Sang Denominator

1286 Words

**************** Pintu gerbang besi tempa Kediaman Leethano yang menjulang tinggi terbuka perlahan, menyambut mobil limusin hitam yang baru saja tiba dari rumah sakit. Di balik jendela ruang tamu yang besar, lampu kristal masih menyala terang, seolah menentang larutnya malam. Di teras utama, Mahaka sudah berdiri tegak, mengenakan jubah tidur sutra tetapi aura wibawanya tak luntur. Di sampingnya, Renaya sang istri, tampak lebih rapuh, kedua tangannya saling meremas di depan d**a, matanya memancarkan kecemasan yang membekukan. Saat pintu mobil terbuka, Michell melangkah keluar. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak lesu dan pucat. Bekas-bekas ketakutan masih membekas di sepasang matanya yang sembab, meski ia sudah berusaha keras menampilkannya sekuat mungkin. Renaya tidak menunggu lag

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD