BAB 2

1653 Words
"Kok lo pulang duluan sih tadi?" Raina mengambil posisi di samping Elea yang hanya duduk melamun sambil menatap kosong layar TV yang menyala. Elea tak menjawab dan Raina menghela napas panjang. Ia tahu, kondisi kawannya itu tengah dirundung mendung kelabu. Tapi tak seharusnya juga Elea merasa sedemikian hancur. Harusnyanya gadis itu bersyukur, Tuhan masih berbaik hati padanya, sebab membiarkannya melihat sisi buruk Evan. "Lo kayak mayat hidup, sumpah! Please ya Le, jangan sedih begini, gue bener-bener nggak tega lihat wajah lo begini," kata Raina sambil mengelus punggung Elea, memberi semangat pada gadis itu. "Tapi kenapa Evan jahat, Rain? Kenapa? Kita udah pacaran dua tahun, seharusnya dia nggak mengkhianati gue. Apa salah gue sama dia? Apa Rain?" Elea menatap Raina nanar, dengan air mata yang kembali mengaliri pipinya. Wajah gadis itu terlihat sangat kacau, rambutnyanya acak-acakan, matanya memerah, dan wajahnya lembap. "Nggak Lea, lo nggak salah, yang salah itu Evan sendiri. Dia yang salah karena udah main belakang." "Iya, tapi kenapa? Kenapa dia kayak gitu? Udah mesthi karena gue salah kan? Tapi apa, apa salah gue? Selama ini gue berusaha jadi pacar yang baik. Gue nggak pernah coba ganggu dia, gue selalu biarin dia lakuin apa yang dia mau. Gue nggak pernah menutut yang lebih sama dia. Gue nggak pernah minta macam-macam sama dia. Tapi kenapa? Kenapa dia malah main sama cewek lain, Rain? Kenapa? Apa yang salah sama gue?" Raina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue heran sama lo, kenapa lo jadi buta gini. Itu sifat asli dia Le, dia bukan laki-laki yang baik. Dia cowok b******k, seharusnya lo bersyukur karena udah putuh dari dia. Please, gue mohon sama lo, jangan jadi cewek lemah cuman karena cowok." Elea semakin tersedu. "Nggak bisa Rain, nggak bisa. Gue terlalu cinta sama dia," isaknya tanpa henti. Raina menghela napas, ia beringsut mendekat, lalu memeluk tubuh Elea. "Sst, udah Lea, udah. Coba tarik napas, buang perlahan. Lo pasti bisa lewatin hal ini. Oke?" Elea tak menjawab, tapi tangis gadis itu malah semakin deras. "Nggak bisa Rain, gue nggak bisa. Bayangin, bayangin gue udah jalin hubungan sama dia selama itu! Tapi kenapa dia jahat?! Gue nggak biaa menghapus hal itu dari otak dan hati gue. Gue nggak bisa Rain, gue nggak bisa! Ini terlalu menyakitkan!" "Ck! Lain kali lo nggak usah jatuh cinta lagi oke? Kalau akhirnya kayak gini, susah juga," ujar Raina sambil melepas pelukannya lalu memandang miris wajah Elea yang lebih dari berantakan. Kasihan sekali gadis itu, ia sudah banyak mendapat luka. "Ah kalau lo kayak gini terus, curiga gue sebentar lagi lo cuman tinggal nama," desah Raina dengan wajah sedih, namun selang beberapa detik, wajah kelabu itu berganti dengan wajah cerah. "Gue punya ide! Gimana kalau kita hangout aja? Gue punya tempat bagus buat seneng-seneng. Lo harus ikut! Lo harus lupain kesedihan lo itu! Ayo Le!" ajak Raina dengan semangat, sambil menarik-narik tangan Elea agar gadis itu mau beranjak dari ranjangnya. "Bentar Rain." Elea mencoba meneguhkan hatinya. Gadis itu lalu menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan-lahan untuk melonggarkan dadanya yang sesak. Ia berpikir sebentar, mungkin ia harus menuruti Raina, gadis itu memiliki ribuan cara untuk membuatnya lepas dari kungkungan kelabu. Ia lalu berdiri dan menuruti ajakan Raina tanpa semangat. Harapnya, apa yang Raina ucapkan benar. Ia bisa bersenang-senang dan melupakan kesedihannya itu. ****** Ini pertama kalinya seorang Arcetta Elea mengunjungi tempat-tempat sejenis hiburan malam seperti ini. Ia tak menyangka, di jam yang menunjuk ke angka dua belas--tengah malam begini, masih banyak orang yang membuka matanya, berlenggak-lenggok di bawah sorot lampu disko dengan musik berdentum-dentum yang menjadi pengiringnya. Ini terlalu liar untuk Elea. "Ih! Lo ya! Ayo ke lantai dansa! Jangan di sini aja! Percuma dong kalau bengong doang!" Raina, gadis itu menyenggol tubuh Elea, mengajak kawannya itu untuk terjun ke lantai dansa. "Kita balik aja gimana? Ini bukan gaya gue," kata Elea, ia menatap tak yakin pada sosok cantik di depannya. Raina mungkin sudah terbiasa mengunjungi tempat-tempat semacam itu, tapi tidak untuk dirinya. Elea sangat asing dengan hal-hal berbau seperti inj. "Tapi lo perlu berseneng-seneng, Le! Lihat wajah lo? Lo kelihatan--ah sulit dideskripsiin," decak Raina dengan berlebihan. Elea tahu, dirinya memang terlihat sangat mengenaskan. Tapi ia tak peduli, masalah hatinya lebih penting dari sekadar penampilan. "Ini kayak bukan tempat yang baik Rain," ujar Elea sambil melihat ke sekeliling. Raina berdecak, "Ya menurut ente? Ini kan emang bukan tempat baik-baik. Udah deh, nurut gue aja. Kita seneng-seneng di sini, biar lo lupa sama si bangsul itu. Tapi ya elonya harus bisa ngontrol diri aja, jangan sampe kelepasan dong." "Tapi kan---" "Udah ayo!" Raina benar-benar membawa Elea ke lantai dansa. Ia mengajak kawannya itu untuk menari bersama, melompat-lompat dan berteriak sesuka hati, toh, suara mereka masih kalah dengan suara musik yang berdentum. "Udah Rain, ini nggak berefek apa pun sama gue, gue tetep--ngerasa kosong. Kosong yang bener-bener kosong," kata Elea dengan lemah. Gadis itu mundur beberapa langkah. "Lo nari aja nggak papa, gue bakal duduk di sana," gadis itu menunjuk pada kursi bar. "Oke deh kalau gitu, jaga diri lo baik-baik ya!" Elea hanya melambaikan tangannya malas. Ia dengan langkah gontai lalu berjalan menuju bar dan duduk di kursinya begitu ia sampai di sana. "Pelanggan baru ya? Mau pesan apa?" Bartender di sana bertanya, sambil sibuk menata gelas bening di atas meja. Elea mengangguk tak berminat, sebelum menyahut pertanyaan si barista dengan ogah-ogahan. "Yang bikin masalah hilang, ada nggak Bang?" "Oh, frustrasi ceritanya? Ck! Anak jaman sekarang, nggak jauh-jauh dari kata frustrasi. Tadi juga ada mas-mas frustrasi ditinggal pacarnya, sekarang apa? Ditinggal juga?" Elea tersenyum miris, "Sayangnya begitu. Cinta itu kejam banget ya, Bang? Biarin orang terluka karena dia." Si pria barista itu berdecak. "Jangan salahin cinta. Cinta nggak pernah salah. Dia nggak tahu seperti apa manusia yang bikin dia ada, b******k atau setia. Cinta itu suci, tapi manusia sendiri yang nodain rasa itu. Ya, seharusnya lo bisa bedain hal itu, sih." "Lo tahu banyak tentang cinta, Bang." "Pengalaman yang bikin gue tahu banyak. Gue pernah jadi si B*r*ngsek yang ninggalin wanita yang dia cintai dan mencintainya demi wanita lain yang lebih segalanya. Gue mikir waktu itu, mungkin yang segalanya lebih berarti dari yang cuman selalu hadir dan kasih perhatian doang. Tapi ternyata gue salah. Salah besar. Gue nggak merasakan kebahagiaan apa pun. Gue kosong. Lalu gue coba untuk kembali, tapi ternyata dia udah mencoba bangun hidup dia kembali setelah gue hancurin tanpa perasaan. Gue nggak bisa kan, dateng lagi dan rusak apa yang udah dia coba tata kembali? Di situ lah penyesalan gue, penyesalan terbesar dalam hidup gue. Gue yakin, pacar--ah, ralat, maksud gue, mantan lo itu bakal nyesel suatu saat nanti," kata laki-laki itu panjang lebar. "Moga aja, gue pengen lihat dia ngemis-ngemis sama gue," timpal Elea tersenyum masam. "Ah, gue banyak ngomong nih. Lo jadi mau pesen apa? Cocktail atau enggak wiski? Itu recommended buat orang yang dirudung masalah kayak lo sih." "Beneran?" Elea menaikkan alisnyan, agak sangsi. Si bartender tertawa renyah. "Ya lo coba aja dulu makannya." "Oke, yang cocktail aja." Bartender itu menuangkan minuman beralkohol itu pada gelasnya. Elea menatap tak yakin pada cairan bening itu, seumur-umur ia belum pernah mencobanya. Sama sekali. Dan ini adalah pertama kalinya untuk gadis itu. Begitu ia menyesapnya, rasa manis yang didominasi rasa pahit itu langsung memenuhi mulutnya, kemudian membakar tenggorokanya. Ia mencoba sekali lagi, dan rasanya, apa yang barista itu katakan benar. Pikirannya, bebannya, semua terasa ringan. "Lagi dong, Bang!" Ia menyodorkan kembali gelasnya yang sudah kosong ke sang bartender, yang lalu diisi kembali sampai penuh. "Tuh kan, apa gue bilang," kata si barista. Hal itu lalu terjadi berulang-ulang, hingga entah ke berapa gelas. Elea merasa pusing luar biasa. Semua pandangnya mengganda. "Bang, ini ya duit gue." Ia memberi sejumlah uang dengan nominal yang lebih dari cukup untuk membayar minumannya tadi. "Oke. Thanks ya, balik ke sini lagi kalo bisa." Elea hanya melambaikan tangan. Lalu dengan tubuh lemas ia mencoba berdiri. Ia rasa kakinya seperti tak bertulang. "T-toilet, toilet mana?" tanyanya. Lalu si barista mejawab sambil menunjuk ke arah kirinya, "Sono tuh, lo lurus aja, terus belok ke kanan," dan kembali menyibukkan diri dengan minuman racikannya. Elea kembali melambai, tanda terima kasih. Ia berjalan dengan sempoyongan menuju toilet. Ia butuh untuk mencuci wajahnya agar kembali terlihat segar. "Aw!" pekiknya begitu merasakan cekalan di lengannya. Matanya menyipit, berusaha melihat sosok yang tampaknya juga tengah dalam kondisi serupa dengannya itu. "Diana--" Sosok berwajah kabur itu berusaha mencium tepat di bibir Elea, namun Elea segera memalingkan wajahnya. "Minggir lo setan!" pekik gadis itu sambil berusaha mendorong tubuh tegap sang pria. Meski Elea dalam keadaan setengah sadar, ia tahu betul akan posisinya. Si pria yang entah siapa itu pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Ia yakin itu. "Enggak Diana, enggak. Aku sayang sama kamu, jangan tinggalin aku please, please Di, aku bakal lakuin apa aja buat kamu, aku bakal beliin semua kemauan kamu," rancau pria itu tepat di depan wajah Elea. "GUE BUKAN DIANA BANGSUL!" murka Elea. Ia berusaha mendorong tubuh si pria, namun tenaganya yang tinggal separuh dan juga kondisinya yang tak memungkinkan itu menghambat semua usahanya. Kalau tahu bakal seperti ini jadinya, Elea tidak akan pernah lagi meminum minuman sialan itu. Ia akan menjadikannya minuman terakhir di dunia yang akan dia minum. "Empht! To-tolong! Tolong! Lep--le-pash!" Benar-benar sia-sia, tenaga si pria itu terlalu kuat untuk ia lawan. Buktinya, ia bisa mencium bibir Elea, meski Elea sudah menolaknya berulang kali dengan usaha-usaha yang harusnya cukup untuk kategori orang yang sama-sama mabuk. "Aku nggak akan biarin kamu pergi, sampai kapan pun. Inget itu Di." Air mata Elea luruh begitu saja saat si pria mengangkat tubuhnya, menghimpitnya di tembok, dan melakukan hal-hal yang selama duapuluh lima tahun hidupnya tak pernah ia lakukan untuk sekali saja. Ia dicumbu habis-habisan, rasanya, ia merasa dirinya tak ada harga dirinya lagi, sama seperti w************n di luar sana. Elea benci hidupnya. Elea benci. "Kita cari tempat bagus ya? Malam ini aku nggak bakalan lepasin kamu, Sayang," ujar pria itu dan Elea hanya bisa pasrah, meski dalam hati masih mengharap belas kasihan Tuhan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD