Selesai mandi, Zeva membaringkan tubuhnya di ranjang, ia memejamkan mata dan berusaha untuk tidak memperdulikan Selina dan Ammar yang mungkin saja masih berada di dapur. Saat matanya hampir terpejam, ponselnya berdering. Zeva berpikir kalau itu adalah Nora, Sekretarisnya. Ia meraih ponsel yang ada di atas meja nakas namun matanya membulat saat mendapati orang yang menghubunginya hampir tengah malam begini adalah Farhat, sang Kakek laknat. Zeva menarik nafas dalam-dalam lalu mengatur suaranya sebelum menerima telepon itu. "Halo, Kakek... " "Besok pagi datang ke rumahku!" "Baik Ke- " Tut... tut... tut... Panggilan terputus begitu saja. Zeva tertegun, jantungnya berdebar. Entah kenapa setiap mendengar suara sang Kakek apalagi sampai bertemu, rasanya keberanian Zeva menciut.

