BAB 3

664 Words
Sengatan matahari terasa begitu menyilaukan di netra Elea. Ia melenguh pelan. Membuka mata, lalu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya di sekelilingnya. Ia merenggangkan badan, rasanya tubuhnya luar biasa sakit. Seolah baru ia gunakan mengangkat barang-barang dengan berat lebih dari sepuluh kilo. Apalagi bagian bawahnya yang--- Elea segera membuka kelopak matanya lebar-lebar. Tubuhnya dengan sigap bangun dan begitu selimut yang menutupi tubuhnya melorot, hawa dingin langsung menyapa kulitnya. Bola matanya langsung membulat lebar. Ia menampar-nampar kedua pipinya, berharap ia bangun dari mimpi buruk itu. "Ini cuman mimpi, ini cuman mimpi!" Namun seberapa keras pipinya ia tampar, dan seberapa merah kulit wajahnya itu, Elea tak kunjung bangun juga. Ia masih tetap menjadi lakon dalam mimpi buruk itu. Ia lalu melihat ke sekeliling dan mendapati sesosok yang tertidur telungkup di sisinya. Perasaan emosional langsung menyambangi hati Elea. Dipukulnya tubuh si pria dengan keras, hingga menciptakan sebuah lengkingan serak yang menggema di kamar. "COWOK b******k! LO APAIN GUE HAH?! MATI LO! MATI!" "AW! AW! SAKIIIIT! SAKIIT!" Elea mungkin akan terus memukuli pria itu, kalau bisa sampai mati sekalian. Tapi begitu mendapati wajah yang begitu ia kenali itu menoleh padanya, ia malah membeku. "P-pak Gandhi?" Elea membuka kedua belah bibirnya lebar-lebar, terlalu terkejut mendapati wajah bantal yang sama-sama tak kalah terkejutnya dari ia. "K-kamu?" Pria yang ia panggil Gandhi itu menatap penampilan Elea dan dirinya secara bergantian. Ia sigap terbangun ketika menyadari apa yang sudah terjadi. "Diana--maksud saya Elea, s-saya, saya, apa, apa yang sudah saya lakukan ke kamu?" Raut Elea menjadi sangat datar. "Menurut Bapak apa?" tanya gadis itu balik, seolah-olah tak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. "S-saya, saya benar-benar tidak sengaja Elea. S-saya---" "Sudah lah Pak, saya mau pulang saja. Silakan Bapak berbalik, saya mau pakai pakaian saya kembali," kata perempuan itu sambil melirik pakaiannya yang tergeletak mengenaskan di ujung ranjang dengan sedih. Emosinya campur-aduk sekarang. Antara marah, sedih, kecewa, dan terkejut, semua bercampur menjadi satu, sampai-sampai, air mata yang harusnya menetes, tertahan begitu saja. Ia tak menyangka, bos yang begitu ia hormati melakukan hal sebejat itu padanya, menganggapnya Diana atau entah siapa yang tak ia kenal itu. Setelah semua pakaiannya kembali melekat pada tubuhnya dan pria yang telah menodainya itu tak berkutik dari tempatnya, hanya duduk membelakanginya dengan kepala yang menunduk dalam. Sudah pasti ia didera rasa bersalah yang tak main-main. "S-saya," Elea menarik napasnya, berusaha menahan perasaan emosional yang tengah menyelimutinya itu. "Saya pamit, Pak." Ketika berbalik, air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuknya itu, luruh begitu saja. Ia ingat semua perlakuan atasannya sebelum melakukan hal tercela seperti tadi malam padanya. Ia ingat betul bagaimana dirinya diperlakukan, meski dalam kondisi yang tak juga bisa dikatakan baik. "Maaf Elea, maaf. Saya nggak bermaksud, saya nggak bermaksud--" "Udah Pak, jangan dibahas lagi. Semakin Bapak berbicara hal itu pada saya, semakin saya ngerasa diri saya murahan. Tolong, tolong dengan sangat kepada Bapak, jangan ungkit-ungkit masalah ini lagi." Elea bisa saja meminta pertanggung-jawaban dari atasannya itu, tapi ia rasa ia akan semakin hancur. Pak Gandhi jelas bukan pria yang mengharapnya, bukan juga pria yang ia harapkan. Hatinya bahkan masih berdarah-darah sebab pengkhianatan sang mantan kekasih. "Elea, saya--saya bisa bertanggung jawab untuk kamu. Saya bisa menikahi--" Elea yang sudah sampai di depan pintu dan hendak membukanya itu jadi mengurungkan niatnya. Ia hapus air matanya, menarik napas dalam-dalam, sebelum berbalik mengahadap atasannya yang sama sekali tak bergerak dari ranjangnya. "Pak saya mohon, saya mohon dengan sangat, saya nggak mau semakin terluka karena Bapak. Anggap saja malam itu tak pernah terjadi. Anggap saja ini mimpi indah untuk Bapak. Saya tidak bisa hidup dengan pria yang menginginkan saya karena terpaksa. Saya tidak bisa hidup dengan Bapak, sebab Bapak yang merasa bersalah terhadap saya. Saya masih bisa mengatasi kehancuran saya sendiri." "Tapi--" "Maaf Pak, saya permisi dulu." Elea benar-benar tak menunggu Gandhi berbicara lagi. Segera saja ia pergi dari sana. Meninggalkan pria yang mungkin akan menghancurkan mimpi-mimpi yang ia susun sejak awal. Ia adalah wanita kotor dan wanita kotor seperti dirinya mungkin tidak akan ada yang menginginkan. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD