Inggris, 22 Agustus 2020...
“Apa kau sudah selesai mendaftar semuanya, El?”tanya sebuah suara yang langsung membuat Axel mengalihkan pandangannya ke tempat lain selain sosok wanita yang kini sedang duduk di balik meja sambil mendengarkan keNavaro pasiennya.
Perlahan Axel menoleh ke pemilik suara yang mengejutkannya tadi. Seorang laki-laki pertengahan dua puluh yang juga relawan seperti dirinya menatap Axel penasaran. “Ah, tentu saja sudah. Begitu Dr. Wynne selesai, aku akan memberikan laporan ini padanya.”sahut Axel setelah berhasil menenangkan dirinya.
“Bagus. Kau memang baru bergabung disini, tapi kerjamu sangat baik. Jarang ada pemuda seusiamu yang mau menghabiskan waktu luangnya untuk kegiatan sosial seperti ini. Mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan bermain dengan kekasih mereka.”ujar laki-laki itu tanpa menutupi kekagumannya.
Axel meringis mendengar pujian tulus dari rekannya itu. Axel merasa kalau dirinya sama sekali tidak pantas menerima pujian itu sementara alasannya ada di tenda pengobatan massal ini karena Wynne, bukan karena ingin membantu siapapun selain dirinya sendiri. Setidaknya sudah dua kali Axel ikut bersama Leighis, organisasi sosial yang dibentuk oleh Dr. Wynne Flannery, bukan karena jiwa sosialnya melainkan karena sosok Wynne yang selalu ada disana. Axel mendapati dirinya tidak hanya sekedar penasaran pada sosok Wynne, dia benar-benar tertarik dalam artian khusus pada dokter wanita itu dan tidak bisa memaksa dirinya untuk menjauhi Wynne.
“Sudah kuduga.”
Tidak sekalipun Axel bermimpi akan mendengar suara itu disini, terlebih lagi di tempat ini. Axel sangat mengenal suara itu begitu juga dengan pemiliknya. Dan Axel juga tidak pernah berharap akan bertemu dengan pemilik suara itu sekarang. Untuk pertama kalinnya sejak Axel mengenal si pemilik suara, laki-laki itu datang dengan hening dan tanpa tanda-tanda seperti yang selalu dia lakukan sebelumnya.
“Kau tidak bisa menyangkal lagi, kid.”ujar Lucifer sambil memandangi Wynne yang masih sibuk dengan antrian pasiennya meskipun pendaftaran sudah ditutup sejak satu jam yang lalu.
“Grandpa... Apa yang kau lakukan disini?”tanya Axel tanpa berani benar-benar bersuara. Lucifer tidak bisa dilihat oleh siapapun tanpa izin sang malaikat kegelapan. Dan Axel jelas tidak ingin dianggap memiliki gangguan jiwa karena berbicara sendiri.
“Sebenarnya, sejak kau mulai bersekolah di sini, menetap disini dan jarang pulang, aku mulai mengawasimu atas permintaan putriku.”
Fakta itu langsung membuat Axel menelungkupkan wajahnya ke atas meja dan mengerang kuat hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya. Bahkan Wynne sempat melirik Axel bingung sebelum kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri. “Kau tahu semuanya.”bisik Axel tidak percaya dengan apa yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
“Begitulah.”sahut Lucifer ringan tanpa rasa bersalah sama sekali, “Dia wanita yang baik, cantik, dan jelas tidak punya pasangan. Apalagi yang kau tunggu, kid?”
“Aku benar-benar berharap kalau semuanya semudah itu.”
“Buat segalanya menjadi mudah, kid.”
Axel menggeleng pelan. “Aku akan menjalaninya seperti manusia, Grandpa. Tapi aku mohon, jangan beritahu apapun pada siapapun. Wynne memiliki hidupnya. Kalau salah satu dari Dad atau Pa tahu tentang ini, Wynne tidak akan pernah punya kehidupan yang sama. Hidupnya saat ini adalah apa yang dia impikan selama ini. Lagipula, aku tidak yakin Uncle Zac akan menyukai ini. Dia telah menghapus ingatan Wynne tentang malam kami bertemu untuk pertama kalinya.”
“Kau benar, kid. Sebagai orang yang mendapatkan perhatianmu hingga seperti ini, wanita itu pasti akan dipindahkan ke Acasa Manor atau kemanapun yang berada dibawah kekuasaan mereka agar bisa mereka lindungi.”gumam Lucifer setuju, “Ah, ngomong-ngomong soal ingatan, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang benar-benar bisa menghapus kenangan dari kehidupan seseorang. Dengan cara yang tepat, kau bisa membuat wanita itu mengingat pertemuan kalian kembali.”
“Maksudmu kalau Wynne bisa mengingat malam itu kembali?”
“Kalau itu yang kau inginkan.”sahut Lucifer ringan lalu menambahkan dengan cepat, “Tapi tetap harus ada perjuangan, kid. Kau harus benar-benar membuatnya memiliki keinginan untuk mengingat pertemuan kalian. Manusia terkadang memiliki kekuatan yang tidak bisa dibayangkan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Axel terdiam lalu bicara dengan sangat pelan, “Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar ingin dia mengingatnya atau tidak.”
“Apa yang terjadi malam itu sebenarnya?”
“Bukan sesuatu yang penting.”
Lucifer mencondongkan tubuhnya ke arah Axel, “Masih berniat membohongiku meski aku sudah membuktikan kalau hal itu sia-sia?”
Axel tidak menanggapi ucapan Lucifer, dia hanya memperhatikan Wynne selama beberapa saat kemudian sebelum bangkit dan meninggalkan Lucifer seorang diri. Kekehan kecil Lucifer hanya membuat Axel semakin kesal karena dirinya benar-benar buruk dalam berbohong. Apalagi dengan bodohnya dia mencoba membohongi Lucifer, eksistensi dari awal segala dosa dan keburukan.
***
Inggris, 7 Oktober 2020...
Wynne menatap Axel seolah pemuda itu memiliki tanduk di kepalanya. Tapi siapapun yang mendengar apa yang Axel ucapkan beberapa saat yang lalu pasti akan bereaksi sama dengan Wynne. “Itu tidak mungkin, El. Bolougne itu kapal paling aman. Karena itu harganya tiketnya juga luar biasa.”
“Tidak. Jangan pergi. Aku tidak bisa mengatakan bagaimana aku bisa tahu, tapi aku tahu. Bolougne akan mengalami masalah, tidak akan ada yang selamat, Wynne. Karena itu kau tidak bisa pergi.”
Wynne mencondongkan tubuhnya ke arah Axel dan mengecup pipi pemuda itu sekilas. “Kau hanya cemas. Tenang saja, aku hanya seminggu di Paris, setelah itu aku langsung kembali ke Oxford, oke?”
“Kenapa tidak menggunakan pesawat saja?”
“Dan membuang tiket itu begitu saja?”
“Kau tidak membeli tiket itu.”
“Itu dia masalahnya. Tiket itu diberikan untuk anggota Leighis. Hanya karena kau tidak bisa ikut ditengah jadwal ujianmu, bukan berarti kita harus membatalkan semuanya. Ini kesempatan untuk mencari donatur, El. Leighis akan dikenal banyak orang dan ada lebih banyak lagi yang bisa kita bantu dari hasil acara ini.”
Axel mengutuk dalam hati dengan kebohongannya pada Wynne. Tidak ada ujian disekolahnya minggu ini. Ujian itu sudah selesai hari ini. Tapi Axel berjanji pada kedua orang tuanya untuk kembali ke London begitu ujiannya selesai. Sialnya, hari itu bertepatan dengan jadwal keberangkatan Leighis untuk menghadiri acara Anniversary sebuah perusahaan lokal Oxford yang ingin melibatkan organisasi sosial demi popularitasnya di mata masyarakat. Axel juga tidak mungkin mengatakan kalau ujiannya tiba-tiba dibatalkan.
“Berjanjilah untuk mengabariku kalau terjadi sesuatu.”
Wynne terkekeh geli mendengar ucapan Axel dan mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Axel. “Aku janji, kiddo.”ucap Wynne saat tangannya dicengkram oleh Axel dengan cukup kuat.
“Aku bukan anak-anak, Wynne. Aku tidak tahu kenapa kau menganggapnya sebagai lelucon. Tapi sekali lagi aku bilang kalau aku peduli padamu karena aku mencintaimu.”ucap Axel serius lalu menarik pergelangan tangan Wynne hingga tubuh Wynne menabrak tubuhnya sendiri, “Aku pikir anak-anak tidak akan melakukan ini.”tambahnya kemudian sebelum mencium Wynne dengan rakus.
Wynne tahu kalau Axel selama ini tulus dengan ucapannya. Tapi perbedaan usia mereka dan latar belakang Axel yang tidak jelas lah yang membuat Wynne meyakinkan dirinya sendiri kalau Axel hanya mengucapkan lelucon. Axel adalah pemuda SHS yang berusia 17 tahun sedangkan Wynne adalah seorang dokter perempuan berusia 28 tahun. Perbedaan usia mereka terlalu jauh untuk menjalin hubungan apapun. Meski hidup di zaman serba modern, tapi Wynne masih menganut paham kalau dirinya tidak boleh berhubungan dengan pemuda yang jelas-jelas masih bersekolah seperti Axel. Tidak hanya itu saja, kenyataan kalau selama dia mengenal pemuda itu, Axel tidak sekalipun menyebut tentang keluarganya membuat Wynne curiga. Axel bersekolah di salah satu SHS terbaik di Oxford dengan biaya yang luar biasa. Wynne juga tahu kalau Axel memiliki mobilnya sendiri dan pulang pergi dari London-Oxford setiap harinya. Axel bahkan cukup sering membayarkan makanan anggota Leighis lain saat mereka berkunjung ke panti asuhan setiap akhir bulan. Dengan semua pengeluaran dan gaya hidup Axel yang luar biasa, Wynne yakin kalau Axel berasal dari keluarga kaya raya. Tapi tidak sekalipun pemuda itu menyebutkan sesuatu tentang keluarganya.
Dan sekarang saat Axel menciumnya di tempat umum seperti ini, segala pertimbangan itu mendadak lenyap. Meski dengan sangat tiba-tiba, tapi bibir yang menempel di bibirnya saat ini terasa begitu lembut dan hangat. Wynne sudah lama tidak berkencan dengan laki-laki dan tidak satupun dari laki-laki yang dulu pernah berhubungan dengannya mencium Wynne dengan kelembutan luar biasa seperti yang Axel lakukan. Wynne sudah akan membalas ciuman Axel saat hujan tiba-tiba mengguyur mereka. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Wynne mendorong d**a Axel hingga pemuda itu menghentikan ciumannya. Wynne yakin kalau wajahnya pasti merona dan bibirnya bengkak dengan intensitas ciuman Axel saat ini.
“Jangan buat aku membencimu, El.”bisik Wynne sambil menunduk, berharap rona wajahnya segera menghilang.
Axel menarik Wynne ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu dengan erat. “Jangan berbohong padaku. Kau tidak membenciku, Wynne. Setidaknya bukan itu yang kau rasakan saat ini. Aku tidak memintamu membalas perasaanku saat ini juga, aku hanya minta jangan pernah menganggap aku anak-anak saat aku benar-benar mencintaimu seperti yang bisa dirasakan laki-laki pada wanita yang memenuhi hatinya.”
“El...”
“Tidak, tidak. Jangan katakan apapun lagi. Kau bilang kau akan segera berangkat, bukan? Pergilah. Hanya saja jangan lupa untuk mengabariku kalau terjadi sesuatu. Aku pasti akan datang untukmu.”
“El...”
Axel melepas pelukannya dan mengecup dahi Wynne lembut. “Naiklah ke kapal. Barang-barangmu sudah disana.”ujar Axel tepat sebelum melepaskan tangannya dari tubuh Wynne.
Wynne hanya menatap Axel selama beberapa detik sebelum bergegas menaiki tangga kapal dan segera berteduh diatas kapal mewah yang akan membawanya menyebrangi Selat Channel menuju Perancis. Dan tidak sekalipun Wynne pernah membayangkan kalau itu adalah kali terakhirnya bertemu dengan anggota Leighis yang lain. Karena beberapa belas jam kemudian saat mereka berada di tengah-tengah perairan dalam, mesin kapal tiba-tiba meledak. Para penumpang mulai berhamburan kemana-mana untuk menjauhi sumber ledakan. Kapal mewah Bolougne itu perlahan mulai tenggelam. Wynne bahkan tidak bisa menemukan ponselnya untuk menghubungi Axel. Hal terakhir yang bisa dia lakukan adalah membisikkan nama Axel dan juga ucapan cintanya untuk pemuda itu.
***
Kehadiran dua sosok dihadapannya saat ini membuat Axel terdiam.
Setelah acara pribadinya dua hari yang lalu lengkap dengan dua malam dihantui mimpi kenangan masa lalunya, Axel harus menyelesaikan apa yang ditinggalkannya hari itu. Mimpi itu membuatnya memilih untuk tidak tidur keesokan harinya yang beruLiamg dengan kacaunya semua pekerjaan Axel di Pisaca maupun proyek kuliahnya. Proyek kecil untuk salah satu dosen di kampusnya. Hari ini dia memang pulang lebih larut dari biasanya karena harus mengerjakan sesuatu di kampusnya. Teman-teman sekelasnya yang lain sudah pulang lebih dulu beberapa jam yang lalu. Dan saat ini, Axel bersyukur karena hal itu meski dia tadi sempat menggerutu dalam hati. Kalau teman-temannya yang lain masih ada di kelas bersamanya sampai saat ini, mereka akan histeris melihat Gavriel ada di kampus bersama seorang wanita yang tidak lain tidak bukan adalah Lily.
Entah sejak kapan Gavriel beralih profesi dari pengawal pribadi Lily menjadi artis terkenal yang berada di bawah naungan Pisaca Ent, salah satu cabang dari Pisaca Co yang bergelut di bidang hiburan. Dan ada banyak fans Gavriel di kampus Axel. Hebatnya, meski menjadi artis yang sedang naik daun, Gavriel masih menjalankan tugasnya menjadi pengawal Lily karena Lily tidak mau membawa orang lain, dan Gavriel juga tidak ada masalah dengan keinginan Mistress mereka itu. Axel tidak bisa membayangkan bagaimana cara Gavriel membagi waktunya antara pekerjaannya di dunia hiburan dan tugasnya mengawal Lily dengan semua fans yang selalu mengikutinya setiap hari. Jadi, kehadiran Gavriel dengan wanita saat ini di depan pintu kelas Axel bisa dipastikan akan mengundang skandal dan gosip yang mungkin beredar dalam kurun waktu kurang dari 5 menit sejak kemunculan Gavriel.
Dan itu baru akan terjadi kalau saat ini masih ada orang lain di lingkungan Imperial College selain Axel.
“Aku tidak tahu kalau kalian akan datang. Ada apa, Ma? Apa ada masalah?”tanya Axel sambil membereskan PC dan benda-benda elektronik lain yang berserakan di atas mejanya.
Lily tersenyum melangkah masuk ke dalam kelas Axel. “Tidak, Ace. Tidak ada masalah apapun. Aku hanya kebetulan lewat saat pulang dari Tower, dan merasakan keberadaanmu disini. Kenapa kau belum pulang?”
“Ada yang harus kuselesaikan, Ma. Sedikit proyek dari dosen dan pekerjaan kantor. Peralatan di kampus cukup lengkap untuk mengerjakannya sebelum aku membawanya pulang dan melakukan finishing.”
“Sudah selesai?”
Axel mengangguk pelan. “Aku baru saja akan bersiap pulang saat kalian muncul.”sahut Axel tenang.
“Kalau begitu ayo kita pulang bersama. Aku akan mengantarmu pulang.”
“Mobilku?”
“Gavriel yang akan membawanya. Sudah lama kita tidak berkendara berdua, Ace.”ujar Lily sambil mengedipkan sebelah matanya.
Axel menangkap maksud lain dari permintaan Ma-nya itu. Ada beberapa hal yang sama-sama mereka suAleandro. Salah satunya adalah mengebut di jalanan London tanpa menggunakan kendali otomatis. Lily pernah bercerita kalau sejak dilarang Wren membawa kendaraan sendiri karena selalu menabrakkannya ke benda mati manapun yang pertama kali dijumpainya, Lily belajar diam-diam untuk mengemudi setiap kali Wren tidak dirumah dengan mengancam Gavriel atau anggota klan Libra manapun yang ada di Acasa Manor saat itu.
Hasilnya?
Lily menjadi ahli mengemudi hingga kini saat semua kendaraan memiliki kendali otomatis, Lily tidak perlu menggunakannya. Dia bahkan cukup ahli melaju di antara kepadatan lalu lintas darat maupun mid-air. Karena itu kalau ada waktu, Axel dan Lily suka berkendara berdua untuk melepas stress ataupun untuk mengerjai polisi patroli lalu lintas. Setidaknya hingga saat ini keduanya belum pernah tertangkap atau dituntut karena menyebabkan kekacauan lalu lintas. Kenyataan yang setidaknya bisa membuat mereka tidak dikurung oleh Wren di Acasa Manor karena berurusan dengan polisi.
“Baiklah, Ma. Sepertinya aku juga butuh sesuatu untuk menghilangkan stres.”ujar Axel setuju saat menyandang ranselnya dan berjalan keluar kelas bersama Lily dan Gavriel. Dan Axel benar-benar berharap adrenalin akibat kecepatan tinggi bisa membuatnya melupakan kenangan-kenangan yang menghantuinya selama beberapa hari terakhir. “Ini kunci mobilku, Gavriel. Di tempat biasa.”tambah Axel kemudian sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Gavriel saat mereka melintasi lorong kelas Axel.
Axel baru menginjakkan kakinya di tanah tepat di luar gedung saat Lily berhenti mendadak di hadapannya. Axel mungkin akan menganggap itu bukan suatu keanehan kalau saja Gavriel tidak berhenti di saat yang bersamaan dan menoleh ke arah yang sama.
Lapangan bola kaki.
“What happened, Ma?”tanya Axel tepat sedetik sebelum sebuah teriakan nyaring memecah keheningan malam di Imperial College.
Axel tidak lagi membutuhkan jawaban untuk pertanyaannya. Mereka bertiga langsung melesat secepat mungkin menuju lapangan bola tempat suara itu terdengar. Axel yakin kalau mereka tidak menghabiskan banyak waktu mengingat jarak antara tempat mereka berdiri dengan lapangan bola hanya sekitar 100 meter. Tapi, tetap saja mereka datang terlambat. Dibawah salah satu pohon tidak jauh dari lapangan bola, tiga orang laki-laki sedang memperkosa seorang gadis yang berteriak memohon pertolongan.
Axel tidak mengucapkan apapun saat melewati Lily dan Gavriel untuk bergegas menolong gadis itu. Teriakan putus asa gadis itu membuatnya tidak bisa tinggal diam. Namun baru setengah jalan menuju tempat gadis itu berada, sekelebat bayangan melintas dan menghantam ketiga laki-laki itu seketika. Axel terdiam di tempatnya dan hanya menyaksikan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan bingung. Ketiga laki-laki itu terpental cukup jauh dari si gadis saat bayangan-bayangan yang menghantam ketiganya berubah menjadi wujud 3 orang laki-laki berambut pirang sebahu, bertelinga lancip, dengan sayap tipis di punggung mereka. Salah satu dari mereka segera menolong si gadis dan membawanya pergi.
“Elf.”gumam Gavriel yang sudah berdiri di depan Axel saat Lily tiba di sisi kanan Axel.
Belum sempat Axel atau Lily mengucapkan sesuatu, bayangan lain menghantam Gavriel dengan kuat walau tidak berhasil membuat vampir itu roboh. Dua orang Elf menyerang Gavriel begitu saja yang membuat Gavriel refleks membalas serangan tiba-tiba itu. Dan disaat yang sama sekelompok were mulai berdatangan. Pertarungan antara Elf dan were pun tidak terelakkan lagi.