4

3798 Words
London, 2020... Suara benturan dan retakan terdengar hampir ke seluruh penjuru Acasa Manor saat Wren melemparkan anak angkatnya itu ke dinding ruang latihan miliknya. Tembok bata setebal lebih dari 30cm itu memiliki retakan diagonal sepanjang 3 meter di tempat Axel dihempaskan. Axel meluncur turun dan terduduk lemah di lantai. Pa-nya itu sama sekali tidak mengurangi tenaga saat latih tanding dengannya. Ini baru hari pertama dari sekian rangkaian pelatihan yang direncanakan Wren dan Axel sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia dihempaskan ke dinding begitu saja sebelum sempat menyentuh Wren sedikitpun. Setidaknya kalau ada yang Axel syukuri saat ini adalah fakta kalau luka-lukanya sembuh dalam sekejap meski untuk patah tulang tetap dibutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa sembuh. Dan Axel sudah berkali-kali mendapat patah tulang di berbagai tempat di tubuhnya hanya dalam sehari. “Bangun, son. Aku bahkan belum melakukan apa-apa. Aku belum menyerangmu. Yang kulakukan hanya bertahan dan kau sudah kewalahan seperti ini.”tegur Wren kuat dan dengan kekuatan telekinetiknya, memaksa Axel berdiri. “Bisakah kita istirahat satu jam, Pa?”tanya Axel memelas. Dia benar-benar lelah. Axel bahkan belum mengisi perutnya dengan makanan apapun sejak bangun tidur tadi. “Musuhmu tidak akan pernah membiarkanmu bernapas, apalagi istirahat untuk memulihkan tenaga. Kau akan dibunuh bahkan sebelum kau sempat bicara. Bangun dan serang aku, son! Jangan manja!” Axel membungkuk dan menahan beban tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di lutut. Napasnya menderu untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya saat itu. Malaikat memang tidak memiliki kebutuhan sebesar manusia dalam bernapas, tapi tetap saja hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Axel yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia manusia. Ayahnya memang mengajari Axel bertarung dengan mengirimkan anggota cadrenya seminggu sekali, dan javas juga tidak pernah segan-segan dalam memberikan pelajaran meski Axel masih merasa kalau anggota Cadre ayahnya itu masih menahan diri untuk tidak membuat Axel terluka parah. Tapi baru kali ini Axel benar-benar merasa ingin memohon agar latihan dihentikan. Dia lelah, tubuhnya penuh luka dan tulang yang patah, sayapnya cedera cukup parah hingga Axel tidak merasakan apapun lagi disayapnya, bahkan Axel tidak yakin kalau dia masih bisa berteleportasi dengan tenaganya yang tersisa, mengingat hanya hal itu yang bisa dilakukannya dengan mudah tanpa perlu latihan. Yang membuatnya bisa tetap berdiri saat ini hanyalah keAjaiban. “Teleportasi adalah bakatmu yang bisa kau lakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan saat kau terluka parah sekalipun. Kau terlahir istimewa, anakku. Kau membawa bakat-bakat yang bergantung pada pikiranmu, bukan tenagamu. Selama kau masih sadar dan bisa berpikir, kau masih bisa melakukan perlawanan.” Tiba-tiba saja Axel teringat ucapan ayahnya saat dia pertama kali belajar untuk terbang. Teleportasi.ulang Axel dalam hati. Sejak tadi dia menghadapi Wren langsung, tanpa memikirkan apa kelemahan dari seorang vampir. Axel tidak sempat berpikir kalau setiap detiknya ia gunakan untuk menahan serangan dari Wren. Dan ingatan itu membantunya. Axel berdiri tegak menatap Wren, berusaha membuat emosi menghilang dari wajahnya agar Wren tidak bisa membaca apapun dari wajah Axel. Dengan sisa tenaganya, Axel mengambil kuda-kuda dan berlari menyerang Wren. Seperti sebelumnya, Wren hanya berdiri diam di tempatnya, memusatkan tenaga untuk melemparkan Axel ke dinding lagi. Namun sebelum Wren sempat melempar pemuda itu, Axel sudah berteleportasi dua kali, pertama ke belakang Wren_yang langsung disadari Wren dan melancarkan tendangan berputar, dan yang kedua kembali ke posisi awal Axel sebelum berteleportasi lalu melayangkan tinLiamya tepat sebelum Wren kembali menoleh ke arahnya. Namun tinju itu tetap tidak mengenai Wren karena perisai listrik yang menyelubungi tubuhnya seperti yang dimiliki Aleandro. Wren baru mendapatkan kemampuan itu beberapa tahun terakhir. Seulas senyum bangga terkembang di wajah Wren saat menyadari kalau Axel berhasil menemukan satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan oleh vampir. Bahkan sang Nosferatu sekalipun tidak bisa berteleportasi seperti malaikat. Tidak ada seorangpun vampir yang bisa berteleportasi. Dia memang ingin Axel menggunakan kemampuan itu dan memadukannya dengan serangan-serangan fisik. Kalau Axel berhasil, dia akan menjadi lawan yang tak terkalahkan. Bahkan kalau dia tidak mendapatkan warisan istimewa dari garis keturunan ayahnya yang suci itu. “Good job, son!”seru Wren yang langsung menarik Axel ke dalam pelukannya. Senyum kepuasan muncul diwajah Axel saat merasakan lengan Wren memeluknya. Namun Axel tidak bisa membalas pelukan Wren karena kegelapan langsung menelan kesadarannya yang tersisa saat itu juga.   Axel terbangun saat langit sudah gelap dan hawa dingin mulai menyebar. Mengingat separuh dinding kamarnya terbuat dari kaca, Axel bisa melihat dengan jelas suasana di luar kamarnya. Kamarnya terasa sepi. Saat dia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, rasa nyeri di punggungnya membuat Axel mengernyit kesakitan dan membuat kesadarannya langsung terkumpul seutuhnya. “Astaga... Pa memang tidak main-main.”gumamnya saat melihat sayap birunya yang memancarkan cahaya lembut kekuningan di tempat-tempat yang tadinya mengalirkan darah selama latihan. Sayap adalah satu-satunya bagian tubuh malaikat yang paling lambat menyembuhkan diri. Dan sayapnya selalu menunjukkan warna aslinya saat memulai penyembuhan. Proses yang selalu terjadi saat setiap malaikat berusaha memulihkan kondisi sayap mereka yang cedera parah. Kalau diingat lagi, Axel lebih suka mengatakan sayapnya setengah hancur karena kata parah sama sekali tidak menggambarkan apa yang kemarin dia dapatkan dari latihannya. Saat ini Axel bahkan nyaris mempercayai kalau apa yang dia lakukan kemarin dengan Wren bukanlah latih tanding, tapi pertempuran sebenarnya. Axel memperhatikan tubuhnya dan menyadari kalau luka-luka lain yang dideritanya sudah sembuh tanpa bekas seperti luka sobek di lututnya saat dia harus menghantam dinding dengan bagian depan tubuhnya_termasuk wajahnya_saat dilemparkan Wren entah untuk keberapa kalinya. Dengan perlahan Axel berusaha turun dari ranjangnya yang luas saat pintu kamar di samping ranjangnya terbuka. Sesosok tubuh langsung menghambur memeluknya dan membuat Axel kembali terjatuh ke ranjang. “Kaly?”ringis Axel saat merasakan nyeri menyengat di sayapnya. “Kau tidak bangun-bangun.”bisik gadis yang sedang memeluk Axel erat itu. “Ya, aku tidur dan sedang memulihkan diri. Lebih lama dari biasanya memang. Tapi aku baik-baik saja, Kaly.”ujar Axel tanpa membalas pelukan Kaly walau dia bisa melakukannya. Sosok yang bersandar di pintu kamar Axel-lah yang membuat pemuda itu tidak jadi membalas pelukan Kaly dan menurunkan kembali kedua tangannya yang sudah terangkat ke udara. “Lily benar. Wren memang menghajarmu habis-habisan.”ujar suara berat milik ayah Kaly itu. Pandangannya menatap Axel dengan seksama. Namun, seperti yang lainnya, Zac juga tidak bisa membaca pikiran malaikat. “Bukan menghajar, Uncle. Tapi melumatku habis-habisan. Pa bahkan tidak mengurangi tenaganya sedikitpun. Javas saja tidak pernah seperti ini. Dia selalu berhenti sebelum aku terluka parah.”gumam Axel pelan. Zac mendengus pelan. “Ayahmu akan mematahkan sayap bocah itu sebelum dia sempat melemparmu kemanapun.”gumam Zac pelan. “Jadi, apa kau sudah siap untuk sesi latihan selanjutnya?” Axel terdiam sejenak untuk mencerna ucapan Zac sebelum kesimpulan itu membuatnya mual. “Kau yang akan melatihku?”tanya Axel tidak percaya. Kalau Axel babak belur saat latihan dengan Wren, maka Axel bisa saja koma kali ini dan langsung memasuki fase Anaktisi. Axel bahkan lupa kalau Zac baru saja menyebut Javas, malaikat yang berusia ratusan tahun dengan sebutan bocah. Mari bayangkan berapa usia sang raja vampir sebenarnya. Zac mengangguk santai. “Ya. Takut?” “Uncle, bodoh sekali kalau aku tidak takut saat harus melawanmu. Tapi kau tidak akan membunuhku. Itu seharusnya sudah cukup menenangkan, bukan?”tanya Axel berusaha menyemangati dirinya sendiri walau sejujurnya dia tidak yakin akankah dirinya sempat memulihkan diri sebelum ayahnya datang atau tidak. Akan lebih baik kalau dia memang sampai memasuki fase Anaktisi sehingga saat ayahnya muncul, dia tidak akan menyaksikan keributan yang mungkin akan terjadi karena ayahnya murka. “Jangan terlalu serius, Daddy. Axel bahkan belum pulih sepenuhnya.”ujar Kaly sambil melepaskan pelukannya pada Axel dan bangkit berdiri. Zac memperhatikan putrinya. Sejak dulu inilah yang Zac takutkan saat Kaly menunjukkan tanda-tanda mengagumi Axel. Kaly terlalu dekat dengan Axel dan menganggap malaikat kecil itu sebagai saudaranya. Kaly bahkan tega memarahi ayahnya setiap kali Zac bertindak tegas pada Axel. Itu yang membuat Zac tidak bisa bersikap keras dan berakhir dengan ikut memanjakan Axel seperti yang lainnya. “Kalau kau sudah siap, temui aku di halaman belakang, kid.”ujar Zac lalu berbalik sebelum meninggalkan Axel dan putrinya di dalam kamar. “Dimana Pa dan Ma, Kaly?”tanya Axel saat sudah bangun dari ranjang sambil menahan nyeri di sayapnya. Tidak ada malaikat yang bisa menghilangkan sayapnya sebelum sayap itu pulih seutuhnya, dan Axel juga bukan pengecualian. Axel bahkan tidak bisa membuat sayapnya melayang agar tidak menyapu lantai. Sampai tenaganya pulih, Axel harus pasrah sayapnya terseret setiap kali dia melangkah. “Mereka menjemput Uncle Aleandro dan Aunty Amelia.”sahut Kaly cepat. “Apa kau benar-benar akan melawan Daddy, El?” “Harus, Kaly. Karena aku tidak akan bisa keluar dari Regnum Angelorum tanpa melakukan hal ini. Waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa jam lagi. Aku harus berlatih sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Pa.”ujar Axel serius sambil melangkah menuju beranda kamarnya yang juga terhubung dengan halaman belakang.   Satu jam kemudian, Axel melangkah masuk ke dalam mansion dengan wajah datar tanpa satu pun luka baru di tubuhnya. Sayapnya? Masih dalam pemulihan, sedikit lagi, karena itu Axel sudah bisa menghilangkan sayapnya walau siapapun masih dapat melihat kilasan sayap biru di belakang pemuda itu. Satu jam yang lalu, Axel sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dia sudah menyiapkan diri untuk melawan Zac. Siap kalau Zac juga menghajar seperti Wren melatihnya beberapa jam lalu. Namun Axel sama sekali tidak siap disuruh duduk di pinggir danau kecil dan mendengarkan Zac bercerita tentang rahasia-rahasia para makhluk supranatural dan apa yang bisa membunuh mereka. Siapa lagi yang bisa bercerita tentang kelemahan makhluk supranatural lain kalau bukan sang raja vampir yang eksistensinya hampir setua bumi? “Kau baik-baik saja, El?”tanya Kaly yang langsung menghambur ke pelukan Axel begitu melihat si pemuda melangkah memasuki Acasa Manor. “Kaly... Aku baik-baik saja. Lihatlah.”sahut Axel lembut sambil menjauhkan Kaly dan membiarkan gadis itu memeriksa keadaannya. Kaly akhirnya menuruti Axel dan melepaskan pelukannya. Dia benar-benar mengamati Axel dengan seksama. “Dia baik-baik saja, princess.”ujar sebuah suara dari arah datangnya Axel. “Daddy!”seru Kaly yang langsung menghambur memeluk Zac. “Sepertinya aku tidak bisa ikut mendengarkan Sang Nosferatu bercerita.”ujar suara lainnya dari arah taman tengah. Zac, Kaly, dan Axel langsung berpaling untuk melihat siapa pendatang baru itu. Aleandro mendarat lebih dulu sambil memeluk Amelia. Di belakangnya, Wren menyusul bersama Lily. Bedanya Wren dan Lily bisa terbang sendiri-sendiri sementara Amelia masih belum mendapatkan kemampuan vampir yang satu itu mengingat usianya sebagai vampir baru masih dalam hitungan tahun. Sama seperti dahulu, Axel selalu tertarik dengan warna sayap Lily. Saat dia masih kecil, Axel selalu bermain dengan sayap unik milik putri Lucifer itu. Dan sampai sekarang, Axel tetap masih tertarik. Dengan perlahan Axel menghampiri Lily dan spontan melebarkan sayapnya hingga bersentuhan dengan sayap Lily. Dibawah penerangan lampu taman di malam hari, perpaduan kedua sayap itu membuat para vampir yang ada disana menatap kagum. Sayap Lily memiliki warna hitam yang bergradasi ke abu-abu hingga menjadi putih di uLiamg-uLiamg bulu sayapnya. Garis-garis keperakan membentuk sebuah corak unik diatas bulu-bulu hitam itu, mempertegas keindahannya. Sedangkan sayap Axel berwarna biru lembut yang bergradasi hingga menjadi warna putih di uLiamg-uLiamgnya. Garis-garis perak saling menjalin dengan garis emas membentuk corak unik lainnya. Dua hari yang lalu, garis-garis perak di sayap biru itu hanya berupa corak tipis yang tertutup oleh bercak keemasan. Namun, kini pola perak lebih mendominasi sayap biru itu. Sebuah bukti kalau Axel terlahir dari malaikat tertinggi dengan kekuatan besar yang menerima darah dari Seraphim, Sang Malaikat Bersayap Enam, dan melalui lebih banyak pertempuran yang menghancurkan sayapnya. Hanya kerusakan parah di sayap malaikat yang bisa membuat mereka memiliki garis-garis keperakan yang nantinya akan  membentuk pola berbeda pada setiap individu. “Kalau saja kau bukan anakku, aku pasti sudah membakar sayap birumu itu, Son.”gumam Wren pelan sambil menghampiri Lily dan menyelipkan lengannya dibawah sayap Lily untuk memeluk pinggang istrinya. Axel terkekeh pelan mendengar gumam kesal Pa-nya. Axel sadar kenapa Wren bersikap seperti itu. Saat seorang malaikat laki-laki tertarik pada malaikat lawan jenisnya, dia akan menggoda lawan jenisnya dengan menyentuhkan sayap mereka. Sayap, bisa menjadi bagian sensitif dari seorang malaikat. Dan hanya segelintir orang yang diizinkan seorang malaikat untuk menyentuh sayap mereka. Bahkan untuk setengah malaikat seperti Lily sekalipun, sayap merupakan bagian sensitif dari tubuhnya. Bersentuhan sayap hampir sama dengan berhubungan intim bagi para malaikat. Tapi sebagai putri Lucifer, Lily sepertinya membawa bakat unik milik ayahnya. Lucifer terkenal dengan kemampuannya memikat makhluk lain tanpa memandang jenis. “Kenapa kalian datang melalui udara?”tanya Zac bingung karena saat pergi tadi Wren mengemudikan salah satu koleksi mobilnya yang berharga dan kini entah dimana dia meninggalkan mobilnya itu. Aleandro melirik Wren dengan kesal. “Tanyakan pada vampir yang selalu kasmaran itu.”gerutu Aleandro sambil melangkah memasuki rumah dan meninggalkan Wren yang masih memeluk Lily. Wren mengabaikan ucapan Aleandro. Dia sudah terbiasa dengan segala sindiran yang dilontarkan teman-temannya. Lagipula, mereka juga bersikap yang sama dengan pasangan mereka. “Ayo makan malam, son. Setelah itu istirahatlah. Besok kita akan mulai berlatih lagi bersama Aleandro.” “Dengan Uncle Aleandro?”tanya Axel tidak percaya. “Tidak ada yang lebih baik menjadi seorang pelatih selain sang eksekutor langsung. Percayalah, son, sangat sedikit makhluk di atas bumi ini yang bersedia menantang Aleandro. Lagipula aku bersusah payah menjemputnya bukan untuk memintanya bersantai disini.”jelas Wren sabar. “Kau juga sama, Pa.”tukas Axel cepat, sedikit berharap kalau dengan itu Wren akan membatalkan sesi latihan bersama Aleandro. Kalau ada orang di bumi ini yang mungkin bisa bersikap kejam, maka Aleandro-lah orangnya. Walaupun Axel tahu kalau Aleandro tidak akan pernah dengan sengaja untuk melukai atau menyakitinya dalam bentuk apapun. Tapi, tetap saja Axel merasa cemas mengingat Aleandro tidak pernah luluh dalam setiap bentuk bujukan Axel. Berlatih bersama Aleandro berarti sama buruknya bila Axel benar-benar berlatih fisik bersama Zac. Lily tersenyum kecil. “Kau tidak bisa memaksanya lagi. Berlatih denganmu ataupun Aleandro sama saja. Yang membedakan hanya pilihan kalian untuk menjalani kehidupan.”ujar Lily, “Ayo kita makan, Ace. Jangan menunggu Pa-mu, dia sudah memuaskan dirinya di perjalanan.”sambung Lily yang kali ini ditujukan pada Axel. --- Axel tidak dapat menahan teriakan bahagianya saat menghambur mengikuti Wren. Meski saat latihan dulu dia benar-benar berakhir seperti korban kecelakaan akibat di tabrak kereta ekspres dan dibuang ke selokan, tapi Axel tetap tidak bisa menahan kegembiraannya kala membayangkan lonjakan adrenalin yang akan dialaminya selama latihan bersama Wren nanti. Dia bahkan tidak peduli kalau saat ini dia lebih terlihat seperti anak kecil dibandingkan pemuda dewasa. Melatih kemampuan bertarungnya adalah hal yang sangat disuAleandronya selain elektronik. Sepasang sayap biru langit milik Axel terbentang saat dia terbang rendah di belakang Wren. Warna biru yang lebih lembut dibandingkan dengan milik Navaro ataupun Eliza, namun memiliki lebih banyak corak keperakan di kedua sayapnya dibandingkan dengan Eliza. Corak yang menandakan kalau sepasang sayap indah mempesona itu dulu pernah rusak parah. Nyaris hancur walaupun bukan karena pertarungan, melainkan karena latihan bersama Wren dan Aleandro. Walau Wren-lah yang lebih bertanggung jawab atas hancurnya sebagian besar sayap Axel. “Axel menyukai Wren. Dia memuja suamimu itu lebih daripada para malaikat lain yang ada disekitarnya. Aku yakin kalau hanya Navaro yang bisa mengalahkan rasa cintanya pada Wren. Bahkan aku sempat merasa iri saat menyadari hal itu dulu.”ucap Eliza sambil menatap putera dan suaminya yang kini sibuk berdebat entah tentang apa sebelum Reynard dan Wren menyela dan mengakhiri perdebatan itu. “Perasaan itu berbalas, Eliza. Wren juga memuja puteramu lebih dari siapapun. Wren memang mencintaiku dan akan melakukan segalanya yang kuinginkan, tapi dia juga akan memberikan dunia kalau Axel meminta itu darinya.”balas Lily tulus. Eliza mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas tangan Lily lalu meremasnya lembut. “Saat Gabby hamil, aku cemburu. Aku merasa kalau kalian akan lebih menyayangi anak mereka daripada Axel karena mereka satu kaum dengan kalian. Saat Kalyca lahir, aku lebih cemburu dari sebelumnya. Mereka memiliki putri yang sangat cantik yang akan merebut hati siapapun yang melihatnya. Saat kau dan Wren sering berlibur ke Kanada, aku marah pada kalian, pada Navaro, dan pada diriku sendiri. Saat itu aku pikir ‘kenapa kalian mau meluangkan waktu untuk bepergian sejauh itu hanya demi Gabby dan Kaly tapi tidak pernah mengunjungiku dan Axel?’. Saat itu aku sadar kalau kalian tidak akan mungkin bisa mengunjungi kami walau kalian ingin. Itulah alasan kenapa aku marah pada Navaro. Karena dia yang membawa kami kesana dan bukannya menetap di Dragoste Hall. Tapi lebih dari semua itu, aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku berubah menjadi wanita pencemburu dengan hati busuk yang begitu mudah digerogoti perasaan seperti itu saat aku tahu kalau kalian sudah lebih dulu memberikan perhatian yang sama padaku dan Axel sebelumnya. Aku sadar kalau kalian menyayangi Kalyca dan juga Axel. Bahwa kalian tidak pernah membedakan kasih sayang kalian pada keduanya. Aku sadar kalau aku juga menyayangi Kalyca seperti putriku sendiri. Aku terlalu jauh jatuh dalam kebusukan perasaan yang sempat mengacaukan akal dan perasaanku.” “Apa hari ini hari untuk mengungkapkan segalanya?”tanya Lily tiba-tiba begitu Eliza selesai mengungkapkan isi hatinya. Eliza menoleh dan menatap Lily bingung, “Apa maksudmu?” “Lupa? Tadi Axel juga mengungkapkan isi hatinya. Sekarang kau juga melakukan hal yang sama. Apa aku juga harus melakukannya?”tanya Lily balik. Eliza tersenyum menyadari kenyataan itu. “Hanya kalau kau ingin, Lily. Mungkin akan baik untukmu. Kau hanya membagi segalanya bersama Wren, bukan?” Lily mengangguk untuk membenarkan ucapan Eliza sebelum mulai bicara. “Aku selalu berkata pada Wren kalau aku tidak menginginkan kehadiran seorang anak. Selalu. Tapi jauh di dalam hatiku, aku menginginkannya. Bagaimanapun, dulu aku menjalani hidupku Layaknya manusia normal dan bermimpi memiliki suami dan anak. Dad lah yang membuatku sadar akan apa yang hati kecilku inginkan. Aku iri padamu karena memiliki Axel, tapi aku lebih iri lagi pada Gabby dan Zac. Apa yang membedakan mereka dengan kami sehingga mereka bisa memiliki anak tapi kami tidak? Kehadiran Axel dan Kaly semakin membuat hatiku sakit dipaksa untuk menerima kenyataan kalau mereka yang kusayangi bukan anak-anakku.”ucap Lily jujur dan terdiam sejenak saat Wren tiba-tiba berhenti menyerang Axel dan menatap Lily dari kejauhan. Emosi yang Lily rasakan selalu berpengaruh pada perasaan Wren, dan laki-laki itu menyadarinya. Rasa cinta Lily meledak saat merasakan rasa bersalah dalam hati dan pikirannya, bukan perasaannya sendiri, melainkan perasaan Wren yang dapat dirasakannya kini. “Lily... Itu tid-“ Lily mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Eliza, “Jangan menyela dulu, Eliza.”ucap Lily cepat lalu menggeleng pelan pada Wren yang masih menatapnya. Wren tetap memperhatikan Lily beberapa detik selanjutnya sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Axel. “Rasa iri itu masih ada hingga sekarang. Tapi kalau aku dihadapkan dengan pilihan antara memiliki anak dan kehilangan Wren atau hidup tanpa anak dan bersama Wren, aku akan memilih yang terakhir. Sama seperti yang kupilih hingga saat ini dan aku akan selalu memilih Wren. Aku tidak menyesal karena aku sendiri yang memilih jalan hidupku. Rasa iri itu tidak jauh lebih besar daripada cinta yang kumiliki untuk Wren. Dia, vampirku, adalah segalanya yang kubutuhkan. Aku mencintainya dengan segala cara yang bisa kulakukan. Perlahan, aku bisa mengatasi perasaanku karena perhatian tulus yang Axel dan Kaly berikan. Kau benar saat mengatakan kalau Kaly bisa merebut hati siapapun yang melihatnya, tapi kau juga harus tahu kalau Axel memiliki kemampuan yang sama. Hatiku tidak lagi menjadi milikku sejak bertemu dengan Wren, dan kini vampirku itu harus rela berbagi hatiku, cintaku, dan perhatianku dengan Axel dan Kaly.” “Axel puteramu, Kalyca putrimu.” “Ya, kau benar. Mereka berdua adalah anak-anakku.”ulang Lily penuh rasa terima kasih sebelum merasakan kehangatan yang menjalari lengan kirinya dengan tiba-tiba. Senyuman langsung muncul di wajahnya saat tangannya yang lain mengelus tato naga yang kini sudah berpindah ke lengan atas Lily dan hanya menyisakan lengkungan ekornya terlihat dikulit Lily yang tidak tertutupi pakaian. “Dad selalu tahu perasaanku. Bahkan perasaan-perasaan yang tidak kusadari.” “Apa maksudmu?” “Aku belum pernah memperlihatkannya pada kalian meski aku sudah menceritakannya. Axel dan Wren menggabungkan suara mereka bersama anggota klan Libra lainnya agar aku tidak sembarangan melepaskan Lev ke luar.”ucap Lily kemudian. “Lev... Yang kau bilang hadiah dari Lucifer itu?” Lily mengangguk cepat, “Beberapa tahun setelah Kaly lahir, Dad memberikan Lev padaku, memintaku merawat dan menjaganya walau Lev tidak butuh dijaga oleh siapapun. Karena dia merasa bersalah atas takdir yang dia berikan padaku. Nephilim tidak akan pernah memiliki keturunan.” Eliza mengangguk paham dan sama sekali tidak asing dengan istilah yang digunakan Lily. Setelah menjadi pasangan Navaro, Eliza mempelajari banyak istilah yang tidak pernah didengarnya selama ini. Nephilim adalah sebutan untuk makhluk yang terlahir dengan darah malaikat dan manusia dalam tubuhnya. Seluruh malaikat tahu apa artinya itu. Nephilim atau juga bisa diartikan sebagai Anak Malaikat. Keberadaan yang harus dimusnahkan jika tidak ada seseorang yang bertanggung jawab atas mereka. “Ya. Aku ingat hari kau menceritakannya. Karena beberapa bulan kemudian, Axel kabur dan datang ke London seorang diri. Bahkan setelah puluhan tahun, aku tidak akan melupakan hari itu, Lily, hari saat Navaro memperlihatkan emosinya di depan para malaikat.” “Aku ingin mengenalkan Lev padamu, Eliza. Dia yang mengisi hari-hariku saat Axel dan Kaly tidak disini, atau saat Wren terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Terkadang aku bisa memanjakan Lev seperti aku memanjakan Kaly dan Axel, karena memang itu salah satu alasan kenapa Dad memberikannya padaku.”ujar Lily bangga lalu menyentuh lengan kirinya lalu menjauhkan tangannya seolah sedang menarik sesuatu. Ajaibnya, Lily memang menarik sesuatu dari lengannya. Tinta hitam keluar dari lengan atas Lily ke udara sebelum membentuk cairan bening. Cairan itulah yang kemudian berubah wujud menjadi sosok telanjang anak laki-laki berusia 5 tahun. Rambutnya yang ikal berantakan berwarna biru laut dan kulit tubuhnya sangat pucat. Bola matanya sepenuhnya berwarna biru laut tanpa iris. Kuku tangan dan kakinya panjang dan juga runcing. Sepasang taring mungil mengintip di balik sela bibirnya saat dia menyeringai senang ke arah Lily. Meskipun begitu, bocah itu tetap terlihat tampan untuk anak seusianya. “Eliza, kenalkan, ini Leviathan atau Lev.”ujar Lily ringan, “Lev, ini Eliza, sahabatku dan pastinya bukan makananmu. Seringai di wajah Lev menghilang digantikan kerutan tidak senang khas anak-anak yang sedang merajuk saat hal yang disuAleandronya dilarang untuk dilakukan, “Kenapa banyak sekali yang tidak bisa kumakan, Kyria?”tanya suara jernih kecil milik Lev. Lily baru saja mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Lev saat matanya menangkap gerakan cepat yang menuju ke arahnya. Kurang dari 10 detik kemudian, Navaro dan Reynard siap menyerang dengan senjata terangkat ke arah Lev sementara tepat di belakang mereka Wren dan Axel membelalak tidak percaya melihat Lily mengeluarkan Lev. Hanya Wren dan Axel serta beberapa klan Libra yang pernah melihat makhluk biru itu. Zac, Gabby, Aleandro, Amelia dan bahkan Navaro serta para malaikatnya belum pernah melihat Lev sekalipun. Dan bagi siapapun yang ada disana selain Lily, Leviathan adalah musuh. “Menjauh dari mereka, Leviathan. Kau tidak diizinkan muncul disini. Kembalilah ke kedalaman laut.”ucap Navaro dingin sambil bergerak untuk menempatkan dirinya diantara Lev dan Eliza. Gerakan perlindungan agar Eliza sepenuhnya aman dari ancaman apapun yang mungkin terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD