3-SEHARUSNYA BUKAN DIA

1594 Words
Tak tahu takdir apa yang mengujiku. Tapi mengapa bersamanya takdir seolah menguji kesabaranku? *** "Selamat Grace!" Ucapan selamat tak henti terucap kala Grace membagikan sepucuk undangan. Sejak perbincangan dengan Ernes dua minggu lalu, Grace akhirnya menyetujui menikah bulan ini. Tepatnya satu minggu lagi. "Dateng, ya," ucap Grace sambil memberikan undangan ke teman lainnya. "Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai?" Suasana kantin yang sebelumnya ramai mendadak senyap. Karyawan lain permisi menjauh dan meninggalkan kantin dengan terburu-buru. Merasa ada yang aneh, Grace menoleh mencari tahu penyebab keanehan teman-temannya. Saat menoleh, mata cokelat Grace bertemu pandang dengan mata biru yang terlihat tajam. Senyum yang dari tadi tersungging mendadak mengkerut menjadi segaris. Grace mendengus, pantas saja semua temannya kabur. "Ada apa ini?" Ale mengulang pertanyaan. Dia menatap pegawainya yang perlahan keluar meninggalkan kantin. Ketika baru sampai kantor, Ale merasa bagian sayap kiri kantor jauh lebih ramai dari biasanya. Awalnya dia hanya ingin lewat, tapi saat melihat wanita berkemeja pink berdiri membagikan sesuatu, dia mulai penasaran. "Grace akan menikah, Pak," ucap salah satu karyawan. Grace mencari tahu siapa yang sudah membocorkan semuanya ke Ale. Sebenarnya, dia tidak mengundang bosnya. Dia merasa tidak pantas karyawan seperti dirinya mengundang Ale. Ah, bahkan dia hanya mengundang karyawan sedivisi dan beberapa karyawan lain yang dirasa benar-benar akrab. "Benar kamu mau menikah?" Perlahan Ale mendekat. Ketika berjalan, pandangannya tak pernah lepas memandang Grace dengan tajam dan mengintimidasi. Grace tertunduk ketika bertemu pandang dengan mata biru Ale. Dia menarik napas panjang. Terlebih dia merasa semua orang yang ada di kantin menatap dengan berbagai ekspresi. "Kamu menikah dan nggak ngundang saya?" Wanita berkemeja pink dengan rok span putih itu mengangkat wajah. Dia tersentak ketika sadar Ale berdiri terlalu dekat. Grace menelan ludah gugup. "Emm. Ti..tidaa..kkk." Ale memandang wajah di depannya yang tampak ketakutan. Lalu dia tersenyum. Grace menatap Ale sepenuhnya, penasaran dengan bosnya yang sekarang bungkam. Satu alisnya terangkat, Ale hanya memandangnya sambil tersenyum. Ada apa dengan lelaki ini? "Pak Ale, tamu dari Bandung sudah datang." Tiba-tiba ada suara yang menginterupsi. Ale menoleh ke kiri mendapati Oly berdiri dengan napas terengah. Dia mengangkat tangan kiri, melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. "Suruh tunggu di ruangan saya." Grace diam-diam mengamati bos dan sekretaris itu. Dia bingung harus berbuat apa, ingin pergi tapi jalannya terhalang dengan tubuh Ale. Akhirnya Grace diam saja sambil mengontrol degup jantung karena ketakutan dengan tindakan Ale. "Beliau sudah di ruangan, Pak." "Ya sudah. Bilang, lima menit lagi saya datang," putus Ale sambil kembali menatap Grace yang ternyata menatapnya. "Kenapa lihat saya seperti itu?" Grace tergagap, tidak sadar kenapa terbengong menatap bosnya. Dia buru-buru menggeleng untuk menutupi rasa malu. "Enggak, Pak," elaknya. "Oh ya, bukannya Bapak sudah ditunggu tamu? Sebaiknya Bapak ke sana. Saya juga harus segera bekerja," lanjutnya beralasan. Ale terkekeh mendengar kalimat yang sebenarnya terang-terangan mengusir. Pandangannya lalu tertuju ke tangan kiri Grace. Lantas menarik satu undangan berwarna ungu. "Ini buat saya. Saya akan datang ke pernikahanmu," bisiknya di telinga kanan Grace. Setelah mengucapkan itu dia berbalik. Di setiap langkahnya Ale tersenyum penuh kemenangan. Setelah keluar dari kantin dia menyobek plastik undangan itu. Dia mengeluarkan kartu dan membuang plastiknya sembarangan. Dia tersenyum miring membaca nama mempelai yang tertulis dengan tinta warna emas. Kemudian, dia mendengus mengetahui nama mempelai lelaki. Sedangkan di kantin Grace masih diam di posisinya, masih tidak habis pikir dengan bosnya yang seenaknya sendiri. Padahal, Grace tidak mengundang, malah Ale mengambil undangan itu seenaknya. "Dasar! Tukang paksa!" Grace menghentakkan kaki. Sekarang tidak ada lagi senyum mengembang. Bibirnya mengerucut hanya karena bos tukang paksa itu. *** Malam hari hujan datang mengunjungi bumi. Membasahi tanah kering dan segala kepanasan yang menaungi. Di malam yang masih disertai hujan, seorang lelaki duduk sambil membaca berkas di tangan kanan. Dinginnya udara ditambah dinginnya AC tidak membuat lelaki itu beranjak dari posisi nyamannya. "Sial! Aku nggak akan biarin itu terjadi!" Ale memaki setelah membaca kata demi kata di kertas yang dipegang. Dia melempar kertas itu ke sembarang arah lalu kedua tangannya saling terlipat di belakang kepala. Ale menyandarkan tubuh di sandaran kursi, melemaskan otot punggungnya yang sejak tadi terasa kaku. Sambil mengistirahatkan tubuh, pikiran Ale masih tertuju ke berkas yang barusan dibaca. Dia memutar otak agar hal itu tidak terjadi. Beberapa menit kemudian Ale menegakkan tubuh. Sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan. Walau di sini Ale harus mengorbankan diri. Dia tidak peduli asalkan seseorang itu selamat. *** Hari ini hari yang paling bahagia dan bersejarah bagi Grace. Ya, sekarang adalah hari pernikahan Grace dan Ernes, lelaki yang begitu dicintainya. Sejak tadi telapak tangan Grace terasa basah karena gugup. Tak berhenti di situ saja, sekarang perasaan Grace campur aduk saat berjalan keluar dari ruang make up. Dia beberapa kali menoleh ke Lili teman sekaligus MUA-nya. "Perasaan gue nggak enak," bisik Grace ke Lili. Perasaannya semakin tak keruan. Entah kenapa Grace tidak menginginkan pernikahan ini. Padahal, sebelumnya dia sangat menantikan. Lili menoleh sambil tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Grace semakin erat. "Kena syndrome pranikah." jawabnya lalu terkikik. "Tenang." "Apa maksudnya?" Grace tidak mengerti maksud ucapan Lili. Syndrome pranikah? "Ayo, cepet. Sebentar lagi status lo ganti jadi Nyonya Ernes." Bukannya menjawab, Lili meminta Grace agar berjalan cepat. Kepala Grace terangkat. Dia tersentak saat melihat sebuah gorden cokelat yang menutupi dan ada kursi menghadap ke televisi. Dari kejauhan, Grace bisa melihat ruang tamu rumahnya yang luas mulai dipadati tamu undangan. Sayangnya, di bagian depan kursi pengantin tidak terlihat sosok Ernes. "Dia belum dateng?" tanya Grace kian panik. Lili membantu Grace duduk di kursi. Kemudian dia menunduk, membenarkan rok batik model duyung yang dikenakan Grace. "Gue kan daritadi sama lo. Kalau gue cenayang udah gue kasih tahu dari tadi," ujarnya berusaha bercanda. "Gue serius!" Grace mendengus sambil mengusap d**a. "Gue kelihatan cantik, kan?" "Cantiklah." "Masa? Nggak ada yang kurang, kan?" "Nih!" Lili mengambil kaca kecil yang sebelumnya diselipkan di celana. Dia menyerahkan ke Grace dan wanita itu mengambilnya. Grace menatap wajahnya yang terpoles riasan adat Jawa lengkap dengan paes ageng. Dia menatap bunga mawar putih yang menghiasi bagian samping telinga. Kemudian menatap pentul di atas kepala yang bergerak naik turun. Senyum Grace terbit, merasa dirinya begitu cantik. Matanya terlihat lebih lebar dengan bantuan bulu mata palsu dan eyeshadow bold yang memberi kesan tegas. Bibirnya terlihat memerah dan lebih bulat. Grace menggerakkan bibir lalu tersenyum. Secara keseluruhan, dia suka dengan riasan bold, tetapi tetap tidak membuat wajahnya terlihat tua. Hampir setiap ke kantor, Grace selalu dandan. Dia sempat khawatir karena keseringan make up, orang yang melihat akan biasa saja. Ibarat kata, tidak manglingi. Tetapi setelah dilihat lagi, Grace seperti ratu dengan aura yang terpancar. "Iya, cantik gue." "Gitu dong, tenang!" Lili memeriksa sanggul Grace lalu berdiri di depan pengantin itu. "Semuanya bakal berjalan lancar," bisiknya melihat kekhawatiran Grace kembali menguasai. Grace menunduk lalu jemarinya saling menggenggam. Rasanya khawatir itu kembali muncul dan kian menyiksa. "Tenang-tenang." Grace berusaha mensugesti diri sendiri. "Semuanya bakal lancar." "Duduk sini. Tunggu Ernes." Lili mundur selangkah. "Gue tinggal bentar, ya!" Kemudian dia kembali ke kamar Grace yang digunakan ruang make up. Pandangan Grace tertuju ke layar televisi yang sekarang menayangkan kondisi di luar. Dia melihat teman sekantornya yang berdiri di taman sambil mengobrol. Mereka terlihat cantik dengan gaun yang jelas sudah dipersiapkan khusus. Perhatian Grace lantas tertuju ke sebuah mobil yang terlihat dari celah pagar. Dia melihat ada dua mobil hitam berhenti, kemudian ada seseorang bertubuh besar turun. Grace masih belum menyadari lelaki itu siapa, karena sekarang layar televisi berganti memperlihatkan area ruang tamu. "Duh, Ernes mana, sih?" Grace mengusap perut yang mendadak mulas. Dia mengedarkan pandang dan tidak menemukan ponsel. Lantas dia melihat Lili yang berjalan mendekat. "Ambilin HP gue!" Lili yang hendak mendekat, seketika kembali berbalik. "Ernes nggak mungkin telat, kan?" gerutu Grace. Grace duduk tegak dan menatap televisi. Terlihat bosnya mengenakan kemeja berwarna hitam seperti yang dikenakan ke kantor. Bedanya, aura lelaki itu begitu terpancar. Grace tidak bohong, begitu melihat Ale di layar lelaki itu terlihat begitu tampan. Rambut Ale disisir rapi ke belakang. Berbeda dengan penampilan sehari-hari yang belah samping. Secara penampilan memang tidak jauh berbeda. Tetapi dia merasa, jas yang dikenakan Ale terlihat jauh lebih spesial. "Dia beneran dateng," gumam Grace. "Ck! Kenapa dia mulu yang ditayangin?" Grace mendengus kala kamera terus menyorot ke Ale. Rasa sebal Grace kian bertambah kala Ale duduk di kursi depan pelaminan. "Ck! Dia nggak pernah dateng ke nikahan apa?" Grace hendak berdiri tetapi kakinya terasa lemas. Dia mengedarkan pandang, mencari karyawan wedding organizer untuk mengusir Ale. "Karena mempelai lelaki sudah datang, mari acara segera dimulai." Seorang lelaki berkemeja putih terlihat di layar. Kemudian layar menunjukkan ada lelaki yang lebih tua duduk di hadapan Ale. "Loh... Loh...." Grace panik kala Ale tidak kunjung beranjak. Bahkan tidak ada satu orangpun yang berusaha menarik lelaki itu. "Bukan!" Seketika dia berdiri, hendak menarik Ale dari sana. Ditambah, Ale mulai mengatakan kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. "Eh, mau ke mana?" Lili berlari menghampiri Grace dan memegang pundaknya. "Tunggu bentar, nanti ada aba-aba." "Ada yang salah!" ujar Grace kencang. "Saya Alesandro Andif sebagai mempelai lelaki...." Suara itu kemudian menggema. Grace menggeleng tegas. "Gue nikahnya sama Ernes, Li...." Lili sontak menoleh ke layar setelah mendengar suara itu. Dia yakin tidak salah dengar, jika mempelai lelaki bukanlah nama Ernes. Matanya membulat melihat lelaki tampan yang terlihat berkharisma. "Grace?" "Sah.." Mendengar kata sah Grace terpekik. "Nggak sah!" teriaknya sekuat tenaga. Dia mendorong Lili, mengangkat ujung roknya lantas keluar. "Pernikahan ini nggak sah. Mempelai prianya bukan dia." Semua orang menatap Grace penuh tanya. Pandangannya tertuju ke Ale yang sekarang menoleh dan tersenyum. Kedua tangan Grace terkepal erat. Dia mendekat lalu menampar Ale sekuat tenaga. Plak.... "Selamat datang dikehidupan baru, Grace." Ale justru mengatakan itu setelah mendapat tamparan dari Grace, istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD