengan Abella. Tetapi karena Abella saat itu sudah punya pacar, dan Evan tidak sengaja berkenalan dengan Raysa yang ternyata kepribadian, hati, dan fisiknya mampu menarik daya tarik Evan, maka langsunglah Evan menyatakan cinta kepada Raysa dan berjalan sampai jenjang pernikahan. Maka dari itu, Abella termasuk sahabat Evan. “Van, lo gimana sih, kok Raysa jadi kurus gini." Abella cemberut sambil memeluk Raysa. "Elo nya aja yang sekarang tambah beris, bel." Evan tidak berbohong mengatakan ini, dulu Abella itu tidak suka rambut panjang, kulitnya coklat karena berangkat dan pulang sekolah naik motor, serta tubuhnya kurus dan tidak berisi. Tapi sekarang berbeda, rambut Abella panjang dan lurus bergelombang, masih berwarna hitam alami dan tidak di cat, lalu kulitnya sudah putih, dan tubuhnya sudah berisi layaknya wanita dewasa pada tubuh idealnya, bahkan bibir Abella Nampak menggugah napsu pria yang berbicara dengannya, bibir tipis dengan liptint merah muda. Mereka bertiga masih bercakap-cakap terus, sampai kemudian Evan di panggil kembali oleh beberapa teman lelakinya untuk membicarakan soal kerja sama bisnis. Abella menghembuskan nafas dengan perlahan, "Gimana, Sa?" Abella menatap Raysa. "Gimana apanya?"tanyanya sambil menyesap minumannya. "Lo beruntung punya Evan. Dia sayang sama lo, dan dia gak akan ngekhianatin lo." Raysa tersenyum tipis, "Ya, gue harap juga begitu." "Lo kok belum punya anak sih? Kurang mantep ya sama Evan? Apa kurang sering?" Kemudian Abella terbahak. Tetapi Raysa cuma tersenyum. "Kita udah lama banget ya Bel enggak cerita-cerita. Cari tempat duduk yang sepi nih, banyak yang mau gue certain ke elo." Ya, Abella harus tahu. Apa penyakit yang menimpa Raysa selama ini. Sampai mengakibatkannya tidak bisa mempunyai anak. *** Raysa: Van, aku pulang naik taksi aja ya. Kak Riska masuk rumah sakit, Bima enggak ada yang jagain di rumah mama, nanti kamu jemput aku ya di rumah mama. "Pantes di cari gak ada," Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah tiga puluh menit mencari Raysa untuk mengajaknya pulang, ternyata dia sudah pulang duluan untuk menjaga keponakannya. Anak dari kakak kandung Raysa. Dengan langkah sedikit lelah, Evan berjalan keluar ballroom hotel tempat Reuni setelah berpamitan dengan teman-temannya. Lagi pula ini sudah jam sebelas malam. Sudah beberapa temannya pulang. Begitu sampai di lantai dasar hotel, Evan mendesah malas. Hujan dan Evan malas menyetir kalau hujan. Apalagi badannya lelah. Ia berjalan menuju lobby untuk meminta mobilnya diambilkan oleh parkir valet. Setelah memberikan kunci, Evan hanya berdiri menunggu sambil melihat hujan yang semakin deras. Lalu matanya menangkap wanita yang sedang bermain ponsel sambil berdiri, nampaknya ia sedikit resah. "Abel," Abel tersentak begitu namanya di panggil. Ponselnya nyaris jatuh dari genggamannya kalau ia kehilangan konstentrasi tadi. "Ish, ngagetin aja!" Sungutnya. Evan tertawa, "Ngapain, Bel?" "Ngapain?" Abel pura-pura sewot, "Ya mau pulanglah." Sambil tersenyum simpul, Evan bertanya lagi. "Lo pulang sama siapa?" Abel diam, dia menggigit kuku ibu jarinya. Melihat itu, Evan tersenyum lagi. Kebiasaan Abel dari SMA masih sama. Suka mengigit kuku ibu jarinya saat bingung atau gugup. "Pulang sama siapa?" Tanya Evan lagi, matanya kembali memandangi hujan yang semakin lebat. Pikirannya malah memikirkan Raysa yang sedang melakukan aktivitas apa di rumah mamanya. "Enggak tau," Akhirnya Abel menjawab. "Udah telpon uber tapi gak ada uber di sekitar sini. Udah telpon taksi tapi katanya tadi taksinya udah sampai sini, terus pergi begitu gue gak ada." Abel menghentakkan kakiknya. "Sebel!" Melihat itu, Evan malah tertawa. Membuat Abel melemparkan tatapan sebal, "Apaansih, malah ketawa! Gak lucu, udah tau temennya susah malah di ketawain, lo tuh ya emang dari dulu- hmph!" Omelan Abel terhenti saat Evan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Udah diem, pulang sama gue aja. Gue anter." Bertepatan dengan itu, mobil Mercy berwarna abu-abu tiba di depan lobby. Abel menghiraukan ucapan Evan sebentar, melihat siapakah yang menaiki mobil Mercy itu, Hebat, batin Abel. Dan kemudian Abel terkesiap karena pegawai hotel yang mengurusi parkir valet itu memberi kunci Merci itu kepada Evan yang berada di hadapannya. Kemudian Evan mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan kepada petugas parkir itu. "Kenapa Bel?" Evan sedikit heran melihat Abel yang hanya diam memandangnya, "Yuk balik." "Gila, lo tambah sukses aja sekarang." Mendengar itu, Evan terbahak. "Ya ampun Abel, apaansih." Seharusnya Abel sudah tahu kalau dari dulu Evan memang anak dari orang kaya, tapi ia tidak tahu kalau ternyata Evan bukanlah anak yang mengandalkan kekayaan orang tua. "Jadi bareng gak nih?" Evan menatap jam tangannya. "Gue udah nanya yang keberapa kali nih ya?" Abel kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Gak mau ah! Nanti Raysa cemburu lagi, gue takut kena marah lagi." Mengingat, dulu waktu SMA Evan pernah mengantar Abel pulang tanpa izin Raysa, kemudian dia dan Evan tidak di sapa lagi oleh Raysa selama satu bulan. Maka itu yang membuat Abel kapok. Mending ia tidak bisa pulang daripada ia harus bertengkar dengan Raysa. Evan berdecak, Abel memang sama keras kepalanya dengan Raysa. Kemudian Evan mengeluarkan ponselnya dan menelepon Raysa. "Halo, Sa?" Abel menoleh mendapati Evan yang sedang menelepon. Sepertinya menghubungi Raysa. "Aku mau nganterin Abel pulang ya? Disini hujan deres banget. Dia gak dapet uber." Evan melirik Abel yang sedang menatapnya, "Oh boleh, tapi ini si Abel gamau. Katanya takut kamu marah kaya waktu dulu," Kemudian Abel memukul lengan Evan. "Nih, Raysa mau ngomong." Evan menyerahkan ponselnya ke Abel. Abel menempelkan ponsel Evan di telinganya, "Halo Sa? I-iya, tapi-" Abel melirik Evan. Kemudian menghela nafas, "Okedeh. Iya, bye." "Nih," Abel menyerahkan ponselnya kembali. "Jadi, gimana?" "Iya, ayo anterin gue balik." Mendengar itu, Evan tersenyum lebar. *** "Oh jadi sekarang di apartemen." Evan menganggukan kepalanya begitu mendengar cerita dari Abel. Mulai dari cerita kerja, pindah kerja, sampai tempat tinggalnya. Abel menatap lurus kedepan, hujannya masih deras dari tadi keluar hotel sampai setengah perjalan menuju ke apartemennya. "Sekarang pacar lo siapa, Bel?" Abella memutar bola matanya begitu pertanyaan itu muncul lagi. "Tiga bulan yang lalu gue tunangan sama cowok Berlin, namanya Adam." "Wow, congrats Abel!" Evan mengucapkan dengan tulus sambil fokus menyetir mobilnya dengan santai. Toh, mereka tidak di kejar-kejar waktu. "Tapi pertunangannya batal." Lanjut Abel dengan nada yang kelewat santai. "What?!" "Gak usah kaget gitu kali," Abel terbahak, tangannya menepuk-nepuk pundak Evan. "Dia ternyata tidur sama banyak cewek waktu jadi pacar dan setelah jadi tunangan gue. Ya gue males lah, apalagi setelah dia tidur sama asisten gue sendiri." Abel mengibaskan rambutnya. Evan berdecak, "Wah gila cowok lo, Bel." Kemudian Abel hanya tertawa, tapi karena teringat ada yang ingin ia tanyakan ke Evan, ia menghentikan tawanya. "Van, sorry sebelumnya. Tapi gue boleh tanya tentang…," Abel menghentikan ucapannya. Takut menyinggung perasaan Evan. Seolah paham, Evan tersenyum maklum. "Gapapa Abel. Gue tahu, pasti Raysa bakal cerita. Dia gak pernah main rahasia-rahasiaan sama lo." Kemudian Abel menunduk, entah kenapa ia malah ingin menangis, "Kok kalian gak cerita sih sama gue?" Suara Abel mulai terdengar serak begitu ia mengucapkannya. "Dia gak mau ceirta sama lo waktu lo lagi di Berlin, Raysa gak mau ganggu kerjaan lo." "Dan kalian gak akan bisa punya anak?" Evan hanya menggeleng. "Apapun caranya? Bayi tabung? Atau tanam sel s****a di janin ibu lain?" "Tanam sel s****a di larang di Indonesia, Abel." Evan terkekeh, tapi Abel tau. Evan tidak sepenuhya tertawa. "Waktu nyokap gue tau soal ini, dia suruh gue cerain Raysa dan menikah sama cewek yang udah di calonin sama nyokap gue. Tapi gue gak mau ninggalin Raysa gitu aja. Gue mau nemenin Raysa sampai dia bener-bener sembuh, Bel." Abel mengusap bahu Evan, lelaki yang hebat di depan banyak orang ini sebenarnya rapuh, dan Abel tahu siapa Evan sebenarnya. Tapi mungkin Abel tidak lebih tahu dari Raysa. Kemudian Evan berdeham, menegakkan posisi duduknya, "Oiya Bel, masak temen gue di luar negri banyak yang hamil di luar nikah coba, tapi waktu lahiran anaknya lucu-lucu. Keturunan bule semua. Tapi bapaknya gamau tanggung jawab." Merasa Evan sudah tidak mau membahas masalah penyakit Raysa, Abel kemudian memaksakan tertawa dan mengikuti topik pembicaraan Evan. "Gue sering di ejek temen kantor sama temen kuliha dulu Van. Soalnya gue masih Virgin." Evan tergelak, "Kan dulu, Bel." "Ih, sampai sekarang!" Evan tersedak ludahnya sendiri, "Sumpah lo?" Saat lampu merah menyala, ia menghadap wajah Abel yang hanya terlihat dari cahaya lampu jalan. "Iya, bahkan gue sama Adam sering berantem gara-gara gue gak mau having s*x sama dia." "Kenapa lo gak mau?" "Ya gak mau lah, gue cuma mau melepas keperawanan gue buat calon suami gue nantinya. Yang bener-bener calon suami." Mendengar itu, Evan tersenyum. Kemudian kembali melajukan mobilnya di saat lampu hijau menyala. "Gue gak tau harus gimana menghadapi nyokap gue, Bel." Jeda sebentar, Abel masih mendengarkan keluh kesan Evan. "Gue juga gak bisa cerita ini sama Raysa. Gue gak mau kondisi dia makin drop kalau denger berita ini. Tapi, karena gue anak tunggal di keluarga gue, jadi gue harus punya anak yang bener-bener dari darah daging gue sendiri, biar perusahaan bisa tetap jadi milik keluarga gue." "Gue nyembunyiin kondisi Raysa yang gak bisa punya anak karena kanker rahim ke sepupu-sepupu gue, karena di surat wasiat papa, perusahaan akan di berikan ke pihak saudara lain apabila setelah Evan tidak ada yang melanjutkan." Evan kemudian menghela nafas, lalu membelokan mobilnya ke gedung apartemen dan memasukan mobilnya ke lahan parkir. Setelah memarkirkan mobilnya, tanpa mematikan mesin mobil, Evan dan Abella tetap berada di dalam mobil. Pandangan keduanya kosong menatap kedepan. "Gue pernah hampir melalukan hal gila, Bel. Gue pernah minta temen gue cari seorang p*****r yang mau mengandung anak gue. Tapi saat gue mau melakukan itu gue gak bisa, gue gak mau mengkhianati Raysa dan gue gak mau anak gue di kandung sama seorang p*****r yang gak punya pendidikan dan di lingkungan yang salah." Abella membelalakan kedua matanya lebar-lebar, lalu mendorong tubuh Evan dengan sedikit emosi, "Lo gak waras! Lo gak boleh ngelakuin hal itu ke sahabat gue." Evan kemudian meletakan kepalanya di stir mobil, buku-buku jarinya sampai memutih karena terlalu erat mencengkram stir. Melihat Evan yang frustasi, entah dorongan dari mana Abella melepaskan seatbelt yang ia pakai dan memeluk Evan dari belakang, lalu menarik Evan sehingga ia bisa memeluk Evan. Ya, Evan benar-benar rapuh. Evan meletekkan dagunya pada bahu Abella, entah mengapa ia merasa nyaman. Apalagi saat Abella mulai mengusap punggungnya dengan lembut dan mengelus rambut Evan. "Gue kelihatan rapuh banget ya, Bel? Maaf kalau gue jadi malu-maluin gini.Gue capek bel," Evan merasakan saat Abella menggelengkan kepalanya, bau vanilla terasa di leher Abella. Entah kenapa saat menghirup aroma itu, Evan menjadi tenang. Tiba-tiba, pikiran itu terlintas dalam pikirannya. Ini mungkin memang salah, tapi Abel adalah wanita yang tepat. Evan melepaskan pelukannya, ia menatap mata hitam Abella dalam-dalam, "Lo mau bantu gue, Bel? Bantu gue dan Raysa?" Abel kaku di tempat, ia tidak merespon, sampai Evan mengatakan, "Bantu gue, Bel. Lo wanita yang tepat untuk anak gue." Abella melebarkan matanya begitu mendengar ucapan Evan. Tapi entah mengapa, Evan yang dulu ia sempat kagumi muncul lagi dalam relung hatinya. Karena tidak mendapat respon, Evan memajukan tubuhnya, menghapus jarak diantara ia dan Abel. Evan salah, karena ia tidak sengaja juga menatap bibir Abella yang menggoda, Evan melumat bibir itu, manis. Rasa vanilla, mungkin Abella menggunakan lipbalm vanilla. Tidak mendapat respon lagi, Evan menggigit bibir bawah Abella.   Kemudian Bibir Abella yang terbuka membuat kesempatan bagi lidah Evan untuk menyusuri dalam mulut Abella. Bahkan entah kerasukan apa, Abella membalas ciuman Evan, tangan Abella bergerak ke belakang rambut Evan dan menjambaknya saat ciuman Evan semakin dalam. Evan ganti menyusuri leher jenjang Abella, menghirup aroma vanilla dalam-dalam, kemudian member kecupan-kecupan ringan di leher Abella. Membuat Abella mendongak tinggi, jemari-jemari lentiknya menjambak-jambak rambut Evan. Membuat Evan merasa tertantang, dan kemudian Evan mengecup kecil leher Abella. "Ah, Evan!" Suara desahan meluncur begitu saja setelah susah payah di tahan oleh Abella. Evan langsung melepas diri begitu mendengar desahan Abella, kemudian ia mengusap wajahnya frustasi, "Sorry Bel, gu-gue..." Abella hanya tercengang dengan apa yang sudah ia dan Evan lakukan barusan. Evan memang membuatnya terbuai.  "Makasih ya Van buat tumpangannya. Hati-hati," tanpa menoleh lagi Abella langsung keluar dari mobil dan masuk ke apartemen dengan langkah kelbar-lebar. Dan Evan, menyesali tingakh laku bodohnya mala mini. Tetapi ia juga mengakui, bahwa Abella membuat kejantanannya menegak tadi. Andai saja Abella tidak mendesah dan membuat nya teringat kepada Raysa. Ah iya Raysa, Evan harus menjemput Raysa sekarang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD