Apa gunanya hidup bersama kalau tak saling cinta?
***
Mobil yang ditumpangi Grace berbelok ke sebuah rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam. Dia melihat rumah berlantai dua dengan empat pilar tinggi yang kokoh. Di bagian tengah terdapat pintu kayu berwarna cokelat yang sekarang terbuka lebar, seolah menyambutnya. Pandangan Grace lalu tertuju ke halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau dan beberapa pohon palem di pinggirnya.
Secara keseluruhan, rumah itu sebenarnya mewah. Tetapi, Grace justru bergidik melihatnya. Dia yakin, rumah itu tidak lebih dari sebuah penjara.
"Ayo, Sayang."
Grace menoleh mendapati panggilan sayang yang diucapkan Ale. "Jangan bertingkah sok peduli," geramnya lalu melipat kedua tangan di depan d**a.
Ale turun dari mobil dan melihat Grace yang tidak mau turun. Dia menutup pintu dan memutari mobil. Lantas membuka pintu di samping Grace dan memberi kode lewat mata.
"Gue mau pulang."
"Iya ini pulang, Sayang."
"Stop!" Grace menunjuk Ale dengan wajah memerah. "Gue mau pulang ke rumah gue sendiri. Bukan rumah lo."
"Sekarang kamu istriku."
"Enggak!"
Ale menghela napas panjang. "Gue capek, jangan nambah emosi."
"Terserah!"
"Grace!" Ale tanpa sadar berteriak dan membuat Grace beringsut ketakutan. "Ayo, masuk!" Dia menarik tangan wanita itu dan tentu saja ditolak.
Grace memukul tangan Ale sambil beringsut menjauh. Tetapi, Ale kembali masuk mobil dan merangkul pundaknya. Grace berusaha berontak, tapi tarikan Ale kian kencang.
Ale turun dari mobil dan menggendong Grace. "Semua orang di sini galak, jangan banyak tingkah."
"Dan lo yang paling galak," jawab Grace sambil berusaha berontak.
"Jangan nyakiti diri sendiri."
"Apa peduli lo?" Grace berusaha meloncat, tapi Ale dengan cepat mencengkeram pundaknya. "Sakit."
"Kalau nggak gini kamu nggak nurut," bisik Ale tajam.
Grace menatap Ale tak suka. Tetapi, lelaki itu tetap berjalan dan fokus menatap depan. Dia menoleh, melihat sebuah tangga dengan karpet merah di tengah. Grace seketika memejamkan mata. "Mimpi paling buruk."
"Sayangnya ini bukan mimpi," bisik Ale sambil menaiki tangga.
Begitu sampai di lantai dua, Ale menurunkan Grace. "Pilih kamar mana?"
Pandangan Grace tertuju ke dua pintu cokelat yang bersebelahan. Dia lalu menatap Ale penuh selidik. "Kita nggak sekamar, kan?"
"Tentu saja sekamar. Kita suami istri."
"Gue nggak mau sekamar!" Grace mengatakan itu dengan serius. "Jangan harap kita kayak suami istri beneran."
"Ya udah, silakan pilih kamar sendiri."
Grace yang tidak mau berdebat memutuskan mendekati pintu di depannya. Dia membuka pintu dan melihat kamar luas dengan nuansa putih. Perhatiannya lalu tertuju ke jendela bertralis besi. Sial, sepertinya dia salah pilih kamar.
"Masih bisa ubah pilihan," ujar Ale.
"Nggak akan!" Grace memutuskan masuk dan menutup pintu. Saat hendak mengunci, dia tidak mendapati kunci yang menggantung. Bahkan tidak ada slotnya. Demi apapun dia tidak akan bisa mengunci pintu. "Aaaah!"
Ale menahan tawa mendengar teriakan itu. "Mau pindah, Sayang?"
Grace membuka pintu dan beralih ke kamar sebelah. Dia melihat kamar yang lebih luas dengan ranjang di bagian tengah. Nuansa kamar itu hampir sama, bedanya perabotannya lebih lengkap.
"Aku di kamar itu," jelas Ale.
"Gue di kamar pertama."
"Kita satu kamar."
"Nggak akan!" Grace kembali ke kamar sebelumnya dan memutuskan masuk.
Ale berjalan masuk, melihat Grace yang duduk di ranjang sambil menarik ikat rambutnya.
"Pak...." Seorang wanita berdiri di ambang pintu.
"Sana!" ujar Ale tanpa menjawab.
Grace menatap seorang wanita yang membawa baskom dan kotak obat. Dia mengernyit saat wanita itu meletakkan di dekat kakinya. Setelahnya wanita itu menyingkir.
Ale mendekat sambil menarik lengan kemejanya ke atas. Setelah itu dia membungkuk di depan Grace. "Kakimu kotor."
"Apa peduli lo?" Grace memundurkan kakinya ke kolong ranjang. Tetapi, Ale dengan cepat menarik kedua kakinya.
"Jangan nyakiti diri sendiri lagi."
Grace terdiam melihat Ale yang membimbing kakinya agar masuk ke baskom air hangat. Andai keadaannya tidak sekacau tadi, pasti dia akan menilai Ale perhatian. Tetapi, tindakan tadi membuat Grace tidak bisa terima. "Nggak usah!" Dia menarik kakinya kemudian berdiri.
Ale berusaha bersabar karena tindakan itu. "Kamu bisa bersihin sendiri, kan?"
"Lo pikir gue anak kecil?"
"Baguslah!" Ale seketika berdiri dan menatap Grace yang membuang muka. "Istirahat dulu, kalau laper kamu bisa minta orang bawah. Nanti malem kita harus bicara."
Grace mendengus. "Nggak ada yang perlu dibicarain."
Ale tidak begitu menanggapi Grace yang ketus. Dia sangat lelah setelah mengurus semuanya. Lantas dia berbalik dan menuju kamar sebelah.
***
Grace baru menyadari tubuhnya terasa lelah usai mandi. Dia akhirnya memutuskan berbaring di ranjang dan tidak sadar telah tidur lama. Tahu-tahu, kamar sudah gelap.
"Emhh...." Grace menggeliat sambil mengucek mata. Dia menatap langit-langit yang terlihat lebih tinggi daripada di rumahnya. Kesadaran seketika menghampirinya.
Grace ingat jelas kekacauan tadi pagi. Hari pernikahannya hancur karena Ale yang tiba-tiba menjadi mempelai lelaki. "Nggak mungkin dia dadakan ngelakuin itu," gumamnya baru kepikiran. "Bisa jadi dari awal dia udah rencanain."
Dada Grace mulai terasa sesak. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ale harus mengacaukan pernikahannya? Ke mana perginya Ernes?
Grace ingat jelas ancaman Ale tadi. Apa mungkin Ernes disekap Ale demi menikahinya? Sepertinya tidak mungkin.
"Tiga tahun gue kerja, dia nggak pernah deketin gue," gumam Grace. "Nggak mungkin cowok kayak Ale nikahin gue secara terpaksa."
Grace mengacak rambut. Semakin dipikir semakin membuatnya pusing. Terlalu banyak hal yang harus dipecahkan. Terlebih, dia berhubungan dengan Ale yang memiliki kuasa.
Ceklek....
Tubuh Grace berjingkat mendengar suara pintu dibuka. Dia menoleh, melihat seorang lelaki yang memasuki kamar. Kemudian lampu kamar menyala terang.
"Baru bangun?" Ale melihat Grace yang berbaring dengan muka bantalnya. "Nyenyak?"
Grace perlahan bangkit dan membuang muka. Dia enggan mengakui jika tidur nyenyak, nanti Ale besar kepala. Dia berpikiran, tidur nyenyaknya karena kelelahan.
"Mau makan malam sekarang?" tanya Ale sambil duduk di pinggir ranjang.
Seketika Grace menatap Ale waspada. "Ernes baik-baik aja, kan?"
Ale menahan tawa karena Grace mengangkat topik lain. "Kalau kamu nurut dia baik-baik aja."
"Apa gunanya kamu nikahin aku?" tanya Grace menuntut.
"Bukan saatnya bahas itu." Ale seketika berdiri. "Mending kamu makan di kamar aja. Kelihatannya capek."
Grace menatap Ale yang langsung pergi begitu saja. "Ck!"
***
"Grace. Siapkan sarapan!"
Teriakan itu menggema di rumah besar milik Ale. Grace yang duduk di ruang tengah tidak mengindahkan teriakan itu.
Seminggu menjalani pernikahan beginilah rutinitas Grace, duduk diam di rumah. Dia sekalipun tidak keluar rumah. Bagaimana mau keluar, Ale selalu mengurungnya dengan penjagaan ketat.
"Kamu nggak bikin sarapan?"
Grace dengan malas mengangkat wajah. Dia menatap Ale sekilas lalu menatap ke arah lain. Grace tidak terima dengan pernikahan ini. Karena itu dia tidak mau menjadi seorang istri dari Alesandro, tidak akan mau.
Ale menatap istrinya lelah. "Grace," panggilnya sekali lagi. Lelaki berjas biru itu mendekat, menarik dagu hingga sang istri menghadapnya.
"Apa maumu!"
"Wah. Sekarang sudah berani menantang?" Ale menjauhkan tangan dari dagu Grace. "Apa salahnya menerima keadaan?" tanyanya lepas kendali.
"Sampai matipun gue nggak akan terima!" balas Grace telak.
Kedua tangan Ale terkepal erat. Dia lalu keluar rumah tanpa sepatah kata.
"Hiks...." Selepas kepergian Ale, tangis Grace pecah. Dia tidak bisa berlama-lama hidup seperti ini. Percuma memiliki suami sempurna dan kaya, tapi tidak bisa membuatnya bahagia. Jika boleh memutar waktu, Grace tidak akan mau bertemu Ale bahkan sampai menjadi istrinya.
***
Ale berjalan ke ruangannya dengan angkuh. Dia tidak memedulikan tatapan penuh tanya dari karyawannya. Sejak pernikahannya dengan Grace seminggu lalu, para karyawan sering menatapnya bingung dan bertanya-tanya. Karena yang menjadi mempelai lelaki berubah menjadi dirinya.
Tring!
Pintu lift terbuka. Ale keluar dari lift masih dengan mempertahankan wajah angkuhnya. Dia bergegas masuk ke ruangan pojok yang ada di lantai gedung teratas.
"Buatkan saya kopi!" perintah Ale ke sekretarisnya.
Oly mendongak lalu tersenyum lebar. Tanpa menunggu waktu lama, dia segera ke pantry dan membuat kopi.
Ale mengempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Satu tangannya sedikit melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Mata birunya lalu tertuju ke laptop yang belum menyala. Dia menarik napas panjang, bersiap kerja.
"Ini kopinya, Pak."
Ale menatap Oly berdiri sambil membawa secangkir kopi. Dia menerima kopi panas itu, dan menyeruputnya pelan.
Oly menatap bosnya yang akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan hangat di kantor. "Benar Pak Ale sudah menikah?"
Kegiatan Ale terhenti. Dia meletakkan kopi yang masih tersisa setengah, lalu menatap Oly tak suka. "Apa masalahnya buat kamu?"
Ditatap tajam seperti itu membuat Oly seketika menunduk. Entahlah, mata bosnya selalu terlihat berkilat marah. Oly menggeleng pelan, lalu berbalik tanpa sepatah kata.
Selepas kepergian Oly, Ale membuang napas panjang. "Benci gue ke orang yang terlalu penasaran sama hidup gue."
Ale menatap ke komputer yang telah menyala dan mengakses CCTV rumah. Dia tidak mendapati Grace ada di kamar. Yah, wanita itu selalu menghindari area sana. Lantas dia membuka CCTV di bagian ruang tengah. Terlihat Grace berbaring meringkuk sambil tangannya beberapa kali mengusap mata.
"Nangis lagi?" tanya Ale padahal tahu jawabannya. Dia menghela napas berat. Grace seolah tidak bosan menangis. Bahkan air matanya seolah tidak kering meski setiap hari menangis. "Udahlah, ngapain nangis!" geramnya yang tentu saja percuma.