Aku dan keluargaku akhirnya berangkat ke Jakarta untuk melayat Pakle Harto disana. Keluarga besarku juga ikut kesana kecuali Mbah Putri dan Mbah Kakung karena mereka berdua sudah tua untuk ikut pergi perjalanan jauh. Sampai disana Pukul 10.00 WIB, Aku melihat Bule Reni yang sedang menangis sambil ditenangkan oleh seorang Ibu-Ibu. Dan Kak Olivia yang sedang menangis di samping Jenazah Ayahnya. Di sebelah Kak Olivia aku melihat seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran Kak Olivia.
Ketika melihat kami datang Bule Reni langsung bangun dan berpelukan dengan Ayahku, Pakde Rusmawan, dan Bule Resti. Sedangkan Aku, Kak Naufal, Kak Ihyas, dan Kak Arman mendekati Kak Olivia. Ketika kami datang laki-laki yang ada disebelah Kak Olivia itu langsung bangun salaman dengan kami semua dan masuk ke rumah sebelah Kak Olivia. Kak Olivia saat itu langsung memelukku dan Aku yang saat itu masih kecil gak paham harus bersikap seperti apa ke Kak Olivia.
Jadinya yang pertama kali aku katakan “Kak? Cowo itu siapa yang disebelah Kak Olivia tadi? Kalian keliatan deket banget?”. Kak Ihyas menjawab “Kamu kalo bodoh jangan dibawa-bawa kesini juga Bell! Iya pasti temennya Olivia lah! Emangnya dipikiri disini dia gak punya temen!”. Kak Naufal menjawab “Udah Yas. Jangan marah-marah begitu Bella belum paham apa-apa. Dia masih anak-anak”. Kak Olivia melepas pelukanku dan salim dengan Kak Ihyas, Kak Arman, dan Kak Naufal.
Kak Olivia berkata “Gak apa-apa kok. Dia temenku satu-satunya disini. Namanya Putra Saharjo. Mas Ihyas, Mas Naufal, dan Mas Arman makasih kalian sudah dateng kesini”. Kak Naufal menjawab “Kamu sekarang cantik banget Liv. Iyaa semalem kita juga kaget dengan Ayah kamu meninggal karena kecelakaan. Yang penting kamu jangan sedih”. Aku menjawab “Bagaimana caranya tidak bersedih ketika kehilangan Ayah? Aku saja ditinggal Ibu seharian ke rumah saudara aja udah nangis”. Kak Ihyas menjawab “Itu karena kamu cengeng! Udah jelek cengeng pula!”.
Kak Arman tiba-tiba menyela “Udah jangan ngebully Bella terus. Kasian dia masih kecil udah keseringan dibully”. 2 Jam kemudian Pakle Harto dimakamkan namun Aku dan Kak Olivia gak ikut ke pemakaman. Kak Olivia terlihat sangat terpukul dan sedih sampai tidak berhenti menangis dari pagi hingga menjelang malam hari. Kami berempat berusaha menenangkan Kak Olivia. Setidaknya itu cukup membantu memberikan semangat kepada Kak Olivia.
Malam harinya sekitar jam 8 malam. Sahabat Kak Olivia itu kembali datang ke rumah Kak Olivia. Dia mengantarkan beberapa makanan untuk keluarga besarku dari rumahnya “Olivia ini makanan dari Ibuku. Ada banyak sekali. Aku taruh dimana?”. Kak Olivia berlari kecil menghampiri laki-laki itu “Sini aku bantu bawa ke meja makan. Bell bantuin aku mindahin makanan buat makan malam yuk”. Aku berdiri dan menajwab “Iyaa Kak. Aku bantu bawa yang ringan hehehe”.
Kak Olivia menjawab “Put. Ini adek sepupuku namanya Bella Ananda. Dulu aku waktu di Boyolali sering main dan deket banget sama dia”. Bang Putra menjawab “Ohh iyaa salam kenal. Aku Putra Saharjo. Umur kamu berapa tahun?”. Aku menjawab “Iyaa salam kenal Kak Putra. Umurku 8 tahun masih kelas 3 SD. Kamu seumuran sama Kak Olivia kah?”. Bang Putra menjawab “Iyaa kurang lebih begitu. Hanya saja Olivia lebih tua dariku 3 bulan”.
Tiba-tiba dari arah pintu keluar ada anak laki-laki berteriak kepada Bang Putra sambil di gandeng Ibunya “Bang Putra ini makanannya ketinggalan. Abang kelupaan bawa udangnya”. Aku berkata “Abang? Kak Olivia? Abang itu apa?”. Kak Olivia menjawab “Abang itu panggilan Kakak laki-laki.Di Jakarta kakak laki-laki biasanya dipanggil Abang”. Aku menjawab “Berarti seharusnya aku manggil Kak Putra pakai Abang juga?”. Bang Putra menjawab “Hahaha terserah kamu aja mau manggil apa. Yang penting namaku Putra”.
Aku menjawab “Oke Bang Putra. Lebih mudah manggil pake Bang ternyata hahaha”. Kita bertiga menaruh makanan di meja dan membantu Bule Reni dan Bule Resti menyiapkan makanan untuk keluarga besar dan para tamu yang datang melayat hingga malam. Setelah semuanya selesai kami semua berbincang sebentar dan masuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Namun karena rumah Kak Olivia tidak terlalu besar akhirnya sebagian keluarga tidur di rumahnya Bang Putra.
Keluarganya Bang Putra sangat baik bahkan bersedia menyediakan tempat menginap untuk keluarga besar kami. Disisi lain rumahnya Bang Putra cukup besar. Memiliki 6 buah kamar, di lantai satu ada 3 kamar dan di lantai dua ada 3 kamar lagi. Namun anak-anak semuanya tidur di rumah Kak Olivia. Hanya orang tua kami saja yang tidur di rumah Bang Putra. Iyaa Bule Reni tidur di rumah sih. Aku, Kak Olivia, Kak Naufal, Kak Arman, Kak Ihyas, Risa, dan Arif. Kami berenam tidur di ruang keluarga sambil nonton tv.
Kami memperbincangkan banyak hal layaknya seorang anak-anak biasa. Perang bantal, main tindih-tindihan, dan candaan lainnya. Aku melihat Kak Naufal sangat tertarik dan sayang dengan Kak Olivia. Beberapa kali dia memeluk Kak Olivia sambil bermain. Kak Ihyas juga begitu namun dia hanya memuji dan memandangi Kak Olivia. Kak Arman yang terlihat tidak tertarik dengan Kak Olivia. Dia lebih senang berbincang dan bercanda dengan Arif.
Saat kejadian ini usia Kak Naufal itu 16 tahun, Kak Arman 13 tahun, dan Kak Ihyas 12 tahun. Hingga akhirnya sekitar jam 11 malam kami semua tertidur pulas. Aku tiba-tiba terbangun sekitar jam 2 pagi karena mau pipis. Ketika aku bangun Kak Olivia dan Kak Naufal tidak ada di ruang tengah. Aku tidak berpikir apapun saat itu dan langsung pergi ke kamar mandi. Setelah aku pipis aku melihat Kak Olivia dan Kak Naufal belum kembali ke ruang tengah. Apa mereka tidur di kamar yaa? (Bersambung…)