Bianca tiba di rumah dengan hati senang dan berbunga-bunga.
Vani mengerutkan dahinya meihat anak gadisnya yang senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu?” tanya Vani
Bianca seketika sadar dan menghentikan senyumnya.
“E-enggak apa-apa kok, ma” jawab Bianca
“Senyum-senyum sendiri kayak habis jadian” ujar Vani
‘Amin’ batin Bianca
“Ih mama, gak gitu kok” ucap Bianca tersipu malu
“Abang kamu mana?” tanya Vani
“Gak tahu tuh ma” jawab Bianca
“Dari pulang sekolah belum pulang-pulang ke rumah” ucap Vani
“Paling di rumah temannya ma” ucap Bianca
“Siapa temannya?” tanya Vani
“Ya siapa lagi sih ma? Paling kak Iki, kak Dimas, atau gak kak Ardhan” jawab Bianca dengan senyuman saat menyebut nama Ardhan
“Coba kamu chat deh abang kamu itu” ucap Vani
“Suruh pulang” sambung Vani
Bianca mengangguk. Bianca segera mengeluarkan handphonenya.
BarbieBianca : Woi pulang!
VeroCantik : Bentar
BarbieBianca : Cepat! Mama udah marah
VeroCantik : Ah mana pernah mama marah sama gue yang imut ini
BarbieBianca : Muntah gue! Cepat pulaaaanggg!
VeroCantik : Lagi di rumah Dimas
BarbieBianca : Gue nyuruh lo pulang, bukan nanya lo lagi ada di mana
VeroCantik : Iya-iya gue pulang
BarbieBianca : Cepat loh ya
VeroCantik : Amaaaaaaaaan
Bianca memasukkan kembali handphonenya ke saku celananya.
“Gimana?” tanya Vani
“Udah mau pulang katanya ma” jawab Bianca
“Lagi di mana abang kamu?” tanya Vani
“Lagi di rumah Dimas” jawab Bianca
Vani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Teman dekatnya tiga doang, gimana sepuluh? Gak bakalan pulang kayaknya abang kamu itu ke rumah” ucap Vani
Bianca tertawa.
“Abang aku berarti anak mama juga” ucap Bianca
“Ya gak mungkin anak tetangga” ucap Vani
Bianca kembali tertawa.
“Aku ke kamar dulu ya ma” pamit Bianca
Vani mengangguk.
“Nanti makan malam keluar kamar ya, jangan di kamar mulu” ucap Vani
“Iya, siap bos” ucap Bianca
Bianca berlari kecil menuju kamarnya, menutup pintu kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Duhh enak banget emang rebahan” ucap Bianca
Bianca mengguling-gulingkan badannya di kasur empuk miliknya.
Drrrtt…. Drrrttt….
Handphone Bianca bergetar, Bianca mengeluarkan handphonenya dari saku celananya dan mengerutkan dahinya saat melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Karena penasaran, Bianca menjawab panggilan tersebut.
“Halo” sapa Bianca
“Siapa ya?” tanya Bianca
“Gue” jawab orang itu
“Iya siapa?” tanya Bianca
“Kent” jawab orang itu yang ternyata adalah Kent
“Lah? Nomor lo kemarin ke mana?” tanya Bianca
“Udah mati” jawab Kent
“Jadi nomor lo sekarang ini?” tanya Bianca
“Iya, simpan ya” jawab Kent
“Oke aman” ucap Bianca
“Eh tugas fisika yang ke enam lo udah gak?” tanya Kent
“Bentar gue cek dulu” ucap Bianca
“Oke” ucap Kent
Bianca memeriksa buku latihan fisikanya dan ternyata ia sudah mengerjakan latihan ke enam itu.
“Oh, gue udah” ucap Bianca
“Fotoin dong, hehe” ucap Kent
“Lo-“
“Lo cantik banget tahu gak kalau kasih gue jawaban latihan ke enam fisika” ucap Kent memotong ucapan Bianca
“Sekali ini aja, hehe” ucap Kent lagi
“Jangan jadi beban ya Kent dalam berteman” ujar Bianca memperingati
“Gue udah pernah ajarin lo Bi. Pelit banget dah!” seru Kent
“Iya-iya maaf, gue foto nanti” ucap Bianca
“Jangan cuma difoto, tapi dikirim ke gue juga dong” ujar Kent
“Iya Kent cantik” ucap Bianca
“Oke, terima kasih Bianca cantik, muachhh” ucap Kent
Setelah mengucapkan itu, Kent memutus panggilan tersebut.
“Muachh mata lo!” seru Bianca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Bianca memfoto tugas tersebut yang terdiri dari sepuluh soal. Setelah itu, Bianca mengirim foto tugas tersebut kepada Kent. Tidak lupa, Bianca menyimpan nomor baru Kent tersebut dengan nama yang sama dengan yang sebelumnya.
Bianca meletakkan sembarang handphonenya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
*****
Bianca keluar dari kamarnya setelah selesai bersiap-siap dengan seragamnya dan tas sekolahnya. Bianca bergabung dengan Vani, Galang dan Vero untuk sarapan pagi.
“Jangan pulang telat lagi” ucap Vani memperingati Vero
“Aku kan main ma” ucap Vero membela diri
“Iya setidaknya pulang sekolah itu pulang ke rumah dulu, atau kabarin kalau emang mau langsung main” ucap Vani
Vero mengerucutkan bibirnya.
“Iya mama cantik” ucap Vero dengan nada imut
Bianca bergidik ngeri mendengar suara yang dibuat-buat oleh abangnya itu.
“Ngapa lo?” tanya Vero saat melihat Bianca
“Geli gue dengar suara lo” jawab Bianca
“Bilang aja lo iri, karena gue imut” ujar Vero
“Apaan! Mana ada ague iri” ucap Bianca tak terima
“Iri bilang bos!” seru Vero
“Masih pagi jangan ribut! Makan aja makanan kalian” ucap Galang melerai
Vero dan Bianca langsung mengangguk paham dan melanjutkan aktifitas makan merekaa.
Beberapa menit berlalu, Bianca dan Vero pamit kepada kedua orangtuanya untuk pergi ke sekolah. Mereka tiba di halaman depan rumah.
“Gue bareng lo ya” ucap Bianca
“Gak mau” tolak Vero
“Kok lo pelit gitu sih?” tanya Bianca
“Kapan-kapan ajalah bareng gue” jawab Vero
“Kapan-kapan tuh kapan?” tanya Bianca
“Ya kapan-kapanlah” jawab Bianca
“Gue bilang papa nih ya” ancam Bianca
Vero memutar bola matanya malas.
“Ya udah ayo!” ajak Vero
“Yeayy!” seru Bianca merasa menang
Vero menyalakan motornya dan mereka pun berangkat ke sekolah bersama.
“Jangan kencang-kencang!” seru Bianca
“Hm” jawab Vero
“Pakai hati lo kendarainnya” ujar Bianca
“Iya loh!” seru Vero
*****
“Tumben lama” ucap Dimas saat melihat Vero yang baru datang ke rooftop
“Iya, lo bilang on the way nya dari lima belas menit yang lalu tapi baru sampai sekarang, biasanya bilang on the way eh tahu-tahunya lo udah sampai” ucap Iki
“Gue pergi bareng adek gue” ucap Vero
“Bianca?” tanya Dimas
“Ya iyalah Bianca! Emang adek gue yang mana lagi?” tanya Vero
Ardhan dan Iki tertawa.
“Ya gue kan cuma nanya” ucap Dimas
“Berasa lima adek gue waktu lo nanya kayak gitu” ucap Vero
“Emang kenapa kalau sama Bianca?” tanya Ardhan
“Gue gak kencang bawak motornya, tapi dia dikit-dikit bilang jangan kencang-kencanglah! Kan gue bawaannya jadi pengen nonjok” jawab Vero
“Oh pantasan lama sampai” ucap Iki sambil tertawa
“Gemas banget gue tadi” ucap Vero
“Sabar” ucap Dimas
Vero mengelus dadanya.
“Lo jadi nembak tuh cewek?” tanya Dimas
“Oh iya! Gue hampir lupa” jawab Vero
“Bisa-bisanya lupa!” seru Iki tak menyangka
“Gue pikun, Ki. Please-lah!” ucap Vero
Iki tertawa.
“Makanya jangan dibiasakan” ucap Dimas
“Gue gak bermaksud membiasakan” ucap Vero membela diri
“Halah gaya lo!” seru Ardhan
“Gue serius” ucap Vero
“Terserah dirimu ajalah” ucap Dimas
“Gue nembaknya gimana ya?” tanya Vero
“Coba tanya sama diri lo sendiri” jawab Ardhan
“Gue gak ada ide. Kasih ide dong om” ucap Vero
“Om kepala lo!” seru Iki
“Kasih gue ide!” ucap Vero
“Kata tolongnya mana?” tanya Ardhan
“Teman-teman, tolong bantu mencari ide untuk teman kalian yang sedang kesusahan ini” ucap Vero
“Nah gitu dong!” ucap Ardhan
“Oke, mana idenya?” tanya Vero
“Gak ada” jawab Ardhan
“Bangke!” umpat Vero
Ardhan tertawa.
“Kita lagi mikir, sabarlah!” seru Dimas
“Tapi ya kalau dia emang suka lo, dia bakalan terima kok, ngasal ajalah nembaknya” saran Iki
“Gue harus beri kenangan indah dong di hari itu” ucap Vero
“Lebay lo! Lihat gue nembak di kantin pas makan langsung diterima” ucap Iki
“Oh iya ya!” seru Ardhan
“Ya makanya yang sederhana ajalah!” seru Iki
“Nah bener!” seru Dimas
“Jadi gue harus nembak dia di kantin pas makan?” tanya Vero
“Ya gak harus pas kayak gue lah!” seru Iki
Bel masuk berbunyi.
“Ah malas banget!” ucap Iki
“Ya udah nanti aja bicara soal itu. Udah masuk nih” ucap Dimas
Mereka mengangguk dan segera menuju kelas.