Pada akhirnya, orang yang berkuasa akan semena-mena
***
"Selamat datang dikehidupan baru, Grace." Ale justru mengatakan itu setelah mendapat tamparan dari Grace, istrinya.
"Ada apa, nih?" Semua orang berbisik melihat mempelai wanita menampar mempelai lelaki.
Grace berdiri dengan penuh amarah. Siapa yang tidak marah pernikahannya dihancurkan oleh bos sendiri? Dia merasa tidak memiliki salah. Tetapi, bosnya mengacaukan semuanya. "Bisa pergi dari pernikahan saya?"
Ale mengusap pipinya yang terasa panas. Dia membuang muka, menatap dua orang di depannya yang mengernyit heran. "Pernikahannya sah kan, Pak?"
"Sah...." Dua orang di depan Ale mengangguk kompak.
"Maksudnya?" Grace mendekati meja dan mencengkeram taplak meja yang terasa licin. "Saya akan menikah dengan Ernes. Calon suami saya belum datang."
Dua orang itu mengernyit lalu mengecek dokumen. "Di sini tertulis atas nama Grace Mineola dan Alesandro Andif."
"BUKAN!" Grace menjerit histeris. Dia menatap Ale yang diam saja seolah tidak bersalah. Kemudian dia mengedarkan pandang, melihat tamu undangan yang menatap kebingungan. Lantas, perhatiannya tertuju ke tulisan di layar depan yang berganti Grace dan Ale.
"Apa-apaan, ini?" Seketika Grace beranjak, tetapi Ale dengan cepat memegang tangannya.
"Jangan bikin kekacauan!"
"Lo yang bikin kacau!" maki Grace sambil berusaha menarik tangannya. Tetapi, cengkeraman Ale kian erat. Grace tidak peduli, dia terus menggerakkan tangan meski itu menyakitinya.
Melihat Grace yang tidak terkontrol, Ale mulai emosi. Satu tangannya yang bebas memegang pundak Grace dan mendorongnya hingga terduduk di kursi. "Lanjutkan, Pak." Kemudian dia duduk di samping Grace dan mencekal tangannya.
"Saya dijebak!" ujar Grace. "Saya menikah sama Ernes, bukan Ale. Dia bos saya yang kejam." Dia mengadu ke dua orang di depannya.
Ale menggeleng, meminta dua orang itu agar tidak mendengarkan ucapan Grace. Dia lantas menerima buku nikah dan menandatanganinya. "Ini, Pak."
"Gue nggak mau!" ujar Grace kala melihat buku kecil di depannya.
"Grace!"
"Lo jebak gue!"
Ale tersenyum samar. Dia menggerakkan dagu Grace ke sebuah dokumen di depannya. "Baca! Bisa baca, kan?"
Pandangan Grace tertuju ke dokumen di depannya. Tertulis atas nama dirinya dan Ale. Air mata Grace seketika turun. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Silakan, Bu Grace!"
Ale melepas cekalannya berganti mengusap punggung Grace. "Tanda tangan nggak?"
Grace menggeleng dengan pikiran kacau. Dia tidak mampu melakukan hal lain selain menangis sambil mengepalkan tangan. "Saya dijebak."
"Huh...." Ale mendekat ke Grace dan memeluknya. "Tanda tangan, atau saya bikin Ernes kesayanganmu itu tinggal nama!"
Sontak Grace menoleh dengan mata membulat. "Lo apain Ernes?"
Ale menggerakkan dagu ke arah buku di depan Grace. "Nurut!"
"Enggak! Lo apain Ernes?" teriak Grace kembali mengundang tanya para tamu undangan. "Gue salah apa sama lo, Ale?" Grace berteriak tertahan.
Satu tangan Ale terangkat, menarik pundak Grace agar kembali duduk. "Tanda tangan dulu," pintanya lalu mendekat. "Satu-satunya cara buat nyelametin nyawa Ernes."
Jantung Grace mencelos. Haruskah seperti ini? Jika dia tanda tangan artinya dia menikah dengan Ale. Dia tidak mencintai bosnya. Tetapi, jika tidak tanda tangan dia takut ancaman Ale itu nyata. Dia mencintai Ernes dan tidak ingin lelaki itu kenapa-napa.
"Ernes mulai sekarat," bisik Ale kala Grace tidak kunjung bertindak. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana dan menunjukkan ke Grace.
Grace merebut jam itu dan melihat nama Ernes di strapnya. Dia yakin itu milik Ernes karena di bagian huruf E agak sobek dan kaca di bagian bawah retak. Dia ingat betul pernah membanting jam itu ketika bertengkar dengan Ernes.
"Percaya?" tanya Ale melihat kebungkaman Grace.
Seketika Grace mengambil pulpen dan tanda tangan. Tak.... Pulpen itu seketika terlepas dari genggaman setelah dia membubuhkan tanda tangan. Dia lalu menatap buku nikah itu sambil terisak hebat.
"Selamat datang dikehidupan baru, Grace," bisik Ale membuat tubuh Grace meremang. "Jadi istri yang baik."
Tubuh Grace membeku mendengar suara mengerikan itu. "Kenapa bisa kamu?" tanyanya parau. "Aku nggak nikah sama kamu. Bukan kamu mempelainya."
Ale mengusap air mata Grace yang masih mengalir. "Sekarang, kita sudah sah jadi suami istri. Nggak peduli apa yang terjadi, kamu istriku."
Grace menatap Ale yang tampak menjijikkan di matanya. Rasanya dia ingin menendang wajah itu dan memukulnya hingga babak belur. Sungguh, dia muak melihat senyum manis Ale, baginya itu senyum paling buruk yang pernah dilihat.
Apakah ini jawaban dari perasaan tadi? Grace menangis melihat mempelai lelaki yang berbeda. Jelas dia sedih. Wanita manapun pasti sedih ketika mempelai prianya berbeda, meskipun pria itu lebih sempurna.
***
Ale tersenyum tipis. Dia mendekat lalu mencium kening Grace lama. Setelah itu memandang wajah istrinya yang tampak cantik dengan polesan make up bold. Meski tertutup make up tapi tidak mampu menutupi kesedihan yang terpancar dari mata dan wajah Grace. "Aku melakukan yang terbaik."
Jepret.... Kilatan itu mengabadikan momen Grace dan Ale.
Grace menggeleng tegas. Dia tidak terima dan tidak percaya menikah dengan Ale. Air matanya berdesakan turun, hatinya remuk mendapat kenyataan ini. Dia berdiri lalu keluar dari ruangan. Takdir apa lagi yang mempermainkannya? Kenapa Ernes berubah menjadi Ale? Grace berlari keluar rumah sambil berurai air mata.
"Sialan kau, Ale!" Grace melangkah tak tentu arah. Rasanya dia ingin mati daripada menikah dengan Ale. Tetapi ada yang harus dia lakukan sebelum memutuskan mati. Dia ingin mencari Ernes dan memberikan balasan untuk lelaki yang pergi begitu saja di hari pernikahan mereka. Bisakah dia anggap seperti itu? Meski Ale tadi mengancam akan membunuh Ernes.
"b******k!" Grace menarik pentul dan bunga yang masih menghiasi kepala dan membuangnya asal. "Gue juga harus tahu apa yang terjadi semuanya."
Sedangkan di rumah, Ale mulai sibuk menenangkan tamu undangan yang protes karena dialah yang menjadi mempelai pria. Urusan Grace, Ale sudah mengantisipasi. Lelaki itu sudah menebak jika Grace pasti akhirnya akan kabur.
"Ke mana, Ernes?" tanya Lili setelah melihat kekacauan tadi.
Ale mengangkat bahu. "Saya jelaskan sekali lagi! Ini memang pernikahan saya dan Grace. Tidak ada yang salah dengan itu."
Beberapa tamu undangan tampak saling berbisik. Ale tahu, para tamu tidak mudah percaya begitu saja. Tetapi dia tidak peduli. Ini memang pernikahannya dengan Grace.
"Gue nggak nyangka. Pak Ale?" ujar rekan-rekan Grace.
Ale berbalik berjalan masuk ke kamar Grace. Dia mulai muak mendengar suara grasah-grusuh di luar. Toh, dia sudah menjelaskan. Begitu sampai kamar, dia melepas jas yang terasa panas di tubuhnya. Dia duduk di sofa, dengan satu kaki terangkat menumpu di paha.
Senyum Ale mengembang, puas dengan hasilnya.
***
Brum....
Dap... Dap... Dap....
Grace berlari mendengar suara mobil yang putar arah. Jelas mobil itu mengejarnya dan pasti orang itu suruhan Ale. Dia berlari sambil mengangkat roknya hingga lutut. Tidak peduli ke orang-orang yang menatapnya aneh.
Cittt....
Mobil lawan manusia jelas kalah. Grace sudah berlari sekuat tenaga, tapi dengan mudah mobil itu menghalangi jalannya. Dia berhenti berlari dengan napas memburu. Kemudian dia berbalik dan belari lagi.
"Nyonya!"
Baru beberapa langkah, Grace sudah ditarik oleh seseorang dengan tangan besar. "Lepas!" Dia berusaha memberontak, tapi cekalan itu seolah akan mematahkan tulangnya. "Lepasin gue!"
"Lepas!" Suara berat itu kemudian terdengar.
Tubuh Grace bergetar. Rasa takut itu perlahan muncul. Tetapi, ada amarah yang perlahan menguasai. Grace tetap menatap depan, meski tengkuknya meremang. Jelas, Ale sekarang tengah menatapnya dengan tajam.
"Ayo, pulang!" pinta Ale berusaha lembut.
Bukannya menurut, Grace justru berjalan menjauh. Mana mungkin dia menuruti Ale. Sosok yang menghancurkan hidupnya.
"Kamu mau ketemu Ernes, kan?"
Langkah Grace seketika terhenti. Dia ingat dengan tujuannya untuk mencari Ernes. Harusnya dia sekarang ke apartemen Ernes. Tetapi, jadi berputar-putar demi menghindari kejaran anak buah Ale.
"Ayo, masuk!" pinta Ale tanpa beranjak dari tempatnya.
Grace sontak berbalik dan menatap Ale penuh peringatan. "Yakin lo bakal nemuin gue sama Ernes?"
Ale mengangguk. "Sini."
"Enggak!" jawab Grace. "Orang jahat kayak lo nggak mungkin berubah baik!" lanjutnya kembali berbalik dan berlari menjauh.
"Huh...." Ale geleng-geleng melihat Grace yang berlari tanpa alas kaki.
Grace kembali berlari tanpa peduli jalanan yang terasa panas dan menyakiti kaki telanjangnya. Dia tidak peduli tenaganya habis dan napasnya mulai ngos-ngosan. Dia tidak peduli dengan pandangannya yang mulai berkunang-kunang. Bahkan, dia tanpa sadar melupakan rasa haus yang sejak tadi menyiksa.
"Grace!" teriak Ale kala Grace masih berlari. Dia berbalik, membuka pintu kemudi dan memundurkan kendaraan itu dengan cepat. Hingga mulai sejajar dengan Grace. "Masuk nggak?" teriaknya.
Grace menoleh sekilas dan terus berlari. Tetapi pandangannya kian gelap. Beberapa kali dia menggeleng sambil berusaha mengumpulkan tenaga.
Cittt.... Ale menghentikan mobil dan meloncat turun. Dia berlari mengejar Grace dan menghadangnya. "Kenapa ...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Grace limbung ke depan. Kedua tangan Ale seketika mendekap tubuh kurus itu.
Grace terkuai lemas dengan pipi bersandar di d**a Ale.
"Keras kepala," gerutu Ale sambil mengangkat Grace ke pundaknya. Dia berjalan menuju mobil dan melihat anak buahnya berlari dari arah berlawanan.
Ale mendudukan Grace di bangku belakang kemudian dia duduk di sampingnya. Mobil perlahan melaju. Ale memandang riasan Grace yang tampak kacau. Bunga yang tadi mempercantik wajah Grace sekarang menghilang. Konde yang tadi dikenakan juga tidak ada, menyisakan rambut yang diikat dan keluar dari tatanan.
"Grace...," panggil Ale sambil mengguncang pundak di depannya. Tangannya terulur, menyentuh kening Grace yang terasa hangat dan penuh keringat. "Bangun."
Grace membuka mata lalu memejamkan mata kembali karena rasa pusing yang menyerang. Dia memegang kepala dan merasakan ada benda lain. Sontak dia membuka mata dan melihat senyuman Ale yang membuatnya kian pusing. "Ck! Ngapain?" Dia mendorong tangan Ale dari kepala.
"Udah ditolongin, malah marah."
"Nggak butuh ditolong," jawab Grace sambil bergeser menjauh. Dia memegang tengkuk, berusaha mengingat apa yang barusan terjadi.
"Kamu pingsan." Ale seolah tahu apa yang sedang Grace pikirkan. "Kalau nggak aku tolongin, mukamu udah kena aspal."
"Lebih baik kayak gitu."
"Janganlah, Sayang."
Grace sontak menoleh dan melotot. Bukannya takut, Ale justru tersenyum lebar. Grace membuang muka. Tuhan, aku ada dosa apa?