Lucifer terdiam sejenak.
Setelah sekian lama dia muncul di hadapan Lily, putrinya baru mengajukan pertanyaan itu hari ini. Dia berusaha memikirkan jawaban yang tidak akan melukai hati putrinya. Tapi entah kenapa Lucifer tahu kalau kebohongan apapun tidak pernah lebih baik daripada satu kejujuran. Dan walaupun Lucifer tidak akan pernah ketahuan saat berbohong, dia tidak ingin melakukannya pada Lily. Putrinya itu berhak mendapatkan apapun yang dia inginkan setelah selama ini Lucifer meninggalkannya di tengah-tengah manusia untuk bertahan seorang diri.
“Tidak, i kori. Ada banyak Nephilim yang merupakan bagian diriku di luar sana. Tapi yang bertahan hidup hingga saat ini hanya kau, Lily, dan tidak ada lagi setelah kau. Hanya kau yang harus tetap hidup tidak peduli apapun yang terjadi.”
“Kenapa? Kalau kau begitu melindungiku selama ini hingga melakukan segalanya agar aku bertahan hidup, kenapa kau tidak melakukan hal yang sama pada yang lain? Kenapa yang lain tidak bisa bertahan?”
“Karena mereka diburu seperti dirimu dan aku tidak peduli pada mereka. Dan karena... hanya ibumu-lah yang kucintai. Karena kau adalah putri ibumu. Dan karena aku mencintaimu, I kori.”
Sekali lagi Lily terdiam.
Dia sudah menduganya. Tidak ada hal lain selain cinta dan kemurkaan yang bisa membuat seorang laki-laki_apapun spesiesnya_bertindak diluar kebiasaannya. Dan karena selama ini Lucifer selalu bersikap sangat baik hati padanya, Lily tahu kalau The Fallen itu mencintai ibunya. Tidak ada hal lain yang lebih indah dibandingkan mengetahui kalau ayahnya mencintai ibunya. Namun mendengar langsung dari mulut ayahnya tetap saja memberikan efek khusus pada Lily. Dan meski Lily juga tahu kalau Lucifer mungkin saja menyayanginya, tapi baru kali ini The Fallen itu mengucapkannya langsung.
“Walaupun begitu, kenapa kau tidak melindungi mereka juga? Mereka anakmu. Kalau kau memang tidak menyayangi mereka, kau seharusnya tidak berhubungan dengan siapapun sampai memiliki anak. Kau tidak adil pada mereka, Dad.”
“Tidak ada satupun di dunia ini yang lebih penting daripada kau dan ibumu. Salahku lah kenapa ibumu meninggal. Aku bisa memaksanya untuk mengambil jalan keabadian. Tapi setelah itu ibumu akan membenciku dan aku tidak bisa terus hidup dengan menanggung kebencian dari orang yang kucintai. Kalau kematian bisa membuatnya bahagia, aku akan melepaskannya, karena bagaimanapun juga darahku dan darahnya mengalir dalam tubuhmu. Satu-satunya orang yang membuktikan eksistensi dari wanita yang kucintai. Karena itu aku menjagamu, karena kau adalah putri kami. Dan jangan memintaku untuk bersikap adil. Aku malaikat kegelapan, i kori. Aku diusir dari langit karena sifat-sifat burukku. Adil adalah salah satu sifat baik, dan aku tidak memilikinya, i kori.”
“Kenapa kau tidak membesarkanku sendiri kalau kau begitu mencintai Mom?”
“Sekali lagi, Lily, salahku kenapa kau bisa hidup seperti itu. Janjiku pada ibumu membuatku melepaskanmu pada manusia yang bisa membesarkanmu dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ibumu ingin kau mengenal kehidupan manusia, besar dengan lingkungan normal. Dia juga membuatku berjanji untuk tidak ikut campur dalam hidupmu selama itu tidak membahayakan nyawamu. Lagipula... Kalau aku yang membesarkanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk berpasangan dengan penghisap darah, i kori. Bahkan aku mungkin tidak akan membiarkanmu berpasangan dengan siapapun. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang pantas menjadi pasanganmu. Masa ini akan jauh berbeda kalau aku melakukan hal itu pada masa lalumu. Aku akan sangat posesif padamu. Kau mungkin tidak akan pernah keluar dari Palacio de la eternidad.”jelas Lucifer tanpa keraguan sedikitpun.
“Kenapa kau menyelamatkanku saat itu? Kau bisa saja membiarkanku mati sebagai manusia, Dad. Dan mungkin pilihan itu tidak terlalu buruk.”
“Kau, Sayangku, tidak akan pernah benar-benar menjadi manusia. Darahku mengalir di tubuhmu, keabadianku adalah bagian dari setiap hembusan napasmu, kekuatanku ada dalam setiap jengkal tubuhmu. Meski aku menyegel darah dan kekuatanmu agar kau terlihat sama seperti manusia lainnya selama ini, tapi kau tidak akan pernah bisa sama dengan mereka. Dengan ibumu, aku memilih membiarkan kematian mengambilnya dariku karena aku tidak sanggup menahan kebenciannya padaku kalau aku membuatnya abadi. Tapi denganmu segalanya berbeda.
Kala itu, aku masih memikirkan kebahagiaan ibumu. Aku juga belum pernah kehilangan. Namun saat kehilangan ibumu, aku tidak percaya ada duka dan luka yang begitu dalam untuk kutanggung. Aku tidak pernah membayangkan akan merasakan penderitaan sebesar itu. Berpikir kalau aku kehilangan orang yang kucintai dua kali sudah membuatku ingin menghancurkan dunia. Aku tidak sanggup, Lily. Bahkan kalau kau membenciku saat ini, aku akan hidup dengan itu selama aku masih bisa melihatmu berdiri disini. Lebih daripada itu, kematian jauh lebih buruk untukmu. Kau tidak akan bisa kemana-mana dengan darahku mengalir dalam tubuhmu, i kori. Satu-satunya tempat yang bisa kau tuju saat kematian menghampirimu adalan Dunia Bayangan, ShadeZone. Secara fisik kau mewarisi terlalu banyak gen ibumu, tapi secara psikis, kau nyaris memiliki apa yang ada pada diriku, i kori. Dan aku senang dengan kenyataan itu. Dengan semua kekuatan itu, kau tidak akan mudah dilukai siapapun.”
Lily mencerna penjelasan Lucifer dengan seksama. Ayahnya benar. Kalau ayahnya tidak menyelamatkannya, Lily tidak akan pernah hidup bersama laki-laki yang dicintainya hingga saat ini. Kalau Lucifer tidak menyelamatkannya, Lily tidak akan pernah mengenal kebahagiaan bersama Wren. Setidaknya keegoisan ayahnya membuat Lily bertemu dengan orang yang dicintainya.
“Aku tidak membencimu. Tidak pernah. Aku hanya tidak terbiasa pada awalnya. Aku dibesarkan sebagai yatim piatu dan tidak memiliki apa-apa. Tiba-tiba memiliki ayah setelah usia dewasa membuatku tidak nyaman. Lagipula beberapa tahun belakangan ini, aku menyukai kehadiranmu disisiku, Dad. Kau memberikanku segalanya yang selalu dilakukan oleh seorang ayah. Kau menebus waktu-waktu yang kulalui sendiri dengan selalu ada disisiku setiap kali aku membutuhkanmu seperti saat ini.”
Lucifer tersenyum lega.
Wajah tampan sosok manusia yang digunakannya membuatnya terlihat lebih muda daripada Lily saat sang malaikat kegelapan tersenyum. Dan untungnya Lily memiliki darah Lucifer dalam tubuhnya karena kalau tidak, senyum Lucifer sudah cukup untuk membuat wanita mana saja yang mengenal kata ‘bercinta’ melemparkan diri pada Lucifer dan mengemis agar malaikat itu mau memuaskan hasrat liar mereka.
“Aku senang mendengarnya. Aku benar-benar bahagia kau menerimaku menjadi bagian hidupmu, i kori.”ucap Lucifer lembut, “Ah! Aku punya sesuatu untukmu.”
Lily memutar bola matanya saat mendengar kalimat terakhir Lucifer. “Hadiah lagi? Tidak. Wren bisa merajuk kalau kau memberiku kekuatan lagi, Dad. Aku lelah harus selalu bertengkar dengannya hanya karena kau tidak bisa melihat suamiku bahagia, Dad. Dan aku bahkan belum bisa mengendalikan kemampuanku untuk tidak menghancurkan apapun yang kusentuh saat sedang kesal.”
Kekehan pelan meluncur dari bibir Lucien saat dia menggeleng. “Tidak. Bukan kekuatan secara langsung.”sahutnya ringan lalu meletakkan telapak tangan kanannya di d**a kirinya lalu menarik sesuatu yang menyerupai tinta hitam ke udara.
Selama sedetik penuh Lily tidak bisa menebak apa yang Lucifer lakukan. Tinta hitam itu melayang di udara dan perlahan berubah menjadi air jernih yang kemudian membentuk sosok seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun dengan ciri fisik yang unik. Kalau saja selama beberapa tahun terakhir Lily tidak hidup dengan para makhluk legenda yang selama ini hanya bisa ditemukan dalam dongeng, maka dia pasti akan menganggap kalau apa yang Lucifer lakukan saat ini hanyalah trik sulap sederhana.
“Dad?”
“Ini hadiahku untukmu, i kori.”ujar Lucifer merujuk pada bocah laki-laki berambut biru cerah dengan wajah pucat itu. Kuku-kuku jarinya panjang dan runcing. Saat menatap Lily, bocah itu tersenyum dan memperlihatkan sepasang taring runcing di sela-sela bibirnya. Bola matanya sangat aneh. Tidak ada iris disana. Alih-alih lingkaran iris, seluruh bola mata bocah itu berwarna biru. “Leviathan, ini Lily, putriku. Mulai saat ini kau akan menjaganya untukku. Kau akan melindunginya dari apapun yang mengancam keselamatannya.”
“Kyria Lily?”ucapnya dengan suara yang begitu jernih sambil menatap Lily dengan bola matanya yang unik seolah ada kolam air berwarna biru didalam kedua mata itu. Karena setiap kali bocah itu berkedip, ada gelombang di dalam matanya.
Lucifer mengangguk lalu menatap Lily, “Ini Leviathan. Kau bisa memanggilnya Lev atau apapun yang kau suka. Dia akan menjagamu mulai saat ini setiap saat. Kapan kau membutuhkannya, kau tinggal memanggilnya. Jadi kalau vampir-mu pergi lama seperti ini, kau punya seseorang untuk menemanimu_walau aku akan lebih senang kalau kau memanggilku untuk menemanimu.”
“Dan ‘siapa’ dia sebenarnya, Dad? Taring itu? Warna itu...”
“Tidak. Dia bukan vampir, i kori. Leviathan dikenal juga sebagai monster laut. Salah satu makhluk kuno yang sangat setia padaku.”
“Kau memberikan monster untuk penjagaku, Dad?”tanya Lily tak percaya mendengar penjelasan Lucifer tentang siapa Leviathan sebenarnya.
“Leviathan tidak berbahaya untukmu, Sayang. Seluruh ras-nya terikat sumpah setia pada darahku. Mereka juga tidak bisa dibunuh oleh orang yang tidak memiliki darahku atau senjata yang tidak dibuat dengan darahku. Tapi dia bisa melukai siapapun, bahkan malaikat sekalipun. Dengan kata lain, Leviathan itu penjaga terkuat untukmu.”
“Dan bagaimana dia bisa menjagaku dengan sosok anak kecil seperti itu, Dad?”
“Kyrios, apa Kyria Lily baru saja mengatakan kalau aku anak kecil?”tanya bocah itu sambil menatap Lucifer penuh tanda tanya tapi tidak ada kesan sombong dalam wajah mungil itu.
Lucifer tersenyum lalu mengelus kepala Leviathan lembut, “Pergilah bermain.”ujar Lucifer pelan yang langsung disambut dengan anggukan antusias oleh Leviathan.
“Benarkah? Sas efcharisto, Kyrios.”seru Leviathan riang, lupa dengan kekesalannya akan ucapan Lily, lalu menghilang begitu saja dari tempatnya berdiri.
“Dia juga teleporter?”
“Ya, Lily. Dan untuk menjawab pertanyaanmu tadi, Leviathan akan bersamamu dalam setiap waktu dalam bentuk tato di tubuhmu. Kalau kau ingin dia keluar, maka dia akan keluar. Namun selama kau tidak memerintahkannya, dia akan tidur di tubuhmu. Dia tidak bisa melihat selama berada di tubuhmu, dia juga tidak bisa mendengar. Tapi dia bisa merasakan emosimu dan merespon setiap emosi tersebut dalam bentuk telepati, i kori.”
“Kau bercanda, Dad!”
“Panggil dia. Perintahkah dia kembali padamu. Buktikan Lily.”bujuk Lucifer dengan senyum penuh percaya diri di wajah tampannya.
Lily menatap Lucifer penuh spekulasi. Dia tahu kalau Lucifer tidak akan membahayakan dirinya, tapi Lily juga tahu kalau ayahnya itu suka sekali melakukan hal-hal yang pada akhirnya akan membuat Wren murka. “Kau tidak melakukan ini untuk membuat Wren kesal, kan, Dad?”tanya Lily lagi, berusaha memastikan kalau apapun Leviathan itu, tidak akan membuat suaminya kesal. Lucifer dan Wren punya hobi untuk saling membuat kesal kedua belah pihak dengan segala cara.
Lucifer bukannya kesal karena diragukan, dia malah terkekeh mendengar pertanyaan penuh tuduhan dari Lily. Dengan lembut diusapnya kepala Lily, “Nay, i kori. Tentu saja tidak. Aku sudah lama ingin memberikan hadiah ini untukmu. Tapi saat itu kau belum mengerti bagaimana mengendalikan kekuatanmu dan aku tidak terlalu percaya pada makhluk di sekelilingmu.”
“Kenapa sekarang?”
“Karena kekuatanmu mulai stabil, dan karena aku tidak ingin kau bersedih saat melihat vampir lainnya memiliki keturunan dengan pasangan mereka sementara kau tidak. Karena dibalik semua senyumanmu itu, ada banyak kesedihan yang kau sembunyikan dari dunia.”
Lily menggeleng cepat. “Aku tidak bersedih, Dad.”
“Kau bisa membohongi suamimu, dunia dan bahkan dirimu sendiri. Tapi kau tidak bisa membohongiku. Kau tidak mungkin membohongiku, Nak.”
Keduanya terdiam sejenak hingga Lily akhirnya memecah keheningan. “Kenapa aku tidak bisa memiliki anak, Dad?”tanya Lily lirih.
“Bukan salahmu. Darahku lah yang menyebabkan ini semua. Aku dikutuk untuk bisa memiliki anak sebagai keturunanku. Namun tidak satupun dari Nephilim-ku yang bisa memiliki keturunan. Itu salah satu alasan kenapa aku tidak peduli pada keturunanku yang lain. Tapi sekali lagi, kau berbeda. Maafkan aku karena apa yang harus kau tanggung saat kau tidak tahu apapun tentang takdir yang kau bawa.”
“Apa hanya kau The Fallen Angel yang membawa kutukan itu, Dad?”
“Hanya aku. Untuk memastikan kalau tidak akan ada dosa-dosa lain yang lebih banyak berkeliaran di muka bumi.”bisik Lucifer penuh penyesalan.
Lily terdiam.
Penjelasan singkat Lucifer membuatnya terkejut. Sebagian diri Lily ingin sekali menyalahkan Lucifer atas semua ini. Menyalahkan sang malaikat kegelapan karena dia-lah Lily tidak bisa memiliki keturunan, bukan karena pasangannya adalah vampir. Namun bagian lainnya memahami segala yang terjadi. Walau bagaimanapun Lucifer adalah Malaikat Yang Terbuang. Satu kutukan tidak berarti tidak akan ada kutukan lainnya. Lucifer hanya menjadi dirinya sendiri, dan lebih daripada itu, dia menyesal atas takdir yang terpaksa Lily bawa sebagai salah satu Nephilim Lucifer.
“Aku ingin menyalahkanmu atas semua ini, Dad. Tapi aku juga tahu kalau kau bersedih untukku.”gumam Lily pelan.
Disampingnya, Lucifer mendesah lega karena satu-satunya makhluk yang dicintai dan dipedulikannya mengerti akan keadaannya dan tidak menghakiminya. Meski Lucifer tidak pernah sekalipun menyesali takdirnya, tapi jika berkaitan dengan Lily, Lucifer selalu merasa bersalah. Putrinya terlalu baik untuk menjadi keturunan seorang Malaikat Kegelapan sepertinya. Lily terlalu pemaaf dan terlalu berjiwa besar lebih daripada malaikat biasa. Sedetik kemudian, baik Lucifer maupun Lily sama-sama terkejut saat merasakan aura petarung menguar memenuhi Acasa Manor. Lily mengenal aura ini dan dengan cepat menatap ayahnya kesal.
“Bahkan aku belum menyiapkan pembelaan untuk ini, Dad.”gumamnya kesal dan langsung berteleportasi ke halaman depan diikuti dengan Lucifer.
Lily dan Lucifer muncul di sisi lain fountain halaman depan dan menemukan Wren dan Leviathan sudah dalam posisi siap untuk saling menyerang. Wren bahkan sudah menggenggam Theos Spathi di tangannya. Seolah menyadari kehadiran istrinya, Wren langsung menoleh dan menggeram kesal sekaligus senang saat melihat Lily.
Wren selalu kesal dengan kehadiran Lucifer, namun dia tidak bisa memungkiri kalau dirinya lega melihat Lily baik-baik saja sementara ada monster kuno sedang berenang telanjang di air mancur halaman rumahnya. Bahkan tanpa bertanya apapun Wren tahu kalau monster biru di hadapannya ini ada hubungannya dengan kehadiran malaikat penganggu yang berdiri di belakang istrinya dengan senyum lebar di wajahnya.
Itu bukan kejutan pertama yang Wren dapatkan sejak pertama kali bertemu dengan monster biru kuno itu. Kali kedua adalah yang lebih parah. Wren sedang mengumpulkan para vampir kepercayaannya di Acasa Manor saat Lily melepaskan Lev untuk bermain di kolam berenang indoor rumah mereka mengingat kecintaan makhluk biru itu pada air. Alaric dan yang lainnya tidak tahu kalau Lev adalah makhluk kuno milik Lily, langsung menyerang monster itu karena menganggapnya musuh. Lev jelas tidak terima waktu bermainnya di ganggu oleh segerombolan vampir balas menyerang Alaric dan yang lain. Alaric jelas bukan lawan yang sepadan untuk monster sekuno Leviathan. Begitu Wren menyadari keributan yang terjadi, dia segera menuju kolam renang hanya untuk mendapati kalau para vampirnya yang kuat dan bisa diandalkan untuk mengalahkan satu klan vampir sudah terkapar tak berdaya dengan tubuh basah dengan Lev melayang di atas mereka siap mengeluarkan apapun dari mulutnya.
“Hentikan! Hentikan!”teriak Wren yang cukup berhasil menahan Lev untuk tidak memuntahkan apapun yang ada di dalam mulutnya dan membuat anak buahnya menjadi menu santap malam seketika.
Leviatan menoleh menatap Wren tidak suka, “Lev tidak menerima perintah dari penghisap darah. Lev hanya menerima perintah dari Kyrios dan Kyria.”ucap Leviathan yang sanggup menebarkan udara dingin menusuk ke seluruh penjuru kolam renang.
Meski tidak merasakan perubahan suhu, tapi udara dingin yang disebabkan oleh Lev berhasil membuat para vampir di ruangan itu gemetar. “Lily! Amour cepat kemari!”teriak Wren lagi mengingat mereka tidak memiliki kemampuan telepati, tetapi emosi mereka terikat dengan cara paling unik dalam suatu hubungan, yang bahkan melebihi telepati.
Hanya butuh sedetik hingga Lily berteleportasi dan muncul di sebelah Wren mengenakan bathrobe kamar mandi. “Ada apa?”tanya wanita itu kesal karena mandinya terganggu.
“Tolong ‘simpan’ kembali Leviathan. Alaric dan yang lain butuh pemulihan.”ujar Wren cepat sambil menunjuk para vampir kepercayaannya.
Lily langsung mengikuti arah tangan Wren dan terkesiap melihat apa yang terjadi. “Apa yang kau lakukan, Lev?”
“Mereka mengganggu Lev bermain, Kyria.”ucap Lev dengan nada anak kecil sedang merajuk.
Lily menggeleng tidak percaya. “Kembalilah, Lev.”panggil Lily sambil mengulurkan tangannya ke arah Leviathan.
Lev menatap Lily tidak suka namun tetap terbang rendah ke arah Lily dan kemudian berubah menjadi wujud tinta yang kemudian membentuk tato naga kembali di lengan Lily. “Lev tidak tahu kalau mereka itu vampirmu, Sayang. Kalau dia tahu, dia tidak akan melakukannya. Lev sangat baik dalam mematuhi perintah.”ucap Lily setelah Lev kembali ke tubuhnya.
Wren menatap istrinya tidak percaya saat mendengar alasan itu. Terkadang Lily menang sering menganggap sesuatu hanya masalah kecil. Dan sejak itu juga Wren sebisa mungkin menjauhkan klan-nya dari istrinya. Wren tidak tahu kapan istrinya yang cantik namun tidak pedulian itu akan melepaskan hadiah Lucifer dan benar-benar menjadikan para vampirnya sebagai Sup Vampir.
“Ngomong-ngomong soal ayah, aku tadi ingat saat Lev pertama kali bertemu dengan yang lainnya. Lev juga pernah bilang kalau dia suka bermain dengan Alaric tapi Alaric tidak pernah lagi datang berkunjung kalau aku ada di rumah.”ujar Lily ringan.
“Untuk ukuran vampir tangguh dan master dari barisannya, Alaric sangat takut bertemu dengan bocah biru itu, amour. Jangan membuat vampir-vampirku terkena serangan jantung dengan mengeluarkan Lev ditengah-tengah mereka lagi.”
“Vampir tidak bisa terkena serangan jantung, Sayangku. Jangan berlebihan. Lev tidak sejahat itu.”
“Itu ungkapan paling tepat untuk menggambarkan betapa terkejutnya mereka dengan kehadiran Lev, amour. Lagipula, aku tidak menemukan orang lain selain dirimu yang menyukai makhluk itu.”
Lily memeluk lengan Wren penuh cinta sambil tersenyum lebar. Dia tahu hal itu. Tapi Lily tidak bisa berjanji tidak akan mencoba melakukannya lagi. Lagipula sudah 40 tahun berlalu sejak Alaric dan yang lainnya bermain bersama Lev. Mungkin saja kalau kali ini mereka sudah bisa membiasakan diri dan bisa berteman dengan Lev, termasuk dua malaikat yang kini sedang berlatih cukup jauh dari mereka. Lily tidak menginginkan apapun lagi dalam hidupnya selama dia bisa bersama-sama dengan orang-orang yang dia kasihi.
***
Belial bersandar di singgasananya.
50 tahun berlalu sejak dia terbangun dari tidur panjangnya. Namun, kekuatannya masih sangat lemah bila dibandingkan dengan kekuatan asli yang dibawanya ketika diusir. Beberapa minggu terakhir Belial baru merasakan kekuatannya meningkat dengan perlahan seiring dimulainya persembahan untuk kebangkitannya. Belial butuh beberapa waktu lagi dan lebih banyak persembahan korban sampai mencapai kekuatan puncaknya dan dia bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan kebangkitannya. Mereka butuh persembahan dengan syarat khusus kali ini kalau ingin kekuatannya terkumpul kembali. Belial sudah menunggu saat-saat seperti ini. Sudah terlalu lama dia tertidur di ShadeZone.
Terlalu lama.
Dia sudah berada disana sejak berusaha merebut kembali posisinya sebelum akhirnya tunduk di bawah Imanuel serta sepasukan Archangel dan dikurung di ShadeZone selama lebih dari 2 milenia. Belial tidak bisa melupakan masa-masa itu. Tidak akan pernah bisa. Saat dimana dia dipermalukan oleh Imanuel dihadapan para Dewan Malaikat lainnya_termasuk saudaranya sendiri, meringkuk gemetar karena kekuatannya yang surut selama berada di ShadeZone, bahkan tidak punya kekuatan untuk meminta bantuan pada saudaranya, tidak punya keberanian karena saudaranya juga ikut andil dalam pengusirannya.
ShadeZone adalah tempat untuk mengurung makhluk-makhluk tak berbentuk dan mereka yang tidak mempunyai medium untuk ditempati. Segala kekuatan akan menjadi netral di dalam ShadeZone. Siapapun yang sudah masuk ke dalam ShadeZone tidak akan bisa keluar kecuali ada yang membantu dari luar. Namun Belial berhasil keluar tanpa bantuan siapapun setelah mencoba selama lebih dari dua milenia.
“My Lord.”ucap seorang pria bertubuh besar dengan tato rumit di sepanjang lengan kirinya. “Kita menemukannya.”
Binar kepuasan langsung mewarnai wajah pucat Belial yang bengis. Belial adalah satu-satunya malaikat yang memiliki wajah penuh bayangan kejahatan bahkan sejak berada di Regnum Angelorum. Wajah yang akan menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang pernah melihatnya.
“Bagus. Terus awasi dia dan cari dimana keberadaan Adramelech saat ini. Dia masih anak-anak, dan Adramelech sangat menyukai anak-anak. Kita akan mengirimkan Adramelech untuknya.”
“My Lord,”cicit pria itu saat mendengar nama Adramelech, “Yakinkah anda akan mencari Adramelech?”tanyanya pelan.
“Tentu saja. Kenapa?”
“Dia bahkan mengunyah makhluk terakhir yang memanggil namanya, My lord.”sahut pria itu dengan sangat cepat.
“Jangan bodoh, Zagiel. Adramelech bukan tandinganku. Dia iblis, bukan The Fallen Angel. Dia tahu itu. Kalau kau menyatakan diri sebagai legionku, dia tidak akan mengunyahmu kecuali kau melotot padanya dan menyentuhnya tanpa izin.”ujar Belial tenang seolah mereka hanya sedang membicarakan menu makan malam biasa. “Jadi, lakukan apa yang kuperintahkan sebelum aku sendiri yang akan mengunyahmu.”sambung Belial sambil menatap Zagiel tajam.
Zagiel bergidik di tempatnya.
Belial mengirimkan visi tentang apa yang terjadi kalau Zagiel tidak segera melakukan apa yang Belial inginkan ke dalam pikiran Zagiel. Belial punya kemampuan telepath yang sangat menakutkan. Dia bisa memasuki benak siapa saja tanpa izin dan mengirimkan visinya kesana. Visi yang menimbulkan efek yang sama jika benar-benar terjadi pada dunia nyata. Zagiel bahkan langsung merasakan siksaan apa yang dilakukan Belial di dalam benaknya walau sama sekali tidak ada kontak fisik diantara mereka.
Dengan sedikit tergesa pria itu bangkit dan mengangguk sopan sebelum meninggalkan Belial seorang diri. Semua yang ada di istana Belial tahu kalau Lord mereka akan segera mendapatkan kekuatan penuhnya selama persembahan korban terus dilakukan, dan semakin dekat Belial dengan saat itu, semakin sensitif dirinya terhadap apapun. Hanya orang-orang dekatnya, nekad atau terlalu bodoh yang berani menemui Belial secara langsung. Sebagai salah satu yang pernah bertugas untuk mengawasi dan mengontrol kehidupan, menghancurkan dan mempermalukan musuh terkuat sekalipun, Belial memiliki kekuatan yang sanggup membuat malaikat berlari meminta pertolongan.
“Kalau aku tidak bisa, maka tidak ada yang boleh mendapatkan posisi itu.”janji Belial pada dirinya sendiri.
Kemampuannya yang seperti iblis itulah yang pada akhirnya membuat Belial diusir dari Regnum Angelorum selain karena sikap buruknya yang lain. Malaikat tidak pernah memanfaatkan benak orang lain untuk menyakiti orang tersebut. Tapi Belial selalu melakukan hal itu pada siapapun yang membuatnya kesal. Belial akan memanfaatkan apa saja untuk membuat orang lain tunduk di hadapannya. Belial sudah menetapkan tujuannya dan siapapun yang saat ini menjadi incarannya, membutuhkan perlindungan Tuhan untuk bisa lolos dari Belial. Apalagi untuk mereka yang sudah membuat Belial menanti hingga saat ini.
Belial kembali teringat ekspresi ketakutan Zagiel saat mendengar nama Adramelech muncul. Iblis itu memang terlalu liar untuk dipanggil dan dibiarkan berburu. Tapi Adramelech tidak akan melepaskan buruannya sampai dia mendapatkannya.
Sebenarnya ada banyak pilihan tumbal yang bisa Belial pilih sesuka hatinya. Namun yang terkuat tidak bisa dipilihnya karena darahnya juga mengalir di dalam tubuh orang itu. Belial tidak mengenal rasa kasih sayang atau cinta. Tapi dia mengenal kesetiaan. Dan demi kesetiaannya pada saudaranya, Belial akan mengganti pilihannya dengan calon tumbal yang sama potensinya untuk membangkitkan kekuatannya yang tertidur. Belial sudah menetapkan keputusannya sejak lama. Kini dia semakin yakin kalau anak itu-lah yang akan membangkitkan kekuatannya untuk merebut apa yang dulu direbut darinya.