Axel tidak pernah tahu kalau para Elf juga bisa bertarung dengan sengit seperti saat ini. Axel bahkan tidak yakin bagaimana awalnya hingga kini dia dan Ma-nya terjebak dalam pertarungan Elf dan were di lapangan bola kampusnya. Axel hanya tahu dia tidak bisa melakukan apapun selain bersembunyi dibalik perlindungan sayap Ma-nya sementara Gavriel sibuk bertarung dengan Elf yang ikut menyerang mereka bertiga.
Sejujurnya harga diri Axel terluka karena harus berdiri di balik perlindungan seorang wanita. Terlebih lagi wanita itu adalah Ma-nya, orang yang seharusnya Axel lindungi. Tapi, Axel juga tidak bodoh untuk mengutamakan harga dirinya dan terlibat pertarungan sementara kekuatannya disegel yang bisa saja berakibat lebih buruk lagi. Lagipula Ma-nya hanya berdiri diam dengan sayap terbentang untuk memastikan Axel terlindungi tanpa melakukan hal lainnya.
Dengan pasrah Axel berbalik dan menyandarkan punggungnya di punggung Lily dan menatap langit malam. Bagi malaikat lain, hal seperti yang Axel lakukan saat ini menggambarkan keintiman sepasang kekasih mengingat sayap sama sensitifnya dengan organ-organ sensitif makhluk lain. Namun, Axel dan Lily tahu kalau tindakan itu hanya salah satu ungkapan kepercayaan antara mereka berdua. Axel mempercayakan nyawanya pada Lily, begitu juga sebaliknya.
Desahan napas panjang keluar dari bibir Axel saat punggungnya benar-benar bersandar di lekukan sayap yang keluar dari punggung Lily. Saat itulah Axel menangkap kilau logam melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Axel bahkan tidak tahu kenapa dia tidak berteriak untuk memperingatkan Lily. Yang dia lakukan hanyalah berbalik memeluk punggung Lily, berniat untuk menarik Ma-nya dari jalur panah saat panah itu malah menancap di punggungnya dan membuat teriakan kesakitan lolos dari bibirnya.
Pekikan kecil dibelakangnya membuat Lily berbalik seketika dan memeluk tubuh Axel saat tubuh pemuda itu meluruh ke tanah. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Lily saat itu. Tanpa mengatakan apapun, Lily langsung berteleportasi kembali ke Acasa Manor bersama Axel dalam pelukannya dan meninggalkan Gavriel yang sedang sibuk bertarung begitu saja. Lily bahkan tidak mengucapkan sepatah kata apapun saat dia muncul di ruang santai dengan Axel berbaring di pangkuannya. Panah masih tertancap di punggung Axel dan mengalirkan darah yang cukup banyak untuk membasahi dan mengubah warna kemeja putih yang dikenakan pemuda itu menjadi merah gelap.
Lily memusatkan kekuatan penyembuhnya di telapak tangan kiri saat tangannya yang lain menarik panah secara perlahan dari punggung Axel. Pekik kesakitan yang meluncur dari bibir Axel membuat tangan Lily gemetar. Dia bisa menyembuhkan luka panah itu, tapi Lily tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang terjadi selama proses penyembuhan atau langsung melenyapkan racun yang diyakini Lily terdapat di mata panah. Satu-satunya bagian tubuh malaikat yang mudah berdarah dan mengalirkan darah dengan deras hanya sayap mereka. Tapi saat ini punggung Axel mengalirkan banyak darah meski pemuda itu tidak mengeluarkan sayapnya.
Bahkan dengan kekuatan penyembuhnya yang menghalangi darah keluar semakin banyak dari luka di punggung Axel, bau darah tetap menguar ke seluruh penjuru Acasa Manor yang pasti akan memancing kemunculan klan Libra yang tinggal disana. Setetes darah manusia dapat diketahui oleh mereka, apalagi bau darah malaikat yang dimiliki Axel sangat menggoda bagi para vampir seperti Drugs bagi para pecandu. Tepat saat anak panah itu tercabut seutuhnya dari punggung Axel, Venom sudah berdiri beberapa langkah dari Lily.
“Apa yang terjadi, Lily?”tanya Venom sambil berjalan mendekat dan memperhatikan cahaya lembut yang keluar dari tangan Lily. Cahaya yang membuat jaring-jaring kekuatan saling menjalin di otot dan kulit Axel secara perlahan hingga kembali menutup tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Lily masih meletakkan tangannya di punggung Axel bahkan setelah luka itu tidak terlihat lagi. Kekuatannya masih mengalir dalam jumlah kecil untuk menghentikan peredaran racun dalam tubuh Axel meski Lily yakin kalau hal itu tidak banyak berguna karena meski racun tertentu bisa membuat malaikat mengalami perdarahan hebat, tapi sistem tubuh dan kekuatan alam yang dimiliki para malaikat akan segera beradaptasi dengan racun dan menetralisir racun dengan segera. Hanya saja Lily butuh untuk membantu mempercepat proses itu.
Gemetar tangannya bahkan masih belum reda meski Axel kini telah tenang dan bernapas teratur di atas pangkuannya. Gerakan d**a Axel yang teratur terasa jelas di paha Lily saat bernapas. Tiba-tiba air mata mendobrak dinding pertahan Lily dan membuatnya memeluk punggung Axel sambil menangis. Lily tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Axel terluka lebih parah. Lily sangat menyayangi Axel mengingat dia sudah menganggap Axel seperti puteranya sendiri.
Venom hanya diam disana tanpa bertanya lagi dan memperhatikan anak panah di lantai bergantian dengan pemandangan Lily menangis tersedu di atas punggung Axel. Sebagai seorang dokter di klan Libra, Venom seharusnya memprotes cara Lily mengeluarkan anak panah itu. Anak panah yang menembus punggung Axel berbentuk segitiga bergerigi dengan sudut lancip di kedua sisi yang mengapit batang tengah. Menarik anak panah itu berlawanan dengan arah tusukan hanya akan memperparah luka tembus dan menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut. Tapi hal itu hanya berlaku untuk manusia. Axel malaikat, dan Lily bisa mempercepat regenerasi sel dengan kekuatannya. Sebagai ahli racun dan genetika sel, Venom tahu kalau konsep itu tidak berlaku saat ini dan apa yang Lily lakukan sudah tepat.
“Anjing-anjing itu ternyata lebih lemah dari para Elf.”ujar Gavriel yang melesat masuk ke ruang santai sebelum membeku melihat Lily masih tersedu sambil memeluk Axel. “Apa yang terjadi?”tanya Gavriel cepat sambil melirik Venom dan Lily bergantian.
Venom melayangkan tatapan menegur pada Gavriel yang berhasil membuat Gavriel bergerak resah di tempatnya berdiri. “Aku yang seharusnya bertanya. Kenapa mereka tiba-tiba muncul disini dan Axel terluka?”tanya Venom balik sambil memungut anak panah itu untuk mencari tahu makhluk yang menjadi pemiliknya.
“Aku tidak yakin, Snake. Teriakan minta tolong, gadis yang diperkosa, serbuan sekelompok Elf dan sekawanan anjing. Semuanya berlangsung dalam hitungan detik dan tahu-tahu aku sudah terlibat dalam keributan itu.”gumam Gavriel sambil menyisir rambutnya dengan jari.
Keduanya ingin menghampiri Lily dan bertanya apa yang terjadi. Namun sayap Lily yang juga ikut merengkuh Axel menghalangi mereka berdua. Meski Axel memiliki keistimewaan karena dapat menyentuh sayap Lily sesuka hatinya, tidak ada satupun yang bisa melakukan hal yang sama kecuali Wren.
Energi besar yang mengalir diudara seketika membuat keduanya membeku di tempat mereka berdiri. Venom dan Gavriel tahu kalau Wren pasti sudah merasakan emosi Lily bahkan saat dia berada di pusat kota. Master mereka pasti merasakan ledakan kesedihan yang dialami Mistress mereka. Hanya itu alasannya kenapa Wren muncul Layaknya meteor jatuh dari udara di halaman tengah dan bukannya mengendarai mobil yang tadi siang digunakannya untuk ke pergi Tower.
Venom dan Gavriel memilih menyingkir dan membiarkan master mereka mendekati istri dan anak angkatnya. Kedua vampir itu juga tahu kalau Wren tidak sengaja membiarkan kekuatannya merembes keluar hingga menyebabkan lampu-lampu berkedip karena gangguan listrik. Master mereka itu cenderung tidak bisa mengendalikan kekuatannya saat sedang emosi. Gerakan kecil kepala Venom meyakinkan Gavriel kalau mereka harus segera pergi dari tempat itu.
“Pa is here, Ma. Please, don’t cry anymore.”bisik Axel yang sejak tadi membiarkan Lily menangis di punggungnya.
Lily mengangkat wajahnya yang sembab dan bersimbah airmata untuk menatap Wren. Dengan satu gerakan cepat Wren merengkuh Lily kedalam pelukannya tanpa mengubah posisi Axel yang masih berbaring di pangkuan Lily. Airmata Lily adalah hal yang bisa menyakitinya jauh lebih parah dari senjata manapun di muka bumi ini.
“Berhentilah menangis dan ceritakan padaku.”ucap Wren lembut.
Menyadari kalau nyeri di punggungnya sudah menghilang, Axel bangkit dari pangkuan Lily dan duduk di hadapan keduanya. Dalam wujud manusia, usianya saat ini sudah 22 tahun. Cukup aneh untuk dilihat seorang pemuda dewasa berusia 22 tahun berbaring di pangkuan wanita yang wujud fisiknya berusia 26 tahun. Meski terkadang Axel juga mengabaikan kenyataan itu.
“Tidak terlalu jelas, Pa. Satu kejadian disambung dengan kejadian lain. Semuanya berlangsung cepat hingga rasanya sulit untuk dipercaya aku bisa mengingat semuanya.”ujar Axel dengan suara tenang seolah pekik kesakitan tadi tidak berasal dari dirinya.
“Dimana, Son?”
“Lapangan bola fakultas, Pa.”sahut Axel cepat, “Ma datang menjemputku bersama Gavriel. Kami baru saja keluar koridor saat teriakan nyaring itu terdengar. Kami bergegas ke tempat terdengarnya teriakan. Seseorang sedang memperkosa seorang gadis di pinggir lapangan bola. Orang itu were, dan gadis itu_kata Gavriel_adalah seorang Elf. Belum sempat kami menolong gadis itu, para Elf bermunculan seketika dan langsung menyerang were itu. Kami sudah akan pergi saat Ma mengatakan kalau akan terjadi masalah sebentar lagi tepat sebelum sekawanan were melesat melintasi lapangan bola dan membalas serangan para Elf. Benar-benar kacau, Pa. Were yang merasakan keberadaan Gavriel disana langsung menyerang Gavriel. Begitu juga dengan para Elf. Aku tidak tahu apa alasan Elf menyerang kami tapi yang jelas keduanya menyerang kami sampai aku berbalik dan melihat panah itu mengarah ke Ma.”
Wren mendengarkan penuturan Axel dengan seksama sambil terus memeluk Lily erat. Wren tahu kalau tangisan Lily bukan karena dia takut atas penyerangan atau pertarungan Elf dan were. Lily menangis karena Axel terluka demi dirinya. Ada banyak orang yang akan bersedia terluka demi Lily, terutama anggota klan Libra dan itu semua karena kewajiban mereka untuk melindungi istri Master mereka. Navaro, Aleandro, dan Zac mungkin menjadi orang-orang yang akan bersedia melindungi Lily demi kesetiaan persahabatan mereka pada Wren.
Tapi yang bersedia melindungi dan terluka demi Lily karena cinta?
Tidak banyak.
Dan Axel adalah salah satu dari sedikit orang yang mencintai Lily dan rela berkorban untuknya tanpa memikirkan risiko akhirnya.
“Kau melakukan hal yang berani, Son. Bahkan saat kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu, kau tetap melindungi Lily.”ujar Wren penuh kebanggaan yang tersirat dalam ucapan dan tatapannya saat melihat Axel.
Axel menggeleng pelan. “Kalau aku bisa menggunakan kekuatanku, saat ini, siapapun yang memanah Ma pasti sudah kubunuh. Kami tidak melakukan apapun yang membuat kami pantas untuk diserang. Dan Ma tidak melakukan apapun selain melindungiku.”ucap Axel dingin.
Lily bergerak dalam pelukan Wren dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Axel. “Tidak, Axel. Mereka hanya melindungi kaum mereka dan menganggap makhluk lain adalah ancaman. Bukan salah mereka, Ace.”
“Kau salah, Ma. Kau tidak berhak diserang karena melindungiku. Mereka seharusnya tahu itu.”
“Tidak semua makhluk bisa merasakan emosi lawannya, Son. Hanya predator yang diberkati kemampuan itu. Tidak dengan para makhluk non predator.”ujar Wren cepat. “Aku yang akan mengurus pemilik anak panah itu, Son. Pertama karena menjadikan istriku sebagai sasarannya. Kedua karena siapapun mereka, apapun alasannya, darahmu mengalir karena perbuatan itu. Percayalah kalau aku tidak akan bersikap lembut kali ini, Son. Mereka akan menyesal telah membuatku kesal.”janji Wren sesaat kemudian.
Axel merasakan kemarahan terkendali dalam janji yang diucapkan Wren, karena itulah dia tidak mengatakan apapun lagi dan hanya pamit untuk beristirahat di kamarnya. Meski lukanya sudah sembuh sempurna dan tidak ada rasa nyeri lagi, tapi Axel butuh untuk menjadi dirinya sendiri tanpa segel yang menahan kekuatannya. Kembali ke apartemennya di pusat kota hanya akan membuatnya menjadi manusia biasa.
Apartemen Axel mungkin dilengkapi sistem keamanan tercanggih buatannya sendiri dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan yang dikeluarkan oleh Pisaca Co. Tapi apartemen Axel tidak memiliki selubung perlindungan gaib yang membuat segelnya terbuka. Menurut Wren itu tidak perlu mengingat Axel tinggal di lantai 37. Hanya malaikat yang bisa terbang setinggi itu dan Axel dikenal oleh seluruh malaikat bahkan saat kekuatannya tersegel sekalipun. Vampir mungkin bisa terbang setinggi itu kalau dia sama tua dan sama kuatnya dengan Zac, Sang Anasso, satu-satunya nosferatu yang dikenal. Secara teknis, Axel sudah terlindungi dengan keberadaan unit apartemennya yang nyaris berada di puncak gedung.
“Ke kamar?”tanya Wren begitu Axel sudah menghilang dari pandangannya.
Lily mengangguk pelan dan membiarkan Wren membopong tubuhnya yang lelah secara fisik dan emosi. Namun Wren baru saja berdiri saat Venom muncul di ambang pintu ruang santai. “Kau harus memiliki sesuatu yang penting hingga menahanku disini saat aku ingin ke kamar bersama istriku, Venom.”
“Ya, Sire. Aku mendapatkan informasi siapa pemilik anak panah ini.”ujar Venom cepat.
“Siapa? Kenapa aku merasa kalau aku akan mendengar kabar yang tidak menyenangkan.”
“Ukiran dan mata anak panah ini merupakan desain khusus yang hanya dipakai satu orang, Sire. Sudah lama aku tidak melihatnya dan rasanya cukup aneh kalau orang itu muncul di tengah perkelahian remeh. Tapi orang itu tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh senjatanya atau meniru desainnya.”jelas Venom lalu mengucapkan sederet kalimat dalam bahasa yang tidak dimengerti Lily namun sepertinya dipahami Wren dengan jelas.
“Tristan Ar Sakha.”
“Itukah nama aslinya? Kami mengenalnya dengan julukan ‘Silver Sky’ mengingat butiran cahaya keperakan yang selalu muncul setiap kali dia mengeluarkan sayapnya.”
“Yeah. Dunia sudah melupakan nama-nama asli para predator dan hanya mengingat julukan yang diberikan pada kami.”gumam Wren datar, “Aku akan mengurus masalah ini besok. Kirimkan utusan pada para Elf kalau kita meminta bertemu dengan Pangeran mereka. Kirim juga batang anak panah itu bersama permintaan kita untuk menegaskan kalau pertemuan ini harus berlangsung dengan atau tanpa izin mereka.”lanjut Wren kemudian.
“Bagaimana dengan were, Sire?”
“Minta Alaric untuk datang dan mengambil alih tugas itu. Katakan padanya kalau peringatan diperlukan untuk mengingatkan perjanjian, Alaric mendapatkan izinku untuk melakukannya. Apapun itu.”
Venom meringis tidak suka mendengar perintah lanjutan Wren yang langsung disadari Wren. “Ada apa dengan wajahmu, Venom?”
“Kalau kau memang mengizinkan tindakan disipliner dilakukan pada para were, Sire, aku ingin sekali menjadi orang yang melakukannya.”gumam Venom tanpa menyembunyikan rasa iri dalam suaranya.
Wren terkekeh pelan mendengar ucapan Venom. “Kau akan menyukai tugasmu daripada tugas Alaric, Venom.”
“Apa tugasku, Sire?”
“Kau akan menemaniku bertemu Silver Sky. Senang rasanya membuat mereka ingat apa yang bisa kau lakukan pada mereka seperti yang pernah kau lakukan dulu.”
Venom tiba-tiba menyeringai senang tepat saat Lily menoleh untuk melihat Venom. Kedua matanya yang memiliki iris unik Layaknya ular berbinar dan nyaris bersinar terang. Seringai Venom yang dilengkapi dengan sepasang taring yang memanjang membuatnya terlihat lebih Mirip ular daripada vampir. Sampai sekarang Lily tidak tahu kenapa Venom berbeda dengan vampir lainnya.
“Aku akan menemanimu, Sire.”ucap Venom ringan.
“Ah! Jangan lupa menyimpan mata panah itu, Venom. Kita akan membutuhkannya saat pertemuan berlangsung. Aku ingin melihat wajah Silver Sky saat melihat reaksi darah Axel di mata panah itu. Elf adalah makhluk kedua yang berhubungan dengan malaikat. Mereka sama-sama menggunakan kekuatan alam.”
Lily memalingkan wajahnya ke d**a Wren saat melihat wajah Venom. Lebih dari 5 dekade Lily hidup dan mengenal Venom. Tapi vampir kepercayaan suaminya itu jarang memperlihatkan wajah senang atau penuh nafsu seperti saat ini. Venom selalu terlihat tenang dan terkendali. Berbeda dengan apa yang Lily lihat saat ini. Kalau seorang anak melihat wajah Venom saat ini, anak itu akan bermimpi buruk seminggu penuh.
“Tentu, Sire. Aku pergi dulu.”pamit Venom kemudian.
Seolah tahu kebingungan istrinya, Wren menunduk untuk mengecup puncak kepala Lily. “Venom memang berbeda, amour. Suatu saat kau akan tahu itu.”gumam Wren sambil melangkah menuju tangga ke lantai dua saat gelombang energi besar memenuhi Acasa Manor. “Axel sepertinya benar-benar kesal dengan kejadian ini.”tambah Wren sesaat kemudian dan meneruskan langkahnya menuju kamar mereka di lantai dua.
Lily juga merasakan gelombang kekuatan itu. Firasatnya mengatakan kalau Axel saat ini sedang terbang berkeliling Acasa Manor untuk melepaskan kekesalannya dan juga untuk memastikan kalau sayapnya berfungsi dengan sempurna setelah tusukan panah yang membuat punggungnya terluka.
“Apa yang terjadi kalau Navaro tahu kejadian ini?”
“Navaro sangat teritorial, amour. Kau tahu itu. Terlebih lagi para Elf seharusnya mampu merasakan keberadaan malaikat meski kekuatan Axel tersegel.”
“Apa itu artinya kalau Navaro tahu, dia akan memusnahkan bangsa Elf?”tanya Lily cemas.
Wren mengangguk enggan. “Aku sebenarnya juga ingin memusnahkan mereka, amour. Tapi aku pikir memberi peringatan dulu pada mereka jauh lebih adil, lagipula masalah ini tidak sebesar itu hingga langsung menimbulkan perang. Tapi lain ceritanya kalau kau yang terluka tadi. Mari berharap kalau Navaro tidak tahu masalah ini. Axel terluka saat kekuatannya disegel.”
Lily tidak mengatakan apapun selama semenit penuh. Dengan gamang ditatapnya Wren. “Aku menyembuhkannya disini, Wren. Aku membawa Axel kesini saat panah itu masih tertancap di punggungnya.”bisik Lily pelan.
Wren berhenti mendadak di depan pintu kamarnya sebelum menggeleng pelan. “Kalau memang begitu kejadiannya...”bisik Wren saat mendorong pintu kamarnya hingga terbuka, “Navaro pasti sudah muncul disini. Kekuatan Axel memang disegel oleh Lucifer, tapi Navaro memberitahuku kalau ada segel khusus dalam darah Axel. Bukan jenis segel seperti yang Lucifer lakukan padamu. Tapi hampir seperti yang de Avnas lakukan pada Eliza. Darah Axel terhubung dengan darah Navaro.”