bc

Terjebak Cinta CEO Tampan

book_age16+
434
FOLLOW
3.0K
READ
adventure
others
others
goodgirl
CEO
drama
serious
office/work place
first love
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Kiara yang terbangun di pagi hari, dikejutkan oleh fakta jika ia telah menjadi isteri atasanya.

Bagaimana bisa?

Bahkan gadis itu sangat yakin jika belum pernah menikah dengan siapapun.

"Jika kamu fikir aku sangat bahagia menjadi isteri CEO seperti kamu, itu salah, aku benci dan menyesal pernah bertemu dengan kamu." nafas Kiara naik turun tak beraturan meluapkan amarahnya.

****

Kiara gadis ceria, ramah dan sederhana dengan segala pesona dan kepintaran yang ia miliki, membuatnya banyak disukai oleh teman-temanya. Namun di balik itu semua tidak ada yang mengetahui jika kehidupanya penuh liku dan luka.

Hingga suatu pagi, Kiara terbagun dengan dengan keadaan kacau. Saat itu, ia tahu hidupnya tidak lagi sama.

Ricco Adhi Wijaya, seseorang yang dulu Kaira kagumi karana kebaikan dan wibawanya. Namun kini justru membuat hidup Kiara semakin kacau.

Kiara berjanji mulai hari ini, ia akan membenci lelaki itu. Lelaki yang ternyta adalah bagian dari masalalunya.

"Aku menepati janji pada Alm. Pak Hermawan untuk menjagamu, dan ini cara ku."

Ricco Adhi Wijaya.

chap-preview
Free preview
Pekerjaan baru
"Langsung masuk saja, nanti di resepsionis bilang mau bertemu Pak Ari. " Setelah mendapat pesan dari HRD, Kiara melangkahkan kakinya memasuki gedung yang akan menjadi tempatnya bekerja, Kiara terlihat anggun dalam balutan kemeja putih sederhana yang di belinya beberapa tahun lalu. Wajahnya dipoles sederhana, dengan rambut hitam bergelombang terurai rapih, tidak berlebihan. Namun terlihat sangat cantik. "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang resepsionis, saat Kiara menghampirinya. "Pagi, saya mau ketemu Pak Ari. Sudah ada janji, Mbak. Kata beliau saya diminta langsung ke ruangannya," ucap Kiara sembari menunjukan isi pesan dari Pak Ari yang tertera di layar handphonenya. "Baik, sebentar ya!" ujar si resepsionis sembari meraih gagang telfon. Setelah menerima jawan respsionis itu kembali tersenyum pada Kiara. "Silahkan, Mbak. Nanti akan dibantu security untuk acces lift nya," ucap si resepsionis, sembari menunjukan arah dengan tangannya. "Terima kasih." Kiara tersenyum ramah sebelum melangkah kan kaki ke arah lift yang di tunjukan tadi. Tok... Tok... "Masuk," perintah seseorang dari balik pintu rauangan. "Permisi, Pak, maaf mengganggu, ini Kiara karyawan baru untuk divisi marketing," ucap Rissa, sekertaris Pak Ari, memperkenalkan Kiara sebagai karyawan baru. "Kamu boleh kembali ke depan, Ris," titah Ari, pada Risa yang mengangguk patuh dan melangkah keluar ruangan. "Silahkan duduk, Kiara!" "Terimakasih, Pak."Kiara duduk bersebrangan dengan atasan barunya. Ada rasa gugup di hati Kiara, sebab merasa masih kurang pantas berada di perusahaan sebesar ini. Mengingat banyaknya pelamar yang gugur saat interview padahal mereka lulusan dari universitas, sedangkan Kiara?. Entahlah mimpi apa dia semalam, bisa seberuntung ini, padahal saat melamar ia tak berharap banyak, mengingat ketatnya proses seleksi di perusahaan ini. Perasaan Kiara tak menentu, ada bahagia, namun gelisah sebab ia takut tak mampu memberi kontribusi yang baik. "Baiklah, saya tidak banyak waktu, langsung saja. Saya Ari GM di PT. Sentosa Jaya Mandiri, di sini sebetulnya jobdesk kamu bagian promosi dan pemasaran. Tapi setelah membaca CV kamu, saya rasa kamu bisa untuk bantu project baru kita dulu, karna saat ini perusahaan sedang sibuk untuk persiapan pembukaan project baru. Jadi kemungkinan kamu tidak hanya focus di marketing tapi juga membantu saya, karana Risa sekertaris saya itu, pasti akan sibuk sekali. Saya harap kamu bersedia membantu. Kita tidak bisa merekrut karyawan baru lagi, sebab setelah project ini selesai semuanya akan normal, dan ini juga bisa jadi kesempatan untuk menunjukan kemampuan kamu. Bagaimana apa kamu siap?" jelas Pak Ari dengan nada santai namun tegas. "Baik, Pak, siap," ucap Kiara mantap. Rona bahagia muncunl di waut wajah ayunuya, karna akhirnya kini ia memiliki pekerjaan yang lebih baik. Hatinya dengan tegas dan yakin bahwa ini akan menjadi awal baru untuk hidupnya yang lebih baik. "Baik, kamu temui Rissa di depan. Saya sudah minta dia arahin kamu, jadi kalau ada yang tidak paham bisa tanya Rissa langsung," sambung Ari, dengan mata yang kembali focus pada laptopnya. Ari menatap pintu yang baru saja tertutup, di otaknya meronta meminta jawaban atas banyaknya pertanyaan, tentang siapa gadis yang abru saja ia Interview itu dan tentang sahabatanya yang selalu saja menempatkannya pada posisi sulit. Setelah keluar dari ruangan GM, Kiara berjalan keluar menghampiri Risa yang terlihat sibuk di balik layar komputernya. "Mbak Rissa, saya diminta Pak Ari untuk mengikuti arahan dari Mbak Rissa," ujar Kiara, saat menghampiri meja kerja Rissa yang berhadapan langsung dengan ruangan GM. "Oh, iya, sebentar. Tunggu aja, duduk di situ dulu!" ujar Rissa, dagunya yang runcing itu menunjuk ke sudut ruangan di mana terdesedia single sofa untuk para tamu yang menunggu. "Ya Ampunnn, Mbak, kok kek galak banget. Aduh Kia, loe nggak boleh berburuk sangka.Siapa tau tuh si Mbak lagi repong, ya kan ya?" gerutu Kiara dalam hatinya, sebisa mungkin menghibur dirinya sendiri akibat tingkah culas si sekertaris GM berdagu runcing itu. "Nih, kamu pelajari nanti sore ikut meeting untuk bahas pembukaan project baru." Rissa memberikan setumpuk kertas yang tersampul rapi. Sedangkan Kiara menerima berkas dengan mulut ternganga. "Mbak, tapi kan aku belum paham," ucap Kia dengan wajah bingung. Bagaimana tidak? dia baru saja masuk kerja hari ini, dan tbelum tahu apapun, bahkan letak kantin di kantor ini pun Kiara belum tahu. Tapi dengan entengnya Rissa memberikan setumpuk dokumen untuk di pelajari, untuk meetimg sore ini... Soree ini, hari ini juga... "Kamu baca aja dulu, kalo ada yang belum paham bisa tandain aja nanti tanya sama saya," jelas Risa, dengan wajah datar sembari jarinya sibuk mengetik keyboard. "Baik, Mbak,"jawab Kia singkat, sebab ia tidak tau harus berkata apa, tak mungkin Kia membatah perintah seniornya, kan? jangan sampai terjadi cerita, anak baru yang di pecat bahkan sebelum satu jam kerja. Oh, tentu jangan sampai terjadi, lebih baik diam dan terima saja. "Oh My God, apaan baget baru masuk udah meeting, meeting aja. Mana nggak ngasih penjelasan dulu kek, ya Ampun... Sabar, sabar," gerutu Kia dalam hatinya, dengan kesal Kiara pun akhirnya membaca point-point yang ada dalam proposal itu. Kiara tenggelam dalam materi meeting yang Rissa berikan hingga terdengar suara aneh dari perutnya. Kruyukk.... Perut Kiara berbunyi lagi, dan ia baru menyadari kalau sudah dua jam lebih membaca dokumen ditangannya itu, padahal masih setengah jam lagi waktu makan siang, namun perutnya sudah tak sabar meminta untuk segera disii, maklum saja demi berhemat, Kiara sengaja melewatkan sarapan. Tapi sekarang bukan perutnya lagi yang ia risaukan, melainkan Rissa-sekertaris GM itu. Kiara bingung harus bagaimana?. Sedangkan Risa juga ternyata sudah tidak ada di mejanya. "Apa dokumennya aku simpen aja diatas meja ya, terus ini kantinnya dimana ya?" ujar Kiara dalam hatinya. Kiara beranjak dari sofa, hendak mengembalikan berkas yang tadi di bacanya ke atas meja Rissa, namun suara seseorang menghentikan langkah kakinya. "Hai, anak baru ya?" sapa seseorang yang berjalan mendekat kearah Kiara. "Oh, iya, Mbak." Kiara tersenyum ramah, menjawab pertanyaan orang yang kini berdiri di hadapannya. "Risanya nggak ada, tadi keluar, udah mau jam makan siang nih, kamu mau ikut ke kantin nggak?. Kamu belum tau kan kantin disini, kan?" tawar perempuan berpawakan mungil yang belum Kiara tau namanya itu, namun sepertinya ia lebih ramah dari pada Rissa. "Oh boleh, Mbak hehe...." jawab Kiara antusias diiringi dengan tawanya yang khas. "Oke, gue kesana dulu ya mau beresin meja, masih dua puluh menit lagi. Loe jangan kemana-mana gue nanti kesini!" ucap perempuan itu, menegaskan bahwa Kiara tidak boleh pergi tanpa dia. "Siap, Mbak, hihi...." Hufttt.... Kiara bernafas lega karna akhirnya menemukan orang yang bisa menjadi temanya disini, ia pikir akan mati bosan seharian berdiam diri tanpa tau apa yang harus di kerjakan. Jam makan siang pun dimulai, Kiara dan teman barunya yang kini ia ketahui bernama Zahra itu, melangkah menuju food count di lantai 5, bersama dua orang lain yang Zahra kenalkan pada Kiara. Kiara, gadis itu tersenyum lepas mendengar celotehan Zahra tentang Rissa yang memiliki sifat jutek. Persisi tokoh Kak Ros di kartun Upin&Ipin. Kiara tak menyangka, pilihannya untuk meninggalkan rumah hampir dua tahun lalu adalah keputusan terbaik. Andai Kiara masih berada di rumah itu, entah hal buruk apa lagi yang harus dirasakanya. Hampir saja hidupnya hancur berkat ulah keluarganya yang menggadaikan Kiara pada renternir tua itu. Untungnya nasib baik berpihak pada Kiara, hingga ia bisa terlepas dari kekangan keluarganya. Setiap kali mengingat keluarganya Kiara sangat sedih, namun ia sadar larut dalam kesedihan pun tak ada gunanya. Untuk itu Kiara berada disni, ditempat yang menyimpan secuil kenangan indah bagi Kiara. Ia tersenyum sembari mendengar Zahra yang masih mengoceh tak jelas, hingga kemunculan seseorang mencuri atensinya. "Bukankah dia..." Kiara menatap punggung paruh baya yang sedang berjalan menuju pintu kelur kantin. Tidak salah lagi, dia adalah sahabat lama Alm.Ayahnya yang sudah menghianati keluarga mereka. "Om Wira," ucap Kiata lirih, dengan mata mulai berembun. #cintadikantor #masalalu #cintaCEO #Penghianat #Dendam

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
3.7K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.9K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
47.6K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.6K
bc

The CEO's Little Wife

read
686.3K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook