Gandhi tak henti-hentinya merapalkan doa dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Meski mustahil harapannya itu. Kenyataannya Elea terlalu banyak mengeluarkan darah tadi. "Elea... kamu nggak boleh ninggalin saya Elea, kamu nggak boleh pergi. Kamu harus baik-baik aja." Gandhi terus berjalan ke sana-kemari sejak tadi tepat di depan ruang gawat darurat di mana Elea sedang ditangani. Sungguh, ia merasa sangat cemas. Hatinya sama sekali tidak tenang. Ia tidak tahu apa yang sedang dokter di dalam sana lakukan, karena sejak satu jam lalu tidak ada informasi yang berarti dari mereka. Gandhi hanya menunggu, menunggu, dan menunggu. "Ini semua salah saya," suara serak dan dalam itu menyadarkan Gandhi bahwa ia tak sedang sendirian di sana. Ada Renggalih yang tampak ringkih dengan sorot k

