Kesibukan di IGD rumah sakit membuat para dokter jaga benar-benar tidak bisa beristirahat siang itu. Ada kecelakaan beruntun terjadi di persimpangan dekat stasiun kereta api Chelsfield dengan jalan tol M25. RS Universitas Royal Princess adalah fasilitas kesehatan terdekat dari lokasi kejadian tersebut. Karena itulah korban-korban kecelakaan dikirim ke RS Universitas Royal Princess sebelum di transfer ke rumah sakit perawatan lainnya yang masih bisa menerima tambahan pasien rawat inap.
Sebagai kepala IGD, Dr. Rue Tabansi juga tidak bisa menghindari arus pasien yang datang. Dr. Rue Tabansi mendapatkan jabatannya di IGD RS Univ. Royal Princess bukan tanpa sebab. Di usianya yang masih muda, Dr. Rue membuktikan diri menjadi dokter yang hebat dengan menangani pasien dengan cepat dan efisien, tidak pernah melewatkan jadwal jaga, ataupun terlibat masalah sejak mulai bekerja di rumah sakit.
Kantuk dan rasa lelah yang dirasakannya setelah mendapat giliran jaga 2x24 jam sebelumnya langsung menghilang begitu mendapat laporan kalau IGD-nya akan mendapat kiriman korban kecelakaan beruntun. Saat itu juga Dr. Rue langsung mengkoordinir staf-staf dan dokter-dokter lainnya untuk bekerja lebih cepat namun tetap efisien dalam menangani pasien. Mengingat sudah ada tim dokter yang melakukan triase di lokasi kejadian, dokter-dokter di IGD hanya menangani pasien-pasien darurat saja meskipun jumlahnya juga luar biasa.
6 jam kemudian sejak pasien kecelakaan pertama tiba di rumah sakit, akhirnya para dokter jaga di IGD bisa duduk untuk beristirahat sejenak. Kecelakaan yang melibatkan lima mobil pribadi dan dua bus penumpang itu mengakibatkan 7 korban meninggal di tempat, 11 dalam keadaan koma, dan belasan korban lainnya menderita luka-luka serta memar yang diharuskan menjalani rawat inap hingga korban yang bisa diizinkan rawat jalan.
“Istirahatlah. Korban terakhir sudah dikirim ke rumah sakit Lewisham. Dan evakuasi sudah berakhir setengah jam yang lalu. Aku pulang duluan, kalau ada masalah, langsung hubungi nomor pribadiku saja.”ujar Dr. Rue saat masuk ke ruang dokter dan mendapati rekannya nyaris terkapar seperti para korban kecelakaan. Beberapa dari mereka merupakan rekan jaga malam Rue selama dua hari.
“Kau yang seharusnya istirahat sejak tadi, Rue. Pulang dan istirahatlah. Jangan cemaskan kami.”sela seorang laki-laki yang mengenakan jas dokter, Dr. Jordan Kimball. “Lagipula Dr. Veryl mengatakan kalau dia akan mampir begitu menyelesaikan operasinya dan membantu disini.”
Mendengar saran dari orang yang juga sudah berjaga selama 48 jam bersamanya tanpa tidur membuat Rue tersenyum. “Kau juga, Kimball. Sampai bertemu besok. Kalau Dr. Veryl memang datang, maka IGD kita akan sangat terbantu. Jarang sekali dia menyempatkan diri menawarkan bantuan tanpa diminta.”ujar Rue sebelum keluar dari ruang dokter dengan tas kecil miliknya. Rue bahkan tidak melepas jas dokternya saat berjalan menuju parkiran.
Rue tiba di parkiran mobil dokter dalam waktu singkat dan langsung melemparkan jas dokter serta tasnya ke kursi belakang sebelum masuk ke sisi pengemudi. Diburu waktu, Rue memasukkan lokasi tujuannya ke sistem navigasi dan membiarkan sistem komputer mengoperasikan mobilnya. Pada hari biasa, Rue lebih memilih menggunakan mode manual sambil menikmati suasana London tahun 2064 yang memiliki pesona tersendiri dengan lalu lintasnya yang luar biasa padat.
Sambil bersandar, Rue memeriksa pocket computer (PC) miliknya dan mengetuk sebuah icon dengan jarinya sebelum icon tersebut terbuka secara hologram dan menampilkan profil seseorang. Wajah Rue terlihat jauh lebih serius saat mencerna setiap informasi di profil itu daripada saat menangani pasiennya di rumah sakit. Rue menambahkan alamat yang ada di dalam profil itu ke sistem navigasi sebelum menutup profil tersebut dan mulai mengirimkan pesan suara ke seseorang yang memberikan profil tadi padanya.
“Data diterima dan diproses. ‘Sampah’ akan dibereskan 1x24 jam. Confirm.”
Rue mengulang pesan suara yang sudah menggunakan mode pengubah suara otomatis di PC-nya. Bukan berarti Rue tidak mempercayai si penerima pesan, dia hanya memilih untuk bersikap waspada kalau ada orang lain yang mendengar pesan itu dan mengenali suaranya, meski tidak ada yang bisa menduga apa maksud pesan suara singkat itu. Semua yang ingin disampaikannya sudah sesuai dengan tujuannya. Tanpa memeriksa lagi, Rue mengirimkan pesan tersebut. Setelah selesai, Rue menyimpan kembali PC-nya dan membuka laci dashboard mobilnya untuk mengambil sebuah senjata api. Rue memastikan slot peluru terisi penuh begitu juga dengan baterai keringnya. Seandainya pelurunya habis, senjata Rue bisa digunakan sebagai alat penyetrum bertegangan tinggi tergantung konfigurasi yang diatur. Setidaknya bukan nama Rue yang terdaftar dalam berkas kepemilikan senjata ini karena memang bukan dia yang membelinya. Jadi, apapun yang terjadi, Rue tidak akan pernah bisa diAleandrotkan dengan apa yang dilakukannya kecuali ada bukti visual dirinya terlibat.
Di dalam laci itu juga terdapat sebuah belati lengkung kuno yang beberapa saat kemudian terselip aman di belt kulit di pinggang Rue. Jarang sekali ada orang yang masih menggunakan senjata tajam saat alat pengejut dijual bebas dimana-mana sebagai alat perlindungan diri. Menggunakan senjata tajam membuat penggunanya harus berada sangat dekat dengan lawan untuk menghasilkan luka yang serius, sedangkan kalau menggunakan alat pengejut, si pengguna bisa berada dalam jarak tertentu tergantung pilihan senjatanya. Namun Rue tidak pernah meninggalkan belatinya kapanpun dia akan menjalankan tugas. Belati itu merupakan peninggalan dari orangtuanya yang telah lama terbunuh.
Di satu sisi, Dr. Rue Tabansi adalah seorang tenaga medis yang sudah menyelamatkan banyak nyawa sejak dia mendapatkan surat izin prakteknya. Di sisi lain Rue Tabansi juga berprofesi sebagai sweeper yang namanya sudah dikenal baik di dunianya. Rue tidak bekerja untuk siapapun. Dia bekerja untuk dirinya sendiri, untuk menyingkirkan pihak-pihak yang dianggapnya ‘sampah’. Dalam hal ini, Rue tidak memilik syarat. Dia akan memburu siapa saja yang sudah mengorbankan nyawa makhluk lain, tidak peduli apakah targetnya manusia atau makhluk lainnya. Meskipun begitu, Rue sendiri mengakui kalau selama beberapa tahun menjalani profesi sampingannya ini, dia belum pernah berhadapan dengan lawan yang benar-benar kuat.
***
“Jendela mode privasi.”gumam Axel parau saat merasakan cahaya terang menembus hingga menerangi kamar dan menyilaukan matanya.
Biasanya, Axel tidak pernah lupa memastikan kalau apartemennya selalu dalam mode pengamanan khusus saat dia tertidur hingga tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam unit apartemennya tanpa izin. Jendela-jendela di apartemennya juga akan berada dalam mode privasi saat Axel tidur. Jadi, pagi ini Axel benar-benar terganggu karena cahaya matari yang begitu menyilaukan matanya. Namun, setelah lima menit sejak dia menyerukan perintah suara, tidak ada perubahan yang terjadi. Axel menggerutu pelan saat sekali lagi mengucapkan perintahnya yang hanya beruLiamg sia-sia. Cahaya yang masuk ke kamar malah semakin terang hingga akhirnya membuat Axel terbangun dan memperhatikan keadaan disekelilingnya.
Tidak ada gedung-gedung tinggi yang terlihat di luar jendela kamarnya. Alih-alih gedung, Axel malah mendapati batang-batang pohon yang sangat jarang dijumpai di tengah kota London. Memastikan kalau itu bukan halusinasi, Axel mengerjapkan matanya beberapa kali dan tetap mendapati deretan pepohonan di luar kamarnya.
“Astaga.”gerutunya kesal sambil mengacak rambutnya frustasi. “Ini rumah Pa, dan Pa masih menyukai mode manual sama seperti 50 tahun lalu.”gerutunya lagi sebelum kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya. Axel tidak pernah bisa bangun cepat kalau dia tahu dirinya libur sejak malam sebelumnya.
Tidak sampai 5 detik kemudian selimut Axel sudah ditarik lepas dari tubuhnya. “Bangun, Ace. Bergeraklah sebelum aku menyuruh Lev keluar dan bermain bersamamu.”ujar Lily yang entah sejak kapan sudah berada di dalam kamar Axel.
Axel mengerang saat cahaya matahari kembali menyilaukan matanya. “5 menit lagi, Ma.”gumam Axel sambil membalik tubuhnya hingga berbaring telungkup tanpa mempedulikan kalau dia hanya mengenakan celana denim pendek tanpa mengenakan atasan apapun.
“Bangun atau Lev, Ace?”tanya Lily terdengar riang karena sudah bisa membayangkan keributan apa yang akan terjadi kalau sampai malaikat muda ini disapa oleh Lev_peliharaan Lily hadiah dari Lucifer. Dan Lily yakin kalau keributan tidak hanya akan terjadi di kamar Axel tapi diseluruh penjuru Acasa Manor.
Tidak sampai sedetik kemudian Axel bangun tiba-tiba dan duduk di tengah ranjang. Matanya langsung siaga memperhatikan situasi di kamarnya yang didominasi oleh interior kayu dan kaca. Kamar Axel merupakan satu dari sedikit kamar berdisain moderen meski belum menggunakan teknologi terkini yang sangat disuAleandro pemuda itu seperti yang diterapkannya di seluruh sudut apartemennya. Kamar Axel terletak di sudut lantai dua dan menghadap langsung ke bagian belakang serta samping rumah. Kamar itu juga memiliki beranda paling luas yang menyatu dengan beranda di kamar seberangnya. Pengamatan singkat Axel menunjukkan kalau tidak ada yang aneh di dalam kamarnya sebelum dia menatap Lily dan berhenti pada lengan kiri Lily, dimana sebuah tato naga menyambung tato pasangan yang ada di punggung tangannya.
“Aku sudah bangun, Ma. Jadi, jangan keluarkan ‘dia’.”gerutu Axel serak meski matanya berulang kali kembali tertutup.
Lily tersenyum melihat malaikat muda itu. Axel memiliki kepribadian yang secara garis besar merupakan idaman para orangtua. Tutur kata sopan, wajah tampan, pintar, ramah, penuh kasih sayang, dan sudah memiliki usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Tapi tidak ada yang sempurna bahkan untuk malaikat sekalipun. Axel akan berubah menjadi pemuda malas, penggerutu, dan muram setiap bangun tidur apalagi saat dia libur kuliah. Dan yang paling membuat Lily serta Eliza heran adalah fakta kalau pemuda itu tidak memiliki teman dekat wanita. Satu-satunya gadis yang dekat dengan Axel hanyalah Kaly dan Kaly jelas sudah menjadi adik bagi Axel.
“Kalau kau tidak bergegas, kau akan terlambat melihat hal yang selama ini kau ingin lihat. Orangtuamu sudah bangun sejak pagi dan sudah berada di halaman belakang.”ujar Lily sambil tersenyum penuh misteri.
Axel menatap Lily sejenak. Kerutan dalam muncul di dahinya saat dia memikirkan makna lain dari ucapan Ma-nya itu. Butuh waktu dua menit penuh bagi Axel untuk menyadari maksud ucapan Lily. Makian kecil meluncur dari bibirnya saat dia berteleportasi ke kamar mandi dan beberapa detik kemudian terdengar air dari shower mulai mengalir. Lily terperanjat saat mendengar makian itu dari mulut Axel namun hanya bisa terdiam. Tidak salah kalau malaikat muda itu akhirnya bisa memaki seperti itu mengingat dengan siapa dia menghabiskan waktu di sela-sela kegiatannya.
Lily memutuskan meninggalkan kamar Axel dan bergabung bersama yang lain di halaman belakang mengingat kamar mandi Axel terhubung langsung dengan kamar tidur tanpa memiliki dinding pemisah ataupun pintu. Bahkan bathtube di kamar mandi Axel langsung menghadap ke dinding kaca yang tidak bertirai. Untungnya masih ada bilik shower terpisah di kamar itu yang memiliki privasi sendiri. Lily tahu kalau Axel pasti akan langsung berteleportasi ke halaman belakang begitu selesai membersihkan diri. Dan memang itulah yang terjadi 5 menit kemudian. Axel muncul di halaman belakang dengan mengenakan celana denim panjang serta kaus putih tepat saat sesosok malaikat bersayap ungu lembut menyerbu Navaro dengan sebuah pedang berornamen emas dalam genggamannya.
“Uncle Reynard?”bisik Axel tidak percaya saat mengamati dua malaikat yang sedang bertarung itu.
Meskipun sayap mereka kembali ke warna aslinya, tapi mereka tidak benar-benar kembali ke wujud malaikat sempurna. Wujud sempurna seorang malaikat tidak bisa dilihat oleh makhluk non malaikat. Dan para malaikat hanya menunjukkan wujud aslinya di hadapan Sang Pencipta.
“Ya. Dia baru datang pagi ini dan menerima tawaran untuk latih tanding bersama. Lagipula di tempat kalian sana, tidak mungkin untuk latih tanding seperti ini, bukan?”tanya Wren yang sudah bergabung bersama Axel di belakang kursi santai tempat Lily dan Eliza duduk nyaman.
Suatu pemandangan yang sangat indah saat melihat dua malaikat bertarung dengan mengembangkan sayapnya. Mereka bergerak sangat cepat dibantu oleh dorongan sayap mereka walaupun sayap juga menjadi kelemahan mereka. Dan saat ini, ada dua warna indah yang bergerak sangat cepat hingga nyaris menyerupai kilasan cahaya biru dan ungu. Tidak ada satupun yang menggunakan sayap mereka sebagai senjata atau sebagai tameng. Keduanya saling mempercayai untuk tahu bahwa saat ini mereka hanya latihan untuk menguji kemahiran mereka menggunakan pedang dan tidak akan dengan sengaja mengincar kelemahan setiap malaikat itu. Jarang ada malaikat yang mau memperlihatkan warna asli sayapnya pada makhluk lain. Mereka lebih suka membuat manusia dan makhluk lain percaya kalau warna sayap mereka hanya terdiri dari satu warna, putih.
“Ma bilang kalau dulu Uncle Reynard pernah memburu Ma lalu akhirnya malah menjadi ‘pelatih’ Ma.”ucap Axel tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari dua malaikat di halaman belakang Acasa Manor.
Wren sama sekali tidak tahu kenapa Axel baru membicarakan hal ini sekarang mengingat perburuan terhadap Lily sudah berakhir lebih dari 5 dekade. Satu-satunya hal yang bisa ditebak Wren adalah karena saat ini Reynard sedang latih tanding bersama ayahnya. Hubungan Reynard dan Navaro memang sudah membaik sejak 5 dekade lalu. Tapi, mereka tidak pernah berlatih bersama seperti hari ini. Seharusnya Wren yang akan berlatih bersama Navaro sebelum Reynard muncul. Dan entah kenapa Wren malah membujuk Angel Hunter yang pernah memburu istrinya itu untuk menggantikannya dan berlatih bersama Navaro.
“Ya.”sahut Wren singkat.
“Aku menyukai Uncle Reynard, Pa. Dia satu dari sedikit orang yang bersedia datang saat aku membutuhkan bantuan disana. Hanya karena aku adalah putera Cerubhim mereka tidak mengatakannya terang-terangan di hadapanku kalau mereka tidak sudi berdekatan denganku karena pilihanku untuk bersama kalian disini. Aku tidak mengerti kenapa para malaikat selalu enggan bahkan terkesan jijik jika berhubungan dengan kalian. Mereka selalu menganggap semua makhluk non malaikat itu rendah. Harga diri serta kepercayaan diri yang terlalu tinggi menurutku.
Malaikat percaya kalau mereka adalah makhluk kuat yang tak terkalahkan. Hanya Sang Pencipta yang bisa menghukum kami dan menandingi kekuatan kami. Tapi mereka salah dan suatu saat, aku yakin, hal itulah yang akan menghancurkan mereka. Ada banyak makhluk di muka bumi ini yang bisa mengakhiri keabadian kami. Ada banyak makhluk yang kekuatannya seolah mengejek kekuatan para malaikat yang selalu diagung-agungkan itu. Dan semua vampir yang kukenal memiliki kekuatan itu. Kekuatan untuk mengakhiri kesombongan para malaikat. Kalian bisa membunuh malaikat sekalipun. Tapi Uncle Reynard tidak. Dia berbeda dengan yang lain. Dia tidak peduli dan menunjukkan pada yang lainnya kalau aku masih tetap bagian dari Regnum Angelorum bahkan kalau aku lebih jarang lagi pulang kesana. Yang lebih penting, dia tahu kalau malaikat bukanlah makhluk terkuat yang ada di seluruh alam semesta.
Mengingat garis keturunannya, Uncle Reynard bisa menjadi sekutu yang kuat dan menguntungkan untuk kami bersama beberapa malaikat yang lainnya. Menurut ayah, dia memiliki bakat unik yang belum disadarinya. Tapi kalau disuruh memilih dan meletakkan dimana kesetiaanku, kalau aku disuruh mengambil keputusan siapa yang akan aku ikuti suatu hari nanti, aku tidak membutuhkan Uncle Reynard jika itu artinya aku harus bisa menerima perburuan yang pernah dia lakukan pada Ma. Untung saja semua itu sudah lama berlalu.”jelas Axel tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya tentang perasaannya pada Reynard.
Wren terdiam.
Tidak sedikitpun Wren menduga akan mendengar pengakuan Axel tentang perasaannya terhadap Reynard atau apa yang dia pikirkan tentang semua itu secara tiba-tiba seperti ini. Wren tidak ragu dimana Axel akan meletakkan kesetiannya. Bahkan kalau Axel berbohong sekalipun tentang masalah itu, Wren tetap bisa melihat kebenaran di baliknya. Tapi tetap mengejutkan baginya saat mendengar pengakuan langsung dari mulut sang malaikat muda. Wren juga merasakan keterkejutan yang sama saat emosi Lily membanjiri hatinya. Saat itu dia tahu kalau Lily juga mendengar semua ucapan Axel tadi. Entah sejak kapan, Wren bisa merasakan emosi Lily dalam jarak sejauh apapun, begitu juga sebaliknya. Ikatan emosi ini jauh lebih berharga dari apa yang dulu Wren inginkan agar dia dan Lily memiliki kemampuan telepati agar selalu bisa berhubungan dengan istrinya.
“Kau ingin berlatih, Son?”tawar Wren beberapa saat kemudian yang langsung membuat Axel menoleh padanya bersamaan dengan Lily yang mendongak ke arahnya.
“Kau bercanda!?”seru kedua orang itu bersamaan.
Eliza langsung terkekeh melihat reaksi sahabat serta puteranya. “Kalian lebih seperti anak kembar dibandingkan ibu dan anak. Kalian berdua Mirip sekali.”ucap Eliza ringan dan sama sekali tidak masalah menyebut Lily sebagai ibu Axel sementara dirinya-lah ibu kandung Axel.
Axel mengabaikan ucapan ibunya saat mengulurkan tangan untuk mencengkram lengan Wren dan mengguncangnya seolah vampir itu telah kehilangan otaknya hingga tidak bisa berpikir. “Kau tidak bercanda, bukan? Kau benar-benar serius, Pa?”tanya Axel tidak percaya.
“Tentu saja, Son.”sahut Wren cepat. “Kapan terakhir kali aku melatihmu? Kalau tidak salah saat itu kau baru berusia 10 tahun menurut hitungan manusia. Aku ragu kau masih mengingat hasil latihan itu.”
“Astaga! Aku selalu bermimpi kau akan melatihku lagi suatu hari nanti, Pa! Berlatih bersama Javas dan Kairav tidak menarik. Mereka terlalu baik padaku.”sahut Axel lalu menambahkan dengan cepat, “Dan aku tidak lupa, Pa, apa hasil latihan yang kau berikan padaku. Bukti latihan saat itu bahkan akan kubawa bersama diriku seumur hidup.”
“Hanya karena mereka tahu kalau kau terluka maka murka Navaro yang akan mereka hadapi. Tapi aku tidak takut, Son, selama aku tahu itu baik untukmu.”
“Oh! Oh! Astaga! Mom! Kau dengar? Aku bisa latihan dengan Pa!”seru Axel kuat penuh dengan semangat.
Eliza tersenyum, “Tentu saja, honey.”ucap Eliza ikut bahagia melihat semangat Axel yang mendadak berkobar hanya karena masalah sederhana.
“Don’t honey me, Mom. I’m not kid anymore.”tegur Axel seketika yang langsung membuat Lily terbahak dan membuat Eliza tersenyum penuh kasih.
“Dengar dirimu sendiri beberapa saat lalu, Ace. Kau nyaris melompat kegirangan saat mendengar Wren bersedia melatihmu dan kau tidak suka ibumu memanggilmu ‘honey’ dan ‘not kid anymore’?”tanya Lily geli.
“Itu tidak ada hubungannya, Ma.”gerutu Axel pelan lalu kembali menatap Wren dengan mata berbinar. “Sekarang, Pa?”
“Kenapa tidak?”tanya Wren balik dan langsung melesat cepat menuju tempat yang lebih luas agar tidak mengganggu para wanita yang pastinya akan segera bergosip.
“Jangan menghajar seperti dulu, Wren. Dia harus sudah sembuh tanpa memar apapun saat kembali kuliah.”seru Eliza kuat ketika teringat bagaimana kondisi puteranya saat selesai berlatih bersama Wren beberapa tahun yang lalu. Tidak ada kata yang lebih tepat selain ‘babak belur’ untuk menjelaskan kondisi Axel kala itu. Padahal saat itu usia Axel masih tergolong sangat muda untuk ukuran malaikat.
“Kau tidak perlu mencemaskannya, Eliza. Bagaimanapun saat ini matahari sudah terbit. Tidak mematikan, tapi tetap melemahkanku.”sahut Wren santai meski tidak sedikitpun dia terlihat terpengaruh oleh cahaya matahari mengingat banyaknya bayang-bayang pepohonan disana serta usia Wren sendiri yang membuatnya semakin lama kuat untuk bertahan dibawah cahaya matahari. Meskipun begitu, bahkan Zac sekalipun tidak bisa bertahan lebih dari 3 jam terkena sinar matahari saat sang surya berada di puncaknya.