bc

Pisau Abad 21 di Jantung Dinasti Ming

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
adventure
reincarnation/transmigration
time-travel
system
fated
drama
lighthearted
mystery
medieval
war
like
intro-logo
Blurb

Ye Yu, seorang mahasiswa arkeologi abad ke-21 yang terlempar ke masa lalu setelah tornado misterius, kini menyamar sebagai koki di kedai 'Fengyuxuan' di Beiping. Dengan keterampilan kuliner modern yang tak tertandingi, ia mengubah kedai yang sepi menjadi sensasi "Hidangan Nomor 1 Beiping".

Namun, popularitas ini membawa bencana. Ye Yu segera terlibat dalam persaingan pahit dengan restoran terkemuka, 'Junyuelai', dan harus menghadapi arogansi Prefek Wu, seorang pejabat berpengaruh. Setelah secara cerdik menghindari hukuman dan bahkan menyelamatkan musuhnya dari upaya pembunuhan, keahliannya menarik perhatian sosok paling berbahaya di kota: Zhu Si (Tuan Keempat), seorang bangsawan misterius yang memiliki agen mata-mata di kedainya sendiri.

Pisau dapur Ye Yu mungkin telah memberinya ketenaran, tetapi bisakah ia menggunakan keahlian bela diri rahasianya dan pengetahuannya tentang masa depan untuk bertahan hidup dan mengubah takdirnya di tengah intrik politik istana kekaisaran yang jauh lebih besar?

chap-preview
Free preview
Bab 1: Makanan Pertama di Beiping (Perjalanan Si Koki Muda)
Di Balik Kemakmuran Kota Beiping Tahun ke-20 pemerintahan Hongwu, Dinasti Ming. Di Kota Beiping. Dulunya tempat ini adalah ibu kota Dinasti Yuan, dan kini, sebagai ibu kota kedua Dinasti Ming, kemakmurannya tidak luntur sedikit pun. Bahkan, pasar di sini terasa lebih ramai dan hidup dibanding pasar di ibu kota utama. Mengapa? Karena ibu kota—sebagai pusat pemerintahan—terlalu kaku dan penuh khidmat. Beiping, di sisi lain, punya denyut nadi yang lebih bebas. Di salah satu sudut jalanan Beiping yang sibuk itu, berdirilah sebuah kedai makan bernama ‘Fengyuxuan’. Kedai kecil ini awalnya sepi, bahkan bisa dibilang nyaris kosong setiap hari. Namun, semenjak pergantian koki sebulan lalu, situasinya berubah drastis, 180 derajat. Kepala koki baru itu masih muda, usianya baru dua puluh tahunan. Selama sebulan terakhir, banyak sekali pelanggan datang berbondong-bondong karena mendengar reputasinya, tapi anehnya, tak seorang pun pernah melihat wajahnya. * Katanya, kemampuan memotongnya sungguh luar biasa. Gerakan tangannya saat menghunus pisau secepat dan seandal pendekar pedang yang telah mengasah diri bertahun-tahun. * Katanya, dia sangat berpendidikan. Puisi dan kaligrafinya mengalir lancar, dan nama-nama hidangan yang ia ciptakan selalu puitis dan indah. * Katanya, dia tampan luar biasa. Wajahnya sehalus giok, lembut, dan setiap gerakannya memancarkan pesona yang bebas dan tak terkendali. Desas-desus ini mengundang rasa penasaran banyak orang, tapi tidak ada satu pun yang berhasil mengonfirmasi kebenarannya. Pelanggan yang ingin tahu sering bertanya pada pemilik kedai, Qiu Fu, tapi ia selalu menjawab santai sambil tertawa, “Ah, itu semua cuma omongan orang.” Semakin dirahasiakan, semakin masyarakat penasaran. 'Fengyuxuan' yang tadinya tak dikenal, kini mendadak jadi kedai paling populer di Beiping. Kelihaian sang koki dalam memasak begitu hebat, sampai-sampai pelanggan setianya menyebut masakan di sana sebagai "Hidangan Nomor 1 Beiping." Kedai ini bagaikan kuda hitam di antara warung makan Beiping. Setidaknya, ‘Fengyuxuan’ telah menggeser hampir semua pelanggan 'Junyuelai'—restoran di seberang jalan yang dulunya menyandang gelar "Kediaman No. 1 Beiping." Kedatangan Tuan Prefek Pada hari itu, suasana ‘Fengyuxuan’ mendadak tegang. Seorang pejabat masuk, dan bahkan sebelum duduk, ia sudah memancarkan aura otoritas yang sangat berbeda dari pelanggan lain. Beberapa pengunjung yang jeli langsung mengenali pria itu: Prefek Wu dari Prefektur Beiping. Qiu Fu, si pemilik toko, bergegas hendak menyambut, namun pengawal yang dibawa Prefek Wu segera menghadangnya. “Berhenti! Tuan kami tidak menyuruhmu maju! Cepat panggil Kepala Kokimu! Tuan kami punya perintah!” bentak si pengawal. Tuan Wu sendiri dari tadi tidak bicara sepatah kata pun. Ia duduk angkuh di tengah ruangan, mengambil cangkir teh, dan menyesapnya dengan santai. “Pfft!” Entah disengaja atau tidak, Tuan Wu menyemburkan semua teh itu, lalu ia membanting tinjunya ke meja dan berteriak, “Teh di kedai kumuh ini bahkan kualitasnya rendahan!” Melihat tuannya marah, si pengawal langsung menunjuk Qiu Fu, melotot, dan membentak, “Dengar, kau?! Cepat ganti dengan teh yang lebih baik!” Qiu Fu mengangguk dan berbalik untuk mengambil teh baru. Tiba-tiba, ia merasakan air mendidih disiramkan ke arahnya. Terkejut, Qiu Fu melangkah ke samping. Air teh panas itu lolos dari wajahnya, tapi sebagian mengenai bahunya. Tuan Wu meletakkan teko kosong di meja, wajahnya penuh penghinaan. Seorang pelayan yang berdiri di belakang Qiu Fu langsung maju hendak melawan, tapi Qiu Fu dengan cepat menghentikannya. Qiu Fu memasang ekspresi hormat, mengangguk pada Tuan Wu, dan berkata, “Tuan, mohon tunggu sebentar, saya akan ambil teh lagi.” Tuan Wu tetap diam, namun pengawalnya mendorong Qiu Fu sambil berteriak, “Cepat! Pergi, cepat!” “Wah! Penasaran sekali siapa yang ribut-ribut begini, ternyata si rubah besar!” Suara itu terdengar jernih, cerah, muda, dan penuh energi. Semua orang di aula, termasuk Tuan Wu dan semua tamu yang kini tercengang, menoleh ke sumber suara. Pria itu terlihat sangat muda dan berwajah tampan. Kulitnya tampak pucat untuk ukuran seorang pria, tetapi bersih dan sedap dipandang. Melihat orang ini, si pelayan tadi langsung mendekat, “Tuan Muda! Orang ini…” Pria muda itu mengangkat tangan untuk menghentikannya, “Tang Kecil, tenang saja, biar aku yang urus.” Nada suaranya melembut, sangat berbeda dari intonasi yang ia gunakan saat pertama kali bicara. Lalu, ia berjalan mendekati meja Tuan Wu, menjewer telinga Prefek itu dengan satu tangan, dan berkata dengan nada meremehkan, “Ada apa, Tamu Terhormat? Anda ingin makan sesuatu?” Tuan Wu mengabaikannya, bahkan tak sudi melirik. Si pengawal segera berteriak ke arah pemuda itu, “Hei, Anak Muda!” Wajah pemuda itu mendadak berubah. Ia menyela si pengawal dengan tajam, wajahnya kini muram, “Aku sedang bicara dengan tuanmu. Siapa yang memberimu hak untuk menyela? Atau jangan-jangan kau pikir kau, si rubah, bisa bicara mewakili tuanmu?” “Siapa yang kau sebut rubah?” Si prajurit itu gemetar menahan marah, melotot ke arah pemuda tadi. “Rubah yang meminjam kekuatan harimau! Kira-kira siapa yang kumaksud?” Pemuda itu lantas menatap Tuan Wu yang diam, “Tuan, lain kali tolong cari tempat lain untuk mengajak rubah peliharaan Anda jalan-jalan. Kedai kami bisnis kecil, kami tidak menerima hewan peliharaan.” Tuan Wu akhirnya mendongak ke arahnya. Melihat sikap pemuda yang tenang itu, ia menyunggingkan senyum tipis, lalu berkata, “Anak muda, lidahmu tajam sekali. Kau menyebut bawahanku rubah. Lalu, kau ini siapa, si ahli yang berani ini?” Pria muda itu menyipitkan mata liciknya yang sekilas memang menyerupai mata rubah. “Anda mencari kepala koki, bukan? Saya Ye Yu, kepala koki ‘Feng Yu Xuan’.” Tuan Wu tampak sedikit terkejut. Ia memang mendengar banyak rumor tentang koki ini dan menganggapnya berlebihan. Namun, setelah melihatnya langsung, ia sadar bahwa—setidaknya dari segi penampilan—rumor itu benar. “Oh, Anda koki terkenal yang mengklaim bisa memasak ‘hidangan terbaik di Beiping’? Saya datang hari ini khusus untuk mencicipi masakan Anda. Boleh, kan?” Ye Yu sedang sibuk di dapur ketika ia tiba-tiba mendengar ada seorang pejabat datang, berlagak angkuh di aula, dan mengubah suasana ruang makan yang harmonis menjadi layaknya kantor pemerintahan. Ye Yu sangat kesal. Ia paling tidak suka dengan pejabat tinggi yang tidak punya etika seperti ini. Namun, ia tidak pernah mempersulit pelanggan di kedainya. Meskipun ia tidak menyukai Tuan Wu, selama Tuan Wu menjadi pelanggan, ia akan diperlakukan sama seperti yang lain. Ye Yu mengangguk, berbalik hendak kembali ke dapur, tapi langkahnya dihentikan lagi. “Anak muda, kau belum bertanya apa yang ingin kumakan.” Ye Yu tidak repot-repot menoleh, ia hanya berkata, “Setelah Anda pesan, minta seseorang membawa slip pesanan ke dalam.” “Aku ingin makan otak anjing!” Ye Yu terdiam. Permintaan macam apa ini? Tak hanya dirinya, semua tamu yang hadir pun terkejut. Tuan Wu mengelus jenggotnya, berkata dengan nada bangga, “Aku ingin makan otak anjing. Jika kau bisa membuatnya, aku akan memaafkanmu karena membantah para prajuritku. Jika tidak, aku akan meminta pertanggungjawabanmu di istana.” Xiao Tang, yang sedari tadi mengikuti Ye Yu, terlihat geram. Ia bergerak maju sedikit, tapi Ye Yu menahannya. Ye Yu perlahan berbalik menatap Tuan Wu. Senyum tetap tersungging di bibirnya, lalu ia berkata, “Kalau begitu, Tuan, mohon tunggu sebentar.” “Anak muda!” Tuan Wu memanggil lagi, “Waktumu tidak banyak. Aku sudah sangat lapar sekarang.” Ye Yu nyaris tidak berhenti, mengabaikan Tuan Wu, dan langsung mengajak Tang Yun menuju halaman belakang. Sebelum benar-benar masuk dapur, Ye Yu yang akhirnya sedikit tenang, berbisik pada Xiao Tang, “Cari tahu kenapa Tuan Wu tiba-tiba datang mencari masalah.” Otak Anjing si Prefek Ye Yu, yang telah memberi instruksi kepada Xiao Tang, berdiri di depan tungku dengan bingung. Ia tahu waktu sangat penting, tetapi permintaan Tuan Wu memang tidak masuk akal. Memang, otak anjing memiliki manfaat kesehatan, terutama untuk mengobati sakit kepala. Namun, Ye Yu tidak bisa menoleransi kekejaman memakan otak anjing. Tetapi, jika ia tidak melakukannya, mengingat situasi saat ini, ia tidak akan bisa lolos begitu saja. Ia harus memikirkan cara, cara untuk menyelesaikan masalah ini. Qiu Fu sangat mengkhawatirkan Ye Yu. Setengah jam telah berlalu, dan Tuan Wu belum juga pergi, begitu juga para penonton yang penasaran. Qiu Fu memasang wajah tanpa ekspresi, tetapi hatinya sangat cemas. Tidak ada satu pun anjing di ‘Fengyuxuan’, jadi dari mana Ye Yu bisa mendapatkan otak anjing? Jika masalah ini memburuk, bukan hanya Tuan Wu yang gegabah ini akan celaka, tetapi identitasnya sendiri juga bisa terungkap. Ia hanya bisa berdoa agar Ye Yu, si pemuda penuh tipu daya sejak mereka bertemu, dapat menyelesaikan insiden kali ini juga. Ternyata, Ye Yu tidak mengecewakannya. Tepat ketika semua orang mengira Ye Yu sudah melarikan diri, ia berjalan masuk dari belakang sambil membawa makanan. Ye Yu meletakkan nampan di hadapan Tuan Wu, dan hanya berhasil mengeluarkan beberapa patah kata sambil menggertakkan giginya, “Otak yang Anda inginkan.” Tuan Wu sedikit terkejut. Bukan hanya dia, tetapi semua orang kaget. Dasar gila! Apa dia benar-benar melakukannya? Tuan Wu memandangi “otak anjing” yang dilumuri saus di mangkuk kecil di atas piring, lalu dengan hati-hati mengambil sendok, menyendoknya, dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia bahkan lebih terkejut setelah memakannya. Ia memang pernah makan otak anjing sebelumnya, dan rasanya persis sama dengan hidangan buatan Ye Yu ini. Ia tidak menemukan kesalahan apa pun. Semakin dipikirkan, semakin tidak mengerti. Semakin tidak mengerti, semakin ia ingin mencari tahu. Tanpa disadari, Tuan Wu telah menghabiskan semangkuk “otak anjing” itu. Ye Yu menatapnya dengan tidak sabar dan berkata, “Anda sudah selesai makan? Kalau sudah, cepat pergi.” Tuan Wu menatapnya dengan tatapan kosong, sementara beberapa tamu di dekatnya sudah merasa mual hanya karena melihat Tuan Wu memakan otak anjing. Namun, karena ia sudah melakukannya, dan banyak orang telah mendengar apa yang dikatakannya, Tuan Wu mendengus dan berdiri. Ia bukan orang yang mudah ditundukkan, dan karena sekarang ia sudah mendapatkan penawaran yang lebih baik, ia memasang wajah polos, menyeringai pada Ye Yu dan berkata, “Adik, keahlianmu sungguh luar biasa! Rasa otak anjing ini benar-benar autentik! Aku tak pernah menyangka ‘Fengyuxuan’ punya hidangan seperti itu; sungguh mengesankan! Hahaha!” Tuan Wu berbalik dan berjalan keluar dari ‘Fengyuxuan’ sambil mengibaskan lengan bajunya. Sementara itu, Ye Yu merasakan gejolak kegelisahan di hatinya. Bukan karena ia benar-benar melakukan hal bodoh, hanya saja ia merasa jijik terhadap orang-orang seperti Tuan Wu. Ia menghela napas dan duduk, melirik kerumunan yang masih terkejut. Ia tersenyum getir dalam hati; ini benar-benar merusak reputasi mereka. Saat ia sedang merenungkan hal ini, suara Qiu Fu terdengar di telinganya, “Kakak Ye… kamu baik-baik saja? Bagaimana kamu membuat hidangan itu?” Mendongak dan menatap tatapan khawatir Qiu Fu, Ye Yu tersenyum dan berkata menenangkan, “Kakak Qiu, jangan khawatir, aku membuatnya dengan tahu. Kita tidak punya anjing di sini, jadi tidak mungkin aku membunuhnya.” Mereka yang hadir kembali terkejut ketika mendengar kata-katanya. Tahu bisa digunakan untuk membuat hidangan seperti ini? Melihat reaksi semua orang, Ye Yu perlahan berdiri, membungkuk kepada para tamu yang masih hadir, dan berkata, “Maaf, saya telah mengganggu kenikmatan Anda hari ini karena beberapa hal. Jika Anda tidak ingin melanjutkan makan, silakan saja. Jika Anda ingin memesan hidangan lainnya, silakan beri tahu saya.” Setelah berbicara, Ye Yu melirik Qiu Fu, yang langsung mengerti. Jadi, setelah Ye Yu kembali ke dapur, Qiu Fu, selaku pemilik restoran, berkata, “Saya turut berduka cita atas kejadian hari ini! Semua makanan gratis untuk hari ini, Tuan-tuan!” Rubah di Seberang Jalan Kembali di halaman belakang, Ye Yu sibuk dengan urusan lain. Tindakan Tuan Wu ini mungkin akan merusak reputasi ‘Fengyuxuan’. Jika orang biasa mendengar bahwa mereka menjual otak anjing di sini, bukankah mereka tidak akan berani datang lagi? Ia harus menemukan cara untuk menghentikan masalah ini. Tuan Wu pasti tidak akan datang ke kedai ini untuk membuat masalah tanpa alasan; pasti ada sebab di balik tindakannya. Ye Yu sudah punya gambaran samar tentang apa yang sedang terjadi, tetapi baru setelah Xiao Tang melapor kepadanya di malam hari, dia akhirnya memastikan dugaannya. “Tuan Wu punya saudara ipar. Saya rasa dia adalah Tuan Qin dari restoran ‘Junyuelai’ di seberang jalan.” Mendengar ini, Ye Yu akhirnya mengerti siapa dalang di balik semua kejadian hari ini. ​

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.6K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.6K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Rise from the Darkness

read
10.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook