5

3406 Words
Geraman kasar terdengar dari tenggorokan Lev saat ekor mendadak muncul dari bagian belakang tubuhnya dan taringnya memanjang. “Malaikat tidak bisa membunuh Lev. Tidak pernah bisa. Tapi Lev bisa membunuh malaikat dan suka melakukannya.”ucapnya penuh dengan kepercayaan diri seiring munculnya sisik-sisik biru berkilau di kulit pucat anak laki-laki tadi. “Periksa selubung, Reynard. Pasti ada kerusakan hingga monster biru ini bisa ada disini.”ucap Navaro dingin, “Aku bukan malaikat biasa, Leviathan. Pergilah sebelum aku benar-benar membunuhmu. Aku adalah satu dari sedikit orang yang bisa melakukannya.” “Oh! Tidak, tidak! Tidak ada yang saling membunuh.”seru Lily sambil bangkit kemudian berdiri diantara Lev dan Navaro sebelum keduanya benar-benar saling membunuh. “Turunkan pedangmu, Navaro. Tidak ada yang harus dibunuh.”tambah Lily cepat. Meski menurut Lucifer tidak ada yang bisa membunuh Leviathan selain dirinya dan Lucifer, entah kenapa Lily yakin kalau Navaro bisa melakukan hal itu dan tidak ingin menguji kebenarannya. “Tidak bisa, Lily. Leviathan itu berbahaya. Dia monster laut kuno. Menyingkir dari sana. Dan biarkan aku mengatasi ini.” Lily mendelik kesal pada Navaro_tahu kalau malaikat itu tidak akan menuruti ucapannya_sebelum berbalik dan mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala Lev. “Jaga sikap, Lev. Simpan kembali taring, ekor dan sisik itu. Tidak ada bahaya apapun disini, Lev. Aku aman.”ucap Lily lembut. “Dia mengangkat senjata di depanmu, Kyria. Itu bisa membahayakanmu.”tolak Lev, masih membiarkan sisik-sisik berkilauan terus memenuhi tubuhnya. Tidak ada lagi bocah berambut biru yang tampan. Meski masih dalam wujud kecil, sosok Lev setengahnya sudah menyerupai naga dengan sisik, ekor, dan rahang yang berubah. “Tidak ada bahaya, Lev. Mereka tidak berbahaya untukku. Kau dengar?”tegas Lily lagi lalu membiarkan Lev berhadapan dengan Navaro. “Seperti yang kukatakan tadi, Lev. Itu Eliza, sahabatku. Malaikat yang bicara denganmu tadi itu adalah Navaro, sahabatku. Begitu juga dengan yang satu lagi. Mereka semua sahabatku. Mereka tidak akan menyakitiku.” “Kau selalu menyebut ‘sahabat’, Kyria. Kyrios tidak pernah menggunakan kata itu. Apa itu sama artinya dengan ‘keluarga’? Apa mereka keluargamu?”tanya Lev polos sambil meNefeningkan kepalanya menatap Lily penuh ingin tahu. Pertanyaan itu terlontar seiring dengan berhentinya perubahan tubuh Lev menjadi sosok monster. Semua sisik itu perlahan menghilang dan kembali digantikan dengan kulit pucat kebiruan seperti sebelumnya. “Dia menurutimu?”tanya Navaro tidak percaya saat menyadari kalau Lev sudah berubah kembali menjadi bocah 5 tahun yang telanjang tanpa sisik dan ekor namun tidak merasa risih dengan itu semua. Tidak ada yang bisa memerintah Leviathan. Monster itu tidak bertuan dan sialnya, diciptakan berpasangan. Leviathan hanya mematuhi perintah orangtuanya. “Jangan terkejut, Navaro. Leviathan mematuhi istriku dengan sangat baik saat orang lain sama sekali tidak bisa mendekatinya dalam jarak aman.”gumam Wren yang sama sekali tidak berusaha mendekat atau membereskan kesalahpahaman yang terjadi. Sejak Leviathan menjadi milik Lily, bisa dihitung berapa kali Wren berada dalam jarak aman dengan makhluk biru kuno itu saat dia dilepaskan. Karena, meski Lily menegaskan kalau klan Libra terlarang untuk menjadi santapan Leviathan, makhluk biru itu suka bermain dengan siapapun yang dia temukan di Acasa Manor yang akan berakhir dengan keributan. Lily mengabaikan interupsi itu saat menoleh pada Lev. “Ya, Lev. Itu sama dengan keluarga. Mereka semua keluargaku, sama seperti suamiku, Axel, dan semua yang ‘berbau’ sama dengan mereka. Mereka tidak berbahaya atau akan menyakitiku. Tidak, mereka akan melindungiku kalau aku berada dalam bahaya. Itu artinya mereka bukan makananmu dan kau jelas tidak boleh membunuh mereka. Hal itu hanya akan membuatku sedih, terluka dan marah padamu.” “Kenapa semua yang ‘berbau’ lezat adalah keluargamu, Kyria?”tanya Lev polos. “Lev tidak bisa memakan keluarga Kyria atau membuat Kyria sedih dan terluka. Tidak bisa. Kyrios akan marah dan Kyrios tidak boleh marah.”gumamnya kemudian dengan wajah merengut. “Lily!”panggil Navaro tidak sabar, “Apa ini sebenarnya? Bagaimana bisa dia menurutimu seperti itu? Dan... Kyria? Kyrios? Kaum mereka tidak memanggil siapapun dengan sebutan itu selain-” “Ya, Navaro. Aku adalah majikan Lev. It-” “Tidak!”sela Lev seketika, “Kyrios adalah kakek Lev, jadi Kyria adalah ibu Lev!”tambah Lev cepat. “Iya, Lev, iya. Aku ibumu.”ujar Lily cepat sebelum Lev kembali berubah menjadi naga. Tangannya terulur untuk membelai kepala Lev lembut agar makhluk biru itu benar-benar tenang. Ayahnya sudah mengajarkan konsep yang amat sangat berbeda untuk seekor makhluk peliharaan meski Lily tidak mendebat masalah itu. “Lev tidak berbahaya, Navaro. Lucifer memberikannya untukku, untuk menjagaku. Lev tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuanku.” Navaro mencerna ucapan Lily sebelum membelalak tidak percaya. “Apa yang dipikirkan Lucifer dengan memberikanmu monster laut yang bisa meratakan London dalam hitungan menit?”tanya Navaro tidak percaya tapi tetap tidak menyimpan pedangnya meski dia sudah tidak lagi berada dalam posisi siap menyerang. “Karena ada kekuatan di dunia ini yang tidak akan bisa kalian lawan bahkan dengan kekuatan kalian saat ini digabungkan menjadi satu. Leviathan mungkin tidak sekuat itu, tapi dia tidak akan mati atau terluka dan bisa mengulur waktu selama mungkin hingga aku datang.”ujar sebuah gema suara diiringi dengan angin kencang dan awan gelap yang tiba-tiba menutupi langit cerah di atas Acasa Manor. Mereka semua tahu siapa pemilik suara itu bahkan tanpa semua gejala alam yang pasti akan muncul setiap kali Lucifer menunjukkan wujudnya. Malaikat kegelapan itu berdiri di belakang Leviathan dan Lily. Sayap hitam sekelam malam miliknya terlipat di punggung dengan uLiamg menyentuh rumput. Mereka juga tidak terkejut lagi dengan sensasi asing dari kekuatan Lucifer yang selalu muncul selama sesaat setiap kali Lucifer ada diantara mereka. Hanya saja, Reynard baru bertemu langsung dengan Lucifer dua kali. Kali pertama saat dia masih memburu Lily, dan ini adalah pertemuan keduanya. Malaikat bersayap ungu itu tidak terbiasa dengan semua hal ini. Sesama malaikat yang tinggal di Regnum Angelorum, mereka tidak bisa mempengaruhi kekuatan malaikat lain kecuali malaikat yang setingkat dengan Cerubhim dan Seraphim, kedua kasta itu bisa mempengaruhi kekuatan malaikat lainnya dan hanya terjadi kalau mereka menginginkannya. Berbeda dengan Lucifer yang selalu bisa mempengaruhi mengingat dia bukan lagi malaikat Regnum Angelorum. “Kyrios!”seru Lev yang langsung menghambur dan memeluk kaki Lucifer erat. Lucifer spontan mengulurkan tangan membelai rambut biru Lev yang lembut sambil tersenyum. Tindakan kecil tapi penuh makna bagi semua yang melihatnya. Lucifer memang dikenal sebagai malaikat paling tampan dengan pesona mematikan, namun Lucifer juga dikenal tidak memiliki belas kasih. “Sepertinya kekuatanmu juga belum cukup untuk mengeluarkan Lev lengkap dengan pakaiannya, i kori.”ujar Lucifer geli saat menyadari tubuh Lev yang polos meski makhluk kuno dalam wujud anak laki-laki itu sama sekali tidak merasa terganggu. Lily hanya menggeleng pasrah saat dengan santai Lucifer mengangkat tangannya dan menyapukannya ke tubuh Lev. Dalam sekejap tubuh polos Lev sudah terbalut pakaian hitam-hitam yang kontras dengan kulit pucat serta rambut birunya yang semakin terlihat mencolok. Semua yang ada disana tahu kalau Lucifer tidak benar-benar menciptakan pakaian untuk Lev. Pakaian yang membalut tubuh Lev adalah jaring-jaring halus manifestasi kekuatan Lucifer yang saling bersilangan hingga menutupi tubuh Lev. Sebagian besar malaikat mampu mempertahankan kekuatannya untuk melakukan hal itu selama beberapa saat, meski dalam kasus Lucifer, malaikat itu bisa mempertahankan bentuk kekuatan itu selama yang dia inginkan. Lily mendekati Lucifer dan berjinjit untuk mengecup pipi ayahnya itu singkat sebelum merengut. “Apa yang membawamu kesini, Dad?”tanya Lily kemudian. Lucifer mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah putrinya dan dengan sengaja mengalirkan kekuatannya melalui sentuhan itu. Lily merasakan aliran energi yang menyentuh wajah dan memasuki tubuhnya. Dengan cepat Lily memutus kontak fisik itu dan menatap Lucifer kesal. Kapanpun mereka melakukan kontak fisik, dan apapun jenis kontak fisiknya, Lucifer selalu mengambil kesempatan itu untuk mengalirkan kekuatannya. Dulu, Lily selalu pingsan begitu Lucifer mengalirkan energi pada putrinya itu, tapi kini seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya kekuatan Lily, putrinya itu sudah bisa menerima energi Lucifer tanpa harus kehilangan kesadaran. Satu kutukan lain yang dibawa Lucifer adalah dia tidak bisa menghentikan kekuatan yang mengalir melalui setiap sentuhan fisik yang dilakukannya pada siapa saja dan akan membuat siapapun yang disentuhnya memiliki kekuatannya tersebut sesedikit apapun, jika orang itu cukup kuat untuk menerimanya tanpa harus kehilangan kesadaran . Itu salah satu alasan kenapa Lucifer hidup menyendiri dan hanya menyentuh sedikit sekali orang di dunia ini. Lily, Axel, dan Lev serta kaum sebangsanya adalah bagian dari orang-orang yang dibiarkan Lucifer memiliki hak untuk menyentuhnya secara langsung. “Tidak bisakah kau mengatakannya lebih dulu, Dad? Aku tidak ingin tiba-tiba pingsan hanya karena kau tidak bisa menahan diri untuk memberikan energimu. Dan bangun hanya untuk mendapati ayah dan suamiku bertarung.”gerutu Lily yang hanya disambut senyum lebar oleh Lucifer. Apapun bentuk protes Lily untuk masalah ini, Lucifer tidak pernah mendengarkannya dengan serius. Dia butuh memberikan kekuatannya untuk Lily agar putrinya memiliki kekuatan yang lebih besar dari sebagian besar makhluk di dunia. Agar putrinya bisa terus bertahan hidup selama yang bisa dia jalani. Dunia boleh hancur kapan saja, tapi dia tidak akan kehilangan putrinya begitu saja. Lucifer menoleh dan menatap Navaro datar sebelum tersenyum remeh. Dengan sengaja Lucifer mengalihkan tatapannya pada Reynard yang masih membeku di tempatnya, tidak siap dengan kemunculan Lucifer. Terakhir kali dia bertatap muka dengan Lucifer, tidak satupun malaikat di kelompoknya yang memiliki perisai pikiran. Saat itu Reynard mengira kalau Lucifer tidak menyerang mereka. Tapi ternyata begitu mereka tiba di Regnum Angelorum, hanya perisai mental Reynard yang tidak disentuh Lucifer sementara mental anggota kelompoknya yang lain hancur dan membuat mereka kini tidak lebih berarti dari malaikat-malaikat baru lahir yang membutuhkan bantuan untuk setiap kegiatan yang mereka lakukan. Sampai saat ini Reynard masih mempertanyakan kenapa Lucifer membuat pengecualian untuknya. “Walau aku tahu dia ‘aman’, tapi aku masih saja ingin membunuhnya kalau tidak berisiko memancing kemurkaan El Rey.”gumam Lucifer santai yang ditujukannya untuk Reynard dan membuat pertanyaan yang selalu ada dalam kepala Reynard akhirnya terjawab begitu saja. “Grandpa!”tegur Axel yang dimaksudkan untuk menegur ucapan Lucifer sekaligus menyapanya. Tidak banyak orang yang berani menegur Lucifer seperti yang Axel lakukan. Tapi memang tidak ada hal biasa dan wajar yang terjadi bila Lucifer berada ditengah orang-orang yang dicintai putrinya. Ada banyak pengecualian yang Lucifer buat hanya demi putrinya. Bahkan kalau itu membuatnya harus menahan diri untuk tidak melukai siapapun. “Halo, engonos.”sapa Lucifer sambil merentangkan tangan agar Axel memeluknya. “Hm, aku merasa kalau kekuatanmu semakin bertambah, kid. Bagus.” “Benarkah?”tanya Axel antusias saat menoleh untuk menatap Lucifer dengan mata berbinar hingga memunculkan kilau perak kebiruan di bola matanya. Hal yang hanya akan terjadi dalam dua kesempatan, saat Axel terlalu senang atau saat dia terlalu marah. “Aku baru saja akan berlatih bersama Pa. Kalau kekuatanku sudah bertambah, mungkinkah aku membuat Pa terluka? Sedikit saja?” Lucifer menatap Axel dan Wren bergantian. Saat itu juga dia tahu kalau pasangan putrinya itu sudah jauh lebih kuat dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu. Vampir itu semakin kuat setiap kali melewati pertarungan apapun yang dia jalani. Dan Lucifer tahu kalau vampir itu melewati banyak sekali pertempuran selama 5 dekade terakhir. Mau tidak mau Lucifer mengagumi Wren untuk semua yang dilakukannya demi Lily. Yah, anggap saja meski enggan Lucifer bersedia menerima pasangan putrinya itu. Saat kembali menatap Axel, dia menggeleng pelan, “Belum saatnya, kid. Kau memang sudah lebih kuat, tapi belum bisa melukainya. Teruslah berlatih. Akan senang sekali kalau melihatmu bisa melukai vampir itu dan kalau kau bisa membuatnya terkurung di kamar selama sebulan, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.”ujar Lucifer senang walau saat ini putrinya merengut tidak senang ke arahnya, sementara vampir yang menjadi bahan pembicaraan mendengus kesal beberapa langkah dari Lucifer. “Halo, Luc. Apa kabar?”sapa Eliza ramah. Satu-satunya orang yang menyapa Lucifer dengan sewajarnya tanpa pertanyaan, teguran, atau tuduhan dan satu-satunya orang yang mendapatkan rasa hormat Lucifer setulusnya. Lucifer berpaling dari Axel dan tersenyum pada Eliza. “Halo, Mistress. Aku selalu lebih baik dari sebelumnya. Keadaanku adalah cerminan segala yang terjadi pada putriku.”jawab Lucifer sengaja melebih-lebihkan. Eliza tersenyum paham sebelum mengalihkan perhatiannya pada Navaro. “Kau sudah selesai, Sayang?”tanya Eliza kemudian. “Belum.”jawab Navaro cepat, “Axel, ayo berlatih bersamaku.”panggilnya kemudian yang berhasil membuat Axel mengerjap tak percaya. Kalau ada orang yang lebih enggan berlatih bersamanya, maka orang itu adalah ayahnya. Sangat jarang sekali Navaro mau menawarkan diri untuk menjadi teman berlatih Axel kalau bukan Axel yang memaksa, merengek, dan memohon. Bahkan setelah melakukan itu semua, bisa dihitung berapa kali Navaro bersedia melatihnya. Jadi, tanpa menunggu panggilan kedua, Axel langsung mengatasi keterkejutannya dan menghampiri ayahnya dalam sekejap diikuti oleh Reynard yang memilih untuk menghindari Lucifer sejauh mungkin. Lily kembali menghampiri Lucifer, “Kau tidak pernah datang hanya untuk bertukar sapa, Dad.” “Aku selalu datang kalau kau memanggilku, i kori.” Lily tidak bisa menampik fakta itu. Lucifer memang selalu datang setiap kali Lily memintanya. “Itu lain, Dad.”gumam Lily pelan. Lucifer tersenyum melihat reaksi putrinya itu lalu dengan cepat menarik Lily ke dalam pelukannya hingga membuat Wren mengerang kesal. Lily tahu kalau ayahnya itu sedang memindahkan kekuatan untuknya. Dan meski Lily tidak begitu menyukai hal itu setelah protes yang diajukannya, Lily juga tidak benar-benar membenci prosesnya. Lily menyukai setiap kontak fisik dengan ayahnya karena selain kekuatan, ayahnya juga memberikan kehangatan seorang ayah yang selama ini tidak pernah Lily dapatkan. “Berhati-hatilah mulai saat ini, i kori. Kekuatan kuno sedang berusaha untuk meraih kembali tahtanya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.” “Siapa yang kau maksud, Dad?” “Aku tidak bisa mengatakannya. Belum. Karena aku sendiri belum tahu siapa pemilik kekuatan itu. Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu berhati-hati. Jangan mencoba menghadapi bahaya apapun seorang diri, panggil Lev kalau suamimu saat itu tidak ada.”ucap Lucifer lagi sebelum melepaskan pelukannya pada Lily, “Berjanjilah, Sayang.” “Aku tidak mengerti, Dad.” “Kau hanya perlu berjanji padaku dan berhati-hati mulai saat ini. Itu saja.” “Baiklah, baiklah. Aku berjanji.”gumam Lily pasrah. Entah kenapa Lily merasa kalau Lucifer akan melakukan suatu kehebohan yang luar biasa kalau dia tidak segera berjanji pada ayahnya itu. Senyum lega muncul di wajah Lucifer sebelum menatap Wren dengan serius. “Sejak beberapa minggu lalu, aku merasakan ada kekuatan kuno terbangun dari tidur panjangnya. Aku tidak tahu siapa pemilik kekuatan itu. Energinya masih terlalu samar tapi cukup untuk menjadi pengingat bagi makhluk-makhluk yang sudah hidup lebih lama. Berhati-hatilah dan jaga wilayahmu, terutama jaga keselamatan putriku kalau kau tidak ingin mengakhiri keabadianmu dan menghabiskan waktumu di ShadeZone selama yang bisa kupikirkan.” Wren tidak mengatakan apapun untuk membalas ancaman Lucifer. Dia tidak merasa perlu membalas ucapan Lucifer karena apapun itu, Lucifer tidak pernah bermain-main dengan nyawa putrinya. Sebagai ketua klan Libra, Wren akan menjaga wilayahnya dan semua yang berada dalam perlindungannya. Sebagai laki-laki, dia akan melindungi orang-orang yang disayanginya. Dan sebagai suami serta pasangan, Wren akan membunuh dengan segala cara yang bisa dia pikirkan kalau ada orang yang berniat melukai pasangannya. “Apa kekuatan ini berbahaya, Luc?”tanya Eliza yang sejak tadi diam namun akhirnya merasa tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Lucifer. “Aku tidak tahu, Mistress. Masih terlalu samar untuk bisa kupastikan sejauh itu. Tapi aku akan mencari tahu.”janji Lucifer. “Kenapa kau mengatakan hal ini pada kami? Kau tidak mencampuri urusan langit ataupun bumi.”tanya Reynard pelan, tidak yakin pada apa yang baru saja meluncur dari mulutnya. Entah sejak kapan Reynard sudah kembali bergabung bersama mereka dan memilih diam hingga saat ini. Lucifer menatap Reynard tajam lalu berbalik untuk memunggungi malaikat bersayap ungu itu. “Aku tidak pernah peduli apapun yang terjadi di langit dan di bumi. Aku bahkan tidak peduli kalau dengan bangkitnya kekuatan kuno ini maka manusia akan musnah. Satu-satunya yang kupedulikan adalah kebahagiaan putriku. Sayangnya, putriku memiliki hati seperti ibunya. Mencintai banyak orang dan akan melakukan segalanya untuk orang-orang itu. Kalau dengan mempedulikan mereka membuat putriku bahagia, aku akan melakukannya. Termasuk menahan diri untuk tidak membunuhmu sejak dulu.”ucap Lucifer dingin dan tanpa sadar membiarkan lecutan energinya menyentuh Reynard hingga membuat malaikat itu melompat mundur dengan kaget. “Sampai jumpa lagi, i kori. Ingat janjimu.”ucap Lucifer lembut sambil membungkuk rendah untuk mengecup dahi Lily. Lily tidak mengatakan apapun saat Lucifer melangkah menjauh seiring kembali munculnya awan gelap yang menyelimuti langit di atas Acasa Manor. Tiba-tiba halilintar menyambar tepat di tempat Lucifer berdiri dan malaikat kegelapan itu langsung menghilang bersama halilintar sebelum langit kembali cerah. “Aku terkadang bertanya-tanya berapa usianya hingga dia masih menyukai kemunculan penuh drama seperti ini. Kali ini dia bahkan meniru adegan Thor kembali ke Valhala. Yang kurang dari adegan tadi hanyalah pola unik di tanah akibat petir Thor. Kalau dia bisa melakukan itu juga, kita harus membuatnya muncul dalam pembuatan film Thor yang selanjutnya.”gumam Wren sambil menghampiri istrinya. “Dia selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak memamerkan kekuatannya di depanmu, amour.” Lily mengulurkan tangan untuk membelai lengan Wren, “Kalian berdua seperti tikus dan kucing. Semakin kau suka mengomentari tindakannya, Sayang, semakin parah yang akan dilakukan Dad. Dia suka membuatmu kesal. Dan percayalah, lain waktu dia datang, dia akan mengabulkan komentarmu tadi.” “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari ayahmu itu. Dia tidak pernah berpikir tentang akibat perbuatannya.”gumam Wren jujur. Entah kenapa jawaban Wren membuat Lily kembali teringat kejadian lebih dari 40 tahun yang lalu. Saat Lucifer memberikan Leviathan kepada Lily pada suatu malam di musim semi.   London, 2015... Lily duduk termenung di beranda kamarnya yang menghadap langsung ke halaman depan. Malam sudah larut namun Wren belum juga pulang. Lily tahu kalau suaminya itu akan pulang terlambat, apalagi mengingat kalau suaminya memang makhluk yang hidup di malam hari. Namun ini sudah lewat satu jam sejak waktu yang Wren janjikan untuk tiba di rumah. Meskipun Lily tahu Wren lebih dari bisa menjaga dirinya sendiri, tetap saja Lily cemas. Acasa Manor begitu sepi. Tidak ada kehidupan di rumah itu di malam hari selain Lily dan Wren. Untuk rumah dengan kamar nyaris satu lusin itu, dihuni hanya oleh 2 orang membuat rumah itu sesunyi kuburan. Untung saja penghuninya bukanlah makhluk fana. Siang hari Acasa Manor tetap sunyi Layaknya malam hari, hanya saja ada banyak orang di rumah itu kala siang datang. 4 orang pembantu rumah tangga yang bertugas membersihkan seluruh ruangan, seorang koki yang menyiapkan makanan untuk Lily, empat tukang kebun, dan beberapa anggota klan Libra yang memang terkadang tinggal disana saat siang seperti Alby dan Venom. Semua manusia yang dipekerjakan oleh Wren hanya bekerja sejak pukul 8 pagi hingga 7 malam. Meskipun begitu para pekerja itu tidak banyak bersuara selain untuk memastikan apa yang Lily ingin mereka lakukan. Meskipun Lily sesekali ingin mengobrol dengan mereka, tapi para pekerja hanya bicara seperlunya, mengingat Wren sudah memerintahkan mereka untuk tidak mengganggu Lily. “Dad?”panggil Lily pelan, berharap Lucifer mendengar panggilannya dan bersedia menemaninya mengobrol meski hanya dalam benaknya. “Ti, i kori?”ujar sebuah suara berat dari belakang Lily yang langsung membuat wanita itu menoleh hanya untuk mendapati sang malaikat kegelapan berdiri di ambang pintu beranda kamarnya dalam wujud manusia. Dalam wujud manusia, wajah Lucifer sudah cukup untuk membuat para wanita melemparkan diri mereka ke kakinya, Lily tidak bisa membayangkan jika manusia melihat Lucifer dalam wujud malaikatnya seperti yang beberapa kali Lily lihat. Para wanita mungkin akan rela saling membunuh jika itu terjadi. “Aku tidak berharap kau akan langsung datang, Dad. Aku hanya ingin mengobrol denganmu.”gumam Lily pelan saat Lucifer berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Lily bahkan tidak melihat gejala alam yang biasanya muncul setiap kali Lucifer datang. Akhirnya Lily tahu jika ayahnya bisa datang tanpa kehebohan. “Setelah bertahun-tahun kau bahkan tidak terbiasa untuk meminta sesuatu padaku, bukan?”tanya Lucifer tenang. “Bukan itu.”tukas Lily cepat. “Ada banyak hal yang harus kau lakukan, bukan? Aku tidak ingin mengganggumu. Setidaknya dimanapun kau berada, kita bisa mengobrol melalui pikiran.” “Dan sekali lagi akan kukatakan, i kori, aku akan selalu datang setiap kali kau membutuhkanku. Bahkan kalau kau hanya sedang kesepian karena vampir-mu itu sedang sibuk memburu imp baru di luar sana.” “Tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu, bukan?”gumam Lily lagi. Lucifer tersenyum lembut, “Khusus untukmu tidak, i kori.”sahutnya singkat. “Dad... Sudah lama aku ingin menanyakan masalah ini...”ucap Lily ragu. Tidak yakin kalau Lucifer akan senang mendengar pertanyaan yang diajukannya. “Kalau begitu tanyakan saja, Sayang.” Lily terdiam sejenak sebelum menatap Lucifer. “Apa hanya aku ‘anak’mu di dunia ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD