5

771 Words
Besoknya Aku lumayan yakin dengan perasaan ku pada angkasa dan yakin semuanya akan berjalan dengan baik seperti yang aku pikirkan. Saat angkasa ada di dekat ku, aku yakin dia juga suka pada ku, aku seperti merasakannya. Dan juga dukungan dari teman-teman yang bilang kalo aku cocok kalo pacaran sama angkasa. Tapi sekarang aku sadar, kalo perasaan aku itu hanya bentuk ke egois an aku dan ke tidak pekaan ku pada sahabatku. Nada menyukai Angkasa? Kenapa aku ga peka banget sih sama sahabatku, padahal kalo di ingat ingat keliatan banget ya kalo Nada suka Angkasa, dari senyum malu-malu Nada saat di jaili Angkasa. Huhhh sahabat macam apa aku ini. 'Apa yang harus aku lakukan? Kalo aku masih dekat dengan Angkasa itu akan melukai prasaan Nada' Sekarang aku sedang jalan menuju kelas sendirian. Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan s**u coklat di depanku itu rasa kesukaan ku. Aku mendongak untuk melihat siapa yang memberikan itu "Lo suka rasa coklat kan?" "Angkasa? Mmm makasih" Aku cukup kaget aku mengucapkan Terimakasih setelah menerima s**u itu, kalo aku menolaknya, itu membuatku tak enak hati makanya aku menerimanya. "Cie cie" "Lo tadi lari-lari nyamperin Kana ternyata" itu suara teman-teman Angkasa Setau ku namanya Dani dan Raka. "Diem lo pada. Sono sono" Kata Angkasa "Haha" "Haha" "Liat tuh Angkasa sama Kana" "Taun kemaren ga sekelas sekrang sekelas, jadi makin deket tuh" "Harusnya Angkasa cepet tembak tuh si Kana" "Emang mereka bakal jadian?" Aku mendengar bisikan teman teman saat aku melewatinya. Ku buka s**u kotak dan meminumnya, Angkasa juga minum s**u kotak pandangannya lurus ke depan. 'Manis' tanpa sadar aku mengucapkan itu sambil melihat Angkasa. Tiba-tiba angkasa menoleh ke arahku dia tersenyum dengan manis aku ikut tersenyum. 'Dia terlalu manis untuk ku' Bagaimana ini? Dia terlalu manis sampai membuat ku tidak sadar dengan perasaan Nada padanya. "Angkasa, maaf" aku menghentikan langkahku dia menoleh dan memberhentikan langkahnya juga dia mengangkat alisnya seperti bertanya kenapa minta maaf? "Kalo ada soal yang ga lo ngerti tanya ke yang lain yah dan juga kalo ga terlalu penting jangan chat gue" akhirnya aku bisa mengatakan itu setelah memikirkannya semalaman. Aku tidak tau bagaimana ekspresi Angkasa, dari tadi aku menundukan kepalaku tidak berani menatapnya. Mungkin dia kecewa padaku maaf Angkasa. Setelah itu Angkasa pergi meninggalkanku, aku hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Kalau kalian berkata aku jahat atau bodoh silahkan, aku begini karna tidak mau menyakiti perasaan sahabatku. ~~~ Saat di kelas aku menyembunyikan kepalaku diantara tangan sekarang sudah jam istirahat kedua. Dan aku malas untuk keluar. Saat istirahat pertama Nada mengajak ku ke kantin tapi aku berasa lah mengantuk, untunglah Nada percaya. Angkasa sepertinya pindah tempat duduk dipinggir ku diisi oleh temannya Dani dan Raka. Dia duduk di pojok kanan dengan Aksa masih satu baris dengan mejaku dan temannya. "Hey bangun kebo" Ahhh aku tau itu pasti suara Nada, aku mendongak an kepala "Lo mau tidur terus sampe balik?" Aku tersenyum haha aku dari tadi cuman pura-pura tidur "Ayo ikut gue mau ngomong" pasti Nada masih membahas yang kemarin, aku harus meyakinkannya. Sekarang aku dan Nada ada di samping ruang perpus disini cukup sepi "Kemaren gue ngomong gitu karna menurut gue Sella itu mau manfaatin lo, lo ngerti kan maksud gue? Nada berusaha meyakinkan ku "Jadi lo gausah pura-pura suka sama Gan- "Soal itu gue beneran" kataku memotong ucapannya "gue beneran suka Gan-" "Stop!! Apasih yang lo suka dari dia? "Dia ganteng" "Lu taukan dia itu kasar, emang sih aga ganteng" memang Ganendra itu punya wajah yang ganteng rambutnya warna hitam pekat. "Bukan cuman ganteng, dia juga bisa ngomong apa yang dia pengen kaya lo" kataku meyakinkannya, padahal bisa aja aku akhiri kebohongan ini tapi aku ga ada niat mengakhirinya dan aku malah terus berbohong. "Itu namanya ga sopan, kaya gue!!" "Haha tapi gue suka" "Lo suka sama tipe yang kasar kasar ya" "Bisa jadi makanya gue temenan sama lo, lo percaya kan" "Ga gue tetep ga percaya Kring kring Kring "Yu masuk, bel udah bunyi" kataku mengajak Nada ke kelas. Tanpa mereka berdua sadari sedari tadi tiga orang cowo sedang duduk di belakang perpustakaan. Mereka mendengar percakapan Nada dan Kana. "Ganendra, lo harus nembak dia" kata kedua temannya barengan "Hah? Oh iyah gue lagi nembak musuh nih, bentar lagi baru juga bel" Ganendra masih menatap layar poselnya yang memainkan game online. Hahh buka itu" Candra "Fal balik ke base nyawalu tinggal dikit tuh" Ganendra mengalihkan pembicaraan "Eh eh iyah gue ga liat kabur kabur" 'Astaga leher gue panas, ini pasti karna gugup, untung temen-temen ga nyadar, gue harus keliatan biasa aja' kata Ganendra dalam hati. . . Tbc. Jangan lupa komen ya! Hehe Dari manusia yang instagr*m nya sepi :( yok ah berteman. Cilegon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD