Wynne.
Entah berapa lama perhatian Axel terpaku pada sosok Wynne yang sibuk dengan arus manusia di ambulance hingga ia merasakan tepukan ringan di bahunya dan menoleh hanya untuk mendapati Lucifer menatap ke arah yang sama dengannya. Seketika Axel mengalihkan pandangannya meski tahu itu sia-sia.
“Cantik.”gumam Lucifer sambil mengangguk singkat.
“Hah?”
“Dia wanita yang cantik.”
“Apa maksudmu, Grandpa?”
“Wanita itu, kid. Sejak tadi kau tidak memperhatikan jalannya festival. Kau hanya terpaku pada wajah cantik manusia itu. Dan dia memang cantik. Aku paham kenapa kau tertarik padanya.”
“Kau salah paham, Grandpa.”
Lucifer menatap Axel sejenak sebelum menggeleng pelan. “Perisai mentalmu tidak sekuat itu, kid. Aku bahkan bisa melihat segala yang kau pikirkan tanpa harus berusaha menembus perisai yang kau bangun. Kalau ingin berbohong padaku, lakukan setelah kau berhasil menciptakan perisai mental yang lebih kuat.”
“Kau melihatnya?”
“Ya.”
“Tapi bagaimana mungkin? Aku memiliki perisai terkuat diantara malaikat seusiaku.”
“Berarti yang lainnya bahkan tidak memiliki perisai untuk isi kepala mereka.”gumam Lucifer sinis, “Ngomong-ngomong, apa ayahmu tahu tentang ketertarikanmu ini?”
“Astaga... Aku hanya tertarik saja, Grandpa. Dad tidak perlu tahu dan ini jelas bukan masalah besar.”
Sekali lagi Lucifer mengulurkan tangan dan meremas bahu Axel pelan, “Nak, kau bisa membohongi seluruh dunia termasuk ayahmu, tapi kau tidak akan pernah bisa membohongiku.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Grandpa. Aku benar-benar berharap kalau ini hanya ketertarikan biasa. Bagaimanapun dia hanya manusia. Manusia biasa.”gumam Axel lirih sebelum memaksa dirinya untuk berhenti memperhatikan Wynne dan menikmati pemandangan kembang api yang masih terus meledak dalam butiran cahaya di udara.
“Aku mengerti.”gumam Lucifer tidak kalah pelan dan kembali ke sebelah Lily sebelum menarik putrinya dari rangkulan Wren agar dia bisa mendominasi putrinya.
“Wynne.”bisik Axel lirih.
Tanpa sadar sebulir air mata menetes dari mata birunya yang indah. Dengan sigap Axel menghapus jejak kesedihan itu dan menguatkan hatinya. Inilah alasan kenapa Axel menyendiri di tanggal yang sama setiap tahunnya.
Axel tidak pernah menangis.
Axel tidak pernah menangis di hadapan siapapun. Di Regnum Angelorum, Axel di anggap sebagai satu-satunya malaikat yang tidak memiliki emosi negatif. Dia selalu menunjukkan kebahagiaan dan keceriaan. Tidak seorangpun yang boleh mengetahui rahasianya ini, bahwa saat usianya masih sangat muda dulu, Axel Arisaka de Oidhre pernah jatuh cinta pada seorang manusia dan menjadi lemah karenanya.
Saat itu Axel sama sekali tidak mengetahui alasan kenapa wanita bernama Wynne itu tidak bisa hilang dari pikirannya sejak malam pertama Axel melihat wanita itu. Meski kekuatannya disegel, Axel tahu kalau Wynne hanyalah manusia biasa. Kali kedua melihat wanita itu di festival kembang api di tepi Sungai Thames membuat Axel memutuskan untuk mencari tahu tentang wanita itu. Meskipun begitu, tidak ada yang tahu tentang perasaan Axel kala itu.
“I miss you, Wynne.”bisik Axel lagi yang kali ini memutuskan untuk memaksa dirinya mengemudi menuju Oxford. Tempat dimana wanita yang dicintainya berada.
***
“Ini yang ke tujuh, Javas.”ujar Liam, salah satu malaikat kepercayaan Javas yang masih tergolong malaikat muda namun sudah memiliki keahlian Layaknya malaikat dewasa lain yang tergabung dalam berbagai kelompok elit.
Javas mengamati PC yang diletakkan Liam di atas mejanya. Di dalam PC itu, terlihat potret seorang gadis cilik berambut pirang madu terlihat sedang tertawa ke arah kamera. Wajahnya sangat bahagia dan bersinar. Tapi kini Javas dan Liam tahu kalau sinar itu telah padam. Gadis cilik itu tidak bisa tertawa bahagia seperti itu lagi. Seseorang sudah memadamkan jiwa tak berdosa gadis itu. Dan tugasnya lah untuk mencari tahu siapa orang atau makhluk itu sebelum masalah yang lebih besar muncul dan mengacaukan keseimbangan seluruh dunia.
“Data apa yang kau dapatkan?”tanya Javas datar.
Liam menggeleng lemah. “Tidak banyak, Javas. Meski zaman sudah berkembang dan teknologi semakin maju, hanya sedikit sekali orang yang memasukkan silsilah keluarganya ke dalam berkas umum. Aku hanya bisa menyelidiki sampai dua generasi sebelumnya dan tidak menemukan apapun.”
“7 anak-anak lenyap begitu saja, Liam. Dan tidak seorangpun yang memiliki kesamaan dengan yang lain selain usia mereka yang masih muda. Ketujuhnya berada di belahan dunia yang berbeda, keluarga dengan latar belakang berbeda, ras yang berbeda, dan masih banyak perbedaan lainnya. Tapi seperti yang El Rey katakan, aku juga mencurigai sesuatu dari kasus ini, Liam. Pasti ada hal penting yang membuat 7 anak itu hilang. Pasti ada satu kesamaan dari mereka semua. Kita malaikat, Liam. Kita harus bisa menyelidikinya lebih baik.”
“Aku harap tidak ada, Javas. Karena kalau ada, itu artinya ada pihak yang sengaja melenyapkan mereka untuk tujuan tertentu. Dan kalau itu benar, maka tidak ada hal baik yang berawal dari hilangnya anak-anak yang tidak bersalah, Javas.”
Javas mengangguk setuju.
Keduanya terdiam selama beberapa saat untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Bahkan di dunia malaikat sekalipun, anak-anak tidak boleh menjadi korban keegoisan orang dewasa. Tidak ada alasan kenapa hal itu tidak berlaku di dunia manusia.
“El Rey dan Mistress merasakan sesuatu terhadap kasus ini, Liam. Entah kenapa aku yakin kalau mereka pasti memiliki hubungan tertentu. Lakukan apapun untuk mencari tahu semuanya. Tapi yang paling penting yang harus kau lakukan adalah pastikan apakah mereka sanguine mixta atau tidak. Satu yang kutemukan adalah sanguine mixta dari seorang shaman. Dan akan sangat buruk kalau mereka semua adalah sanguine mixta.”
“Kau yakin?”
“Aku harap tidak. Tapi aku merasa kalau kita akan mendapatkan kejutan tentang hal itu.”
Liam menatap Javas sejenak. “Terkadang firasatmu sebagai anggota cadre membuatku takut. Kau jauh lebih baik dalam menebak sesuatu dibandingkan anggota cadre yang lain, sir. Kau yakin kalau kau bukan keturunan Seraphim?”tanya Liam seenaknya hanya karena Javas memiliki kemampuan yang unik dalam menebak sesuatu. Mirip dengan kemampuan Seraphim membaca masa depan setiap makhluk.
“Katakan hal itu di depan Kairav dan dia akan memberikan pola baru di sayapmu. Lagipula Seraphim tidak berpasangan. Dia tidak memiliki keturunan.”
Liam langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Javas. “Kau tidak mungkin mengumpankanku pada Kairav, bukan? Kau masih membutuhkanku sebagai angel hunter. Kau tidak mungkin melakukan itu untuk mencari kesenangan.”
“Tentu saja tidak. Setidaknya sampai aku menemukan seseorang yang sama bergunanya denganmu. Sampai saat itu tiba, aku tidak akan mengumpankanmu pada Kairav meski dia sangat ingin memilikimu dalam kelompoknya.”
“Dan ak-“
“Dia tidak akan menyerahkanmu pada Kairav meski Kairav meminta proklisi.”ujar sebuah suara yang berhasil membuat keduanya serentak berdiri dan mengangguk sopan saat mendapati Navaro ada di antara mereka tanpa mereka sadari sedikitpun.
“Kau tidak mengatakan apapun kalau ingin datang, El Rey.”ujar Javas sambil menyingkir dari kursinya dan membiarkan Navaro mengambil alih tempatnya.
“Entah kenapa aku hanya ingin datang ke sini, Javas. Kekuatanmu memenuhi Royal Tower sehingga kau bahkan tidak bisa merasakan keberadaanku. Kendalikan kekuatanmu agar tidak ada yang bisa menebak suasana hatimu. Saat musuh tahu apa yang kau rasakan, maka saat itu kau sudah berada dalam cengkraman mereka.”ujar Navaro datar, “Vic menemukan satu korban lagi yang menghilang, Javas. Remaja lelaki, sanguine mixta, membawa darah Ramla, Raja Imp pertama dalam tubuhnya. Meski remeh, tapi dia memiliki kemampuan untuk mengubah wujudnya menjadi wujud manusia lainnya Layaknya dilahirkan kembar. Kekuatan yang Mirip dengan yang dimiliki para keturunan Lilith. Dan sudah menjadi rahasia umum kalau Lilith membenci para Imp.”
Liam dan Javas saling bertukar pandang dengan tidak percaya saat mendengar ucapan Navaro. “Sulit dipercaya. Dimana Vic menemukannya, El Rey?”tanya Javas cepat.
“Suhaj. Salah satu kota tua di pinggir Sungai Nil.”sahut Navaro datar.
Javas berjalan mondar-mandir di hadapan Navaro. Tanpa sadar membiarkan sayapnya muncul dan menyapu lantai saat pikirannya sibuk bekerja. “Kuriko Yamamoto... Dan anak ini... Mereka berdua sanguine mixta, El Rey.”ucap Javas saat ingatannya kembali pada nama anak perempuan yang ditemukannya di Jepang.
“Aku juga menyadari hal itu. Karena itu aku sudah mengirim yang lain ke seluruh daerah tempat korban-korban itu ditemukan. Aku belum bisa meminta bantuan malaikat lain sebelum memastikan siapa yang ada dibalik ini semua dan siapa yang mungkin menjadi kaki tangannya. Regnum Angelorum bisa gempar kalau aku salah mengambil tindakan pencegahan.”
“Kalau begitu siapa yang akan tetap di Inggris kalau aku pergi malam ini? Kau bilang yang lainnya sudah pergi berpencar.”tanya Javas cepat saat membayangkan kalau Inggris tidak memiliki malaikat pelindung.
“Leela tetap di tempatnya. Dia juga yang akan mengawasi Axel untukku.”
Javas menatap Navaro sejenak saat kemungkinan itu melintas dalam pikirannya. “Kau tidak mungkin berpikir kalau Oidhre akan menjadi salah satu sasaran, bukan?”
“Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa memastikan hal itu, Jav.”
“Oidhre bukan sanguine mixta, El Rey.”tolak Javas cepat.
“Oidhre lahir saat Mistress sudah menjadi malaikat.”tambah Liam kemudian. Dan meski bukan anggota cadre, tapi Liam cukup sering berinteraksi dengan Axel di Regnum Angelorum, setiap kali malaikat muda itu datang ke pusat pendidikan, dan Liam mengagumi malaikat muda itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Navaro mengangguk setuju.
Apa yang Javas dan Liam katakan memang benar. Axel memang lahir setelah Navaro mengubah Eliza menjadi malaikat. Kandungan Eliza saat itu sangat lemah, begitu juga dengan kondisi fisik Eliza. Tak terhitung berapa kali Eliza dibawa ke rumah sakit saat Navaro tidak ada karena mengalami perdarahan. Satu-satunya hal yang bisa Navaro lakukan adalah mengubah Eliza menjadi malaikat saat masih mengandung Axel dalam rahimnya. Pilihan yang sangat berisiko karena ada dua kemungkinan yang bisa terjadi saat itu. Eliza akan melahirkan Axel saat sudah menjadi malaikat dan membuat anak yang dilahirkannya otomatis menjadi malaikat atau kemungkinan terburuk, Eliza bisa kehilangan bayi dalam kandungannya karena tidak pernah ada malaikat yang diciptakan sebelumnya dan tidak ada yang tahu apakah saat itu Axel memang sudah membawa bakat malaikat dalam tubuhnya atau perubahan ibunya lah yang membuat Axel turut menjadi seorang malaikat. Lagipula Axel adalah putera Cerubhim. Hanya makhluk-makhluk putus harapan yang berani melukai putera Cerubhim dan menerima murka sang malaikat.
“Tapi tetap tidak ada salahnya melakukan pencegahan. Axel tetap membutuhkan Leela untuk melindunginya selama di bumi. Kekuatannya tersegel.”
“Kekuatan Oidhre disegel?”tanya Liam dan Javas bersamaan.
Mereka tidak tahu hal itu karena setiap kali mereka berkunjung ke Dragoste Hall atau setiap kali Axel berkunjung ke Regnum Angelorum, malaikat pewaris darah Cerubhim itu jelas memancarkan kekuatan yang sangat dahsyat untuk usianya yang masih muda. Jadi fakta kalau ternyata kekuatan Axel disegel sangat mengejutkan mereka.
Navaro mengangguk kembali. “Ya. Segel Axel memang tidak aktif saat berada di Dragoste Hall atau di Regnum Angelorum. Namun diluar itu, kekuatannya tersegel sepenuhnya. Dia hanya bisa menggunakan kekuatannya untuk membedakan aura setiap makhluk.”
“Astaga!”seru Liam spontan lalu menunduk malu saat Navaro menatapnya datar.
“Untuk apa, El Rey?”tanya Javas tanpa bisa mengubur rasa ingin tahunya karena malaikat dengan kekuatan tersegel tidak ada bedanya dengan manusia lemah.
“Agar dia tidak menggunakan kekuatannya tanpa sengaja. Kekuatan Axel belum stabil, Javas. Dan dia hidup di dunia manusia. Makhluk fana sangat sensitif terhadap kekuatan kita.”
Javas terdiam.
Dia tahu hal itu sama seperti malaikat lain. Kekuatan yang tidak stabil bisa muncul keluar kapan saja tidak peduli sekecil apa pemicunya. Bahkan kekuatan itu bisa meledak keluar dan menyebabkan kehancuran pada lingkungan sekitar meski si pemilik kekuatan tidak akan terluka sama sekali. Javas kini paham kenapa kekuatan Oidhre mereka disegel sampai seperti itu. Sebagai putera dari pasangan Cerubhim dan Oracle, Axel memiliki kekuatan yang sangat besar dan masih belum tertebak apa bakat bawaan yang dimiliki oleh malaikat muda itu. Berbahaya sekali kalau membiarkan malaikat dengan kekuatan sebesar itu tinggal di antara manusia tanpa tindakan pencegahan.
“Apa Leela saja sudah cukup, El Rey?”
Untuk pertama kalinya sejak bergabung menjadi anggota cadre, Javas melihat Navaro benar-benar tidak menyembunyikan perasaannya. Malaikat Tinggi itu terlihat lelah dengan seluruh beban yang dipikulnya saat ini. Navaro bahkan mengusap wajahnya dan menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaan Javas.
“Aku benar-benar tidak tahu, Javas. Aku ingin aku-lah yang berada disana untuk melindungi puteraku saat bahaya mengancam keselamatannya. Tapi ada tugas yang harus aku dahulukan dan ini membuatku frustasi.”
“Anda bisa berada disisi de oidhre kapanpun yang anda inginkan, El Rey.”
“Dan meninggalkan apapun yang sedang kulakukan?”tanya Navaro cepat. “Kalau saja Seraphim masih berada di curianya dan bukannya menghilang tanpa jejak dan tanpa pesan seperti ini, ya, aku bisa meninggalkan Regnum Angelorum kapanpun yang aku inginkan.”
Keheningan merebak seketika begitu Navaro selesai bicara.
“Tapi aku yakin kalau mereka akan menjaga puteraku seperti mereka menjaga anak mereka sendiri.”
“Para vampire?”tanya Javas tanpa sadar.
“Ya. Para vampire dan putri Lucifer.”gumam Navaro pelan.
***
Inggris, 14 Juli 2020...
Sudah seminggu berlalu sejak British Summer Festival berakhir dan sudah seminggu juga sejak Axel mendapatkan izin kedua orangtuanya untuk tinggal di London dan hidup diantara manusia dan makhluk lainnya. Axel memilih bersekolah di salah satu SHS swasta di Oxford sebagai Axel Arisaka, siswa yang mendapatkan beasiswa penuh hingga akhir SHS-nya. Pilihannya untuk bersekolah di luar London namun tetap tinggal di Harrow karena Axel ingin menghindari kekuasaan Klan Libra sejauh yang dia bisa. Mengingat pusat kekuasaan Klan Pa-nya itu ada di London, maka sekolah di luar London jelas pilihan terbaik. Meski itu masih bisa dibilang mustahil mengingat Inggris Raya-lah yang menjadi cakupan wilayah kekuasaan Klan itu.
Hanya saja ada hal yang tidak pernah Axel duga sebelumnya. Di Oxford, Axel kembali bertemu dengan Wynne. Dan wanita itu tidak mengingat apapun tentang malam dimana mereka berdua nyaris menjadi santapan para vampir bodoh. Hal itu bukannya membuat Axel kehilangan ketertarikannya pada Wynne, tapi malah membuatnya semakin penasaran dengan wanita itu. Axel bahkan memilih untuk berangkat lebih pagi dan pulang lebih larut agar dia bisa mengikuti keseharian Wynne di Oxford. Waktu tempuh London-Oxford yang memakan waktu hingga 2 jam sama sekali tidak menghalangi niatnya itu. Axel ingin memastikan kalau dia hanya penasaran terhadap wanita itu dan bukannya ketertarikan serius seperti yang Lucifer pikirkan.
“Kau yakin tidak ingin pindah kesana atau sekolah disini saja?”tanya Lily entah untuk keberapa kalinya sejak beberapa hari yang lalu sejak Axel memutuskan untuk tinggal di luar kota.
Axel tersenyum menatap Ma-nya yang saat ini duduk di hadapannya di dalam rumah kaca. “Tentu saja, Ma. Tidak ada masalah. Lagipula kalau aku bersekolah disini, orang-orang mungkin akan curiga melihatku. Dari beberapa tahun lalu, aku tidak menua sama sekali. 2 jam pantas dikorbankan untuk menghindari semua kecurigaan itu.”
“Sejak ayahmu sudah memberikan izin. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa padamu agar kau mengubah keputusan itu.”
“Tidak perlu, Ma. Aku baik-baik saja dan suka bersekolah disana. Dunia manusia jauh berbeda dengan duniaku, Ma. Meski di sana aku juga pergi ke sekolah, tapi hanya Tania yang menjadi pengAdamar. Aku bahkan sudah mengingat semua sejarah kami yang Tania Ajarkan.”
“Kau memang mewarisi kekeras kepalaan ayahmu.”gumam Lily sambil membiarkan kekuatannya memenuhi rumah kaca dan membuat bunga-bunga bermekaran tidak peduli kalau bunga itu baru saja Wrenu.
Axel hanya terkekeh mendengar gerutuan Lily. Lagipula, Ma-nya itu bukan orang pertama yang mengatakan kalau Axel menuruni sifat ayahnya. Axel bukan tanpa alasan mendapatkan gelar de oidhre. Setidaknya sebagai de oidhre, Axel juga mewarisi kekeraskepalaan ayahnya yang sangat terkenal itu.
Dari luar, pemandangan yang saat ini terlihat di dalam rumah kaca nyaris seperti fantasi. Axel ikut melepaskan kekuatannya dengan kontrol luar biasa saat kekuatan itu bermanifestasi menjadi butiran cahaya. Butiran cahaya keemasan bertebaran di dalam sana dan menimbulkan efek luar biasa mengingat kekuatan Lily baru saja membuat bunga-bunga bermekaran. Setiap butiran cahaya yang jatuh ke tanah membuat tunas-tunas tanaman baru bermunculan.
Keduanya hanya terdiam kemudian. Mereka menikmati keheningan menenangkan itu tanpa niat untuk berdebat lebih jauh. Dan Axel jelas merasa lega karena dia tidak harus berbohong pada wanita di sampingnya saat ini karena alasan Axel bertahan di Oxford tidak lagi berhubungan dengan kekuasaan Klan Libra atau fakta kalau tidak ada satupun anggota cadre ayahnya disana. Alasan Axel bertahan di Oxford kali ini jelas sudah berubah.
***
Zagiel menutup kediamannya dari kunjungan siapapun.
Pertemuan antara Adramelech dan Belial beberapa hari lalu membuatnya ketakutan. Iblis tidak takut pada apapun. Apalagi untuk iblis dengan kedudukan seperti dirinya. Belial benar-benar akan melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya. The Fallen itu bahkan tidak peduli kalau dia akan melanggar lebih dari seratus peraturan dan menantang seluruh ras di alam semesta. Yang membuat Zagiel semakin tidak percaya adalah fakta kalau Adramelech dengan senang hati membantu Belial setelah kesepakatan mereka. Kesepakatan yang membuat Zagiel ingin melarikan diri dari Belial saat itu juga kalau tidak memikirkan hukuman apa yang akan didapatkannya dari Belial atas tindakan pengecut itu.
Zagiel mengibaskan tangannya ke udara dan sebentuk cermin air muncul di hadapannya. Di dalam cermin itu terlihat pemandangan di bumi. Sebuah kota yang diminta Belial untuk terus diawasi. Zagiel tidak bisa menolak perintah itu atau melarikan diri dari Belial. Meski The Fallen itu tidak keluar dari curianya, Belial mampu menyeret Zagiel tanpa bersusah payah.
“Apa yang akan dia lakukan kalau tahu Tuanku merencanakan semua ini?”bisik Zagiel saat mengenang satu sosok iblis lain yang bisa membuatnya bersujud memohon ampun tanpa harus menerornya seperti yang Belial lakukan.
Tapi mengingat sosok itu tidak pernah menunjukkan wujudnya di dunia para iblis sejak berabad-abad lalu, Zagiel memutuskan kalau teror Belial jauh lebih menakutkan. Apa yang tidak terlihat tidak bisa membuatnya ketakutan. Dan dengan pikiran itu, Zagiel memutuskan akan membantu Belial untuk mendapatkan semua keinginannya.