1. Melangkah Tanpa Harapan

2026 Words
3 Tahun kemudian… Batas waktu yang telah terlihat ketika bangun pagi, Frada bergegas melempar selimut ke wajah Eva. Ini hari di mana dia akan pergi ke Indonesia. Setelah menyiapkan segala kebutuhan semalaman, rasa semangat Frada semakin tumbuh seiring jam berdetak sangat cepat. "Bentar, Eva. Aku mau keramas dulu!" Frada mencubit gemas kedua pipi Eva, dia tertawa wajah itu sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan. "Tolong, Frada. Jangan membuatku frusrasi dengan mengajakku berbicara Bahasa Indonesia," Eva merapikan rambutnya. "Dasar, sudah tahu kan aku belum bisa?" Kembali, Frada membuka pintu kamar mandi dengan memperlihatkan dadanya yang seksi di depan Eva. "Sabar sayang, nanti aku ajarin kamu belajar juga ya! Nggak susah kok, Kak Xander juga udah jago pakai bahasa modern ala sana!" Eva melempar botol hairspray ke arah Frada. "Kau sudah terlambat p*****r kecil!" Kemudian Frada kembali tertawa, kali ini dia sambil berjoged dengan riang bermaksud menghina asisten nya. "Ah dasar cupu, baru liat d**a begini aja salah tingkah!" "Frada, berhenti!" Eva menutupi telinganya dengan telapak tangan, dia enggan mendengar suara yang tidak dipahami. Jarak waktu sangat lama, Eva memutuskan untuk membawa 2 koper ke lantai dasar. Dia menggerutu, karena barang-barang Frada yang membuatnya tersiksa. "Sial, dia akan bayar mahal membawa banyak barang seperti ini." Dan kemudian, 1 jam berlalu. Eva masih mendapati Frada di kamar mandi. Dia pun menggedor pintu berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. "Frada! Kenapa kau lama sekali?" Sepi. Eva menoleh kesana-kemari, dia bimbang sekaligus khawatir jika kejadian 3 Tahun lalu terulang. Saat mendengar kabar jika Tristan sudah menikah, Frada berada di kamar mandi berjam-jam dan berusaha bunuh diri. "Frada! Kau sedang apa huh?" bentak Eva mulai panik. Pintu terkunci, namun di dalam sama sekali tidak terdengar gemercik air. Ada apa? Eva pun mengetuk pintu semakin keras, dan tetap tidak ada tanggapan. Dia pun segera berlari keluar, memanggil pengawal pribadi Frada. Dengan tenaga penuh Eva pun kembali menaiki satu persatu anak tangga, dia segera menelpon Nathan. Tunggu. Eva memukuli kening, dia segera mengakhiri sebelum dijawab. Xander. Eva semakin gila. "Frada! Keluar kau! Demi Tuhan aku yang akan membunuhmu jika kau diam saja! Frada!" Eva menahan tangis, dia sedikit tenang ketika 2 pengawal pribadi Frada datang. "Kalian, cepat buka pintunya!" pinta Eva sambil meremasi rambut. Satu hingga dua kali orang-orang bertubuh besar itu mencoba mendobrak, tak lama pintu pun terbuka dari dalam. Frada muncul dengan handuk melingkar di kepala. "Hei, siapa yang menyuruh kalian masuk ke kamarku hah?" Dua penjaga itu seketika diam. "Maaf Nona, kami hanya… Berusaha mencari tahu apakah Anda baik-baik saja di dalam." Frada menyapa Eva, wanita itu pun langsung memalingkan wajah ke arah lain. Kemudian Frada menggerakkan kepalanya, tanda agar pengawal pribadinya segera keluar. Dan Frada pun melanjutkan kegiatan mengeringkan rambut, dengan santai dia duduk sambil melihat lagi wajah panik Eva. "Aku hanya tidak ingin kau…," "Seperti dulu?" Frada mulai merapikan rambutnya yang basah, hal itu membuatnya antara mendengus dan tertawa. "Anggap saja waktu itu hal paling menjijikkan yang tidak boleh ditiru! Lemah sekali aku ya? Padahal hidup bukan tentang cinta, semua itu basa-basi!" Hati yang telah kuat menahan segala rasa, Frada menutup rapat-rapat semua hal tentang perasaan. Terhadap laki-laki mana pun. Namun, membohongi diri tidak dapat dilakukan Frada hingga saat ini. Ya, setelah semua berlalu 3 Tahun Frada masih menaruh rasa yang sangat besar untuk Tristan. Dan mendengar semua itu rasanya Eva terus ingin memaki, entah pada siapa yang jelas Frada sudah dianggap seperti saudara. "Ya, Frada bukan wanita lemah!" Sikap Eva membuat Frada seketika menggeleng, dia tersenyum membentuk alis. Tak lama Frada segera menyelesaikan make up nya hari ini, jam sudah memperlihatkan jika pesawat akan lepas landas sejam lagi. Suara mobil dari luar, membuat Frada gugup. Itu merupakan mobil adiknya, Giovanni Ivanska. Setelah melihat make up beres, Frada langsung mengenakan pakaian yang sudah Eva siapkan. Blazer berwarna krem, kain woll itu dipadukan dengan celana capri senada juga sepatu warna putih. Frada terlihat lebih profesional, dia menyukai semua tatanan busana yang Eva berikan. "Ok, siap. Aku datang, Indonesia. Tempat kelahiran Kakek." senyum Frada mengukir, dia melirik sebuah gelas kecil di mana itu menyimpan foto Tristan. Lupakan! Cukup lama Frada tidak pernah melihat wajah itu dari sebuah gambar. Tepat saat Frada membuka pintu, dia mendapati Gio tengah merentangkan kedua tangan. Namun, Frada justru bersandar pada kerangka pintu. "Hm… Kau rupanya." "Hei," Gio langsung memeluk tubuh saudaranya. "Yakin kau tidak merindukan aku?" "Bukan alasan untuk aku menyesal karena tidak merindukanmu!" jawab Frada mengusap punggung Gio. Dan kemudian adik yang mempunyai selisih usia 1 tahun itu membuat Frada tertawa geli, kebiasaan yang Gio lakukan terus menanggung tawa. "Kamu ini, udah ah! Pesawat berangkat sejam lagi. Buruan!" "Woah Frada," Gio langsung menggapai tangannya. "Kau… Sudah menguasai Bahasa Indonesia?" Tentu Frada melenggok senang. "Udah dong! Makanya, buruan belajar!" "Aku juga udah bisa kok, masa iya sih kita yang ada darah Indonesia tapi nggak bisa saling komunikasi dengan bahasa itu?" ucap Gio sombong. Dan Frada segera turun, dia yakin Eva masih saja kesal karena sudah menunggu lebih dari 2 jam. Tanpa merasa bersalah, Frada masuk ke dalam mobil sambil mencubit ujung hidung mancung Eva. Dia hanya tersenyum, kemudian mengambil sekotak coklat Swiss dan memamerkannya pada Eva. "Kau tahu, coklat bisa membuat perasaanmu jadi lebih tenang. Rasanya yang manis, gurih kacang almond nya sangat pas. Yummy." ungkap Frada memainkan kotak coklat. "Tidak, aku sudah kenyang!" padahal Eva sendiri tidak tega membiarkan coklat itu terabaikan. Dan kemudian Frada membuka tudungnya, dia sengaja membuat kotak itu berseliweran di depan mata Eva. Sungguh, ini hiburan yang sering Frada lakukan. Dia akan rajin memesan coklat asli buatan Swiss untuk Eva, ini cara ampuh dia meminta maaf pada asisten nya. "Hm… Enak sekali…," Tetapi Eva hanya menatap Frada dengan pandangan senang, entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Frada melihat senyum itu mengembang, namun dia salah jika menganggap Eva akan menerima hadiahnya tersebut. Karena Eva hanya diam, tanpa bicara pun Frada memahami apa yang sedang ada. Frada menatap keluar jendela, dia melihat mobil Gio berada di belakangnya. "Jangan memulai, aku sudah melupakan hal itu. Lama, aku membuangnya jauh-jauh dari pikiran. Dan… Aku tidak akan kembali mengingat lagi! Jangan menatapku seperti itu." Nyatanya Frada kecolongan, Eva merenggut kotak coklat itu dari tangannya. Frada pun hanya merangkul asisten yang telah dianggap seperti saudara perempuan. "Jangan kau habiskan!" "Kenapa? Kau tidak ada stok lagi?" Eva ingin tahu, dia juga merasa khawatir. "Ada, nanti aku bisa pesan saat sudah tiba di Indonesia! Hanya itu saja yang aku punya," Frada membetulkan posisi coklat berbentuk bulat lalu dia menjilati ujung jari telunjuk, hal itu sontak membuat Eva tertawa. "Dasar menjijikkan!" seru Eva tertawa lagi. Bahkan Frada juga tertawa lantang, dia menatap kedua pengawal pribadinya yang berada di depan. Dan kemudian Frada mengambil camilan lain. "Hei, aku tahu kalian lapar. Ini, makan! Jangan sampai aku melihat kalian itu lemah ya!" Dua pria bertubuh besar itu saling menatap, salah satunya pun menerima biskuit dari Frada. "Terima kasih Nona, Anda baik sekali." "Dan gaji kita akan naik ketika Frada di Indonesia!" ungkap Eva mengangkat kedua alis. Frada memalingkan wajah. "Dasar matre!" "Jika aku tidak matre, kau akan sengsara Frada. Kau tahu kan, aku banyak mendapatkan tawaran kerja." Eva mulai tinggi hati. Hanya senyuman kecil menggambarkan keadaan hati yang telah membaik, Frada membuka kaca mobil untuk merasakan angin lembut di negara asalnya dilahirkan. Dia akan rindu dengan suasana Rusia saat berada di Indonesia sekitar 2 bulan, lalu kembali melanjutkan kuliahnya. Tak lama Frada mendapatkan panggilan dari Nathan, dia pun segera menjawab, "Hai Papi, ada apa?" "Sweety, kenapa Eva menelpon Papi? Ada apa? Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Nathan serius. Lalu Frada membulatkan mata ke arah Eva, menyalahkan. "Ah… Mungkin dia salah menekan nomor, aku baik-baik aja kok Pi. Ini… Lagi menuju bandara." "Bener kamu baik-baik aja? Ya udah, Papi tunggu di rumah ya! Nanti ada yang jemput kamu kalau udah sampai di Jakarta." Frada menghela napas. "Iya Papi, sampai jumpa di Jakarta. Aku mencintaimu." Panggilan berakhir. Frada meringkus lagi ponselnya ke dalam tas kecil, dia kembali melihat Eva dan dua pengawal nya tengah menikmati camilan yang selalu disediakan. Frada sengaja, dia mulai merasa cocok dengan 2 pengawal itu. Mereka tanggung jawab, juga kompeten dalam bekerja. Banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan, seperti contoh saat Frada merasa bosan. Maka dua pria yang telah memiliki seorang anak itu akan menghiburnya. "Terima kasih kalian." Ungkapan Frada membuat Eva dan 2 pengawal itu saling menatap. "Nona, Anda jangan terlalu sering mengatakan 'bahwa kita sangat berjasa, tapi Anda sendiri yang hebat'." "Ah tentu, aku hebat karena kalian." ucap Frada langsung memeluk Eva. "Ah, kau ini berlebihan. Sudah sana!" Eva menghempaskan tubuh Frada, justru dia membaringkan wajahnya di pangkuan Frada. "Jangan membuatku sedih Frada, jangan berkata bahasa Indonesia dulu! Aku… Tidak paham." "Baiklah, baik Eva sayang." jawab Frada santai. Dari belakang, Frada melihat mobil Gio juga mulai memasuki bandara. Di lobi Frada segera turun, dibantu 3 orang dari pihak bandara membawakan barang-barangnya. Bukan berupa pakaian, Frada membawa semua pekerjaan juga buku-buku penting karena beberapa bulan lagi dia akan ujian, dan tidak ingin melewatkan hari belajarnya walau berada di Indonesia. Terutama Frada tidak suka belajar secara online, dia akan lebih fokus tanpa benda canggih dan lebih memilih menulisnya di buku besar. Sesuatu yang aneh. Dan kemudian Frada bersama yang lain dituntun oleh petugas menuju pesawat, segala keperluan Frada sudah disiapkan oleh orang kepercayaannya hingga tak perlu menunggu di gate atau mendapatkan boarding pass dan tiket. Dan kemudian Frada sudah disiapkan pada kursi VIP, dia merasa lega namun bukan berarti Frada tenang. Dia selalu mengalami masalah pada rasa takut saat melakukan penerbangan, walau sudah lama membaik saat Tristan selalu membantu untuk menghilangkan aviophobia nya. Namun, berbeda pada hari ini dan Frada mencoba untuk tetap tenang. "Kau… Baik-baik saja?" Eva memegangi tangan Frada. Frada menatap dengan senyum terpaksa. "Ini yang terkadang aku membutuhkannya, aku… Selalu takut." "Sudah," Eva mengambil obat pemenang milik Frada. "Ini, minum! Semua akan baik-baik saja!" "Tapi… Aku sudah lama tidak mengkonsumsi ini Eva." Frada menolak. "Lalu aku harus memberimu obat tidur huh?" Eva memastikan, dia tidak tega saat keringat dingin keluar dari pelipis Frada. Setelah hening waktu yang lama, Frada menerima obat tersebut, dia menatap Gio yang berada di deretan kursi sebelah. Demi tidak ingin membuat orang-orang panik, Frada pun mencoba santai ketika pesawat mulai take off. Namun, guncangan yang dirasa sangat menggangu dan Frada langsung memeluk Eva. Dia menangis, selalu saja seperti itu karena mengingatkan sosok hangat yang akan setia mendampingi ketika Frada melakukan penerbangan. Benci. Selama 3 Tahun ini hanya kejadian yang sama mengingatkan Tristan, Frada terisak karena ketergantungan yang tidak pernah bisa hilang. Dan bahkan dia sering menunjukkan ketakutan secara tiba-tiba di depan Nathan atau Xander, dan akan dianggap lemah secara fisik. Frada membenci itu, meski pada kenyataan tidak ada yang menganggap hal demikian. "Tenang ya! Semua akan baik-baik saja!" Eva terus menenangkan, dia akan berusaha semaksimal mungkin menjadi tempat saat Frada ketakutan di pesawat. Beberapa menit, setelah pesawat berada di ketinggian 35.000 kaki barulah Frada merasa tenang. Dia duduk mandiri, dan hanya mencoba untuk tidur. "Terima kasih Eva." Eva mengusap lagi kening Frada. "Sama-sama anak cantik, jangan takut melupakan nya lagi ya!" Mendengar itu Frada tertawa kecil. "Kau pikir aku takut? Hanya… Entah, rasa takut ini sangat menyebalkan." "Itu sudah menjadi bagian dari hidupmu Frada, maka nikmatilah!" ucap Eva mencoba mendengarkan musik. "Ya, benar." ungkap Frada menatap keluar jendela, dia tidak pernah menolak pemandangan indah dari atas permukaan bumi. Tengah asyik menikmati suasana, Gio bertukar posisi dengan Eva. "Hei, kau baik-baik saja?" "Ck, dasar! Keji!" Frada menyalahkan, dia tahu jika saudaranya hanya ingin menghina. "Hei, bukan begitu. Kan hanya Eva yang sudah hafal tentang penyakitmu itu." ucap Gio terkekeh. "Hm… Ya, benar. Tapi asal kau tahu, ini bukan penyakit b******k!" balas Frada sinis. "Oh ok, Frada. Tapi yang jelas kau tidak bisa lepas 'kan?" Gio baru menyadari salah ucapan. Namun, Frada tidak menanggapi. Gio langsung memegangi tangan saudaranya. "Sudah, kau tenang saja! Kita akan sampai di Jakarta 860 menit lagi." Frada tertawa, kemudian dia merebahkan kepalanya di pundak lebar Gio. Dia mencoba tidur, menghempaskan semua angan yang menanggung rasa. Tentang nama itu, sudah lama menghilang di ingatan. Takkan terulang memang, meski Frada tidak akan pernah yakin jika kenangan nya akan sirna begitu mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD