2. Deal?

1974 Words
Begitu pintu apartemen kamarnya tertutup, Abel masih berdiri bersandar pada pintu. Belum beranjak dari tempatnya. Dadanya naik turun mengikuti ritme napasnya yang tidak teratur, kemudian dia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Lalu mengambil sebotol air dingin dan meneguknya dengan cepat. Abella menghembuskan napasnya dengan kasar, bagaimana ini bisa terjadi?  Ia dan Evan berciuman cukup panas tadi di mobil dan apa kata Evan tadi? Evan secara tidak langsung meminta bantuan Abel untuk mengandung anaknya. Lalu secara tidak langsung berarti Evan dan Abel akan melakukan hubungan suami istri diluar nikah? "Astaga," Abel mengusap wajahnya. Ia harus mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Ya, mungkin itu bisa menenangkan pikirannya. Bahkan sesudah mandi, sekarang Abel hanya tidur terlentang sambil memandang langit-langit kamarnya. Apa keputusannya ini tidak salah? Kalau ia melakukannya dengan Evan dan mengandung anak Evan, itu berarti ia akan mengkhianati Raysa. Tapi ciuman Evan tadi membuatnya terbuai, benar-benar terbuai. Bahkan dalam hati Abel, ia ingin mendesah sambil menyebut nama Evan, lagi dan lagi. Ah, itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang saatnya Abella tidur, besok ia sudah harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. *** Saat Raysa sedang bercanda dengan Evan, sambil tangan Raysa bergerak-gerak membenarkan dasi Evan, ponsel Raysa berbunyi.  "Sebentar," ucap Raysa. Kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di meja belakangnya. "Halo? Ah iya Bel, kenapa?" Mata Evan menyipit mendengar suara Raysa. Untuk apa Abella menelepon, jangan bilang Abella akan mengatakan apa yang terjadi tadi malam. Tapi kalau di pikir lagi, Abella tidak akan mengatakannya. Kalau Abel mengatakan apa yang terjadi antara dia dan Evan tadi malam, pastilah Raysa akan marah kepada dirinya dan Abel sekaligus. Marah besar. "Van," Raysa berjalan menghampiri Evan sambilmenggenggam ponsel di tangan kanannya. "Coba deh kamu cek di mobil kamu, ponselnya Abel ketinggalan nggak? Soalnya hape Abel nggak ada di tasnya dan nggak ada di apartemennya juga." "Ketinggalan?" Evan mengernyit, tidak sempat mengecek mobilnya setelah ia turun dari mobil dan menjemput Raysa di rumah mama mertuanya. "Yaudah coba aku cek dulu, sekalian mau berangkat kerja." Kemudian Evan mencium bibir Raysa dengan lembut. Kebiasaan yang dilakukannya setiap pagi. Begitu Evan membuka pintu mobil Merci yang ia kendarai tadi malam, tidak ada ponsel Abella di mobilnya. "Coba deh di cek di bawah kursi penumpang," ucap Raysa, tangannya menunjuk-nunjuk di bawah kursi penumpang. Evan menunduk, untuk melihat ke bawah kursi penumpang mobilnya. "Oh iya, itu." Evan mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel berwarana Rose gold tersebut. "Ceroboh banget si Abel, terus ini gimana?" "Anterin aja deh ke apartemennya, kata Abel disitu ada file buat dia meeting." Evan menghela napas, "yaudah aku anterin." Raysa tersenyum, mata hitamnya menatap mata Evan dengan dalam, kemudian Raysa tiba-tiba berjinjit untuk memeluk Evan. Evan terhenyuk sebentar, kemudian ia balas memeluk Raysa. "Kenapa, Sa?" Tanya Evan. Ia tahu Raysa tidak mungkin memeluknya tiba-tiba seperti ini. Raysa menggeleng, "Aku sayang sama kamu." Kemudian ia mengendurkan pelukannya, menatap mata Evan yang balas menatapnya. "Aku juga sayang sama kamu," Raysa tertawa, kemudian mengecup bibir Evan. "Jangan pulang malam-malam, ingat ada aku di rumah." Evan terbahak, "Hubungi saja aku nanti malam." Raysa cemberut, Evan selalu gila kerja. Lembur tiap malam, kalau tidak di hubungi dan di suruh pulang, maka Evan akan pulang sampai subuh. "Aku berangkat dulu ya, Sa." Evan melepaskan pelukannya, kemudian masuk ke mobilnya. Saat memundurkan mobil dari pekarangan rumah, dan sebelum ia menginjak pedal gas, ia memandangi wajah Raysa yang melambaikan tangannya. Evan balas melambaikan tangannya, kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah. Senyum Evan perlahan memudar, Evan masih belum tahu, apakah malam ini ia akan makan malam di rumah bersama Raysa atau tidak. Dan perasaan bersalah benar-benar memenuhi relung hati Evan saat ini. *** Abel terlonjak dari sofa begitu mendengar bel interkomnya berbunyi, "Iya sebentar!" Begitu membuka pintu apartemen, ia mendapati Evan yang tersenyum sambil menggoyang-goyangkan ponsel milik Abel. Seketika Abel terkesiap senang, lalu menerima ponselnya kembali. "Makasih Evan!" Abel memekik senang, lalu memeluk ponselnya. Evan hanya menggelengkan kepala tak habis pikir, "masih aja ceroboh dari dulu." Abel hanya terkekeh pelan, dan matanya fokus ke layar ponsel yang berada dalam genggamannya. "Bel, gue mau ngomong sama lo." Seketika Abel mendongak begitu mendengar ucapan Evan. "A-apa?" Tanyanya gugup. "Boleh masuk?" Abel menengok ke dalam apartemennya, kemudian mengangguk dan membuka pintu lebih lebar lagi agar Evan bisa masuk. Evan mengikuti Abel yang duduk di sofa apartemennya. "Lo mau kopi nggak, Van?" Tawar Abel yang di jawab gelengan oleh Evan. "Mau ngomong apa?" Evan berdeham dulu, menutupi rasa gugupnya. "Maaf soal yang semalem, Bel. Gue…" Evan mengusap wajahnya lagi. "Gue gak tau kenapa, tapi itu terjadi begitu aja. Tanpa gue pikir dulu, maaf kalau gue lancang udah cium lo." Abel mengigit bibir bawahnya, jadi ini yang mau Evan katakan. Abel kemudian mengangguk memaklumi. "Gapapa kok, Van. Gue ngerti. Gue juga mau minta maaf kalau gue nggak bisa menjadi pendengar yang baik dan langsung kabur gitu aja." Abel terkekeh, menertawakan kebodohan dirinya sendiri. "Tapi," Evan bersuara lagi. "Tentang ucapan gue tadi malem, gue serius, Bel." Abel menundukkan kepalanya, jari-jarinya saling meremas satu sama lain. "Apa jadinya kalau gue nggak mau Van?" "Gue udah mikirin ini tadi malem, kalau lo gak mau, gue balik lagi kepilihan gue yang pertama." Abel terbelalak, "Lo gila Van!" "Please Bel, gue udah gak tau harus gimana supaya gue bisa punya anak." Abel memejamkan matanya erat-erat. Berpikir sekali lagi tentang keputusannya ini. "Gue bisa bantu lo Van." Akhirnya kalimat itu terucap. Evan sampai mengerjap dan berhenti berkata-kata selama beberapa detik, "Lo serius, Bel?" Abella mengangguk, "Tapi banyak hal yang gue bingung." "Ada apa? Lo tanya aja ke gue," Abel menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Setelah gue hamil nanti, apa rencana lo selanjutnya?" Evan memandang Abel, ya dia harus tau bagaimana selanjutnya. "Gue nggak akan cerita tentang kehamilan lo ke siapapun Bel. Termasuk Raysa." "Jadi dalam istilah lain, lo selingkuh sama gue gitu? Ah! Tapi...," Abel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. "Gini deh Van, gue mau lo buat perjanjian sama gue." "Apa?" Abel mengambil ponselnya, kemudian menekan tombol recording pada ponselnya. "Semua perjanjian gue rekam disini, gue bisa tuntut lo ke pengadilan kalau lo macem-macem." "Wow, tunggu dulu Bel-" "Pertama," "Abella," Evan menatap Abella tak paham, tapi Abel tetap melanjutkan kalimatnya. "Pertama, kalau dalam satu bulan ini gue nggak mengandung juga, lo nggak boleh berhubungan sama gue lagi. Semua selesai." Evan terlihat berpikir, tetapi kemudian ia menggangguk. "Deal." "Kedua-" Sebelum Abel melanjutkan kalimatnya, Evan sudah memotong. "Kedua, begitu lo mengandung anak gue, lo harus keluar dari pekerjaan lo, dan gue akan menanggung semua biaya hidup lo." Ucap Evan. "Apa-apaan? Gak bisa!" Sangak Abel. "Ketiga," Evan melanjutkan kalimatnya lagi. "Setiap kontrol kandungan, lo harus sama gue." "Evan!" "Keempat, Ini semua rahasia, bahkan dari Raysa. Setelah anak gue lahir, hak asuh bayi itu ada di tangan gue sepenuhnya." Abella terdiam, menatap Evan dengan sebal. "Gimana? Deal?" Evan menaikkan satu alisnya, "tiga puluh menit lagi gue ada pertemuan kolega, Bel. Lo bisa jawab sekarang." Abella hanya menghela nafas, "Oke deal." Jawaban Abel membuat Evan tersenyum lebar. Kemudian memeluk Abella, "Makasih Abel. Lo calon ibu dari anak gue." Bulu kuduk Abel meremang begitu Evan berucap seperti itu. "Lo berangkat kerja sama siapa? Mau gue antar?" Tawar Evan. "Eh, gak usah!" "Yasudah," Evan lalu berdiri dari sofa dan melangkah menuju ke pintu keluar. "Evan," panggil Abel. "Kenapa Bel?" Evan berbalik, mendapati Abel yang berdiri menghapanya. Wanita itu menduduk dan kedua tangannya saling bertautan. "Kapan kita bisa mulai?" Evan sedikit risih mendengarnya, tetapi ia harus melakukannya. "Nanti malam aku kesini." *** "Ke Jogja? Berapa hari?" Raut wajah Raysa berubah pias begitu mendengar suara Evan di telepon yang mengabarkan kalau Evan akan berangkat ke Jogja untuk rapat pembukaan saham di Jogja. "Dua hari, Sa. Kamu gapapa ‘kan aku tinggal?" "Ya gapapa sih," Raysa memandang foto pernikahannya dan Evan yang tergantung di ruang keluarga. "Aku gaboleh ikut Van? Biasanya kamu ngajak aku." "Aku gamau kamu lelah. Lagi pula kalau ke Jogja pasti nanti waktu aku lagi rapat kamu mala keluyuran sendiri." Raysa terkekeh, benar juga kata Evan. "Kamu nggak pulang ambil baju dulu sebelum berangkat?" "Aku ada baju di mobil. Cukup untuk dua hari kedepan. Kalau enggak ya nanti beli aja gampang." "Kamu gamau pulang dulu? Makan malam sama aku dirumah. Aku masak bihun kesukaan kamu." "Raysa," "Iya. Maaf, aku cuma sedih aja kamu tinggal." "Aku bakal ngabarin kamu terus oke?" "Oke, takecare." "Iya," Klik! Sambungan telepon terputus. Sedikit aneh dengan Evan. Tidak mengajak Raysa ke Jogja, tidak bisa pulang dulu, bahkan tidak mengucapkan I love you di akhir telepon. Raysa menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. Sudah lama Evan tidak keluar kota, dan sekarang rasanya berat kalau Evan akan pergi keluar kota tanpa Raysa. Andai saja ada anak yang menemani Raysa di rumah besarnya ini. Ah, Raysa tidak boleh larut dalam kesedihan. Mungkin hanya perasaan khawatir berlebihan yang mengakibatkannya seperti ini. Lebih baik Raysa makan, makan sendiri di meja makan yang sebenarnya di desain Evan untuk Raysa dan anak-anaknya. *** Abella gugup, saat ini ia hanya memakai kimono mandi tanpa dalaman apa-apa. Setelah menghabiskan waktu satu jam di kamar mandi, yang membuat Abella benar-benar wangi saat ini. Dari tadi Abel hanya mondar-mandir di dalam kamarnya sambil menunggu Evan, apa yang harus ia lakukan nanti? Dan yang paling penting, apa yang harus Abel pakai? Abel tidak ingin terlihat seperti w*************a. Abel mengusap wajahnya, kemudian membuka lemari dan mengambil sebuah kotak berwarna pink, bertuliskan Victoria Secrets. Ia membuka kotaknya, kemudian mengambil lingerie berwarna pink pastel yang sedikit transparan. Abel kemudian mengenakannya, dan menatap pantulan dirinya dalam cermin. "Semoga nggak ada yang salah," Kemudian Abel mengambil parfumnya yang bebrbau vanilla, menyemprotkannya di bagian leher, belakang telinga, d**a, dan kedua pergelangan tangannya.  Kemudian Abel membenahi tatanan rambutnya, bahkan tadi Abel sempat mencurly rambut hitamnya. Lalu memoleskan sedikit pelembab wajah serta liptint stroberry-cherry miliknya. Abel terduduk di kasur, kasur dan kamar juga sudah ia rapikan. Jantung Abella berdetak tak karuan. Ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi Abel dan entah kenapa, ia berdandan secantik mungkin bagi suami orang yang akan mengambil keperawanannya dan akan menghamilinya. Suara bel intercom membuat Abel tersentak, "itu pasti Evan." Abel melirik jam, sudah pukul sepuluh malam. Sebelum membuka pintu, Abel mengambil kemeja putih longgar yang menutupi badannya dari d**a sampai pahanya. Entah kenapa ada pikiran nakal dalam diri Abel, sehingga ia membiarkan tiga kancing teratas terbuka. Bel intercom terdengar lagi, membuat Abel berlari menuju pintu sampai kakinya terantuk kakinya sendiri sampai Abel terjatuh. "Aduh!" Abel meringis kesakitan, lutunya berdenyut. "Sebentar!" Abel berteriak keras begitu bel terdengar lagi. Setelah pintu terbuka, terlihat figur Evan yang wajahnya mulai sedikit lelah tapi tetap menyunggingkan senyumnya. Membuat Abel yang mau memarahinya langsung luluh. "Masuk, Van." Evan berjalan masuk, lalu merenggangkan otot-otonya. Kemudian meletakkan tas ransel yang ia bawa di sofa. "Aku bohong sama Raysa." Ungkap Evan tiba-tiba. "Aku bilang sama dia kalau aku ada pekerjaan di Jogja selama dua hari." Abella terdiam, di saat seperti inilah rasanya ia seperti wanita simpanan. Ya, memang Abella sekarang adalah wanita simpanan Evan untuk satu bulan kedepan. "Mau makan dulu, Van?" Evan berbalik, kemudian matanya langsung tidak bisa berpaling lagi.  Entah kenapa Abella benar-benar cantik dan menggoda malam ini. Dengan kemeja putih yang memperlihatkan leher jenjang serta paha putih mulusnya. Serta rambut hitam yang bergelombang hitam. Abella mengutuk diri dalam hati, Evan tidak menjawab pertanyaannya. Melainkan malah memperhatikan Abella dari atas sampai bawah. Seharusnya memang Abella tidak memakai ini. "Mau makan dulu nggak, Evan?" Abella bertanya lagi, lalu Evan mengerjap dan menatapnya sambil tersenyum tipis. "Udah makan tadi waktu meeting." "Oh," Abel memperhatikan arah lain.  Diam-diam ia memuji karisma Evan sepulang kerja, walaupun wajanya sedikit lelah, tapi Evan tetap tampan dengan kemeja biru tua yang di gulung sampai ke siku. Penampilannya sudah tidak serapi saat Evan datang berkunjung tadi pagi dan dengan kancing atas yang dibiarkan terbuka setelah Evan melepas dasi. "Kamu nggak lagi menstruasi kan Bel?" Abella berpikir sejenak, "Tiga hari yang lalu sudah selesai." Evan mengangguk, "Berarti kita bisa mulai sekarang?" Kemudian Abella mengangguk dengan kaku namun pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD