BAB 4

1200 Words
"Tumben lo telat Le? Oh iya, tadi malam lo ke mana? Kok lo ninggalin gue sih?" Pagi itu, dengan suasana hati yang lebih buruk dari sebelumnya, Elea duduk kubikelnya. Di sampingnya, ada Raina yang tampak lebih segar seperti biasanya, menatapnya dengan tatapan ingin tahu. Elea tersenyum kecut. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan Raina dengan kalimat seperti apa. Ia tak mungkin menceritakan kejadian buruk yang menimpanya tadi malam. Selain karena aib untuknya, hal itu cukup membuat perasaannya tersentil dan pada akhirnya ia akan menangis kembali untuk entah ke berapa ratus kalinya pagi itu. Cukup di rumah saja ia begitu, tindak untuk di tempat kerja. "Iya. Sorry banget ya, lo asyik sendiri sih," jawabnya sesantai mungkin. Sejujurnya, ia cukup kecewa dengan Raina, tapi ia juga tak bisa menyalahkan temannya begitu saja. Ia tahu, sama sekali tak ada sedikit pun Raina berniat menghancurkan dirinya. Gadis itu hanya ingin menghiburnya saja. "Ya maaf, kalap gue. Terlalu stres juga kan sama kerjaan," cengir Raina. "Oh iya, proposal lo tadi ditagih tuh sama Bu Dewinta kemarin. Lo udah ngerjain kan?" "Proposal? Ah iya," Elea lupa. Seharusnya tadi malam ia kerjakan, tapi tadi malam pula ia malah terjebak di kamar hotel bersama atasan beda devisinya sendiri. "Belum?" Mata Raina membulat lebar dan Elea hanya menampilkan wajah masam. "Udah gue tebak, lo sih, terlalu patah hati." Kawannya itu sibuk merogoh sesuatu dari dalam laci, sebuah berkas dengan map biru sebagai wadahnya yang kemudian ia serahkan pada Elea. "Kurang baik apa gue, gue tahu lo pasti nggak fokus. Jadi udah gue bikinin nih kemarin. Sekarang, lo kasih ke Bu Dewinta sana, minta diACC. Takutnya lo kena semprot lagi kayak kemarin juga." Elea menangis. Raina memang sebaik itu padanya. Seharusnya ia tak merasa kecewa pada temannya itu. "Makasih Rain, makasih banyak udah bantu gue. Makasih." "Iya, sama-sama. Udah jangan nangis, cengen amat. Santuy aja sama gue. Sana gih lo, cepet temuin Bu Dewinta, ssbelum dia panggil lo lewat speaker ruangan. Malu berat entar lo," Elea mengangguk dan membawa berkas yang Raina kerjakan pada bosnya. Namun, begitu ia masuk ke dalam ruangan itu, ia tak akan menyangka akan bertemu dengan lelaki yang berbagi ranjang dengannya tadi malam, juga berada di situ, duduk tenang dengan gaya khasnya yang begitu berwibawa. Ah, timing yang tidak tepat. Pandangan mereka sempat bertemu, namun Elea segera mengalihkannya. "Bu Dew, selamat pagi." "Oh kamu Elea, pagi. Duduk aja di situ, kamu pasti bawa proposal yang kemarin itu, kan? Saya mau periksa dulu soalnya." Elea ragu, ada dua kursi di depan Bu Dewinta, satu masih kosong dan satu lagi ditempati oleh Pak Gandhi yang sejak tadi menatapnya dengan sorot bersalah. "Eung, i-iya Bu," katanya lalu mengambil posisi di samping Gandhi. Ia merasa amat canggung berdampingan di sisi bosnya itu. Namun sebisa mungkin ia menjaga sikap. Jangan sampai ia membuat Bu Dewinta curiga. Drttt... drtt... drttt... Namun sialnya, ponsel Bu Dewinta malah berbunyi. Ada panggilan yang masuk sepertinya. "Ah, bentar ya, saya angkat ini dulu. Le, kamu tunggu dulu. Pak Gand, tolong tunggu sebentar juga ya." Segera saja Bu Dewinta menjauh, mungkin itu urusan pribadi. Dan benar saja, suasana di sekitar mereka menjadi semakin canggung. "Elea--" "Bapak jangan berani-berani bahas hal itu di sini." "Elea, saya tahu kamu marah. Kamu hancur. Kamu kecewa sama saya. Tapi, tapi saya sama sekali nggak ada maksud melecehkan kamu. Demi Tuhan Elea. Saya, saya, malam itu saya kalut. Saya sangat kalut, orang yang saya cintai memilih meninggalkan saya begitu saja Elea. Kamu, kamu coba bayangkan, bayangkan betapa hancurnya hati saya." "Hati saya lebih hancur dari Bapak, kalau saja Bapak ingin tahu. Dan tolong, tolong, saya sudah katakan hal itu tadi pagi sama Bapak, jangan bahas lagi. Saya mohon. Saya nggak mau mengingat betapa murahannya saya, Pak." "K-kamu, kamu nggak murahan Elea. Saya, saya yang bersalah di sini. Saya yang sudah menghancurkan hidup kamu. Saya, apa pun yang terjadi, saya akan bertanggung jawab Elea. Saya akan bertanggung jawab." "Pak, saya sudah bilang tadi pagi sama Bapak. Saya nggak bisa, Pak. Saya nggak bisa hidup karena keterpaksaan. Saya nggak bisa hidup sama orang yang bahkan dekat saja enggak, cinta saja enggak, sayang saja enggak. Saya nggak bisa, Pak. Dan saya mohon untuk Bapak, tolong, tolong jangan keras kepala, tolong jangan bahas hal ini lagi. Tanpa pertanggung jawaban Bapak, saya masih bisa hidup, meski nggak bisa seperti sebelumnya." Pria itu terdengar menghela napas panjang. Seolah sedang mencoba mengurai beban yang memenuhi rongga dadanya hingga membuatnya sesak bukan main. Dari rautnya, ia terlihat begitu menyesali perbuatannya. "Saya akan berusaha menumbuhkan perasaan saya untuk kamu Elea, jika itu yang kamu takutkan. Saya--" Elea mengangkat tangannya, menyuruh Gandhi untuk tidak melanjutkan ucapannya lagi, sebab Bu Dewinta yang sudah kembali dan berjalan menuju ke arah mereka. "Saya mohon Bapak mengerti saya. Kalau bisa, jangan pernah menampakkan wajah Bapak di hadapan saya dan mengungkit-ungkit masalah ini, karena saya bukan orang yang sabar. Pak Gandhi ingat saja hal itu," desis Elea dengan nada rendah penuh ancaman. Gandhi terlihat ingin bersuara, namun urung ketika Dewinta sudah benar-benar duduk di kursinya. Helaan napas lalu terdengar di rungu Elea, helaan yang sarat akan kefrutrasian. ****** "Elea--" "Pak, saya sudah bilang sama Bapak tadi di ruangan Bu Dewinta, tolong dengan sangat, jangan ingatkan saya, jangan cari-cari saya, dan jangan muncul di hadapan saya." Jam makan siang, Pak Gandhi kembali menyambangi devisinya. Lelaki itu dengan terang-terangan mendatangi kubikel Elea. Untung saja tinggal ia sendiri di ruangan itu. Ia memang menolak untuk pergi ketika Raina tadi mengajak, selain tak berselera, ia malas dengan kemungkinan Pak Gandhi yang akan menemuinya. Namun ternyata pria itu malah benar-benar menemuinya kembali, berikut dengan watak yang luar biasa keras. "Tapi saya harus bertanggung jawab sama kamu," kukuh pria itu dengan tangan yang bertumpu di pinggiran meja Elea dan badan yang condong ke depan. "Pak! Jangan keras kepala! Sekarang, apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya? Tentang Bapak? Apa yang akan orang lain pikirkan jika Bapak tiba-tiba menikahi saya? Stigma buruk akan selalu jatuh pada saya, Pak. Itu faktanya. Wanita sama sekali tak ada harganya di dunia ini." "Tapi Elea--" "Maaf kalau saya tidak sopan, pintu keluar ada di samping Anda. Saya tidak mau teman-teman saya melihat Bapak ada di sini dan mengobrol dengan saya. Selama ini kita tidak pernah dekat." Gandhi menghela napasnya. Tak tahu lagi bagaimana cara membujuk Elea agar perempuan itu mau menerima pertanggung-jawabannya untuk ia nikahi. Ia tahu dan sangat sadar diri, apa yang ia lakukan sekarang itu adalah semata-mata karena rasa bersalahnya. Ia bersalah karena sudah m*****i gadis baik-baik seperti Elea yang malam itu memang juga terlihat sama kalutnya dengannya. Ia pasti semakin menghancurkan hati gadis itu, merampas harta paling berharga yang mungkin ia jaga khusus untuk pasangannya nanti. "Elea, apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua dosa saya ke kamu, Elea?" Gandhi bertanya dengan wajah frustrasi yang tak dibuat-buat. Elea mendongak, menatap datar si pria dengan sorot kelam itu. "Cukup lupakan masalah ini dan jangan pernah temui saya. Meski kita berpapasan, Bapak bisa bersikap seperti sebelum mimpi buruk untuk saya ini terjadi. Saya sudah merasa cukup hanya dengan hal itu." Gandhi menatap Elea dengan gusar, sebelum menghela napas panjang dan mengangguk dengan berat hati. "Oke-oke, baiklah jika itu yang kamu inginkan. Saya akan mengusahakannya untuk kamu, meski ketika melihat kamu, saya semakin merasa bersalah." ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD